Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Pernikahan Eric dan Anggen


__ADS_3

Dua bulan kemudian


Persiapan pernikahan Anggen dan Eric sudah hampir mencapai sempurna, pernikahan yang tinggal menunggu hitungan jam itu di gelar di hotel milik Arga. Konsep yang di usung adalah outdoor, calon mempelai pengantin ingin acara nya sederhana saja. Tidak terlalu mewah, jadi mereka hanya mengundang sanak saudara dan teman-teman dekat saja.


Erina yang perutnya sudah membulat sempurna tampak antusias menunggu hari bahagia itu, Arga bahkan memesan gaun terbaik untuk istrinya. Ia ingin istrinya tampil cantik meski tengah hamil tua.


🍁🍁🍁



Sudut hotel telah di sulap menjadi tempat momentum sakral untuk pasangan Eric dan Anggen. Tampak teman-teman dekat dan keluarga sudah menunggu di kursi yang menghadap langsung ke arah tempat Ijab Qabul.


Sang mempelai laki-laki tampak begitu gagah dengan balutan setelan jas hitam dengan kemeja putih. Beberapa tamu undangan yang tak lain adalah teman sekantor Eric itu terlihat patah hati, karena pria yang mereka idolakan setelah Arga akan mengakhiri masa lajangnya.


Pujian sayu-sayu terdengar dari deretan kursi para undangan, mereka berdecak kagum dengan pesona Eric yang pagi itu tampak terpancar sempurna.


Eric tampak begitu gelisah menunggu Anggen, beberapa kali pria itu tampak membenarkan posisi duduk nya.


Perhatian seluruh tamu undangan beralih pada sosok gadis yang kini tengah berjalan dengan anggun menuju tempat Ijab Qabul. Gadis itu tampak berjalan dengan menggandeng lengan sang ibu, lalu dengan penuh kasih sayang sang ibu menuntun gadis itu untuk menduduki kursi yang berada di sebelah Eric. Balutan kebaya berwarna putih di padu padankan dengan kain jarik bermotif Sido Mulyo itu terlihat sangat cantik sekali, sangat pas dipakai oleh Anggen.


Pria itu menatap sang calon mempelai wanita, Ia tampak terperangah melihat kecantikan yang di poles dengan riasan tipis natural. Seorang gadis yang sebentar lagi akan di halalkannya.


"Kamu sangat cantik sekali," puji Eric dengan mengulas senyum.


Selembar kerudung persegi panjang berwarna putih dengan bordir penuh tampak menutupi sebagian kepala kedua mempelai pengantin. Rasa gugup dan gelisah kembali menyergap Eric dan Anggen.


🍁🍁🍁


Saat prosesi Ijab Qabul berlangsung suasana begitu khusyuk dan khidmat, semua para tamu undangan menyaksikan dengan seksama.


"Bagaimana para saksi SAH?" tanya penghulu kepada para saksi setelah Eric melafalkan Ijab Qabul dengan sekali tarikan nafas.


"SAH."


Seluruh para undangan tampak kompak berucap kata SAH, tangisan haru mengakhiri prosesi sakral itu. Kedua mempelai yang sudah SAH menjadi suami istri itu tampak begitu lega, rasa bahagia memenuhi perasaan mereka. Sungguh tak bisa di ungkap kan dengan kata-kata.


Wanita yang tengah hamil tua itu masih tampak sesengukan, Ia begitu terharu. Kakak tercintanya kini sudah menemukan tambatan hatinya, pelabuhan terakhir nya. Erina tersenyum kepada wanita yang mengelilinginya, mama nya dan ibu mertuanya. Kedua wanita yang sangat menyayangi Erina, sesaat mereka tampak berpelukan secara bergantian. Ikut larut dalam suasana haru yang tercipta.


🍁🍁🍁


Setelah prosesi Ijab Qabul, kedua mempelai langsung mengadakan acara resepsi yang di ada kan di tempat yang sama.

__ADS_1


Anggen dan Eric tampak mempersiapkan diri, wanita yang sudah SAH menjadi istri Eric itu terlihat sedang mengganti pakaiannya. Gaun pengantin berwarna putih itu tampak sangat pas di pakai olehnya. Eric tak henti berdecak kagum melihat penampilan sang istri.



