
Arga sudah terjaga dari tidurnya, dia melihat jam yang terpajang di dinding kamarnya. Jarum jam menunjukkan, jarum panjang di angka sembilan dan jarum pendek di arah lima. Arga memandang Erina yang masih terlelap dalam mimpinya, wajahnya yang polos membuat degup jantung Arga berdetak lebih kencang.
Arga menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan tubuh Erina, Arga membelai pelan pipi putih Erina. Ia mendaratkan kecupan di kening dan berganti ke pipi Erina, Arga semakin gemas dan tak tahan melihat wajah manis istrinya ketika tidur. Arga mulai memainkan aksinya, menelusuri wajah Erina secara bergantian dan berulang dengan bibirnya. Erina hanya menggeliat, Arga semakin gemas. Dia tak henti menciumi wajah istrinya.
Erina yang masih memejamkan mata segera memegang wajah Arga, Arga menghentikan aksinya. Tangan Erina mengarah ke bibirnya, Erina mengetuk-ketuk bibirnya sendiri dengan mata masih tertutup rapat. Arga yang melihat tingkah Erina, semakin bersemangat dan segera mendekatkan bibirnya di bibir merah Erina. Arga mengecup lembut bibir Erina, awalnya Erina tak bergeming dengan kecupan Arga. Arga semakin senang dan kini posisi Arga sudah berada di atas tubuh Erina dengan tangan menahan kepala Erina.
Erina terbangun dan segera membelalakkan matanya, Erina mendorong Arga. Arga segera melepaskan ciumannya, Erina segera terbangun dan duduk untuk mengatur nafasnya yang masih terengah-engah karena kehabisan oksigen akibat ciuman suaminya.
"Kenapa kamu menciumku seperti itu?" raut wajah Erina terlihat sedikit kesal, dia mengerucutkan bibirnya.
Arga mengerutkan keningnya karna bingung dengan sikap istrinya.
"Hei ... kamu yang sudah menggodaku." tukas Arga, dia membenarkan posisi duduknya sehingga kini berada lebih dekat dengan Erina.
"Menggoda bagaimana ... ? Jelas-jelas aku masih tidur kan?" sahut Erina tak terima.
"Iya ... memang mata kamu terpejam, tapi gerakan tanganmu tadi sangat menggodaku." Arga menirukan gaya Erina yang mengetuk-ketuk bibirnya.
Pipi Erina seketika langsung berubah warna menjadi merah merona, Erina menggigit bibir bawahnya.
"Tak mungkin aku melakukan itu .... " seru Erina dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia benar-benar malu.
Arga tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi, dia sangat senang melihat istrinya yang tengah malu.
"Jadi itu dibawah alam sadarmu ya? Ternyata di alam mimpimu kamu sangat pintar menggodaku ya." Arga terus menggoda Erina, Arga memeluk Erina dari belakang. Dia menggelitik tubuh Erina, Erina terkekeh dengan keusilan yang dilakukan suaminya.
"Sayang, aku mohon hentikan ...." Erina mencoba menahan tangan Arga, dia benar-benar merasa geli.
"Ayo lakukan sekali lagi, maka aku akan melepaskan tanganku." Arga tak menghentikan gerakan tangannya, dia terus menggelitik tubuh Erina.
Erina yang benar-benar sudah tidak tahan dengan gelitikan Arga, akhirnya menyerah.
"Baiklah ... ayo lakukan sekali lagi." Erina mendekatkan wajahnya, dia memejamkan mata dan memonyongkan bibirnya.
Seketika itu, Arga segera melepaskan tangannya dari tubuh Erina.
Deggg ....
Jantung Arga kembali berdegup kencang, kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Arga tak ingin melewatkan adegan langkah ini, karna jarang sekali Erina berinisiatif untuk menggodanya.
Arga segera memegang tekuk Erina, dia segera mencium lembut bibir istrinya. Erina yang masih memejamkan mata mulai menikmati ciuman suaminya, Arga segera merebahkan tubuh Erina. Dan membuka satu persatu kancing baju Erina, kini tubuh Erina sudah polos tanpa satu kain pun yang menutupi. Arga kembali memainkan aksinya, mereka berdua memadu kasih.
__ADS_1
Satu jam kemudian, tubuh Erina dan Arga sudah tertutup dengan selimut. Baju mereka sudah berserakan di lantai. Posisi Erina membelakangi Arga, Arga memeluk tubuh Erina dari belakang.
"Sayang, hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan." ucap Arga sambil mengeratkan pelukannya, kini wajah Arga sudah berada sangat dekat dengan telinga Erina.
Erina terlihat sangat senang dengan ucapan suaminya.
"Benarkah ... kita akan kemana?" tanya Erina antusias.
"Hmm ... kemana ya, aku juga tidak tau." Arga memutar bola mata nya dan mengedip-kedipkan nya selama beberapa detik.
"Ke taman bermain .... ?" sahut Erina. Mata Erina berbinar-binar seolah mengatakan 'aku ingin sekali pergi kesana'.
"Taman bermain ....?" Arga segera membayangkan sebuah taman bermain yang sudah puluhan tahun tak dikunjunginya, terakhir dia pergi ke taman bermain bersama kedua orangtuanya waktu ia berumur sepuluh tahun. Itu pun di luar negeri.
