
Satu jam sebelumnya, Clarissa sudah berada di cafe Te Amo. Ia sengaja berangkat lebih awal karena tak ingin membuat Eric menunggu dirinya, cafe yang sebelumnya sudah di booking oleh nya tampak begitu lengang. Namun, Clarrisa sudah berpesan sebelumnya. Karena cafe sudah di booking, jadi tidak ada yang boleh mengunjungi tempat tersebut. Pengecualian untuk seorang gadis yang nanti akan datang ke cafe itu, Clarissa memberikan foto Anggen agar memudahkan untuk mereka mengenali gadis tersebut.
Sepuluh menit kemudian, Eric datang. Ia menepati janji untuk bertemu dengan Clarissa dan berharap ini adalah pertemuan terakhirnya. Clarissa tampak begitu senang karena bisa melihat Eric lagi, matanya berbinar menunjukkan kebahagiaan.
"Sudah lama menunggu?" tanya Eric seraya menghempaskan tubuhnya di kursi tepat di hadapan Clarissa.
Clarissa menggelengkan kepala dan menyungginggkan sebuah senyuman.
"Demi kamu aku rela menunggu sampai kapanpun," jawab Clarissa santai.
Eric tersenyum tipis menanggapi ucapan Clarissa.
Seorang waitress menghampiri meja mereka, dengan mengulum senyum Waitress tersebut memberikan buku menu kepada mereka berdua.
"Aku mau pesan coklat hangat saja," ucap Eric tanpa membuka buku menu tersebut.
Namun, berbeda dengan Clarissa. Gadis itu tampak dengan seksama membuka lembar demi lembar buku menu itu.
"Kamu mau makan apa?" tawar Clarissa seraya menutup buku menu tersebut.
"Aku masih belum lapar," tolak Eric.
Clarissa mendelik menatap Eric, "Kamu harus makan!" pekik Clarissa.
"Pesan dua Original Grill Steak Sirloin with Lemon sauces sama Orange Juice satu ya. Oh ya, sama air mineral dua," jelas Clarissa kepada waitress nya.
"Baik nona," ujar waitress seraya meninggalkan meja mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, sang waitress sudah membawa makanan dan minuman yang sudah mereka pesan.
Clarissa dan Eric mulai menikmati hidangan kuliner western tersebut, makanan yang terbuat dari daging sapi tersebut terasa sangat juicy sekali. Makanan yang di masak dengan di panggang ini memang sangat menggugah selera siapa saja untuk mencicipi nya, harganya yang tergolong mahal untuk kalangan menengah ke bawah. Membuat makanan ini tak setenar fried chicken yang sama berasal dari kuliner western.
"Apa kamu bahagia Eric?" tanya Clarissa membuka percakapan, tangannya dengan telaten memotong daging steak tersebut menjadi kecil-kecil sebelum ia makan.
Eric yang mendengar pertanyaan Clarissa, segera meletakkan garpu dan pisaunya. Ia menatap lekat Clarissa.
"Aku sangat bahagia, aku harap kamu juga akan segera menemukan kebahagiaan mu Cla," jawab Eric dengan mengulas senyum.
Clarissa tersenyum getir mendengar kalimat Eric.
Dan aku tak akan membiarkan kebahagiaan mu dengan gadis lain, Eric. Kamu hanya boleh bahagia bersamaku, bukan dengan gadis lain, batin Clarissa.
Clarissa yang menghadap pintu masuk cafe tiba-tiba menangkap objek yang sudah di tunggu nya sedari tadi, ekor mata Clarissa menangkap kepada dua orang gadis yang baru saja masuk ke dalam cafe, kedua gadis itu memakai masker dan jaket. Clarissa tersenyum samar.
Dia pasti Anggen, dan gadis bodoh itu mengajak teman nya. Benar-benar menyedihkan, gumam Clarissa dalam hati.
Clarissa merasa senang karena Anggen masuk dalam jebakannya, Ia bahkan tak tahu bahwa gadis yang bersama dengan Anggen saat ini adalah Erina.
"Cla, kenapa kamu malah melamun?" tukas Eric, Ia melambaikan tangannya karena Clarissa sedari tadi tak menggubrisnya. Laki-laki itu merasa aneh, pasalnya gadis itu dari tadi melihat ke arah belakang Eric dengan serius.
Eric mencoba memutar tubuhnya agar bisa dengan jelas melihat apa yang sudah membuat Clarissa terdiam. Namun, reflek Clarissa menarik tangan Eric agar Ia tak sampai melihat ke arah belakang tubuhnya.
"Aku belum menjawab pertanyaanku ya?" ucap Clarissa mengalihkan perhatian Eric.
Eric mengiyakan ucapan Clarissa, walaupun sebenarnya ia merasa penasaran dengan apa yang ada di belakangnya tersebut.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Sementara itu di kantor Arga, Ia yang tengah sibuk dengan pekerjaan kantornya. Terpaksa harus menghentikan aktifitas nya, karena melihat notifikasi di ponsel pintarnya.
