Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Geram


__ADS_3

Pagi ini udara terasa sangat dingin, Erina mendekapkan kedua telapak tangannya dan menggosokan nya secara perlahan. Lalu menempelkannya pada kedua pipinya yang terasa dingin.


Erina masih berdiri menikmati pemandangan pagi di balkon kamarnya, hatinya sekarang terasa hampa. Apapun yang dilakukannya terasa sia-sia, bahkan upaya untuk menyibukkan dirinya agar pikirannya bisa sedikit melupakan masalah hatinya. Rupanya tak berpengaruh besar, hatinya tetap terpusat pada sang suami yang sekarang sangat dinantikan kehadirannya.


Erina memejamkan matanya dan berucap lirih.


"Sampai kapan kamu akan menghukumku seperti ini? Sungguh aku sangat tersiksa sekarang, aku mohon kembalilah ... Aku membutuhkanmu sekarang ... dan selamanya, karena hanya kamu yang aku cintai." Erina memegang dadanya yang terasa sesak.


"Rasanya aku ingin pergi ke suatu tempat ..., tapi kemana ya ....?" Bola mata Erina berputar, pikirannya terpusat kemana ia akan pergi untuk menenangkan hatinya yang sedang kalut.


"Sepotong kue yang lembut dan manis, rasanya cocok untuk mengisi hati yang hampa .... " Ucap Erina di selingi tawa kecil, dia bahkan lupa cara untuk tertawa selama dua hari ini. Sosok Arga yang tiba-tiba menghilang sudah sangat menyita pikirannya, sehingga tak ada lagi wajah yang biasanya terlihat ceria dan mudah tertawa untuk hal-hal kecil.


***


Setelan atasan berwarna kuning bermotif bunga dan rok yang panjang menutup lutut, terlihat sempurna di tubuh Erina. Erina mengikat rambutnya tinggi, sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Arga sangat tidak menyukai saat Erina mengikat rambut panjangnya, dia lebih suka Erina dengan rambut terurai. Tapi entah apa yang membuat Erina ingin berdandan seperti saat ini.


Erina berjalan menuju dapur, tempat favoritnya akhir-akhir ini. Tempat dimana dia bisa bercerita dan berkeluh kesah kepada Bibi Mar, Bibi yang sudah ia anggap sebagai ibu ketiganya setelah ibu kandung dan ibu mertuanya. Bibi Mar tertegun melihat penampilan Erina yang sedikit berbeda dari biasanya, kali ini Erina terlihat begitu menawan dengan rambut yang sudah ditata rapi ke atas.


"Nona, sudah terlihat rapi dan terlihat sedikit berbeda .... " Bibi Mar memiringkan kepalanya sebentar lalu menatap Erina lekat-lekat.


Erina menyunggingkan senyuman manis nya, senyuman yang selama dua hari ini sudah menghilang dari bibir mungilnya.


"Tidak ada yang berbeda bibi .... " nada suara Erina terdengar sedikit manja. Bibi Mar menggedikkan bahunya ke atas, dan tersenyum kepada Erina.


"Apa perasaan nona sudah membaik hari ini ....?" tanya Bibi Mar sambil melanjutkan aktifitasnya.


Erina bernafas berat dan memejamkan matanya, menghembuskannya secara perlahan di ikuti dengan matanya yang terbuka pelan.


"Perasaanku masih sama Bi ..., hampa dan masih terasa sesak." Erina menundukkan kepala, mencengkeram pelan tangannya sendiri. Bibi Mar menghentikan aktifitasnya, berjalan mendekati Erina yang kini tengah duduk di meja makan.


"Non ... yakinlah bahwa Tuhan sedang menguji cinta kalian berdua, nona dan Tuan tak boleh menyerah pada keadaan. Bibi tidak tahu pasti, masalah apa yang sedang nona dan Tuan hadapi. Tapi saya yakin nona dan Tuan bisa menghadapi semua ini. Tuan sangat mencintai nona ... sepertinya Tuan hanya salah paham saja kepada nona." jelas Bibi Mar. Erina merasa sedikit tenang mendengar ucapan Bibi Mar, dia kembali bersemangat lagi.


"Bibi benar ... , aku tak boleh menyerah pada keadaan. Aku harus berjuang ...." Erina beranjak dari kursi yang ia duduki. Seolah menemukan semangat baru, Erina berjalan mendekati bibi Mar dan memegang pundak bibi Mar.


"Bi ... aku pergi keluar sebentar ya, aku ingin menenangkan sedikit perasaanku. Aku ingin meyakinkan hatiku bahwa Tuan Muda tak salah memilihku, aku ingin memantaskan diri untuk Tuan Muda." Erina terlihat sangat bersungguh-sungguh, matanya yang indah masih tersirat kesedihan. Bibi Mar segera menyunggingkan senyuman di wajahnya.