"Baiklah ... sepertinya menarik ... beberapa hari ini kamu mengalami masa yang sulit. Hari ini aku berjanji akan menemanimu dan membuatmu senang." seru Arga. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna.
Erina merasa sangat senang sekali karena permintaan nya di kabulkan oleh suaminya, Erina mendaratkan ciuman di pipi Arga. Arga terlihat sangat senang sekali, senyum mengembang di bibirnya. Arga memegang pipi bekas ciuman Erina dengan satu tangannya, raut wajahnya menunjukkan bahwa ciuman Erina sangat istimewa baginya. Erina hanya terkekeh melihat tingkah lucu suaminya.
"Kenapa kamu terlihat menggemaskan sekali .... " Erina mencubit kedua pipi Arga dengan tangannya, Arga menyipitkan kedua matanya dan memonyongkan bibirnya. Membuat Erina semakin gemas dengan suaminya.
***
Arga terlihat sudah rapi, dia mengenakan setelan jas lengkap dengan dasinya. Arga duduk di sofa dengan posisi salah satu tangan menopang pipinya.
Beberapa menit kemudian Erina sudah terlihat rapi, dia keluar kamar dan berpose di depan Arga.
Arga segera membelalakkan matanya, bibirnya membulat. Arga menelan salivanya dengan kasar.
"Cepat ganti bajumu!" perintah Arga, Erina mengernyitkan keningnya.
"Kenapa .... ?" serunya heran
"Pokoknya cepat ganti bajumu, sekarang juga." Arga mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Erina segera berlalu ke kamar mandi dengan raut wajah heran. Arga memegang dadanya, jantungnya berdegup lebih kencang.
"Kenapa dia manis sekali memakai baju itu." ucapnya lirih.
Erina keluar dengan senyum mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Kalau ini bagaimana?" ucapnya menyeringai.
Arga mengatupkan kedua bibirnya, jantung nya seakan ingin berlari dari tempatnya. Erina benar-benar membuatnya spot jantung hari ini, wajah polosnya terlihat sangat manis dengan pakaian yang ia kenakan.
Arga segera beranjak dari sofa, dia berjalan menuju lemari pakaian Erina. Erina hanya memandang Arga dengan pandangan heran. Arga mengamati beberapa baju yang tersusun rapi di lemari besar berwarna abu-abu muda, pandangan Arga terhenti pada kaos putih milik Erina. Arga segera mengambil kaos itu, Arga juga mengambil topi yang berada di lemari asesoris Erina.
"Pakai ini ... dan juga ini!" Arga melemparkan baju dan topi ke arah Erina, Erina dengan sigap menangkapnya.
"Dasar!" gerutu Erina. Erina segera berjalan untuk berganti baju, tapi langkahnya terhenti. Erina membalikkan badannya, dan memandang Arga dari atas sampai bawah.
"Suamiku ... kita mau ke taman, bukan mau rapat. Kenapa kamu pakai baju formal seperti itu." Erina terlihat kesal karna dia baru menyadari pakaian yang dikenakan Arga. Erina segera berjalan menuju lemari baju Arga, Erina pun mengambil kaos putih milik Arga.
Erina melakukan hal yang sama kepada Arga, dia melemparkan kaos putih ke arah Arga. Arga mendengus kesal.
"Memang kenapa dengan bajuku ini?" serunya sambil menunjuk jas yang ia pakai.
"Ck ... dan kenapa aku harus pakai kaos seperti ini." Arga mengangkat tinggi kaos yang dilempar Erina.
"Oke ... kalau kamu tak mau ganti baju, aku juga tak akan ganti baju." Erina tersenyum menyeringai hingga menunjukkan giginya yang putih.
Arga yang tak ingin melihat istrinya memakai baju itu, akhirnya mengalah dan segera mengganti bajunya.
"Yeah ... akhirnya kita pakai baju warna senada, rasanya kita seperti anak muda yang sedang melakukan kencan pertama." Erina terkekeh sendiri, raut wajahnya terlihat sangat senang sekali.
Arga hanya tersenyum simpul, Arga terlihat lebih nyaman dengan pakaian yang dikenakan Erina sekarang.
"Iya ... ayo kita berangkat sekarang." Arga menggenggam tangan Erina. Mereka berjalan beriringan keluar kamar.
"Sayang ..., memang kenapa kalau aku pakai baju yang tadi, jelek ya? Padahal itu baju oleh-oleh dari ibu waktu ibu ke luar negeri lho." Erina masih penasaran karna Arga melarangnya memakai baju pemberian dari ibu mertuanya.
Arga menghentikan langkahnya, dia memandang Erina lekat-lekat.
"Aku tak mau orang lain menikmati kecantikanmu. Kamu tidak sadar apa? kalau kamu memakai baju itu. Kamu terlihat sangat manis. Bisa-bisa semua orang memandangmu ... aku tak mau ada orang lain yang memandangmu. Karena kecantikanmu hanya untuk ku seorang." Arga memegang bahu Erina dan dia terlihat sedang tak main-main dengan ucapannya.
Erina tersipu malu mendengar jawaban suaminya, dia menganggukkan kepala tanda mengerti. Arga memeluk Erina dengan erat.
__ADS_1
"Kamu hanya boleh berdandan di depanku saja, karna kamu adalah milikku." Arga berucap lirih, Erina membalas pelukan Arga dan mengiyakan ucapan suaminya.
Bersambung