
Sebelum Eric sampai dirumah Arga, Ia terlebih dahulu mengantar Anggen pulang kerumah nya. Entah kenapa, perasaannya seperti tak rela meninggalkan Anggen. Gadis itu terlalu polos, terlalu baik. Hingga tanpa Eric sadari, di dasar lubuk hatinya. Ada perasaan yang mulai tumbuh. Perasaan yang berbeda dengan yang dirasakan kepada Clarissa. Perasaan ingin melindungi, itulah yang saat ini Eric rasakan terhadap Anggen.
Erina yang sedari tadi tampak cemas memikirkan Anggen dan kakaknya, akhirnya bisa bernapas lega. Saat melihat Eric kembali tanpa terluka sedikitpun. Namun, ada sedikit rasa kecewa di raut wajah Erina.
"Anggen mana kak?" tanya Erina yang sudah sangat penasaran.
Eric mengulas senyuman, dia menatap adik kesayangannya dengan tatapan sendu.
"Anggen langsung aku antar pulang, dia perlu istirahat Erin," jawab Eric dengan senyum masih tergambar di wajah tampannya.
Erina masih belum puas dengan jawaban Eric, masih banyak pertanyaan yang ingin Ia sampaikan. Tapi Arga segera memegang erat jemari Erina dan berbisik, "Biarkan kak Eric istirahat dulu sayang, kamu dan bayimu juga butuh istirahat. Oke!"
Erina bernapas dalam, Ia membenarkan ucapan suaminya. Kak Eric butuh istirahat sekarang.
"Oh ya kak, kakak bermalam disini saja ya. Aku tadi sudah telpon mama, kalau kak Eric akan menginap disini. Besok kan akhir pekan, jadi kak Eric bisa santai," jelas Erina.
Eric tampak menimang ucapan Erina, Ia merasa akan menyenangkan jika menghabiskan akhir pekan bersama adik dan suaminya yang sangat posesif itu. Haha
"Baiklah kalau begitu, aku besok juga tidak ada rencana apapun," ucap Eric.
Akhirnya, aku bisa menjalankan rencana berikutnya. Semoga Anggen besok ada waktu, agar mereka bisa bertemu kembali, gumam Erina.
Erina tampak sangat senang sekali, Ia menatap Eric dengan mata berbinar senang.
"Oh ya, kamar kakak ada di sebelah ruang utama ya kak. Bibi Mar sudah menyiapkan baju ganti untuk kakak, kak Eric bisa istirahat sekarang," papar Erina dengan diikuti gerakan tangan yang menunjuk kamar yang dimaksud.
"Baiklah, aku permisi ke kamar dulu ya. Aku sudah sangat gerah sekali," sahut Eric.
Eric segera bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar yang dimaksud Erina. Kedua pasangan itu masih belum beranjak, Arga segera menyesap teh yang dibuat kan oleh bibi Mar.
__ADS_1
"Sayang, akhirnya rencana kita berhasil," kata Erina dengan raut wajah yang sangat bersemangat.
Arga mengelus kepala Erina, "Apa kamu yakin kak Eric akan menyetujui ide mu untuk menjodohkannya dengan gadis senam ibu hamil itu?" seloroh Arga.
"Ish, kamu selalu begitu. Dia itu punya nama sayang, namanya Anggen. A-ng-nggen!" Erina sengaja mengeja nama Anggen agar suaminya itu tidak amnesia lagi.
"Apa bedanya coba, Anggen dengan gadis senam ibu hamil!" protes Arga.
"Ya beda dong, senam ibu hamil itu kan profesinya. Sedangkan Anggen itu kan namanya!" terang Erina dengan mendaratkan sebuah cubitan kecil di pinggang suaminya itu. Karena sangat gemas melihat suaminya yang bersikeras memanggil Anggen dengan sebutan gadis senam ibu hamil. Erina segera beranjak dari sofa dan segera menjauhi Arga, untuk menghindari ocehan suaminya itu.
"Ouch ... sakit sayang, kamu kok nyubit aku sih!" pekik Arga, Ia segera bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang memandang Erina yang sudah berjalan menjauhinya.
"Awas kamu ya, tak akan aku beri ampun nanti!" desis Arga.
Erina hanya terkekeh mendengar ucapan suaminya itu, Ia segera mempercepat langkahnya.
Arga membuka handle pintu kamarnya dengan sangat pelan, Ia berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan piyama. Sekilas Ia melirik ke arah Erina yang sudah tertutup matanya.
Laki-laki itu mendengus pelan, direbahkan tubuhnya disamping istrinya yang sudah tertidur pulas. Dengan sangat pelan Ia memegang pundak Erina, berharap dengan sentuhannya Erina akan terbangun. Namun, Arga di kejutkan dengan suara dering telpon yang berasal dari ponselnya.
Arga berdecak kesal, "Siapa yang sudah telpon malam-malam begini, mengganggu saja," ketus Arga.
Arga melirik nama si penelpon, terlihat nama Ansel di layar ponselnya. Laki-laki itu segera mengangkat telpon dengan malas.
In call
__ADS_1
"Halo, bro!"
"Kamu ini gak punya jam, ya?! Ini sudah hampir tengah malam!" protes Arga
"Emang Tuan Muda tampan udah tidur?"
"Aku baru saja mau membangunkan istriku, untuk olahraga malam ... Kamu ganggu saja! Emang kamu gak bercinta dengan istrimu juga apa?!"
"Aku udah duluan ... istriku udah tidur, ha-ha!"
"Ck ... Begitu rupanya ... Ada perlu apa telpon malam-malam begini?"
"Soal kucuran dana segar ... Pak Joseph mengundang kamu dan istrimu buat makan malam bersama sambil ngomongin itu. Kapan kamu ada waktu?"
"Hmm ... kayaknya jadwalku besok kosong, besok malam aku bisa."
"Oke! Sampai ketemu besok ... silahkan lanjutkan olahraga malam bersama istrimu, ha-ha-ha!"
"Ck ... dasar!" ketus Arga, Ia segera menutup telpon Ansel.
End call
"Dasar si Ansel, mengganggu saja," gerutu Arga. Ia melirik istrinya yang sedari tadi sudah terlelap, laki-laki itu hanya bisa bernapas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Karena keinginannya untuk menghukum sang Istri kandas begitu saja.
Bersambung ....
💝💝💝
Sembari menunggu up teman-teman dan para readers bisa mampir ke novel yang bisa bikin baper lho😍💖
__ADS_1