Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Penasaran


__ADS_3

Cinta adalah sebuah rasa yang sangat sulit di definisikan, dia mampu membuatmu bahagia sekaligus terluka dalam waktu yang bersamaan. ~ Nafasal


💔💔💔


Clarissa termenung di kursi cafe favoritnya, pandangannya kosong menatap lurus menembus kaca besar di sampingnya.


"Cla ....," panggil Ivanka yang sedari tadi menemaninya.


Namun, Clarissa tak menyahuti panggilan sahabatnya itu. Dia tetap fokus pada pikirannya, yang entah melayang kemana.


"Clarissa ....," panggil nya sekali lagi dengan nada lebih tinggi.


Tubuh Clarissa terjingkat, Ia segera menoleh ke arah Ivanka dengan tatapan terkejut.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Lihat wajahmu terlihat kusut sekali, kamu bahkan tak peduli dengan penampilanmu saat ini?" protes Ivanka.


Clarissa mendesah lirih, memang benar yang di katakan oleh gadis yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka remaja itu. Clarissa benar-benar kacau saat ini, sejak berakhirnya hubungan dia dengan Eric. Gadis yang berwajah cantik tanpa cela itu seperti kehilangan semangat hidupnya, dia benar-benar kehilangan sosok Eric yang sangat perhatian kepada nya.


"Kali ini rasanya sangat berbeda, aku benar-benar kehilangan dia." Clarissa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Ia terisak. Ivanka menggeser kursi nya agar bisa lebih dekat dengan Clarissa.


"Cla ... kamu jangan seperti ini ya, aku yakin kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Eric. Kamu pasti bisa melupakannya," ucap Ivanka sambil mengelus lembut punggung Clarissa.


Gadis berbibir tipis itu mendongakkan kepala menatap Ivanka, Ia tak terima dengan ucapan sahabatnya itu.


"Aku tak ingin pria lain Iv, Aku hanya ingin Eric. Dia sangat berarti dalam hidupku, dia bahkan ...." Clarissa memejamkan matanya, menyapu sisa cairan bening yang masih menggenang di sudut matanya.


"Cla, kenapa kamu seperti ini. Ini sangat berbeda saat perasaanmu kepada Rendra atau pun Arga. Kenapa dengan Eric yang baru saja kamu kenal kamu bisa sekacau ini?" Ivanka merasa heran dengan Clarissa, pasalnya gadis yang tengah tertunduk lesu itu. Tampak berubah sejak bertemu dengan Eric.


"Entahlah, Aku sendiri juga benci dengan perasaanku ini. Kenapa Aku tak rela kehilangan sosok Eric pergi dari hidupku," Clarissa memandang lekat layar ponselnya. Foto Eric masih menjadi wallpaper di ponsel pintarnya, dadanya terasa sesak ketika Ia menatap mata laki-laki yang terpampang di benda pipih tersebut.



"Eric Aku sangat merindukanmu, kenapa semua begitu tak adil bagiku," gumam Clarissa di iringi derai airmata yang terus menghujam pipi mulusnya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Montana Grup


Eric yang tengah sibuk mengerjakan laporan akhir bulan, merasa tak nyaman dengan perasaannya. Tiba-tiba jantungnya berdegup lebih kencang.


"Ada apa ini, kenapa perasaanku merasa sangat tidak nyaman." Eric memegang dadanya, Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya. Namun, suara seorang gadis tiba-tiba membuyarkan pikirannya yang siap menjelajah.


"Pak Eric, ada berkas yang harus segera ditanda tangani oleh Tuan Arga. Tapi saya....," ucapan gadis muda itu terhenti.


Eric mulai mengerti maksud gadis tersebut, "Biar Aku saja yang ke ruangan Tuan Arga." Eric bangkit dan mengambil berkas yang Ada di tangan gadis itu.


"Kamu bisa kembali ke meja kerjamu," imbuh Eric, gadis itu nampak tersenyum.


