
Allina Corp.
Eric berjalan menuju ruangan manager Beni, Ia membawa selembar kertas yang sudah dilipatnya dengan rapi dan dibungkus dengan amplop persegi panjang berwarna coklat. Ia mengetuk pelan daun pintu ruangan managernya.
Tok-tok-tok ....
"Masuk." Terdengar suara dari dalam menyahuti.
Laki-laki itu membuka handle pintu di hadapannya dan melangkah masuk.
"Selamat pagi, Pak Beni," sapa Eric.
Beni yang tengah duduk di kursi kebesarannya menyunggingkan sebuah senyuman.
"Selamat pagi pak Eric, silahkan duduk." Tangan Beni menunjuk pada kursi yang berada di hadapannya.
"Ada apa pak Eric? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Beni.
"Saya mau menyerahkan ini," ucap Eric. Ia menyerahkan amplop coklat yang sedari tadi sudah dipegangnya.
Beni segera menerima amplop itu dengan sedikit ragu, dahinya berkerut sambil menatap amplop yang sudah berada di tangan kanannya.
"Apa ini?" tanya Beni penasaran, Ia masih enggan membuka amplop itu. Laki-laki itu menunggu jawaban dari Eric.
"Itu surat pengunduran diri Saya Pak Beni," jelas Eric.
Laki-laki itu menautkan alis, masih tak percaya dengan yang baru saja di dengarnya. Beni segera membuka amplop itu, Ia membaca dengan seksama isi dari lembaran putih yang di ketik sendiri oleh Eric.
"Tidak bisakah anda pikirkan sekali lagi Pak Eric?" Beni tampak sangat menyesalkan keputusan pengunduran diri nya.
"Mohon maaf Pak, keputusan saya sudah bulat. Saya sudah memikirkannya secara matang" ungkap Eric dengan penuh keyakinan.
Laki-laki yang sudah menjadi managernya selama beberapa bulan ini, hanya bisa mendengus kasar mendengar keputusan Eric. Sebenarnya Beni sangat menyayangkan keputusannya, karena Ia adalah karyawan yang sangat berdedikasi tinggi kepada perusahaan. Loyalitasnya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, tapi Beni sangat menghormati keputusan Eric. Laki-laki itu tampak berat hati mengiyakan surat pengunduran dirinya.
πππ
Berita pengunduran diri Eric pun sudah terdengar di telinga Clarissa, gadis itu bergegas menuju kantor Allina Corp.
Clarissa berjalan cepat menuju ruangan Ivanka, sebelum menuju ke ruangan sahabatnya itu. Clarissa mengedarkan pandangannya pada tempat biasanya Eric berkutat dengan pekerjaannya, namun kedua bola matanya tak dapat menangkap sosok laki-laki yang kini begitu Ia cintai.
Eric telah berkemas dan meninggalkan kantor setengah jam sebelum kedatangan Clarissa, gadis itu segera menghubungi Eric. Tapi tak ada jawaban dari laki-laki itu, Clarissa benar-benar merasa frustasi.
Clarissa keluar kantor Allina Corp. dengan langkah gontai, Ia seolah kehilangan semangat hidupnya. Ivanka yang merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya itu terus mengawasinya sampai Ia masuk ke dalam mobil.
πππ
Gadis itu terus melajukan mobilnya, pikirannya tetap fokus pada seorang laki-laki bernama Eric. Tak terasa mobilnya kini sudah berhenti pada cafe yang sering Ia kunjungi bersama dengan Eric.
Cafe Te Amo
Clarissa turun dari mobil dan berjalan masuk ke arah cafe itu, Ia mendudukkan dirinya pada sebuah sofa yang berada di dalam cafe yang terletak tak jauh dari pintu masuk.
Clarissa memesan coklat hangat, minuman yang selalu dipesan Eric ketika sedang kencan dengannya. Entah kenapa dia ingin sekali minum minuman kesukaan orang yang sangat disukainya saat ini, paling tidak bisa sedikit mengobati rasa rindu yang menyergap perasaannya sekarang.
__ADS_1
Clarissa begitu menikmati coklat hangat yang tersaji pada cangkir berwarna hijau muda itu, warna yang di selaraskan dengan tema Cafe yang dominan dengan warna hijau. Karena mengusung konsep Go Green.
Gadis itu kembali menerawang tentang pertemuan pertamanya dengan Eric, pertemuan yang memang direncanakan olehnya. Pertemuan yang bertujuan untuk membalas dendam kepada Erina, dengan cara meluluhkan hati Eric dan membuatnya menderita agar Erina juga ikut menderita. Karena Clarissa tahu, betapa sayang nya Erina terhadap kakaknya itu. Namun, semua rencananya telah gagal total.
