
"Silahkan masuk Tuan dan Nona," ucap Rain kepada Eric dan Depe.
Depe dengan santainya melenggang masuk mobil Mercedes-Benz S Class keluaran terbaru. Sedangkan Eric, Ia masih tetap mencoba menjelaskan kepada Rain.
"Tuan Rain ...." tegur Eric.
"Iya Tuan, panggil saja saya Rain Tuan. Saya asisten anda selama anda berada di Singapura," jelas Rain.
"Baiklah Rain ... Saya hanya ingin menjelaskan, bahwa Nona Depe bukan siapa-siapa Saya. Jadi seperti nya kamu salah sangka Rain," tutur Eric.
Rain mengulas senyum, entah apa yang ada dipikirannya. Tapi seperti nya tak selaras dengan pemikiran Eric.
"Silahkan masuk Tuan, paling tidak. Kita tidak meninggalkan gadis itu sendirian disini bukan?" ucapan Rain membuat Eric mengerutkan kening, tapi mungkin Ada benarnya juga ucapan Rain. Tak mungkin juga Ia meninggalkan gadis itu seorang diri di bandara ini, meskipun terasa aneh bagi Eric. Karena tak mungkin kan seseorang pergi berlibur tanpa persiapan apapun. Seperti yang dilakukan Depe saat ini, menebeng di mobil yang menjemputnya.
🍁🍁🍁
Eric tampak tak nyaman duduk di sebelah Depe, beberapa kali Ia harus menggeser posisi duduknya agar tak berdekatan dengan Depe.
"Rain, jika kamu tak keberatan bisakah kamu mengantar aku terlebih dahulu sebelum mengantar nona Depe ke tujuannya?" ucap Eric dengan posisi menjaga jarak kepada Depe.
Eric terus menatap lurus ke depan, tanpa menunggu persetujuan Depe tentang ucapannya barusan. Karena menurutnya tak perlu, laki-laki itu merasakan sangat canggung dengan atmosfer yang kini Ia rasakan.
"Tuan Eric, kenapa begitu kaku begitu sih. Aku gak gigit lho," goda Depe. Ia tampak sengaja mendekatkan tubuh nya dengan tubuh Eric, hal itu benar-benar membuat Eric panas dingin. Rasanya ingin sekali Ia loncat dari mobil, untuk menghindari gerakan Depe yang membuatnya semakin susah untuk menelan salivanya.
Drrrrttt ... drrttt ... drrrttt ....
Suara dering telpon terdengar dari tas Depe, gadis cantik itu segera mengambil ponsel di dalam tasnya. Tangannya yang gemulai menari indah di layar benda pipih miliknya.
In Call
"Halo, iya Tya."
"Depe, kamu sekarang ada dimana? Aku jemput di bandara kamu kok gak ada."
"Maaf, Tya. Aku tadi dipaksa ikut bersama dengan Tuan tampan, jadi dengan terpaksa Aku tak bisa menolak mereka yang sangat ingin mengantarku ke tempat mu."
Eric segera menoleh ke arah Depe dengan tatapan tak percaya, begitu juga dengan Rain yang sedari tadi fokus mengemudi langsung di buat heran dengan kalimat Depe. Laki-laki itu tampak melirik ke arah Depe melalui kaca spion tengah mobil yang dikendarainya, Ia tampak tersenyum samar.
__ADS_1
"Tuan tampan? Siapa dia? Sudah sekarang share lokasimu, Aku akan segera menyusul kesana."
"Ck ... iya ...iya ... habis ini aku share lokasi terkiniku! Kamu selalu begitu, mengganggu saja!"
End Call
Depe menggeser layar ponsel nya dengan kesal.
"Ish, Tya selalu begitu. Mengganggu kesenanganku saja. Gak tau apa temennya lagi senang karena bisa bertemu lagi dengan Tuan Eric yang tampan ini," gerutu Depe dengan mencebikkan bibirnya.
Eric hanya mendesah lirih mendengar gumaman Depe, Ia tak ingin berkomentar atau sekedar basa basi menanggapi keluhan gadis itu. Dengan berdiam diri saja Ia cukup tersiksa, bagaimana jika sampai Eric menanggapi gadis berparas cantik itu. Pasti akan membuatnya spot jantung dengan sikap tiba-tiba Depe kepada nya.
Laki-laki yang sudah menambatkan hatinya pada Anggen itu memang tak pernah merasakan dekat dengan seorang gadis sebelumnya, Ia benar-benar newbie untuk masalah kaum hawa. Clarissa lah, gadis yang pertama mendekatinya dan sempat mencuri hatinya. Namun, takdir tak berpihak pada mereka. Mereka tak ber jodoh itulah kenyataannya.
Eric tersadar dari lamunannya saat mobil menepi, di luar tampak seorang gadis memaki celana jeans biru dengan kaos panjang berwarna senada dengan warna celananya, biru muda.
