Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Pulang


__ADS_3

"Pak Sam, pindah kan Erina ke rumah sakit yang lebih layak. Segera urus semua administrasi nya." perintah Arga.


"Baik Tuan." sahut Pak Sam.


Menganggukkan kepala dan segera berlalu meninggalkan Erina dan Arga.


Arga duduk di samping ranjang Erina, dia tak henti memandangi wajah Erina yang masih terpejam rapat.


Tangan Erina mulai bergerak, matanya sayu-sayu mulai terbuka. Arga segera berdiri dan menggenggam erat tangan Erina.


"Sayang, apa yang kamu rasakan?" ucap lirih Arga. Arga membelai lembut rambut Erina.


Mata Erina telah terbuka sempurna, tenggorokannya terasa kering. Dia melihat ke sekeliling, kepalanya masih sedikit berat.


"Apa kamu mau minum?" tanya Arga.


Arga segera meraih gelas yang berada di meja dekat ranjang Erina. Erina hanya mengangguk pelan. Arga membantunya untuk bangun, Erina hanya menyeruput sedikit. Mulutnya terasa sangat pahit. Arga meletakkan gelas dan membantu Erina untuk rebahan.


Pak Sam telah selesai mengurus semua administrasi rumah sakitnya. Pak Sam hendak berjalan masuk ke ruang Erina, namun langkah Pak Sam terhenti di depan pintu. Erina telah sadarkan diri, Pak Sam mengurungkan niatnya untuk masuk. Pak Sam mematung di depan pintu, menyaksikan kejadian yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya. Tuan Arga yang biasanya selalu berwibawa dan dingin, kini terlihat penuh perhatian kepada istri yang sangat dicintainya.


Begitu juga dua perawat yang tak sengaja melewati depan ruangan Erina, mereka yang tak lain adalah perawat Diyah dan Linda. Merasa aneh karna Pak Sam terdiam di depan pintu, segera di lihatnya dari balik kaca.


Betapa beruntungnya nona Erina, Tuan Arga sangat perhatian sekali kepadanya. Ya Tuhan, sisakan laki-laki seperti Tuan Arga untukku.


gumam Linda dalam hati, dia merasa beruntung bisa melihat sisi lain Tuan Arga yang sangat perhatian kepada istrinya. Kekagumannya terhadap sosok Arga Hutama semakin meningkat.


Pak Sam baru menyadari keberadaan dua perawat Linda dan Diyah.


"Ehem.... " suara Pak Sam membuyarkan lamunan kedua perawat tersebut.


"Maafkan kami Tuan, kami hanya tidak sengaja lewat saja." ucap mereka berdua dan segera berlalu dari pandangan Pak Sam.


***


Erina yang mulai mengingat kejadian kemarin sore, segera melepaskan tangannya dari genggaman Arga.


Arga terkejut dengan sikap Erina.


"Erin?" panggil Arga lirih.


Erina hanya terdiam, tak menyahut panggilan Arga. Dia memalingkan wajahnya dari pandangan arga.


"Erin, ku mohon maafkan aku?" ucap Arga dengan nada memelas.


Erina mencoba duduk dari tempat tidurnya, dia merasa tubuhnya sudah lebih baik. Arga mencoba membantunya, namun tangan Arga ditepiskan secara halus olehnya.


Arga mulai merasa kesal dengan sikap Erina.


"Aku sudah minta maaf kepadamu, kenapa kamu masih marah kepadaku?" seru Arga, dia menghela napas dengan kesal.


Erina masih terdiam. Dia menekuk kedua kakinya sampai menempel ke dadanya, tangannya melingkar di kedua kakinya. Erina menempelkan dagu di lututnya.


"Aku lapar." suara lirih Erina yang hampir tak terdengar.


"Kamu bilang apa barusan?" Arga mendekatkan telinganya ke wajah Erina.


"Aku lapaaaaar!" teriak Erina dengan kesal, dia mengerucutkan mulutnya.


Arga tersenyum mendengar ucapan Erina.


"Tunggu sebentar, akan aku suruh Pak Sam membelikan makanan untukmu." seru Arga.