Rencana yang awalnya sangat Ia yakini akan berhasil 100%, karena cukup mudah baginya membuat seorang laki-laki jatuh cinta kepada nya. Namun, takdir berkata lain. Clarissa bahkan terlebih dulu yang merasakan getaran cinta itu muncul dalam hatinya, dan dia begitu bahagia karena cintanya kali ini tak bertepuk sebelah tangan.
Laki-laki yang sudah matang secara pemikiran dan umur itu menyatakan cintanya kepada nya, tentu saja rasa cinta itu Ia sambut dengan suka cita. Ia melupakan sesaat tentang misinya untuk balas dendam terhadap Erina, toh selama ini tidak ada yang tau bahwa Clarissa yang sengaja merencanakan pertemuannya dengan Eric.
Sesaat mereka merasakan bahagia sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai satu sama lain, Clarissa merasakan perasaan yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya. Begitu juga dengan Eric, Clarissa adalah cinta pertamanya.
Namun, sejak beberapa minggu terakhir. Eric telah berubah, sikapnya tak sehangat yang dulu lagi. Clarissa hanya menduga ini akibat tekanan pekerjaan yang menyita seluruh waktunya, tapi setelah mendengar pengunduran diri Eric hari ini. Rasanya semuanya begitu samar bagi Clarissa, dia belum sepenuhnya mengenal kekasihnya. Ada hal yang disembunyikan darinya, begitu juga dengan Clarissa. Yang menutup rapat tentang rahasia bahwa Ia mengenal Arga dan Erina dari Eric.
πππ
Eric berhenti pada sebuah toko buku, Ia ingin membeli beberapa buku untuk mengisi waktu luangnya di akhir pekan.
Laki-laki itu telah menyetujui untuk bergabung dengan perusahaan Montana Grup, perusahaan milik adik iparnya Arga Hutama. Tapi tentu dengan beberapa syarat, Ia tak ingin di istimewakan. Eric ingin memulai kariernya di Montana Grup dari nol, Arga memberikan tawaran untuk posisi Manager Pemasaran karena kelihaian Eric dalam marketing sudah tidak usah diragukan lagi. Namun Eric menolak, Ia akan memulai kariernya sebagai staff admin. Ia ingin benar-benar berjuang dengan tangan dan kakinya sendiri, sehingga Ia bisa dikatakan layak berada dalam perusahaan yang sekarang menduduki peringkat satu di negerinya.
Eric berjalan pelan dan mengamati satu per satu buku yang sedang Ia cari, kedua bola matanya terfokus pada judul pada setiap buku yang tersusun rapi di rak tersebut. Manik hazel miliknya menangkap sebuah buku yang sudah lama Ia cari, Ia segera mengambilnya namun tangannya kalah cepat dengan tangan seseorang yang sudah terlebih dulu mengambilnya.
Laki-laki itu segera menoleh kepada sosok yang berdiri di sampingnya, Ia mengerutkan kening menatap sosok di sebelahnya itu.
"Nona Anggen ...." suara Eric sontak membuat gadis itu segera menoleh ke arahnya.
Gadis itu mengulas senyuman dan menganggukkan kepala kepada nya, Eric dengan canggung membalas anggukan gadis itu.
Anggen yang menyadari bahwa Eric melirik buku yang sedang Ia pegang segera memberikan buku itu kepada laki-laki yang sudah memberikannya ice cream tempo hari, karena kebetulan buku yang mereka inginkan hanya tersisa satu buah saja
"Terimakasih," lirih Anggen.
Eric tertawa lirih, gadis itu segera memandang Eric dengan pandangan aneh.
"Ada yang lucu?" tanya Anggen penasaran.
"Tidak ... hanya saja. Kamu selalu mengucapkan terimakasih padaku, padahal aku tidak pernah memberimu apa-apa," ungkap Eric dengan senyum masih tergambar di bibirnya.
Anggen tersenyum mendengar pernyataan Eric, "Aku hanya mengucapkan kata yang seharusnya aku ucap kan Tuan."
"Jangan panggil Tuan, terlalu formal. Panggil saja aku Eric." Eric kembali fokus pada rak buku yang ada di hadapannya.
"Oh ya ... ini sapu tanganmu." Gadis itu menyerahkan sapu tangan berwarna Navy.
Eric menghentikan aktifitasnya, Ia segera melirik tangan lentik yang membawa kain kecil yang terlipat rapi. Eric menatap lekat manik coklat Anggen, membuat gadis itu merasa canggung.
Suasana hening sesaat,
"Kamu sudah memintanya Nona, jadi tak perlu kamu kembalikan padaku," ucap Eric. Ia mendorong pelan tangan gadis itu agar menjauh dari jangkauannya.