"Kenapa kita berhenti Rain?" tanya Eric memecah keheningan.
Depe yang masih berada di sebelahnya segera menoleh kearahnya seraya berkata, "Aku akan turun disini Tuan Eric, kamu jangan sedih ya. Kalau jodoh kita bakal ketemu lagi," goda Depe dengan senyum tersungging di bibirnya yang di poles dengan lipstik berwarna nude.
"Ih ... Tuan Eric, kamu sangat manis sekali kalau tersenyum begitu." Depe mencubit pipi kanan Eric dengan salah satu tangannya, Rain yang sedari tadi mengawasi mereka berdua melalui spion tengah mobil menahan tawa dengan tindakan Depe kepada Eric.
Terlihat jelas Eric mematung akibat perlakuan Depe yang secara tiba-tiba itu.
"Depe, ayo cepet turun." suara seorang gadis dengan mengetuk kaca mobil beberapa kali, Ia yang sedari tadi menunggu Depe diluar tampak tak sabar.
"Iya ... iya Tya, sabar dikit kenapa sih. Aku kan lagi salam perpisahan sama Tuan tampan ku ini," ketus Depe.
Gadis itu segera membuka pintu dan melangkah keluar, Rain segera turun menghampiri kedua gadis tersebut. Eric pun melakukan hal yang sama, meskipun Ia merasa sedikit tak nyaman dengan perlakuan Depe. Tapi sungguh tak sopan jika sampai Ia tak memberi salam perpisahan kepada kedua gadis tersebut.
"Tuan Eric dan Rain, kenalkan ini temenku. Namanya Tya Gunawan, selama berlibur Aku akan tinggal dirumah nya. Jadi kalau kalian ingin menemuiku, mampir saja ke rumah Tya. Iya kan Tya." Depe menyenggol lengan Tya, Ia mengedip-kedipkan kedua matanya memberi isyarat kepada Tya agar mengiyakan kalimat nya.
Namun, sepertinya Tya tak sejalan dengan pemikiran Depe.
"Kenapa dengan matamu Pe? Kamu kelilipan ya?" seloroh Tya dengan santainya.
Eric dan Rain menahan tawa dengan tingkah kedua gadis di hadapannya itu.
__ADS_1
"Oh ya, Aku Tya. Terimakasih ya, karena sudah berkenan mengantar temanku yang super centil ini," ucap Tya sambil mengulurkan tangan kepada Eric dan Rain.
Depe mendelik ke arah Tya, mendapat julukan yang memang sudah di sandangnya sejak dari bayi. Membuatnya sedikit kesal, karena di ucapkan di hadapan Eric.
"Anda Tya Gunawan, owner penerbit buku sekaligus penulis itu?" tanya Rain dengan mata berbinar senang.
"Iya benar, Tya penulis dan dia sahabat baikku!" sahut Depe membenarkan.
"Wah, saya benar-benar ngefans sekali sama Nona Tya. Saya sangat suka dengan karya-karya nona," ucap Rain semangat, Ia benar-benar tak menyangka bertemu dengan penulis favoritnya.
Eric sebenarnya tak ingin mengganggu perjumpaan antara sang idola dan penggemarnya itu, tapi Ia merasa lelah sekali.
"Rain, maaf sudah mengganggu kebahagiaanmu. Tapi bisakah kita pergi sekarang?" pinta Eric dengan mengulum senyum.
"Oh iya, maaf Tuan. Saya hampir lupa untuk mengantar kan anda ke apartemen."
🍁🍁🍁
Rain dan Eric akhirnya melanjutkan perjalanan mereka, tapi sebelum mereka pergi. Depe memberikan nomer ponsel nya di ponsel Rain dengan alasan agar Rain bisa mudah menghubungi idolanya, Tya melalui Depe. Dan tentu saja, agar Ia juga mudah untuk menghubungi Eric lagi.
Eric tampak menyandarkan punggungnya di jok mobil, matanya terpejam. Sekilas bayangan Anggen menari di ingatannya, senyum gadis itu benar-benar sudah mengalihkan dunia nya. Ia bahkan tak tertarik dengan kedua gadis yang baru saja Ia temui.
Laki-laki itu mendesah lirih seraya berkata, "Baru sehari saja, aku sudah sangat merindukannya."
Bersambung ....
💖💖💖
Penasaran dengan kak Aldheka Depe, sang penulis novel romantis se NT. Kunjungi karya terbarunya yang berjudul Mas Rud (Novel Sang Cinta). Awas baper ya🤭😍
Bintang tamu kedua kali ini juga seorang penulis famous di NT, kak Tya Gunawan yang karyanya berjudul Nikah Kontrak. Novel yang super keren tentang percintaan, action dan juga ada komedinya. Paket komplit pokoknya, dijamin deg-deg an bacanya. 😍👍🏻
Untuk bonus nya aku kasih visual kak Tya Gunawan ya💖
__ADS_1