
"Ansel Mahardika, dia adalah seorang aktor muda papan atas berusia 25 tahun. Tuan Ansel pernah terjerat skandal dengan seorang gadis yang juga seorang artis, dia adalah Angela Rose. Dan kini mereka berdua sudah sah menjadi suami istri, karier Tuan Ansel sempat meredup dikarenakan Skandal tersebut. Sekarang Tuan Ansel dan nona Angela mencoba bangkit dari keterpurukan yang sempat mereka alami Tuan," jelas Pak Sam. Laki-laki yang minim ekspresi itu mejabarkan fakta tentang sahabat lama Arga.
"Jadi ... Ansel sekarang sudah menikah? Dan pernikahan tersebut dikarenakan Skandal itu?" tanya Arga dengan raut wajah penasaran, Ia memandang lekat foto sahabatnya itu di artikel yang sudah diberikan oleh Pak Sam.
"Rumor yang beredar mereka berdua menikah sebelum Skandal itu terjadi Tuan, tapi ada pihak yang menyebutkan bahwa pernikahan mereka dikarenakan untuk menutupi skandal tersebut. Dan yang lebih parah, mereka berdua dijebak Tuan," jelas Pak Sam.
Arga tampak berpikir keras, ternyata sahabat yang sudah lama tidak Ia jumpai itu. Mengalami berbagai macam ujian ketika ia mencapai puncak kariernya.
"Pantas saja, Ia bicara seperti itu kemarin. Rupanya skandal ini yang telah membuat kariernya meredup." Arga mendesah pelan, pikirannya menerawang mengingat tentang Ansel. Ansel adalah seorang teman yang sangat baik, tidak ada kenangan buruk tentang laki-laki itu. Arga menyayangkan kenapa sewaktu terjadi skandal itu, Ansel tak menemuinya untuk meminta bantuan.
"Harusnya saat itu juga kamu menghubungiku, agar aku bisa segera melenyapkan orang yang sudah membuat masalah denganmu," gumam Arga.
Arga menatap Pak Sam, "Pak Sam, menurutmu apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Ansel saat ini? Apa dengan memberikan dia hadiah, bisa membuatnya senang?" tanya Arga.
"Menurut saya, tidak kah lebih baik jika saat ini Tuan menjadi investor untuk Tuan Ansel. Setidaknya itu bisa membantu karier Tuan Ansel ... dan mengenai hadiah, itu juga bagus Tuan. Sebagai hadiah atas pernikahan Tuan Ansel dan nona Angela," tutur Pak Sam.
Arga menyunggingkan senyumannya, Ia tampak puas dengan usul yang diberikan oleh Pak Sam.
"Kamu benar, baiklah atur semuanya. Dan satu lagi, terimakasih," ucap Arga. Ada perasaan bangga menyelimuti Arga, Pak Sam sudah sangat berjasa dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi Arga.
πππ
Malam hari di Kediaman Arga
Bibi Mar menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut tamu istimewa Tuan nya, segala macam makanan sudah tersaji rapi di meja makan.
Semua makanan nusantara tersaji di meja makan berbentuk persegi panjang itu, begitu menggugah selera. Erina yang tidak tahu menahu soal kejutan Arga, tampak heran.
"Bi ....," panggil Erina dengan raut wajah heran memandang makanan yang begitu banyaknya.
"Iya nona," sahut bibi Mar.
"Kenapa makanannya begitu banyak Bi? Apa Tuan akan kedatangan tamu, tapi kenapa dia tidak memberitahu---," kalimat Erina terhenti, Arga segera menyahuti ucapannya.
"Tamu spesial sayang, dia sahabat lamaku," ucap Arga dengan mengulas senyum. Erina mengernyitkan kening, ia segera menebak-nebak siapa sahabat yang dimaksud suaminya itu.
"Benarkah, apa dia teman sekolahmu?" tanya Erina.
"Nanti kamu akan tahu," jawabnya singkat. Erina belum puas dengan jawaban Arga, ia mendudukkan diri dengan pikiran melayang membayangkan siapa yang menjadi tamu suaminya itu.
