
Erina dan Anggen terlihat bersantai di ruang sebelah gym, setelah sesi senam hamil selesai. Mereka berdua terlihat bercengkrama, Anggen terlihat seperti biasa. Ceria dan penuh semangat, meskipun hatinya dilanda rasa perih yang teramat sangat dan matanya terlihat sembab.
Erina sekilas melihat lekat kedua mata Anggen yang tampak sembab, Erina menyadari bahwa gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Anggen tampak mengalihkan pandangannya karena menyadari bahwa Erina memperhatikan wajahnya dengan seksama.
Menangis semalaman sudah membuat matanya sembab, Ia pun tak tahu kenapa bisa sesedih ini. Padahal pertemuannya dengan Eric bisa dibilang terlalu singkat untuk menumbuhkan sebuah rasa, tapi siapa yang bisa menolak datang nya cinta. Cinta bahkan tak mengenal waktu, dia bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja yang Ia ingin kan.
"Anggen, ada apa? Kenapa matamu terlihat sembab? Apa yang membuatmu menangis?" cecar Erina sambil memegang pundak Anggen, karena gadis itu terus mencoba mengalihkan pandangannya dari Erina.
"Aku tidak apa-apa nona?" sangkal Anggen dengan menundukkan pandangannya.
"Kamu bukan gadis yang pandai berbohong Anggen, ceritakanlah. Siapa tahu dengan bercerita hatimu sedikit lega," pinta Erina sambil mengelus kedua pundak Anggen.
Anggen menghembuskan napasnya dengan kasar, matanya terpejam sekejap.
"Tunggu, apa ini tentang kak Eric?" tanya Erina.
Anggen tampak terkesiap mendengar pertanyaan Erina, Ia bingung harus menjawab apa.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan pada nona Erina? Kenapa aku sangat bodoh, tidak bisa menyembunyikan perih ini di hadapannya, gumam Anggen, ia merutuki dirinya sendiri.
"Anggen, ku mohon cerita lah padaku. Apa kak Eric menyakiti mu?" Erina mengulang pertanyaannya, kedua tangannya masih memegang pundak Anggen.
"Tidak nona, aku menangis bukan karena kak Eric," jawabnya lirih.
"Lalu, kamu menangis karena masalah apa? Ceritakan padaku, kamu menganggap aku teman bukan? Jadi ceritakan semuanya padaku, oke!" tegas Erina.
Suasana menjadi hening sejenak, Anggen melipat bibirnya. Ia masih tampak ragu untuk menceritakan semua pada Erina.
"Anggen, percaya padaku. Aku akan bantu sebisa mungkin," ucap Erina meyakinkan Anggen.
Gadis itu menghela napas panjang.
"Boleh aku bertanya nona?" tanya Anggen dengan mimik wajah serius.
"Tentu saja, kamu bebas bertanya apapun," jawab Erina dengan santai.
"Apa nona Erina mengenal nona Clarissa?" kedua mata Anggen menatap lekat manik coklat milik Erina.
Erina tampak sedikit tersentak, matanya membulat. Raut wajahnya yang semula tampak mulai tenang kini berubah menjadi khawatir.
"Apa kamu bertemu dengan nona Clarissa?" selidik Erina.
Anggen menganggukkan kepala pelan seraya tersenyum getir, Erina menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Melihat reaksi Erina yang begitu terkejut, membuat gadis itu penasaran.
__ADS_1
"Ada apa nona? Kenapa nona Erina tampak begitu terkejut? Apa ada sesuatu dengan nona Clarissa dan kak Eric?" cecar Anggen.
Erina menarik tangan Anggen lalu mengelusnya pelan.
"Apa yang sudah dikatakannya? Jujurlah kepadaku?"
"Apa benar kak Eric akan bertunangan dengan nona Clarissa?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Anggen.
"Apa? Dia bicara seperti itu?" Erina mendesah lirih.
"Iya, jika memang nona Clarissa akan bertunangan dengan kak Eric. Aku tak akan lagi muncul di hadapan kak Eric, aku tak mau menjadi duri untuk hubungan orang lain," ungkap Anggen dengan mata berkaca-kaca.
"Ck ... Bicara apa kamu ini? Kakak ku bukanlah laki-laki yang seperti itu, dia adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Dia tak akan mendekatimu jika dia sudah memiliki kekasih, nona Clarissa tampaknya belum juga jera dengan perbuatannya."
"Jera? Maksud nona?"
"Ceritanya panjang Anggen, semua ini mungkin karena kesalahan ku juga. Sehingga dia sampai berbuat seperti ini," jelas Erina yang membuat Anggen semakin penasaran.
"Kesalahan? Nona aku mohon jangan membuat ku semakin penasaran, apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa Nona malah menyalahkan diri sendiri."
Erina mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Sebelum aku menikah dengan Tuan Arga, nona Clarissa sudah terlebih dahulu menjadi sahabat suami ku. Bahkan perasaan suami ku bertumbuh menjadi rasa suka kepadanya, namun nona Clarissa menolak dengan halus pernyataan Cinta suami ku. Dan sampai akhirnya kita bertemu dan menikah, tapi seperti nya dia baru menyadari bahwa dia memang mencintai suamiku. Dia berusaha untuk memisahkan suamiku dari ku, semua cara sudah Ia lakukan. Bahkan penculikan yang sampai membuat ku keguguran." Erina memegang dadanya yang terasa sesak ketika Ia mengingat keguguran yang pernah Ia alami.
"Nona, jika nona tak sanggup. Jangan dilanjutkan, maaf kan aku karena sudah membuat nona harus mengingat kembali luka lama nona," tutur Anggen. Ia merasa sangat bersalah.
