
Erina mulai terbiasa dengan Tuan Arga. Erina sudah tak canggung lagi memanggil Tuan Arga "honey", walaupun sampai detik ini Erina masih belum mengerti alasan pasti kenapa dia yang dipilih oleh Tuan Arga. Bahkan Erina sudah tidak canggung lagi untuk tidur satu ranjang dengan Tuan Arga. Berbeda dengan Tuan Arga, yang selalu tak bisa menahan diri jika berada di dekat Erina.
Suatu Malam ....
Tuan Arga yang rebahan di tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya. Lampu sengaja dimatikan hanya lampu meja yang masih berpijar redup. Erina masuk ke dalam kamar, Tuan Arga memejamkan matanya. Erina menoleh ke arah Tuan Arga.
Sepertinya dia sudah tidur, sepertinya sudah sangat lelap juga.
batin Erina.
Erina yang merasa malas ganti baju di kamar mandi, segera melepas baju yang membelakangi Tuan Arga. Tuan Arga membelalakkan matanya, tak berkedip menatap punggung Erina yang tampak putih bersih dengan tali bra berwarna hitam. Sekujur tubuh Tuan Arga panas dingin, sambil menelan saliva berulang kali dengan kasar. Erina yang tak menyadari bahwa Tuan Arga mengawasinya dari tempat tidur dengan santainya berjalan ke arah lemari baju. Erina menatap Tuan Arga kembali, dengan sigap Tuan Arga menutup matanya kembali. Takut Erina tahu bahwa dia belum tidur.
Degup kencang masih terasa di dada Tuan Arga, keringat dingin muncul di wajahnya.
Erina naik ke tempat tidur dengan posisi miring menghadap dirinya. Entah sejak kapan Erina sangat suka posisi tidur menghadap Tuan Arga. Hal itu, sungguh membuat gugup Tuan Arga. Pikiran liar Tuan Arga saat menatap tubuh Erina kembali muncul, dia hampir tidak bisa menguasai dirinya. Tuan Arga menatap Erina yang sudah tidur terlelap.
Oh, bagaimana ini? Kenapa setiap malam dia seperti menggodaku, aku bahkan tak tahu harus memulai darimana.
gumam Arga dalam hati.
Tuan Arga terjaga sepanjang malam, dia menahan diri untuk tidak menyentuh Erina.
***
Erina bangun lebih awal, dia melihat Tuan Arga sudah terjaga.
"Selamat pagi, sudah bangun hun?" sapa Erina dan tersenyum manis kepada suaminya.
"Aku bahkan tidak tidur semalaman. Bilang pada pak Sam, aku tidak ke kantor hari ini." Tuan Arga terlihat marah tanpa sebab.
Ada apa lagi dengannya? Kenapa dia marah-marah gak jelas gitu si**?
gerutu Erina.
"Baik hun, akan kusampaikan nanti pada pak Sam." Erina bergegas ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian Erina sudah selesai mandi dan melangkah keluar.
Sepertinya dia sudah tertidur, apa yang dilakukannya semalam sampai dia tidak bisa tidur.
batin Erina.
Erina seperti mengingat-ingat sesuatu. Dan segera memegang bajunya
Dia tidak melakukan apa-apa padaku semalam kan? Aaaargh ... sepertinya tidak. Aku tidak merasakan apa-apa di tubuhku.
gumam Erina.
Erina sempat berpikir aneh pada Tuan Arga, tapi segera ditepisnya jauh-jauh.
***
Pak Sam telah menunggu diruang tamu, Erina segera menghampirinya.
"Pak Sam, hari ini Tuan Arga tidak ke kantor." Erina menjelaskan kepada pak Sam.
"Apa Tuan sakit nona?" Raut wajah pak Sam tampak sangat khawatir.
"Oh ... tidak pak, Tuan hanya ingin istirahat saja karena kemarin malam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak." jelas Erina.
Raut wajah yang tadi tampak khawatir kini memandang Erina dengan senyum curiga.
Apa yang Anda lakukan kepada Tuan Nona?sampai Tuan tidak bisa istirahat dengan nyenyak?
batin Pak Sam.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu nona. saya akan menghandle semua pekerjaan kantor hari ini." pak Sam berpamitan dan melangkah keluar menuju mobil.
cih.
Pasti tadi pak Sam pikir, kita sudah melakukan hubungan layaknya suami istri ya. Sampai-sampai Tuan tidak bisa tidur semalaman. Dih, dasar.
Erina kesal sendiri.
Bibi Mar memberitahu kepada Erina, bahwa Nyonya menelfon. Erina segera melangkah menuju telfon dirumahnya.
"Halo, selamat pagi ibu." sapa Erina
"Halo, sayang kamu hari ini bisa datang kerumah. Ibu sudah kangen denganmu." pinta ibu mertua yang memang sudah dua bulan tidak bertemu setelah acara pernikahan nya.
"oh ... baiklah bu. Tapi sekarang suamiku sedang dirumah." jelas Erina
"Kalau begitu, nanti ajak sekalian ya Arga. Kalian pasti sangat menikmati bulan madu dirumah ya. Sampai-sampai lupa mengunjungi ibu." goda ibu mertuanya
Deeggg ....
