
Video Arga yang melantunkan sebuah lagu untuk sang istri menjadi viral di media sosial, seseorang telah sengaja merekam saat Presdir Montana Grup itu menjadi penyanyi dadakan.
Suaranya yang cukup merdu, membuat sang CEO semakin di eluh-eluhkan oleh kaum hawa. Tampan, kaya, pintar, bisa nyanyi dan romantis lagi. Komentar pujian itu, hampir memenuhi beranda di akun sosial eksekutif Muda itu. Padahal dia sendiri tak pernah merasa membuat akun tersebut. Akun yang diberi nama Tuan Arga Hutama itu adalah akun dari secret admirer Arga, akun itu memposting ratusan foto sang CEO. Akun tersebut bahkan memiliki follower 2M lebih.
Sungguh pesona Arga memang tak terbantahkan, wajah nya yang tampan memang sudah menjadi magnet bagi siapapun yang melihatnya.
πππ
Eric bersiap menemui kliennya di salah satu resto di dekat kantornya, klien tersebut adalah seorang gadis bernama Aldekha Depe. Masih muda dan cantik, begitu gambaran umum sang sekertaris Eric tentang Depe.
Seorang gadis tampak sudah menunggu di sebuah resto yang telah ditentukan sebelumnya, Eric dan sekertarisnya yang bernama Syala sudah tiba di resto tersebut dan segera menghampiri Depe.
"Selamat siang, maaf sudah membuat anda menunggu," sapa Eric.
Gadis yang bernama Aldekha Depe masih bergeming, Ia tak mengindahkan salam Eric. Ia terpesona dengan sosok laki-laki di hadapannya itu.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanya Eric seraya mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan langsung dengan Depe.
Gadis itu mengerjap dan menggelengkan kepalanya sesaat, mengusir lamunan yang hinggap di kepalanya.
Laki-laki ini sangat mempesona sekali.
"Maaf saya belum memperkenalkan diri ya, saya Aldekha Depe. Panggil saja Depe." Depe mengulurkan tangan dan segera disambut oleh Eric.
"Saya Eric dan ini Syala sekertaris saya." Eric mencoba melepaskan tangannya yang masih di genggam erat oleh Depe. Namun, Depe tampak masih menggenggam erat jemari Eric. Dengan susah payah, akhirnya tangannya terlepas juga.
Syala memberikan anggukan kepala kepada Depe, namun gadis itu hanya mengulas senyum.
"Baiklah mari kita mulai meetingnya," Eric segera membuka Mac book nya.
Eric menjelaskan semua point penting kerjasamanya kepada Depe, selama hampir lima belas menit laki-laki yang memiliki lesung pipi saat tersenyum itu tampak serius dengan benda di hadapannya itu. Sesekali Ia menatap Depe untuk memastikan, gadis itu bisa menerima apa yang telah Ia sampai kan atau tidak.
"Bagaimana nona Depe, apa ada yang ingin anda tanyakan dengan presentasi saya tadi?" tanya Eric memastikan. Depe yang sedari tadi sudah tidak konsentrasi hanya menggelengkan kepala nya dengan pelan.
"Aku mengerti semua yang kamu katakan," jawab Depe dengan suara di buat semerdu mungkin.
"Baguslah, kalau begitu saya permisi ke toilet sebentar. Mengenai isi kontrak, bisa dijelaskan oleh Syala." Eric bangkit dan berjalan menuju toilet meninggalkan Depe dan Syala.
Depe menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Syala, Ia menatap lekat gadis yang saat ini tengah sibuk dengan lembaran kontrak.
"Boleh Aku bertanya sesuatu?" tanya Depe membuka percakapan.
__ADS_1
Syala menghentikan aktifitasnya, Ia menatap Depe dengan menautkan kedua alisnya.
"Iya, mau tanya apa nona?" jawab Syala sambil melanjutkan merapikan berkas-berkasnya.
"Menurut kamu Tuan Eric itu sama romantis nya dengan Tuan Arga tidak?" Syala tersentak dengan pertanyaan Depe. Gadis itu menatap heran ke arah Depe.
Syala terdiam, gadis itu merasa kesal karena sudah lama dia juga memendam rasa kepada Eric.
"Kenapa nona Depe bertanya seperti itu? Tentu tidak etis bukan, jika kita mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan. Sungguh tidak professional bukan?" ketus Syala. Gadis itu mencebbikkan bibirnya.
"Halah, kamu kenapa formal banget sih? Kita kan sudah selesai meetingnya, mumpung Tuan Eric gak ada. Ayo cepet jawab pertanyaanku," desak Depe.