Dia meraih handphone nya dan menggeser layarnya. Menekan beberapa nomer dan meletakkan benda pipih itu ke daun telinganya.


"Pak Sam, belikan makanan untuk Erina. Belikan sayuran dan daging untuk menambah staminanya." seru Arga kepada Pak Sam.


"Baik Tuan." Pak Sam segera menutup handphone nya dan bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


Sekitar 10 menit Pak Sam telah kembali dengan membawa beberapa bungkus di tangannya. Pak Sam segera membuka bungkusan itu di atas piring yang sudah di siapkan di meja oleh pihak rumah sakit.


Pak Sam menyerahkan piring itu kepada Arga, Arga segera menyuapi Erina.


"Aku bisa makan sendiri." seru Erina.


Dia menarik piring yang dibawa Arga, Erina segera makan dengan lahapnya. Arga yang terus mengawasinya, hanya tersenyum simpul melihat istrinya.


"Apa kamu selapar itu?" Arga menarik kursi agar lebih dekat dengan ranjang Erina.


"Iya, aku sangat kesal. Itu sungguh membuang banyak energiku." jawabnya, mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Maafkan aku." ucap Arga lirih.


Arga terus memandang Erina dengan tatapan sendu.


"Sudah puas memandangiku?" seru Erina.


Erina merasa tak enak hati, jika terus di pandang Arga seperti itu.


"Belum... aku tak akan pernah puas untuk memandangimu. Karna sekarang aku sangat merindukanmu, jadi biarkan aku memandangmu sepanjang hari ini." sahut Arga.


Arga meletakkan kedua tangannya di atas ranjang Erina. Wajahnya kini semakin dekat dengan Erina, sehingga kini ia semakin bebas memandang wajah Erina.


Erina tersipu malu, dia segera meletakkan piring yang masih tersisa sedikit makanannya.


"Kenapa kamu tak menghabiskan makanannya?" tanya Arga.


"Aku sudah kenyang." sahut Erina.


Arga meraih piring bekas makanan Erina dan menaruh di meja. Dia mengambilkan segelas air putih dan memberikannya kepada Erina.


"Apa kamu sudah baikan?" Arga kembali duduk dan mulai memandanginya lagi.


Erina hanya menganggukkan kepala pelan.


"Bisa kita pulang sekarang, aku sudah ingin mandi dan ganti baju. Tubuhku rasanya sangat lengket." seru Erina sambil menarik pelan baju yang dikenakannya.


Pak Sam mengiyakan dan segera berjalan menuju ruang perawat.


***


Pak Sam kembali dengan seorang Dokter dan seorang perawat yang berjalan membuntuti di belakang Pak Sam, perawat itu segera melepaskan selang infus di pergelangan tangan Erina.


"Sudah selesai nona, nona harus banyak istirahat ya. Kondisi nona masih belum pulih sepenuhnya." ucap Dokter jaga itu.


Erina mengiyakan dan mengucapkan banyak Terima kasih. Perawat dan Pak dokter pamit undur diri.


"Baiklah, ayo kita pulang kerumah." Arga mulai mengangkat tubuh Erina.


"Apa yang kamu lakukan?" teriak Erina.


"Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." Arga menyunggingkan senyumannya.


Dia mengangkat tubuh Erina, Arga berjalan keluar ruangan. Di sudut ruangan, sudah berdiri para perawat dan dua orang dokter jaga. Mereka melongo melihat adegan pasangan ini.


"Sungguh romantisnya Tuan Arga, sampai-sampai dia tak rela nona Erina harus berjalan kaki. Oh, andai nona Erina itu aku." hampir semua perempuan yang ada di ruangan IGD membatin seperti itu.


"Turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri." ucap Erina pelan, dia benar-benar malu.


"Sudah, kamu diam saja. Lingkarkan tanganmu di leherku." sahut Arga.


"Kenapa.... ?" protes Erina.


"Sudah turuti saja, atau kamu mau aku menciummu di sini." Arga menghentikan langkahnya. Mendekatkan wajahnya pada wajah Erina.