"Tidak, kamu memang harus tahu semuanya. Karena aku sudah menganggap mu sebagai sahabat dan aku juga berharap agar kamu bisa menjadi saudara iparku," tukas Erina.
Ucapan Erina membuat lega perasaan Anggen, seolah ada pencerahan dengan masalah perasaan yang tengah Ia hadapi saat ini.
"Tapi, aku merasa tak pantas nona," lirih Anggen dengan menundukkan kepala.
"Tak pantas bagaimana?"
"Aku hanya orang biasa, sedangkan nona dan kak Eric ...."
"Ish, bicara apa kamu ini! Kita semua sama, hanya kebaikan hati kita yang membedakan. Kita semua sama, makhluk ciptaanNya. Aku malah bersyukur kak Eric bisa bertemu dengan gadis baik seperti mu, apapun yang di katakan oleh nona Clarissa. Jangan pernah kamu masukin hati ya, dia hanya berambisi dengan kak Eric. Dan seperti nya hati kak Eric sudah tertambat padamu, jadi jangan meragukan kak Eric lagi ya Anggen," ucap Erina meyakinkan Anggen.
Raut wajah Anggen menunjukkan ketidakpercayaan, tapi hatinya berbunga-bunga. Gadis itu tersenyum samar.
Anggen terdiam tak mengiyakan atau menyanggah ucapan Erina, namun tiba-tiba kalimat Clarissa kemarin malam terlintas di ingatannya.
"Tapi ada satu hal yang mengganjal perasaanku nona," ungkap Anggen.
"Apa? Katakan, siapa tahu Aku bisa membantu mengatasi sesuatu yang mengganjal itu." Erina tampak menyunggingkan sebuah senyuman.
__ADS_1
"Kemarin malam, nona Clarissa bilang. Kalau ingin tahu hubungan nya dengan kak Eric, Aku di suruh datang ke Cafe Te Amo siang ini. Sepertinya nona Clarissa dan kak Eric akan bertemu disana," jelas Anggen.
Erina tampak terkejut dengan kalimat yang baru saja di dengarnya, Ia takut Clarissa akan berbuat sesuatu kepada Eric.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi Anggen?" ucap Erina seraya beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan menuju kamarnya.
"Nona mau kemana?" tanya Anggen seraya bangkit dan berdiri mematung melihat Erina berjalan meninggalkan nya seorang diri.
"Mau ganti baju, lalu kita menyusul kak Eric," pekik Erina.
Anggen mendesah pelan, perasaan nya berkecamuk.
πππ
Cafe Te Amo
Erina dan Anggen sudah berada di cafe Te Amo, cafe itu tampak sedikit lengang. Entah memang sudah di booking oleh Clarissa atau memang sepi pengunjung.
Erina dan Anggen memakai masker dan jaket untuk penyamaran, entah mereka dapat ide darimana hingga memakai penyamaran model begitu. Erina mencoba menutupi perut buncitnya dengan jaket tebal yang sedang ia kenakan. Untung saja diluar sedang hujan, jadi tidak ada yang curiga dengan kedua wanita itu. Kenapa di siang bolong begini memakai jaket.
Mereka berdua duduk di ujung cafe yang berjarak lima belas meteran dari tempat duduk Eric dan Clarissa, dada Anggen terasa sesak ketika melihat Eric dengan gadis lain. Padahal terlihat jelas bahwa Eric tak terlalu merespon gadis yang tengah duduk di hadapannya itu.
Namun, bagi Anggen tetap menyakitkan melihat orang yang ia sukai harus berdua dengan orang lain. Apakah cinta memang begitu egois? Entahlah, yang pasti perasaan itu muncul hanya untuk meyakinkan kita bahwa tidak ada orang lain di hati dan pandangannya selain kita yang dicintainya.
Clarissa dan Eric tampaknya tak menyadari keberadaan Anggen dan Erina. Clarissa terlihat sedang memohon kepada Eric, samar-samar terlihat dari jauh bahwa Clarissa sedang menangis. Ada rasa tak nyaman dengan pemandangan yang tengah di lihat oleh Anggen, cemburu? Mungkin perasaan itu lah yang kini sedang ia rasakan.
Anggen dan Erina masih fokus menatap pada pasangan yang memang terlihat serasi jika dari kejauhan, tapi entahlah. Kita bahkan tak bisa memaksakan perasaan kita kepada orang lain, sekali pun dia sangat menginginkan kita. Jika kita tak lagi ada perasaan untuknya, mau bagaimanapun juga tak akan bisa berubah. Kecuali Tuhan berkehendak lain, bukankah memang jodoh, rejeki dan mati itu di tangan Tuhan. Jadi, sekeras apapun kita berusaha. Jika dia bukan jodoh kita, semua akan sia-sia.
Eric terlihat beranjak dari tempat duduk nya, Clarissa pun melakukan hal yang sama. Gadis itu tampak mendekat dan memeluk erat tubuh Eric. Tak terasa kedua mata Anggen tampak menggenang cairan bening, dengan sabar Erina mengelus punggung Anggen untuk menenangkan nya.
"Jangan diambil hati Anggen, mungkin itu adalah pelukan terakhir untuk Clarissa. Kamu sabar ya," ucap Erina mencoba menenangkan.
Anggen segera menghapus airmatanya dengan punggung tangannya seraya menganggukkan kepala.
Tiba-tiba kedua wanita itu dikejutkan oleh seorang laki-laki yang kini tengah berdiri di hadapan mereka berdua dengan berkacak pinggang.
Bersambung ....
πππ
Mampir juga ke novel teman author ya, novel nya keren banget. Novel yang berjudul Kontrak Pernikahan Season 2 by Kak Samudra Lee. Sequel kedua Kontrak Pernikahanπππ»
__ADS_1