
Erina tampak tak begitu bersemangat. Dari tadi dia hanya mengaduk-aduk makanannya. Selain dia belum terbiasa dengan makanan yang dipesan Rendra, Erina juga tak terlalu berselera.
"Apa kamu tak suka makanannya?" tanya Rendra yang dari tadi mengamati Erina.
"Oh tidak, hanya saja saya tidak terlalu lapar. " sahut Erina yang mulai menyendok makanannya.
"Ayolah, jangan terlalu formal begitu. Apa aku membuatmu tidak nyaman?" ucap Rendra mencoba mencairkan suasana.
"Maaf, tapi saya belum terbiasa makan seperti ini dengan orang yang tidak terlalu saya kenal. " jawab Erina apa adanya.
Gadis ini benar-benar polos sekali, belum pernah aku bertemu gadis seperti dia.
Gumam Rendra dalam hati, dia tersenyum mendengar ucapan Erina.
Rendra menggeser kursinya ke belakang, berdiri dan mengulurkan tangan kepada Erina.
Erina mendongakkan kepalanya, menatap Rendra dengan perasaan heran.
"Rendra." ucapnya tegas, dengan tangan masih terulur. Erina sempat bingung.
"Kamu tak membalas uluran tanganku? " tanya Rendra sambil melirik tangannya. "Aku kan belum memperkenalkan siapa diriku kepadamu secara resmi." senyum mengembang dibibir Rendra.
Erina mulai mengerti maksud Rendra, dia berdiri dan menjabat tangan Rendra.
"Erina." Erina tersenyum, merasa aneh dengan yang mereka lakukan.
"Sekarang kita sudah saling kenal, jadi tak ada alasan kamu untuk merasa tak nyaman, canggung atau apalah itu namanya. " ucap Rendra sambil menepuk-nepuk tangan Erina.
Erina hanya membalas dengan suara tawa lirih. Rendra merasa tersihir dengan wajah polos Erina. Sedetikpun matanya tak rela untuk berkedip.
"Sekarang habiskan makananmu, atau mau aku pesan kan menu lain?" tanya Rendra berharap Erina sudah mau makan makanannya.
"Tidak, tidak perlu. Akan aku habiskan makanan ini. " Erina segera menyendok makanan yang tersaji di hadapannya.
Mata Rendra tak pernah lepas dari gerak-gerik Erina, dia sangat menikmati setiap tingkah pola Erina.
Erina telah berhasil menghabiskan makanan yang menurutnya tak terlalu cocok di lidahnya, dia mengambil gelas yang berisi air lemon dingin. Ya, itu adalah minuman kesukaan Erina. Di restoran atau di rumah air lemon dingin yang akan selalu di minumnya.
Paling tidak, minuman ini bisa menyelamatkan tenggorakanku yang masih tak terlalu bersahabat dengan makanan ini. Gumam Erina.
Rendra mendekat ke arah Erina. Erina segera bergeser mundur dari duduknya. Tapi tangan Rendra dengan cepat sudah berada di ujung bibir Erina, mengelap dengan tisu secara pelan.
"Maaf, ada sisa makanan di bibirmu. " ucap Rendra dengan senyuman merekah dibibir.
Erina benar-benar merasa canggung dengan situasi yang baru saja terjadi.
"Maaf, apa bisa kita pergi ke toko buku sekarang? " ucap Erina mencoba menguasai rasa canggung nya.
"Baiklah, tapi tunggu sebentar. Aku ada satu pertanyaan untukmu? " tanya Rendra dengan wajah serius.
"Apa yang ingin kamu tanyakan? " tanya Erina sedikit heran.
"Apa kamu mencintai Arga? " tanya Rendra
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? " merasa tak perlu menjawab pertanyaan yang sangat sensitif untuknya.
__ADS_1
"Tidak, lupakan saja! Aku hanya asal bicara tadi. " sahut Rendra seolah sudah mendapat jawabannya.
Arga sudah berada di dalam restoran, dia berjalan dengan amarah di wajahnya. Erina dan Rendra tidak menyadari kedatangan Arga.
Arga sudah berdiri tepat di meja Erina dan Rendra.
Rendra sedikit terkejut, dia mencoba bersikap tenang.
"Tuan Arga?" ucap Rendra sambil berdiri menepuk bahu Arga.
"Lepaskan tanganmu dari bahuku." tatapan tajam Arga membuat Rendra sedikit gusar.
"Oke... oke! " Rendra mengangkat dua tangannya.
Erina yang masih tak percaya suaminya sudah berada di depannya masih terpaku di tempat.
Arga menarik tangan Erina, membuat Erina tersadar dan segera berdiri mengikuti gerak tangan Arga.
Arga melangkah mendekat ke arah Rendra.
"Jangan coba-coba dekati Erina lagi, dia istriku dan tak akan kubiarkan laki-laki lain mendekatinya." ucap Arga dengan wajah yang masih terlihat menahan emosinya.
Arga berjalan meninggalkan Rendra dengan tangan masih menggandeng Erina. Langkahnya sangat cepat membuat Erina harus sedikit berlari untuk mengimbanginya.
Pak Sam membukakan pintu untuk Erina dan Arga.