"Iya Non ... nona hati-hati dijalan ya ... Sebentar akan saya panggilkan Pak Yan .... " Bibi Mar segera berlalu mencari Pak Yan di halaman belakang.


"Tapi bi .... " suara Erina tak terdengar oleh Bibi. Bibi sudah pergi meninggalkannya sendiri di meja makan, tidak lama kemudian Bibi sudah datang di ikuti dengan Pak Yan.


"Selamat siang nona .... " sapa Pak Yan.


"Selamat siang, Pak Yan .... " sapa balik Erina.

__ADS_1


"Sudah siap Nona Erina ...? Kemanapun nona pergi, saya siap mengantarkan nona." celoteh Pak Yan diiringi dengan tepuk tangan kedua tangannya, Bibi Mar dan Erina terkekeh melihat tingkah Pak Yan.


Sebenarnya Erina berniat untuk pergi dengan taksi online saja, karena tujuannya hanya untuk menikmati sepotong kue manis dan secangkir coklat hangat kesukaannya. Namun, karena Pak Yan sudah dengan semangat ingin mengantarnya. Erina tak punya pilihan lain, kecuali pergi dengan diantar Pak Yan.


Erina menyunggingkan senyuman nya, berjalan mendekat ke arah bibi Mar dan berpamitan kepadanya.


"Aku pergi dulu ya bi .... " pamitnya seraya berjalan meninggalkan Bibi Mar. Pak Yan berjalan mengekor di belakang Erina.


"Iya Non ... Hati-hati dijalan ya .... " ucap Bibi Mar dengan suara sedikit dikeraskan.


Bibi Mar segera teringat sesuatu.


"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk nona Erina dan Tuan Arga .... " Bibi Mar segera berlari kecil menuju telfon yang berada di ruang tengah.


Bibi Mar menekan tombol telfon dengan melihat catatan di atas kertas di sebelah telfon, kertas itu berisi nomer Erina dan Arga. Catatan itu di tulis oleh Erina untuk memudahkan Bibi Mar mengingat nomer telfon mereka, jika Bibi Mar membutuhkan sesuatu atau terjadi sesuatu saat mereka tidak ada dirumah.


"Hallo .... " suara Arga menyahuti dari sebrang sana.


"Hallo Tuan ... nona Erina baru saja pergi tapi saya tidak tau kemana Tuan." ucap Bibi Mar, suaranya dibuat sepanik mungkin.


"Dia pergi dengan siapa Bi ...? Diantar Pak Yan kan ...? Sudah berapa lama mereka pergi ....?" suara Arga tampak begitu panik, sesuai dengan prediksi Bibi Mar. Bibi Mar berharap semoga rencana untuk menyatukan Arga dan Erina kali ini berhasil.


"Iya Tuan ... nona Erina pergi diantar Pak Yan, tapi nona Erina tidak memberitahu kemana nona akan pergi Tuan." ucap bibi Mar.


"Baiklah bi ... terimakasih, aku akan segera menyusul Erina." ucapnya seraya menutup telfon dari bibi Mar. Raut wajah bibi Mar terlihat lega, karena berhasil membuat Arga panik dan menyusul Erina.


Arga mengklik aplikasi navigasi yang menghubungkan keberadaan Erina, raut wajahnya terlihat serius menatap layar ponselnya. Terlihat jelas di layar ponselnya Erina berhenti di 'Cake Claris', toko kue yang sangat terkenal di kotanya. Arga mengernyitkan keningnya.


"Kenapa dia pergi kesana ....?" gumamnya lirih.


Tak menunggu lama, Arga segera beranjak dari tempat duduknya dan seperti biasa Pak Sam mengekor di belakang Arga.


***


Erina telah sampai di 'Cake Claris' toko kue yang menyuguhkan berbagai macam jenis kue dan makanan manis lainnya. Erina turun dari mobil dan berjalan masuk ke toko kue tersebut dengan wajah semangat. Senyum terpancar di wajah cantiknya tapi hatinya masih tersisa kesedihan yang mendera.


Erina memilih beberapa macam kue favoritnya dan minuman coklat hangat. Dia mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan, pandangan Erina terhenti pada spot yang menurutnya menarik. Dia memilih kursi yang berada dekat dengan kaca besar transparan, sehingga pandangannya bisa bebas mengarah ke luar ruangan.


Erina menikmati secangkir coklat hangat yang sudah tersaji di depannya, dia menyeruput perlahan minuman yang berwarna coklat pekat itu. Menikmati setiap teguk coklat yang mampu mencairkan suasana hatinya yang sedang kalut. Sesekali Erina mendekatkan cangkir yang berwarna putih bertuliskan 'Choco' tepat di depan hidungnya, menghirup dalam-dalam aroma coklat yang khas.


