Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Pengakuan Clarissa


__ADS_3

"Kamu sedang apa sayang?" tanya Arga. Arga melihat Erina tengah sibuk dengan ponsel pintarnya, istrinya terlihat begitu konsentrasi dan sangat serius.


Perempuan yang bermata indah dengan bulu mata yang lentik itu tak menggubris pertanyaan suaminya, Ia benar-benar fokus dengan yang Ia kerjakan.


"Sayang ....," panggil Arga dengan nada dimainkan, Ia sedikit kesal dengan istrinya yang tak menghiraukannya.


"Hmm ... iya sayang," ucap Erina tanpa menoleh ke arah Arga.


Laki-laki yang berwajah tampan itu tampak kesal sekali dengan istrinya, Ia tak suka jika tak dihiraukan. Ia segera menarik ponsel dari tangan Erina, tapi perempuan itu dengan sigap tetap mempertahankan ponselnya dengan sekuat tenaga.


"Sayang, nanti aku kalah. Aku hampir dapat 5 juta tau ...." Erina tetap bersikukuh mempertahankan benda pipih itu agar tak direbut oleh Arga.


Arga pun melakukan hal yang sama, dia tetap berusaha dengan keras merebut ponsel pintar milik Erina.


"Kamu sedang bermain judi?" Arga membelalakkan mata kesal.


Erina yang kesal dengan tuduhan Arga, segera melepaskan ponselnya. Dan hal itu membuat tubuh Arga tersungkur di tempat tidur, Erina tersenyum smirk melihat suaminya. Ia menyandarkan punggungnya di pinggiran ranjangnya dengan kesal.


Perempuan yang memiliki rambut panjang itu berdecak kesal, karena Arga sudah membuat Ia kalah bermain di ponsel pintarnya.


Arga segera membenarkan posisi duduknya, "Kamu marah?" tanya laki-laki itu setelah melihat perubahan raut wajah istrinya yang terlihat begitu kesal.


Erina masih bergeming, Ia mendekapkan kedua tangannya dan melengos. Perempuan cantik itu mengerucutkan bibirnya.


"Ayo dong sayang, masak kamu marah hanya karena aku merebut ponselmu," rayu Arga.


Erina mendesah kasar, "Apa tidak boleh main sebentar, aku tadi sudah mengalahkan semua musuhku dan skorku hampir mendapat 5 juta. Tapi kamu sudah membuyarkan semuanya," protes Erina. Perempuan itu masih terlihat begitu kesal.


"Apa? Permainan apa itu? Apa kamu sedang taruhan? Aku bahkan bisa memberikan semua yang kamu inginkan setiap hari, kenapa kamu malah berjudi? Itu dosa, dilarang agama. Masak hal penting begitu kamu tak tahu." Arga mendelik kesal ke arah Erina, tapi perempuan itu tak kalah kesal dengan tuduhan suaminya untuk yang kedua kali.


"Ish ... Dasar! Aku sedang tidak berjudi, aku hanya bermain cacing. Dan itu tadi, aku sudah mengalahkan semua cacing. Itu pencapaianku yang sangat luar biasa tau....," kata Erina dengan meninggikan nada suaranya.


"Kamu bermain apa? Cacing? Aku mendengar namanya saja, sudah geli. Bagaimana bisa kamu mempunyai mainan seperti itu, dan juga kamu sampai tidak menghiraukan suamimu ini," ujar Arga.


"Kamu dari tadi sibuk dengan pekerjaanmu, aku merasa bosan. Jadi aku bermain itu di ponselku," gerutu Erina.


Arga tersenyum mendengar pengakuan Erina, laki-laki itu memang disibukkan dengan pekerjaan yang baru saja dikirim oleh Pak Sam lewat email. Meskipun akhir pekan, Arga masih terus memastikan agar bisnisnya berjalan dengan semestinya.


Arga segera memeluk Erina dan mengucapkan maaf atas sikapnya.


🍁🍁🍁


Eric terlihat sudah rapi, Ia memenuhi permintaan Clarissa untuk bertemu terakhir kalinya. Laki-laki itu tak ingin meninggalkan kenangan buruk atas kisahnya, meskipun Clarissa sudah sangat jahat kepada Erina. Tapi bukan sifat Eric untuk membalas perlakuan orang lain yang dengan sengaja sudah berlaku buruk kepadanya atau pun kepada keluarganya.


Eric sudah berada di restoran yang sudah ditentukan oleh Clarissa, Eric berjalan keluar lift menuju rooftop restoran ternama di kotanya.



Sebuah panorama kota terlihat jelas dari atas gedung yang memiliki 15 lantai itu, panorama yang menyuguhkan keindahan malam dan cahaya yang berpendar indah.


Sebuah meja berbentuk segiempat lengkap dengan dua kursi berwarna emas, serta hiasan meja dan kelopak bunga yang bertaburan di lantai menambah kesan romantis.


Sesuatu yang berbeda, sebuah kejutan yang biasanya dilakukan oleh seorang pria untuk wanita yang sangat Ia cintai. Tapi kali ini Eric yang mendapat kejutan istimewa itu, Clarissa sudah menyiapkan tempat ini seromantis mungkin.