πππ
"Tuan, tamu anda sudah datang. Beliau sudah saya suruh menunggu di ruang tamu," terang bibi Mar.
"Baik, terimakasih Bi," sahut Arga.
__ADS_1
Bibi Mar menganggukkan kepala dan berlalu meninggalkan Arga dan Erina.
Arga segera menggenggam erat jemari Erina, "Ayo, kita temui sahabat lamaku," ajaknya.
Erina hanya mengiyakan ajakan suaminya, mereka berjalan beriringan menuju ruang tamu.
Sepasang suami istri tampak duduk berdampingan di ruang tamu, mereka tampak takjub dengan isi rumah seorang Arga Hutama.
"Maaf sudah menunggu lama sahabatku," sapa Arga membuyarkan ketakjuban mereka berdua, Erina yang menyadari tamu suaminya itu tampak sangat terkejut. Ia segera menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.
"A-Ansel Mahardika?" pekik Erina tak percaya. Ia memandang Ansel dan Arga secara bergantian.
Ansel tersenyum ke arah mereka berdua, begitu juga dengan perempuan di samping Ansel. Ia tampak senang bisa bertemu dengan seorang Arga Hutama dan istrinya.
"Terimakasih atas undangannya Tuan Arga, kami benar-benar tersanjung sekali," ucap perempuan itu, yang tak lain adalah Angela.
Ansel berdecak kesal melihat sikap Angela yang sedikit berlebihan.
"Udah, biasa aja yang. Gak usah berlebihan gitu, dia hanya menebus kesalahannya selama dua tahun terakhir ini. Karena sudah mencampakkan sahabat nya yang sangat tampan ini," seloroh Ansel membanggakan diri.
Angela segera menepuk pundak Ansel karena menahan malu, "Kumat deh narsisnya," desis Angela.
Arga hanya terkekeh melihat sahabat dan istrinya itu, berbeda dengan Erina yang masih terpaku tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini.
"Sayang, di-dia sahabatmu?" tanya Erina terbata.
"Tentu saja, aku benar-benar terkejut sayang. Boleh aku me-- ....," ucapan Erina terhenti, Ia ragu untuk menyampaikan keinginannya kepada suaminya itu.
"Me? Me apa? Kenapa kamu jadi aneh begitu sayang." Arga menautkan alisnya, Ia tak senang dengan gelagat istrinya yang tampak aneh setelah bertemu dengan Ansel. Lebih tepatnya Ia sedang cemburu. Haha
"Ti-tidak ... tidak jadi sayang." Erina memilih mengurungkan keinginannya, dia tidak ingin suaminya menjadi berubah posesif di depan Ansel dan Angela.
"Baiklah, kita langsung saja ke meja makan. Kamu pasti sangat lapar kan?" ledek Arga pada Ansel.
"Ha-ha-ha, kamu tahu saja Tuan Muda. Kalau aku sangat lapar," seloroh Ansel dengan senyuman dibibirnya.
Erina segera mendekati Angela, Ia ingin mengusir rasa canggungnya akibat bertemu dengan sang idola.
"Nona, perkenalkan aku Erina," Erina mengulurkan tangan di hadapan Angela. Angela dengan antusias segera membalas uluran tangan Erina.
"Senang bertemu denganmu nona Erina, aku Angela istrinya Ansel," ucap Angela dengan mengulas senyuman. Senyuman yang sangat manis menurut Erina.
Angela menatap ke arah perut Erina yang sudah tampak besar, "Wah, sudah berapa bulan usia kehamilan anda nona Erina?" tanya Angela antusias, Ia tampak ragu hendak mengelus perut Erina. Erina yang mengetahui gelagat Angela segera menarik tangan perempuan itu dan meletakkan di perutnya yang sudah membulat sempurna.
"Elus saja, tidak apa-apa," lirih Erina. Angela tampak senang dengan perlakuan Erina, Ia segera mengelus perut itu dan membayangkan perutnya yang akan membuncit beberapa bulan lagi.