__ADS_1
Ibu percayalah kami tidak melakukan apa-apa. Tuan Arga menyentuhku saja tidak.
Erina merasa getir mendengar kalimat ibu, ada sedikit rasa kecewa dan sedih.
"Ibu bisa saja." Erina mencoba bersikap biasa.
"Tidak apa-apa sayang, ibu pengen cepet denger kabar baik dari kalian." sekali lagi ibu menggoda Erina.
Setelah menutup telfon, Erina merasa sangat bersalah kepada ibu mertuanya.
***
Tuan Arga sudah tampak terlihat segar, dia sudah duduk manis di spot favoritnya. sofa kamar.
"Honey, tadi pagi ibu mertua telfon. Ibu menyuruh kita untuk datang kerumah." Erina mencoba menjelaskan pesan dari ibu mertuanya.
"Hmm ... baiklah. Ayo kita pergi sekarang." Tuan Arga melipat koran yang di bacanya dan menaruhnya di meja.
***
Erina dan Arga telah sampai dirumah ibunya. Ibu dan ayah mertua, menyambut Erina dengan pelukan hangat. Erina merasa sangat senang dengan perlakuan ibu dan ayah mertuanya.
Di ruang tengah sudah duduk seorang perempuan, dia sangat cantik dengan rambut lurus panjang berwarna hitam. Terlihat sangat anggun dan elegan. Beda sekali dengan dirinya. Pikir Erina.
Siapa dia? sungguh ... dia sangat cantik.
Gumam Erina dalam hati
"Kenalkan ini Clarissa sayang." ibu mertua memperkenalkan Erina dengan Clarissa.
"Erina." Erina mengulurkan tangan kepada Clarissa.
"Panggil saja aku Cla, senang bertemu denganmu." Clarissa memeluk Erina dan mengabaikan uluran tangan Erina.
Clarissa melepas pelukannya dari Erina dan memandang Tuan Arga.
"Tuan Arga." ledek Clarissa dan segera memeluk manja kepada Arga.
Arga menepis pelukan Clarissa, merasa risih dan tak nyaman.
"Kapan kamu pulang?" tanya Arga dingin.
"Ih ... gitu ya sekarang mentang-mentang sudah nikah. Jadi beda perhatian nya sama aku ya." kata Clarissa yang seolah tak menghiraukan kehadiran Erina.
"Sudah, sudah ... ayo kita makan dulu. Tujuan ibu dan ayah mengundang kalian kan untuk perjamuan makan malam ya." ibu mertua menyudahi sikap Clarissa yang sudah berlebihan kepada Arga. ibu yang dari tadi melihat gerak gerik Erina yang merasa tak nyaman.
Mereka semua menikmati hidangan makan malam yang sudah tersaji di meja makan, hanya pembicaraan ringan yang menemani makan malam di rumah keluarga Hutama malam ini.
Makan malam telah usai, mereka berkumpul di ruang tengah.
"Erina boleh tidak aku pinjam Tuan Arga sebentar." sambil menarik Tuan Arga menjauh dari Erina dan orang tuanya. Setelah selesai jamuan makan malam.
"Eh, iya ... tentu saja boleh. " Erina tersenyum dengan hati yang tak karuan.
Erina sendiri juga tak menyadari ada apa dengan perasaan nya.
"Cla sudah menganggap Arga sebagai kakaknya sendiri, kamu tak perlu cemas ya sayang." seolah ibu mertua bisa membaca raut wajah Erina yang sedikit cemas.
"iya bu ... Erina tidak apa-apa." Erina menjawab lirih, tak puas dengan jawaban yang diberikan ibu mertuanya. Karna sikap Clarissa benar-benar bukan seperti adik dengan seorang kakak. Tapi seperti seorang kekasih yang sudah lama tidak bertemu.
"Kamu berubah Arga!" protes Clarissa yang berhasil membawa Arga ke halaman belakang rumah.
"Iya ... semua sudah berubah Cla, lihat sekarang aku sudah menikah." sambil mengangkat tangan menunjuk jari manis yang sudah melingkar cincin pernikahannya.
"Tidak, kamu tidak mencintai nya kan? Aku bahkan tau dari matamu yang hanya menjadikannya pelarianmu saja." Clarissa memegang erat tangan Arga.
cih.
"Jangan sok tau, aku benar-benar telah jatuh cinta kepada Erina." Arga menepis tangan Clarissa dengan kasar.
"Bohong. Kamu bahkan masih menungguku kan." Clarissa sedikit berteriak.
"Perasaan bisa berubah Cla, seperti halnya perasaan ku padamu yang sudah berubah. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu hanya menganggapku sebagai kakakmu kan." Arga menahan dirinya.
"Aku salah Ga, semenjak aku pergi. Aku baru menyadari perasaan ku padamu. Bahwa ternyata aku mencintaimu." Clarissa menunduk menyesali perbuatannya yang dulu pernah menolak cinta Arga.
"Sudah terlambat Cla ..., aku bahkan sekarang benar-benar menganggapmu sebagai adik ku saja. Tak lebih." Arga bersikap sangat dingin.