Syala semakin di buat kesal oleh sikap Depe, tentu saja Ia tak akan semudah itu memberikan informasi tentang Eric kepadanya.
Eric tampak telah selesai dari toilet, Ia berjalan mendekati kedua gadis yang sedari tadi mendebatkan masalah pribadinya.
"Bagaimana Syala, apa kamu sudah menjelaskan tentang kontraknya kepada nona Depe?"
"Ehm, belum pak Eric. Nona Depe dari tadi ...." kalimat Syala terhenti, Ia melirik ke arah Depe yang mendelik kepadanya.
"Baiklah, tidak apa-apa. Karena hari ini aku ada urusan mendadak. Kamu bisa mengirimkan kontraknya via email ya," jelas Eric.
Depe tampak sangat kecewa, pasalnya Ia sama sekali tak mendapat informasi tentang laki-laki tampan bernama Eric tersebut.
"Kenapa buru-buru sekali? Kita belum makan-makan lho!" Tawar Depe.
"Tidak, terimakasih Nona Depe. Saya masih ada beberapa urusan yang harus Saya kerjakan," tukas Eric.
Syala terlihat bernapas lega mendengar ucapan Eric.
Yes, tidak ada celah untukmu Nona Depe. Pak Eric bahkan tak tergoda denganmu.
Senyum tipis samar terlihat di bibir Syala.
"Baiklah, kami permisi dulu Nona Depe. Senang bertemu dengan anda." Eric tak menjabat tangan Depe, Ia tampak masih trauma. Ia hanya menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada Depe.
Eric segera berjalan di ikuti dengan Syala di belakangnya, meninggalkan Depe seorang diri yang tampak kecewa menatap kepergian Eric.
Depe mendengus kasar.
"Gagal deh kencan dengan iparnya Tuan Arga," gerutu nya.
πππ
Setelah Eric dan Syala meninggalkan resto tersebut, entah kenapa pikirannya kembali terpusat kepada Anggen. Gadis polos itu memang sudah menyita pikirannya, selama beberapa hari ini. Senyumnya yang manis seolah terpatri di ingatannya. Eric berencana akan menemui Anggen hari ini, laki-laki itu bahkan terlihat sudah tak sabar sekali.
__ADS_1
"Huh, Nona Depe bisa-bisanya meminta pendapat tentang persamaan Tuan Arga dan pak Eric? Menyebalkan sekali sih," gerutu Syala ketika berada di dalam perjalanan menuju ke kantor.
Eric yang samar-samar mendengar suara berbisik segera bertanya kepada Syala.
"Iya, kenapa Syala?"
"Eh, t-tidak ada apa-apa Pak Eric. Tidak ada apa-apa," kilah Syala. Ia mengibaskan-kibaskan tangannya.
"Benarkah? Barusan Aku dengar tentang Nona Depe kamu sebut?" tegas Eric.
Syala kembali menyanggahnya, gadis itu dengan senyum khasnya tampak menggelengkan-gelengkan kepala.
"Anda pasti salah dengar Pak Eric. Dari tadi saya tidak bicara apapun," sanggah Syala. Ia melipat bibirnya.
Eric mengerutkan keningnya, namun Ia memilih untuk tak ambil pusing dan mengabaikannya.
"Oh ya, setelah ini aku akan keluar sebentar. Ada beberapa urusan yang harus Aku selesaikan, kamu tidak apa-apa kan Syala, jika Aku turunkan depan kantor?"
"I-iya, tidak apa-apa Pak Eric." rasanya ingin sekali Syala bertanya, kemana tujuan atasannya itu. Tapi segera Ia urungkan niatnya.
Setelah Syala di turunkan di halaman kantor, Eric segera melajukan mobilnya meninggalkan kantor Montana Grup, Syala hanya mematung memandang mobil Eric dari kejauhan dengan tatapan sendu.
Pak Eric, kira-kira mau kemana ya?
Bersambung ....
Aldekha Depe
Syala Yaya
πππ
Mohon maaf sekali ya, update nya telat. Benar-benar disibukkan dengan Real Lifeππ»ππ»π
Tapi Hari ini akan ada 2x up ya, terimakasih kepada teman-teman yang setia mengikuti kisah receh iniπ€
By the way, anyway, bussway....
Mau tau tentang Aldekha Depe Dan Syala Yaya, mereka itu teman-teman author yang super kece. Karya mereka super keren loo.
Teman-teman bisa kunjungi novel mereka yaπ
__ADS_1