Eric berdecak kagum memandang sekeliling, sebuah tempat yang begitu indah. Namun kenangan yang indah ini bahkan tak ingin Ia simpan dalam hatinya, kenangan yang akan menambah lukanya semakin dalam.

__ADS_1


Clarissa yang mengenakan dress berwarna merah dengan kalung melingkar di leher jenjangnya tampak begitu anggun dan cantik. Eric sempat tertegun dengan penampilan Clarissa, andai dia bukan Clarissa ... Eric mendesah pelan.


Eric duduk berhadapan dengan Clarissa, rasa bahagia terpancar pada sorot mata Clarissa. Dia tampak sangat bahagia, Ia menepiskan segala kemungkinan yang akan terjadi pada hubungannya. Clarissa berharap waktu akan berhenti berputar untuk saat ini, namun berbeda dengan Eric. Laki-laki itu ingin segera mengakhiri permainan Clarissa saat ini juga, Ia tak ingin terlalu larut dalam suasana yang di ciptakan oleh Clarissa.


"Malam ini kamu terlihat begitu menawan, Eric," puji Clarissa. Ia menggapai tangan Eric dan menggenggamnya erat.


Eric bergeming, Ia seolah membiarkan gadis itu menciptakan kenangan indah sebelum semua benar-benar berakhir.


🍁🍁🍁


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Erina dan Arga sudah berada di perjalanan menuju restoran, Eric sengaja mengundang mereka berdua untuk datang ke tempat romantic dinner antara Clarissa dan dirinya.


Eric ingin permainan gadis itu berakhir tanpa dendam sedikitpun, semoga dengan kehadiran Erina disini. Clarissa bisa perlahan melepaskan dendamnya yang hanya membuat dirinya hancur. Karena Eric tahu Arga tak akan tinggal diam, jika Clarissa sampai berani menyentuh Erina lagi.



Erina merebahkan tubuhnya di jok mobil suv untuk mengusir rasa lelahnya. Interior mobil suv miliknya di design senyaman mungkin, di dalam mobil suv keluaran terbaru itu juga dilengkapi fasilitas yang sangat lengkap. Sehingga membuat Erina merasa sangat nyaman walaupun itu di dalam mobil sekalipun.


Entah kenapa akhir-akhir ini Erina merasakan gampang lelah. Mungkin pengaruh dari perut nya yang semakin membesar, Erina merasa kurang bersemangat. Ia mencoba memejamkan mata sebentar, Arga yang mengamati sikap istrinya sedari tadi merasa cemas.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Arga dengan raut wajah yang begitu mengkhawatirkan Erina.


"Aku tidak apa-apa sayang, aku hanya ingin menyandarkan punggungku saja." Erina membenarkan duduknya. Sekilas Ia melirik kaca mobil yang tirainya tersingkap, Ia tertegun melihat baleho besar yang berada di pinggir jalan itu.



Ansel Mahardika, dulu aku sangat mengidolakannya. Sampai saat ini pun rasanya aku masih mengidolakan artis tampan itu. gumam Erina dalam hati.


Erina terpaku menatap gambar laki-laki yang berada di baleho tersebut, Arga sedikit heran dengan sikap Erina yang tiba-tiba terdiam. Ia menggerakkan tubuhnya agar bisa melihat dengan jelas apa yang membuat istrinya terpaku.


"Kenapa kamu melihat laki-laki lain seperti itu? Aku tak suka caramu melihat dia." Bentak Arga yang membuat Erina terkejut, Arga mendekapkan kedua tangannya dan memalingkan wajahnya ke samping dengan kesal.


Tiba-tiba terdengar isak tangis Erina, Arga segera memalingkan wajahnya. Laki-laki itu segera menjatuhkan lututnya ke lantai mobil, kedua lututnya bertumpu pada alas karpet yang super empuk itu.


Arga segera mengusap airmata Erina yang sudah mengalir di pipinya, Ia merasa bersalah karena sudah membentak Erina.


"Sayang, maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk bentak kamu, aku hanya ... cemburu melihatmu menatap laki-laki lain selain aku." Raut wajah Arga menunjukkan penyesalan, tapi Erina bergeming. Ia tetap tak menjawab permintaan maaf Arga.


"Sayang ....," panggilnya sekali lagi.


Erina mengusap pelan sisa airmata di pipinya. "Aku akan memaafkanmu sayang, tapi dengan satu syarat." Erina mengangkat jari telunjuknya.


Dahi Arga berkenyit, "Syarat ... ? Syarat apa?" tanya Arga.


"Aku ingin bertemu dengan artis yang ada di baleho tadi," pinta Erina penuh harap.


"Tidak ... suami macam aku, sampai membiarkan istrinya bertemu dengan laki-laki lain. Dan kamu! Beraninya secara terang-terangan meminta bertemu dengan laki-laki lain, syarat macam apa itu?" raut wajah Arga berubah menjadi kesal. Ia mendengus kasar.


"Tapi, ini bukan keinginanku. Ini permintaan anakmu sayang," Erina menatap Arga dengan tatapan memohon, Ia mengelus pelan perutnya yang sudah tampak membesar itu.