"Terimakasih pak Eric," ucap gadis itu sembari membungkukkan badan.


Walaupun dari awal Eric sudah bersikeras pada Arga, bahwa dia tidak ingin diperlakukan secara khusus di kantor. Tapi nyatanya, dia tetap mendapatkan perlakuan spesial oleh karyawan lain. Entah itu suatu kebetulan atau memang disengaja oleh Arga, Eric pun sudah tak terlalu ambil pusing masalah itu.


🍁🍁🍁


Eric sudah berada di ruangan Arga, Ia sengaja menunggu Arga di sofa dengan membaca majalah yang berada di meja.


"Halo sayang,"


"Sayang, tolong ... tolong gadis itu." suara Erina terdengar sangat panik sekali


"Tolong? Gadis itu? Apa yang sedang kamu bicarakan sayang?" Arga tampak begitu panik mendengar suara Erina.


"Anggen sayang ... Anggen."


"Kenapa dengan Anggen sayang? Kamu bicara yang tenang ya, jangan panik. Ok!" ucap Arga mencoba menangkan Erina.


Eric yang mendengar nama Anggen, tampak mengerutkan kening. Pikirannya menerawang, langsung mengingat pada sosok Anggen, yang mempunyai senyuman sangat manis sekali.


"Terjadi sesuatu sama Anggen sayang, dia baru saja menelponku. Mengabarkan kalau hari ini tidak ada kelas, tapi tiba-tiba dia menjerit minta tolong sayang. Aku takut terjadi sesuatu dengan dia, Aku mohon segera selamatkan Anggen sayang." suara Erina mulai terdengar serak, Arga sudah mengira kalau Erina saat ini sedang menangis.


"Sayang, ku mohon berhentilah menangis. Aku akan berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi pada Anggen, sekarang kamu tenang dan berhentilah menangis. Ok sayang?" tutur Arga.

__ADS_1


"Baiklah, Aku berharap sekali pada mu sayang. Selamatkan Anggen," ucap Erina penuh harap.


Arga mengiyakan permintaan Erina, lalu Ia menutup sambungan telponnya. Ia memijit pangkal hidungnya, Ia menatap ke arah pak Sam.


"Pak Sam, cari tahu tentang keberadaan Anggen. Dia adalah guru senam Erina. Erina baru saja menelponku memberitahukan kalau terjadi sesuatu dengan Anggen," perintah Arga kepada pak Sam.


Seperti biasa, pak Sam hanya mengiyakan dengan menganggukkan kepala dan berjalan keluar meninggalkan Arga dan Eric.


"Baik Tuan, saya akan lakukan yang terbaik," ucap Pak Sam.


🍁🍁🍁


Eric berjalan mendekati kursi kebesaran Arga, Ia penasaran karena adik iparnya itu menyebutkan nama Anggen dalam percakapannya dengan Erina melalui ponselnya tersebut.


"Tadi kamu menyinggung Anggen bukan?" tanya Eric yang terkesan menyelidik.


"Iya, kak Eric kenal dengan Anggen?" Arga menautkan kedua alisnya.


"Iya, Aku kenal nama Anggen. Tapi tak terlalu yakin kalau itu Anggen yang Aku kenal," Eric menjeda kalimatnya sesaat.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Eric semakin penasaran.


Arga menjelaskan semua yang Erina ceritakan, Eric tampak mendengarkan dengan seksama. Ia begitu terkejut bahwa nama Anggen dalam bahaya.


Walaupun Ia berharap gadis itu bukan Anggen yang Ia kenal, tapi Eric bertekad untuk membantu misi menemukan sosok Anggen. Entah kenapa hatinya merasa ada sesuatu yang tidak beres.


Bersambung ....


💞💞💞


Sembari menunggu up, mampir ke karya teman author yang keren ini ya💝😍



.

__ADS_1



__ADS_2