Arga segera menggeser layar ponselnya dengan ibu jarinya, Ia mengernyitkan keningnya karena notifikasi tersebut berasal dari navigasi yang menghubungkan dengan ponsel Erina. Pada navigasi tersebut terlihat pergerakan yang menandakkan bahwa Erina sedang dalam perjalanan ke suatu tempat.
Laki-laki yang berpostur tinggi tegap itu segera bangkit dari kursi kebesarannya, sontak hal tersebut membuat Pak Sam yang berdiri di sebelah nya terkejut.
"Maaf, ada apa Tuan?" tanya pak Sam.
"Siapkan mobil sekarang juga!" perintah Arga.
"Baik Tuan!" sahut pak Sam.
Pak Sam sedikit cemas, karena jika Tuan nya itu terlihat panik. Berarti ada sesuatu dengan Erina, karena tak ada lagi yang membuatnya begitu panik selain istri yang begitu Ia cintai tersebut.
🍁🍁🍁
Cafe Te Amo
"Aku bahagia jika bersamamu, seperti sekarang ini. Aku sangat bahagia sekali," ungkap Clarissa.
Eric mendesah lirih, ini lah saatnya untuk mengakhiri semua. Meskipun akan menyakitkan untuk Clarissa, tapi inilah yang terbaik.
"Cla, kita tak akan bisa bersama. Itulah kenyataannya. Perasaanmu hanya sementara, waktu yang akan membuktikan bahwa perasaanmu hanya lah sebuah ambisi bukan cinta."
Clarissa terdiam sejenak.
"Kamu meragukan cinta tulus ku Eric?" Clarissa tampak terisak, air matanya lolos dari kedua sudut matanya.
"Bukan meragukan, tapi kita memang tak bisa bersama Cla. Lupakan aku, itu lah yang terbaik untuk kita." Eric bangkit dari tempat duduk nya. Ia mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar.
"Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan mu, Cla." Laki-laki itu hendak berjalan meninggalkan Clarissa, namun dengan cepat Clarissa mendekap tubuh Eric dari belakang.
🍁🍁🍁
Laki-laki yang akan menjadi ayah tersebut tampak terkesiap, pasalnya Erina terlihat memakai masker dan jaket tebal. Hal itu membuat Arga meradang. Ia tampak berdiri di hadapan Anggen dan Erina, namun mereka tak menyadari kehadirannya.
Arga menatap lekat Erina yang terlihat sedang mencoba menenangkan Anggen, Erina mulai menyadari bahwa ada sosok yang tengah berdiri di hadapannya dengan berkacak pinggang. Dengan perlahan Ia mendongakkan kepalanya, betapa terkejut nya bahwa sosok yang di hadapannya itu adalah suaminya yang super duper posesif itu.
Erina membulatkan kedua matanya, begitu juga dengan Anggen. Gadis itu segera membenarkan posisi duduk nya, kedua wanita itu tampak menelan saliva nya dengan kasar.
"S-sayang," ucap Erina terbata.
Arga masih bergeming, matanya menatap tajam ke arahnya. Seolah siap untuk menerkam mangsanya.
"Apa yang sedang ....," kalimat Arga terhenti. Erina segera bangkit dari kursi nya dan mendekati Arga, lalu membekap mulut Arga dengan salah satu tangannya. Ia menarik tubuh Arga hingga keluar cafe.
Arga tampak membelalakkan mata, Ia segera melepas tangan Erina.
"Kenapa kamu malah membekapku?" pekik Arga.
"Sayang, ku mohon jangan salah paham ya. Kamu jangan marah," jelas Erina.
"Bagaimana aku tidak marah, kamu pergi tanpa memberi kabar aku terlebih dahulu. Dan juga apa ini?" Arga menunjuk masker dan jaket Erina, matanya masih berkilat menahan amarah.
"I-ini penyamaran sayang," jelasnya.
"Penyamaran?" kening Arga semakin berkerut, Ia semakin tak mengerti apa yang sedang di lakukan oleh istrinya tersebut.
"Iya, jadi aku sekarang itu sedang ....," kalimat Erina terhenti. Ia begitu terkejut mendapati Eric menghampiri Anggen.
__ADS_1
Erina segera berjalan menuju Anggen dan meninggalkan Arga seorang diri diluar cafe, Arga mendesah kasar dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia segera berjalan menyusul Erina.
"Kak Eric," sapa Erina.
Erina segera membuka masker nya, Clarissa yang berdiri di belakang Eric pun tampak terkesiap. Ia tak menyangka bahwa gadis yang sedari tadi bersama Anggen adalah Erina. Dan yang membuat nya kembali terkejut, Arga juga berada di cafe tersebut.
"Erina, kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Eric heran.
"Mereka sedang melakukan penyamaran," ungkap Arga dengan santai nya.
Erina segera menatap Arga dengan mendelik dan mengacungkan jari manisnya di mulutnya.