Tak pikir panjang, Erina segera melingkarkan tangannya di leher Arga. Takut Arga akan benar-benar menciumnya di depan umum.

__ADS_1


Dia kan Tuan Muda yang seenaknya sendiri.


pikir Erina.


Banyak mata yang sedang mengawasi mereka, iri sekaligus senang melihat pasangan ini.


Para dokter dan beberapa perawat menundukkan kepala.


"Semoga lekas sembuh nona Erina." ucap mereka kompak.


Membuat Erina merasa tidak enak, Erina menundukkan kepala tanda Terima kasih.


Di dalam mobil Erina masih tetap dengan posisi di pangku oleh Arga.


"Turunkan aku, aku bisa duduk sendiri." seru Erina.


Erina mencoba mendorong tubuh Arga, namun Arga malah melingkarkan tangannya di tubuh Erina. Usaha Erina semakin sia-sia, karna semakin mendorong tubuh Arga, semakin dia mempererat pelukannya.


Erina menarik nafas dengan kesal, Arga menyandarkan kepalanya di pundak Erina.


"Aku senang kamu baik-baik saja, aku mencarimu di segala penjuru kota ini. Aku hampir gila karna tak dapat menemukanmu. Kini kamu sudah aku temukan, jadi tak akan kubiarkan kamu jauh sedetik pun dariku." ucap Arga lirih.


Erina tersenyum, tapi seketika ingatannya tentang Arga dan Clarissa yang sedang berpelukan di kantor muncul. Erina merasa kesal.


"Apa kamu benar-benar mencariku, bukankah kamu sibuk berpelukan dengan nona Clarissa." Karna sangat kesal, Erina akhirnya mengatakan apa yang sedang dia rasakan.


"Kamu cemburu ya?" bisik Arga tepat di telinga Erina.


Hawa panas seketika dirasakan Erina, Arga benar-benar pintar membuat Erina kelabakan.


"Siapa yang cemburu...? Aku tidak cemburu, hanya saja... itu menggangguku." ucap Erina dengan nada tinggi.


Arga menyunggingkan senyumannya.


"Kamu sangat menggemaskan kalau sedang cemburu." Arga mencubit pelan hidung Erina.


***


Mobil telah sampai di rumah, Arga turun dengan posisi tetap menggendong Erina.


"Mau sampai kapan kamu menggendong ku seperti ini!" seru Erina.


"Sampai tubuh ku sudah tak kuat untuk menggendongmu." goda Arga.


Arga melangkah menuju kamar, Bibi Mar yang sangat khawatir dengan kondisi nona Erina. Akhirnya bisa bernafas lega, melihat nona nya baik-baik saja.


Arga duduk di tepi tempat tidurnya dengan posisi Erina masih di pangkuannya.


"Aku mau turun, lepaskan tanganmu." ucap Erina mencoba menyingkirkan tangan Arga dari tubuhnya. Tapi Arga menahan tangannya.


"Kamu masih cemburu?" goda Arga.


Erina hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Arga.


"Kamu tahu, aku juga sangat cemburu ketika kamu satu mobil dengan Rendra. Rasanya sungguh sakit sekali hati ini." Arga menekan dadanya.


Dia tahu aku keluar dengan Rendra.


gumam Erina dalam hati.


"Aku kan tidak melakukan apa-apa sama Rendra. Aku sudah menolak ajakannya, dan asal kamu tahu. Waktu itu, aku benar-benar tak nyaman dekat dengan nya." jelas Erina


"Aku tahu, Rendra yang mencoba untuk menggodamu disaat aku tak ada. Maafkan aku sudah salah paham kepadamu sayang." ucap Arga.


Arga memeluk Erina erat.


"Aku sangat mencintaimu, aku tak ingin kehilanganmu walaupun hanya satu malam saja." Arga memegang tekuk Erina dan mendekatkan bibirnya di bibir Erina.

__ADS_1


Arga mencium dengan lembut bibir Erina, seolah mencurahkan rasa rindunya selama beberapa hari ini.


Bersambung


__ADS_2