"Ngidam?" tanya Arga.


Erina menganggukkan kepalanya dengan mantap, "Iya ini ngidam sayang, tiba-tiba ingin sekali bertemu dengan Ansel Mahardika. Ku mohon sayang, ini benar-benar keinginan anakmu. Bukan aku." Erina menyatukan telapak tangannya seraya memohon kepada Arga.


"Ansel Mahardika!" gumam Arga.

__ADS_1


Itu tadi foto Ansel? Sepertinya tidak terlalu buruk, aku mengenal Ansel. Jadi aku bisa menyuruhnya untuk datang kerumah. gumam Arga dalam hati.


Arga tampak menimang permintaan Erina, "Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu kali ini sayang. Demi anak kita." Arga menjeda kalimatnya. "Sepertinya anak kita sedang menguji takar kecumburuan ayahnya," desis Arga.


Erina segera memeluk Arga, Ia begitu senang dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya itu.


🍁🍁🍁


Erina dan Arga sudah sampai di restoran tempat Eric dan Clarissa bertemu, mereka berdua segera berjalan menuju lift.


Mereka berdua sudah berada di Rooftop restoran tersebut, Erina yang baru saja melangkahkan kaki keluar lift tampak begitu terkejut. Pasalnya Clarissa terlihat memeluk erat Eric dengan tangisan yang terdengar begitu jelas di telinganya.


Erina dan Arga berjalan mendekati Eric dan Clarissa, Eric yang menyadari kehadiran adiknya mencoba untuk melepaskan pelukan Clarissa.


"Kalian sudah datang?" ucap Eric yang membuat Clarissa merenggangkan pelukannya, gadis itu terkesiap melihat Erina dan Arga.


"Kalian? Ke-kenapa kalian bisa ada disini?" suara Clarissa terbata, Ia segera mengusap kasar cairan bening yang sedari tadi menghujam pipinya.


"Aku yang sudah mengundang mereka," ucap Eric. Clarissa segera menoleh ke arah Eric, bibirnya tampak bergetar.


"Cla, aku sudah mengetahui semuanya. Semua perbuatanmu terhadap Erina, aku sudah mengetahui nya. Aku benar-benar kecewa kepadamu, Cla. Bahkan aku pikir semua ini adalah nyata dan tulus, tapi ...." Eric tak melanjutkan kata-katanya. Dadanya terasa sesak, perasaannya berkecamuk tak karuan.


"Eric, aku mohon. Ini tak seperti yang kamu bayangkan, aku bahkan sangat tulus mencintaimu," Clarissa meraih jemari Eric. Ia berusaha meyakinkan Eric. Namun Eric segera menepis tangannya.


Erina yang melihat langsung adegan kakaknya dan Clarissa, ikut meneteskan airmata. Ia tahu bagaimana tulusnya Eric mencintai Clarissa, Erina seolah merasakan apa yang dirasakan kakaknya itu.


Arga mendengus kasar, melihat Clarissa saat ini. Seorang gadis yang dulu sangat di eluh-eluhkannya kini mengiba cinta kepada kakak iparnya.


"Cla, sudahi semua ini. Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri, karena sampai kapan pun kamu tak akan pernah aku biar kan untuk mendekati bahkan menyakiti Erina," ucap Arga dengan tegas.


Clarissa segera berlari ke arah Erina, membuat kedua laki-laki itu waspada dengan apa yang akan di lakukan Clarissa kepada Erina.


Arga mencoba menahan Clarissa, namun Erina menganggukkan kepala kepada Arga. Clarissa segera menggenggam erat tangan Erina, Arga yang merasa was-was hanya bisa membelalakkan mata melihat sikap Clarissa. Begitu juga dengan Eric, Ia tak ingin terjadi sesuatu dengan adiknya. Ia terus berdiri di belakang Clarissa, agar bisa segera bertindak jika gadis itu berbuat sesuatu kepada adiknya.


"Erina, aku tahu kamu adalah gadis yang sangat baik. Aku mohon, maaf kan aku. Aku sangat menyesal dan sekarang ... aku sangat mencintai Eric, aku mohon restui hubungan kami." Clarissa terus mendekap tangan Erina di dadanya, airmata gadis itu tampak semakin deras mengalir di pipinya.


Erina terdiam, Ia tak tahu harus berkata apa di depan Clarissa. Hati Eric semakin tersayat mendengar pengakuan Clarissa, Eric memandang sendu ke arah Clarissa yang kini tengah membelakanginya.


Bersambung ....


❀❀❀


**Kira-kira bagaimana ya sikap Eric terhadap Clarissa?


Apakah dia akan memaafkan Clarissa atau malah sebaliknya?


Penasaran? Ikuti terus ceritanya ya....


Terimakasih yang sudah setia mengikuti karya saya.... love u all😘


Mampir juga ke novel temen author yaπŸ₯°


Linanda Anggen aka guru senam hamil Erina itu ternyata seorang Author kece lho. Penasaran kuy mampir ke karyanya ya. 😍**


__ADS_1



__ADS_2