"Ssssstttt."
"Ha-ha-ha, kalian lucu sekali. Lihat, adikmu sendiri saja menguntit kita. Pasti karena sudah di pengaruhi oleh gadis kampungan ini ya!" Clarissa menunjuk-nunjuk pundak Anggen. Ia menatap tajam kedua mata Anggen.
Erina merasa tidak terima dengan perlakuan Clarissa kepada Anggen, Ia segera mendekati Anggen.
"Nona Clarissa, ini bukan karena siapa di pengaruhi oleh siapa. Bukankah nona Clarissa kemarin memang mengatakan pada Anggen, agar dia datang ke cafe ini!" ungkap Erina dengan bersungut-sungut.
Eric tampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Erina, "Mengatakan pada Anggen? Apa mereka bertemu? Bagaimana bisa?" cecar Eric dengan menatap lekat Clarissa.
"I-itu, aku tak sengaja bertemu dengan gadis ini," kilah Clarissa.
"Cla, sudahi semua ini. Aku tahu semuanya, kamu menyuruh orang untuk memata-matai Anggen dan kak Eric. Sampai kapan kamu akan seperti ini Cla, jika tujuan mu hanya untuk balas dendam. Semua hanya sia-sia, kamu tak akan ku biarkan menyentuh keluargaku. Lupakan dendam mu," tutur Arga.
Mata Clarissa tampak berkaca-kaca, perasaannya berkecamuk. Antara malu dan benci menjadi satu.
"Tidak ... aku tidak akan berhenti untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, semua memang berawal dari dia!" Clarissa menunjuk Erina, sorot matanya menampakkan kebencian yang mendalam.
Erina mematung, Arga merasa tak terima dengan yang di ucap kan Clarissa. Ia segera mendekati Erina, begitu pun dengan Eric. Mereka takut, Clarissa akan menyakiti Erina yang tengah hamil tua itu.
"Cukup ....! Kesabaran ku sudah habis Cla, kamu terus menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kamu buat sendiri. Erina ku bahkan sudah menjadi korban atas kejahatanmu, ini peringatan terakhir untukmu. Aku bahkan tak segan menghancurkan segala yang kamu punya, jika kamu sampai menyakiti Erina ku lagi." tatapan mata Arga tajam bak pisau yang siap menyayat siapa pun yang berani mengusiknya.
Arga bukan lah laki-laki yang suka dengan kekerasan, tapi sekali dia di usik. Dia akan siap menerkam musuhnya dengan seluruh kekuatan nya. 'Jangan Membangunkan Harimau yang sedang Tidur' seperti nya peribahasa itu lah yang cocok untuk Tuan Muda yang sudah bucin akut kepada istrinya tersebut.
Clarissa merasa tertampar dengan ucapan Arga, Ia merasa sudah sangat dipermalukan di depan orang yang dicintai nya sekaligus orang yang Ia benci. Ia segera berjalan menerobos Arga dan Eric yang berdiri tepat di hadapannya.
Erina tampak bernapas lega, Ia menatap suaminya. Ucapan nya barusan membuat Ia sangat bahagia, betapa beruntungnya dia. Mempunyai suami yang sangat bertanggung jawab dan sangat mencintainya.
"Nona Erina, terimakasih. Maaf aku sudah melibatkanmu," ucap Anggen yang merasa sangat bersalah.
"Ish ... bicara apa kamu ini! Aku adalah temanmu, ingat itu ya," ucapnya sambil terkekeh. "Kak Eric. Anggen antar pulang ya, aku akan pulang dengan suami tercintaku ini." imbuhnya, perempuan itu memeluk Arga dari samping seraya mengulas senyuman.
"Apa kamu sedang menggodaku?" ucap Arga sambil terkekeh, Ia tahu bahwa istrinya saat ini sedang merayunya agar Ia tak marah kali ini.
Mereka bertiga pun ikut terkekeh dengan ucapan Arga, suasana yang awal nya tegang. Mencair oleh kehangatan kedua pasangan yang sebentar lagi akan menjadi orang tua untuk bayi triplet nya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantar Anggen pulang. Kalian hati-hati dijalan ya," pamit Eric.
Anggen tampak malu-malu, Ia menganggukkan kepala dengan ragu-ragu.
"Saya pulang dulu, Tuan dan Nona," pamit Anggen.
"Hati-hati di jalan ya," ucap Erina sambil mengulas senyuman.
Anggen dan Eric sudah berlalu meninggalkan mereka berdua, kini tinggal Erina dan Arga.
"Kamu jangan coba merayuku ya, aku masih marah kepadamu," pekik Arga seraya merangkul pundak Erina. Mereka berjalan meninggalkan cafe Te Amo menuju mobil.
"Takutnya aku," seloroh Erin sambil memasang raut wajah menggemaskan.
__ADS_1
Arga segera mencubit pelan hidung Erina dengan gemas, mereka berdua berjalan beriringan dengan diiringi tawa yang renyah.
Bersambung ....