***
Situasi di dalam mobil sangat mencekam, menurut Erina.
Arga menghela napas panjang, mencoba menguasai dirinya yang masih sangat emosi.
Erina beberapa kali menggeser tempat duduknya, dia benar-benar merasa takut dengan sikap Arga.
Aduh, bagaimana ini? Tuan Arga kelihatannya sangat marah padaku. Tapi kenapa Tuan Arga sangat marah ya? Apa karena aku lupa membawa handphone atau karena aku dengan Tuan Rendra?
Gumam Erina dalam hati mencoba mencari tau apa alasan kemarahan suaminya.
"Apa saja yang kamu lakukan dengan Rendra?" tanya Arga dengan nada kesal.
Apa? Apa maksud pertanyaannya? Memang apa yang aku lakukan. Aku kan tidak melakukan apa-apa. Tuan Rendra kan hanya mengajak makan siang saja.
Erina tampak aneh dengan pertanyaan Arga.
"Kita hanya makan saja hun." ucap Erina lirih.
"Kita? Kamu berani sebut kamu dan Rendra kita?" Arga semakin kesal mendengar jawaban Erina.
Aduh, sepertinya aku salah ucap. Bagaimana ini?
Erina tampak bingung dengan sikap Arga yang semakin kesal.
"Maksudku, aku hanya makan saja. Itu saja tidak melakukan hal aneh kok. " jawab Erina panik.
"Memang hal aneh apa yang akan kamu lakukan hah? " rasa kesal Arga semakin tak terkendali.
__ADS_1
Trus aku harus jawab apa coba? Ada apa si sebenarnya dengannya?
Erina semakin frustasi.
"Aku tidak melakukan apa-apa, memang apa yang akan aku lakukan? Aku hanya makan, itu pun makanannya tak sesuai dengan seleraku." Erina sedikit berteriak, frustasi bercampur kesal dengan Arga yang terus mencurigainya.
Pak Sam yang duduk dikursi depan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Tuan Muda nya yang bertingkah seperti anak kecil. Dan simpati melihat Erina.
Arga terlihat terkejut dengan reaksi Erina, emosi dan rasa kesal Arga sekejap melumer.
"Apa kamu sekarang masih lapar?" tanya Arga dengan nada lembut.
"Tidak, aku sudah tidak selera makan. Aku hanya ingin pulang sekarang." sikap Erina berubah menjadi kesal. Memonyongkan bibir dan melipat kedua tangannya di dada.
Huh, akhirnya dia melunak juga. Ternyata tidak sulit membuat dia berubah sikap. hihi.
Erina terkekeh dalam hati, trik yang dibuatnya ternyata berhasil.
Kenapa sekarang jadi dia yang kesal? Harusnya aku kan yang kesal karna berani-beraninya dia makan berdua dengan laki-laki lain.
Gumam Arga dalam hati yang mulai bingung dengan sikap Erina.
***
Mobil berhenti di halaman rumah, Erina segera keluar sebelum Pak Sam dan Arga. Dia berlari menuju kamar.
"Lihat Pak Sam, sekarang dia membuatku bingung dengan sikapnya. Harusnya tadi aku kan marah dan kesal kepadanya. Kenapa jadi dia yang marah?" Arga tampak heran dengan sikap Erina.
Pak Sam tersenyum melihat sikap Arga. Arga yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan kaku, kini berubah drastis semenjak menikah dengan Erina. Arga yang sekarang lebih mudah bersimpati dengan orang lain dan mudah tersenyum. Itulah perubahan yang dirasakan Pak Sam, yang selalu setia disamping Tuan Arga.
Pak Sam membisikkan sesuatu kepada Arga, Arga tersenyum mendengar ucapan Pak Sam.
Arga segera melangkah masuk ke dalam kamarnya. Pandangan Arga tertuju pada Erina yang sudah tidur berselimut. Arga melangkah mendekatinya.
"Sayang apa kamu tak apa-apa?" suara Arga memecah keheningan ruang kamarnya.
Terdengar isak tangis Erina. Arga panik dan segera menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Erina.
Arga bingung harus berbuat apa, Arga paling tidak bisa melihat orang yang disayanginya bersedih apalagi menangis.
"Sayang kumohon jangan menangis ya, aku minta maaf kalau aku tadi keterlaluan. Aku hanya tidak suka kamu dengan laki-laki lain." jelas Arga sambil mengusap airmata Erina.
"Apa kamu cemburu?" suara Erina sangat lirih.
Arga gelagapan dengan pertanyaan Erina.
Iya, apa ini namanya cemburu ya?
Gumam Arga dalam hati.
"Iya, aku sangat cemburu. Cemburu sekali, karna kamu hanya miliku seorang. Tidak ada yang boleh mendekatimu." suara Arga sedikit berteriak. Membuat Erina sedikit terkejut tapi hatinya merasa senang karna suaminya sangat cemburu.
Erina tersenyum melihat Arga. Arga yang menyadari bahwa Erina sudah tersenyum langsung mendekap erat tubuh Erina.
"Kamu jangan sedih lagi ya, maaf jika aku membuatmu menangis." Arga semakin mempererat pelukannya dan mencium kening Erina beberapa kali.
__ADS_1
Bersambung