"Memang waktu itu, aku meminta sapu tangan ini. Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi, tapi sepertinya dunia terlalu sempit dan kebetulan sapu tangan ini selalu aku bawa kemana-mana," ungkap Anggen. Ia berkata dengan polosnya.
Eric memperhatikan Anggen sesaat, entah kenapa perasaannya yang sebelumnya terasa kacau perlahan mulai tenang. Kepolosan gadis itu mengingatkannya pada adik kesayangannya. Ya, ada kemiripan antara Anggen dan Erina. Kepolosan mereka.
"Untukmu, sebagai kenang-kenangan. Agar suatu saat nanti, jika kamu ingin menangis dan kamu melihat sapu tangan itu. Kamu akan berhenti menangis dan aku harap, tangisan itu berubah menjadi sebuah senyuman yang indah," Eric mengulas senyum. Raut wajahnya tampak begitu tenang.
__ADS_1
Gadis bernama Anggen itu hanya terdiam, pikirannya kembali memaksa mengingat tentang tunangan nya yang dengan tega mengkhianatinya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar.
Eric yang mengamati sikap gadis itu seolah tahu apa penyebabnya, "Kamu tidak apa-apa?" tanya Eric cemas.
Anggen hanya menggelengkan kepala dan mencoba tersenyum paksa, "Aku permisi dulu, terimakasih untuk buku dan sapu tangannya." gadis itu kembali mengucapkan terimakasih kepadanya, Eric hanya bisa menganggukkan kepala dengan canggung. Ia merasa tak enak karena sudah membuat gadis itu mengingat masalahnya kembali.
Laki-laki itu berpikir sejenak, Ia segera menyusul Anggen yang masih berada di kasir.
Eric segera berdiri di samping gadis itu, Anggen tampak terkejut dengan kedatangan Eric yang secara tiba-tiba. Anggen hanya terdiam, perasaannya kini sudah tak karuan. Kedua sudut matanya penuh dengan cairan bening yang menggenang, gadis itu segera mengatupkan bibirnya dan menengadah ke atas agar airmatanya tak jatuh.
Pemandangan memilukan itu di saksikan langsung oleh Eric, perasaan bersalah nya semakin besar. Laki-laki itu merutuki kesalahannya, Ia bahkan megabaikan perasaannya yang juga tak kalah kalutnya saat itu.
Gadis itu telah selesai membayar bukunya dan segera berlalu tanpa menoleh ke arah Eric, Eric segera berjalan mengekor di belakang gadis itu.
"Nona ... Nona Anggen." Gadis itu tak menggubris panggilannya, Ia terus berjalan tanpa menghiraukan Eric yang mengikutinya. Airmata yang sedari tadi Ia tahan, akhirnya lolos juga. Ia mengusap kasar cairan bening itu.
Anggen berhenti secara tiba-tiba, hal itu sontak membuat Eric tersentak. Ia membalikkan tubuh dan kini mereka berdua berhadapan.
"Kumohon jangan ikuti aku, apa yang kamu inginkan?" suaranya terdengar parau, airmatanya kini semakin deras menghujam pipinya. Gadis itu tak lagi menghiraukan rasa malunya, rasa sakit yang mendera batinnya lebih terasa perih saat ini.
Eric merasakan yang gadis itu rasakan, rasa sakit yang sama. Namun bukan pengkhianatan, bahkan lebih menyakitkan dari pengkhianatan. Hatinya tersayat melihat gadis itu menangis di hadapannya, mereka berdua bahkan tak menghiraukan puluhan mata melihat nanar ke arah mereka berdua.
"Ku mohon jangan ikuti aku lagi." Anggen mengulangi kalimatnya, namun kini dengan suara meninggi.
"Baiklah, maafkan aku. Aku tak bermaksud mengungkit masalah mu, aku akan pergi. Tapi aku harap kamu tidak bersedih lagi, laki-laki itu tak pantas untuk kau ratapi." Eric memejamkan mata, Ia mendesah kasar. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seolah bukan hanya ditujukan pada gadis itu, tapi juga untuk hatinya yang kini terasa begitu perih.
Anggen menganggukkan kepala dan membalikkan badannya, Ia berjalan meninggalkan laki-laki itu terpaku sendiri di tengah parkiran toko buku.
Bersambung....
Eric
Anggen
πππ
**Mohon maaf ya, kali ini author fokus ke masalah Eric dan Clarissa dulu. Jadi Arga dan Erina istirahat dulu biar gak ganggu kandungannya ya. Apasih, authornya gak jelasπππ
Buat teman-teman dan para readers tercinta, biar bisa tetep baper-baperan. Kuy mampir ke novel teman author ya, dijamin bakal baper maksimalπ€
Satu lagi pemeran utamanya namanya samaan mbak Riantiππ
Ada babang Alex sama Nona Rianti**
Ada mas Dokter Hafiz sama mbak Rianti
__ADS_1