Apa yang sudah dilakukan perempuan itu pada Arga. Hingga Arga yang dulu sangat menyukaiku berubah jadi membenciku.
Clarissa merasa sangat marah kepada Erina.
"Sudahlah Cla, aku sudah menikah itu yang terjadi saat ini. Kamu harus Terima semua itu." Arga berlalu meninggalkan Clarissa.
__ADS_1
Clarissa mengusap airmatanya, tak ingin dilihat Erina yang sekarang sangat di bencinya karna telah merebut Arga darinya.
"Honey, ayo pulang. ibu, ayah. aku dan Erina mau pulang dulu." Arga menggandeng tangan Erina.
Mereka berpamitan dan segera berlalu meninggalkan rumah mewah itu .
Erina yang sepanjang perjalanan pulang tadi tampak diam. Dan sampai di kamar tidurpun, dia juga tak mengatakan sepatah katapun kepada Arga.
Arga yang perasaannya tak karuan juga memilih diam. Mereka berdua terlelap dalam keheningan dan perasaan nya masing-masing.
***
Keesokan harinya, Arga sudah rapi dan siap pergi kekantor. Erina mengantar sampai halaman depan kepergian Arga. Setelah kepergian Arga, Erina segera berjalan menuju dapur.
"Bi Mar, boleh saya bertanya sesuatu?" Erina mencoba bertanya kepada bibi Mar, dia tidak ingin larut dalam penasaran nya. Tentang siapa Clarissa.
"Eh, iya non ... Silahkan nona." Jawab bibi sambil meneruskan kegiatannya di dapur.
"Bibi tahu nona Clarissa?" Erina memulai pertanyaan nya.
Bibi Mar, berhenti dari aktifitasnya mendengar nama Clarissa disebut.
Eh, bibi kenapa ya. Kok sepertinya kaget mendengar nama Clarissa. Memang siapa dia?
Erina mencoba menebak-nebak.
"Tapi sebelumnya nona jangan marah ya, ini hanya masa lalu Tuan." bibi Mar, menutup mulutnya dengan satu tangannya.
Aduh, apa gak apa-apa ya kalau aku cerita ke nona Erina tentang nona Clarissa.
batin Bibi Mar.
"Ada apa bi, kok bibi diam?" Erina merasa ada yang aneh dengan bibi Mar.
"Eh, itu nona ... tapi sebelumnya, nona jangan beritahu Tuan ya. saya takut Tuan marah." bibi Mar merasa cemas
"Tenang aja bi, ini rahasia kita berdua. Ok." Erina mengangkat tangan dan memperagakan tangannya bahwa dia akan mengunci rapat-rapat mulutnya.
"Tuan muda dulu sangat menyukai nona Clarissa, tapi sepertinya cinta Tuan muda bertepuk sebelah tangan nona. Karna nona Clarissa hanya menganggap Tuan muda sebagai kakak. itu yang saya dengar dari cerita nyonya besar nona." bibi Mar menjelaskan dengan serius.
Jadi aku hanya pelarian bagi Tuan Arga. Sepertinya sekarang Clarissa mulai membuka hati untuk Tuan. Buktinya kemarin dia bermanja-manja di hadapan Tuan Arga.
Entah kenapa Erina merasa kesal sendiri.
"Non, nona ... nona Erina tidak apa-apa kan?"
bibi Mar membuyarkan lamunan Erina.
"Eh, tidak apa-apa kok bi. saya ke kamar dulu ya bi." Erina tersenyum kepada bibi Mar dan berlalu meninggalkan bibi Mar.
Aduh, aku pasti membuat kesalahan. Kenapa tadi aku jujur ya, tapi semoga nona Erina tidak apa-apa.
Bibi Mar terlihat sangat mencemaskan Erina.
***
Erina sudah berada dikamar, pikirannya sudah melayang kemana-mana membayangkan sesuatu.
Bagaimana kalau Tuan Arga masih menyukai Clarissa? Apa dia akan dengan mudah membuangku. Ah, kenapa denganku. Pernikahan ini kan memang hanya status saja, harusnya aku menerima konsekuensi nya.
perasaan Erina benar-benar sangat sulit dikendalikan.
Erina membenamkan diri di tempat tidur dan terlelap dalam mimpinya.
***
Flashback On
Beberapa bulan yang lalu Arga menyatakan cintanya kepada Clarissa, Clarissa yang hendak pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan.
Namun Clarissa menolak cinta Arga, karena alasan yang tak bisa diterima olehnya.
"Maaf Ga, aku hanya menganggapmu sebagai kakak. aku belum bisa menerima mu." Clarissa menjelaskan alasannya.
Alasan yang menurut Arga sangat tidak masuk akal, bagaimana mungkin dia bisa dengan tenang berkata seperti itu.
Kita tak ada ikatan darah, bisa-bisanya dia memakai alasan itu.
gumam Arga kesal
Arga sangat kecewa dan merasa benar-benar patah hati dengan Clarissa. Di sisi lain ibu dan ayahnya memberi deadline agar Arga segera menikah.
Bersambung
__ADS_1