"Oh ya, apa boleh aku memeluk suamimu nona?" pertanyaan polos Erina sontak membuat ketiga orang itu menoleh ke arah nya, begitu juga dengan Arga. Ia mendelik kesal ke arahnya.
Erina merasa ucapannya sudah membuat ketiga orang itu heran, Ia segera meluruskan ucapannya itu.
__ADS_1
"Bu-Bukan seperti itu, maksudku ... Ini keinginan bayi ku, sejak beberapa hari yang lalu. Aku sangat ingin bertemu dengan Tuan Ansel, dan saat ini entah kenapa rasanya ingin sekali memeluk Tuan Ansel," jelasnya dengan tertunduk. Ia tak berani menatap Arga.
Angela yang mengerti dengan kondisi Erina, segera menoleh ke arah Ansel.
"Yang, nona Erina sedang mengidam. Turuti saja, ini kemauan bayinya," tutur Angela.
Arga yang mendengar ucapan Angela seketika langsung berhambur mendekati Erina.
"Tidak-tidak, kamu tidak boleh memeluk istriku," Arga segera mendekap Erina, Ia tak rela ansel menyentuhnya.
"Sayang, apa tidak ada pilihan lain selain memeluk? Mungkin menjambak atau mencubit begitu?" tawar Arga pada Erina.
Ansel tak terima dengan kalimat Arga, "Enak saja menjambak, kamu pikir emak-emak lagi rebutan suami apa main jambak? Lagian, kamu jadi suami kok posesif banget sih," ketus Ansel. Angela segera mencubit pelan pinggang Ansel.
"Ouch ... sakit yang," protes Ansel.
"Sama-sama posesif gak usah ngatain yang," bisik Angela.
Ansel terkekeh mendengar kalimat Angela, "Beda lah yang, Aku posesifnya elegan. Nah Tuan Muda ini posesifnya aneh," celetuk Ansel.
Arga menatap kesal kepada Ansel, tak terima dengan ucapan sahabatnya itu.
"Ya sudah, sekarang Aku harus apa ini? Meluk atau cium?" goda Ansel, Ia mengangkat kedua alisnya secara berulang.
"Tidak duanya," pekik Arga.
Erina yang melihat sikap suaminya tampak sedih, pasalnya ngidam yang Ia rasakan belum juga tersampaikan. Arga yang menyadari perubahan raut wajah Erina, tampak berpikir.
"Baiklah begini saja, bagaimana kalau kamu mencium perut istriku saja. Begitu tidak apa-apa kan sayang?" tawar Arga pada Erina. Erina mengulas senyuman, Ia setuju dengan ide suaminya itu.
"Oke, tapi ini gak gratis ya!" seru Ansel sambil tersenyum smirk.
"Kamu tak usah khawatir soal itu, udah cepat lakukan," perintah Arga.
Mata Ansel tampak berbinar mendengar pernyataan sahabatnya itu, Ia segera berjalan mendekati Erina.
Ansel membungkukkan badan agar bisa menjangkau perut Erina, Ia memonyongkan bibirnya dan mengecup pelan perut Erina.
Arga hanya bisa menahan napas melihat adegan di depan matanya itu, Ia merutuki bayinya yang membuat keinginan aneh kepada ibunya.
Semoga ini adalah ngidam terakhir yang di rasakan oleh Erina, aku tak bisa membayangkan jika besok Ia mengidam aneh lagi. gumam Arga dalam hati. Ia benar-benar terlihat sangat kesal sekali.
Bersambung ....
πππ
Apakah para readers pernah mengalami ngidam aneh seperti yang Erina rasakan? Jika iya. Selamat anda berhasil membuat suami anda cemburu melihat ngidam yang anda rasakan.ππ
Penasaran sama Ansel yang super ganteng itu, ikuti kisahnya di novel Terpaksa Menikahi Aktor Posesif by Linanda Anggenππ
__ADS_1
.