"Hmm ... coklat hangat disini memang yang terbaik, tak salah jika disini selalu ramai pengunjung." gumam lirih Erina.


Seorang gadis yang tampak anggun dengan dress berwarna putih dan blazer coklat baru saja datang dan duduk di kursi sebelah Erina. Erina tak terlalu memperdulikan kehadirannya, sampai tiba datang seorang gadis lagi dengan dandanan tak kalah anggunnya. Erina melirik sekilas gadis yang baru saja datang itu, Erina segera mengalihkan pandangannya ke samping dan menutup wajahnya dengan satu tangannya. Erina menempelkan tangan di pelipisnya agar terlihat tidak mencolok.

__ADS_1


Kedua gadis itu kini tengah duduk membelakangi Erina, Erina mendengus pelan.


"Oh ... kenapa dunia terasa sempit sekali." Erina berucap lirih. Matanya terpejam, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Pasalnya gadis yang baru saja datang itu tak lain adalah 'Clarissa'.


Kedua gadis itu terlihat sangat akrab, mereka bercengkrama dengan diselingi canda tawa. Erina benar-benar diam tak berkutik di tempat duduknya, sesekali Erina mendengar pembicaraan dua gadis itu.


"Bagaimana kelanjutan hubunganmu sama Arga Cla ....?" tanya teman Clarissa. Erina yang tak sengaja mendengar nama Arga di sebut, segera membenarkan tempat duduknya agar bisa mendengar dengan jelas apa yang akan di katakan Clarissa kepada temannya.


Clarissa mendengus kesal, raut wajahnya terlihat sedikit kesal ketika nama Arga di singgung oleh temannya.


"Dia tetap tak berpaling dari gadis pembawa sial itu." ucap Clarissa kesal.


Apa ...? Dia menyebutku dengan gadis pembawa sial. Oh, dasar nenek sihir itu ya.


umpat Erina dalam hati, tangannya mengepal kesal.


"Arga tak mungkin dengan mudah melupakanmu Cla ..., setidaknya pasti ada sedikit rasa di hatinya untukmu." ucap temannya mencoba menenangkan Clarissa.


Erina semakin geram, ingin sekali rasanya berteriak bahwa 'Arga adalah milikku, jangan coba-coba merebutnya dariku'. Tapi Erina masih bisa berpikir sedikit waras kali ini.


"Entahlah ... aku sekarang tak ingin memikirkan masalah Arga terlalu serius, untuk saat ini aku ingin melebarkan sayap untuk mengembangkan bisnisku. Dan salah satunya toko kue ini, aku ingin melakukan perombakan sedikit di sudut ruangan ini." ucap Clarissa sedikit putus asa.


Tunggu ... dia bilang toko kue ini .... ?


gumam Erina dalam hati, Erina segera melirik name board yang terpampang besar di depan pintu masuk 'Cake Claris'. Erina membaca lirih name board itu, Claris yang tak lain adalah nama Clarissa. Betapa terkejutnya Erina, Erina bahkan tidak mengetahui kalau toko kue terbesar di kotanya adalah milik Clarissa. Erina memejamkan mata dan meremas gemas rok yang dikenakannya.


Oh ... kenapa aku tak tahu sama sekali bahwa toko kue ini adalah miliknya, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang.


gumam Erina frustasi.


Sementara itu Arga sudah berada di parkiran toko kue milik Clarissa, dia melihat Pak Yan duduk di kursi yang berada di parkiran. Arga melihat ke toko kue milik Clarissa, terlihat Erina duduk di tepi sendirian. Arga bernafas lega karena tidak terjadi sesuatu kepadanya, Arga masih menunggu di dalam mobil. Dia tak tahu harus memulai darimana.


Erina yang merasa tak bisa berkutik, hanya bisa pasrah dan meneguk tetesan coklat terakhir di cangkirnya. Erina bernapas dalam-dalam dan membuangya secara perlahan, dia sudah cukup merasa tenang. Sampai akhirnya dia mendengar ucapan teman Clarissa yang membuat dia geram kembali.


"Memang kamu tak berniat untuk merebut Arga dari gadis pelakor itu ....?" ucap teman Clarissa.


Hei ... siapa yang pelakor? justru sahabatmu itu yang sudah mencoba merebut Arga dariku. Asal kamu tahu aku ini istrinya yang sah.


Umpat Erina dalam hari, dia benar-benar kesal dengan teman Clarissa yang mencoba menyulut api di hati Clarissa.


Erina sangat geram tangannya mengepal, sampai akhirnya tangannya tak sengaja menyenggol cangkir yang tepat berada di depannya. Kejadian itu sontak membuat Clarissa dan temannya langsung menoleh ke arahnya, Clarissa memicingkan mata karena merasa kenal dengan gadis yang berada di belakang sahabatnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2