Pria itu menarik tubuh Anggen, menatap lekat kedua manik coklat milik sang istri. Rona merah tampak menyembur di wajahnya, jantungnya berdegup lebih kencang. Ia masih tak percaya laki-laki yang ada di hadapannya ini sudah SAH menjadi suaminya, pernikahan yang selalu di impikannya kini menjadi nyata.


"K-kak Eric, kita sudah di tunggu tamu undangan. Sebaiknya kita keluar sekarang," ucap Anggen. Ia begitu gugup dengan tatapan yang ditujukan kepada nya.


Kedua sudut bibir Eric terangkat sempurna, senyuman yang selalu berhasil membuat Anggen terpanah. Namun kini senyuman itu membuat wanita itu mengalihkan pandangannya. Ia tak sanggup menatap senyum manis sang suami.


"Istriku, sebaiknya kamu harus mulai belajar memanggil aku sayang ya. Karena panggilan kak Eric hanya khusus untuk Erina dan suaminya saja," seloroh Eric yang membuat Anggen kembali tersipu. Wanita itu hanya menganggukkan kepala menyetujui kalimat sang suami.


"Bersiap-siaplah untuk nanti malam, karena aku akan membantumu untuk belajar memanggil ku sayang."


Tenggorokan Anggen terasa tercekat, Ia dengan susah payah mencoba menelan saliva nya. Degup jantung yang belum bekerja secara normal kini kembali berpacu lebih kencang lagi, rasanya mau loncat dari tempat nya.


Namun, berbeda dengan Eric. Ia terlihat begitu menikmati menggoda wanitanya, Ia seolah tak bosan-bosannya menatap sang istri.


🍁🍁🍁



Suasana tampak semakin ramai, tamu undangan satu persatu terlihat memenuhi kursi yang sudah tertata rapi.


Terlihat Gea, Syala, Depe dan Tya berada di satu meja. Mereka tak henti berdecak kagum melihat pasangan pengantin itu, meski Depe dan Syala merasa patah hati. Tapi tampaknya mereka pun turut bahagia di hari penting itu.


Dokter Mili juga turut serta dalam acara bahagia Eric dan Anggen, Ia tak lagi mencoba menggoda Eric seperti yang Ia lakukan sebelumnya. Gadis yang berprofesi dokter itu hanya sedang menguji cinta mereka berdua, atas perintah Erina dan Arga.


Tampak seseorang berjalan dengan mendorong kursi roda berjalan mendekati Eric dan Anggen, mereka adalah Rendra dan Clarissa.


Erina yang menyadari kehadiran Clarrisa tampak terkesiap, wanita itu mencengkram lengan jas suaminya.


"Selamat ya Eric dan Anggen, aku do'akan kalian akan bahagia selamanya." Doa tulus Clarrisa setelah Ia sampai di hadapan Eric dan Anggen. Senyum tampak mengembang di wajahnya yang terlihat sangat cantik dengan polesan riasan sederhana.


"Terimakasih Nona Clarrisa," jawab Anggen.


Eric, Anggen, Erina dan Arga tampak tersenyum lega. Gadis yang tengah duduk di kursi roda itu sudah mau membuka hatinya.


"Nanti malam Clarrisa akan terbang ke London untuk menjalani operasi di kaki nya." Rendra menjeda kalimat nya beberapa saat sambil mengedarkan pandangannya secara bergantian kepada mereka berempat.


"Kuharap kalian mau memaafkan semua kesalahan yang telah Clarrisa perbuat, selama ini dia hanya terobsesi. Dia mengakui semua kesalahan nya dan dia sangat menyesal. Bulan depan kami akan melangsungkan pernikahan, kalian jangan lupa hadir ya. Apalagi kamu Ga. Kamu wajib datang ya." Rendra menunjuk dada sahabatnya itu.

__ADS_1


Arga menyunggingkan senyuman, Ia segera memeluk Rendra. "Selamat-selamat, aku janji. Aku pasti akan datang di hari bahagia kalian. Jaga Clarrisa baik-baik ya." Pesan Arga terhadap Rendra.


Erina mendekati Clarrisa, gadis itu segera meraih jemari Erina dan menggenggam nya erat.


"Maafkan aku selama ini, aku banyak salah kepadamu Erina." Tak terasa cairan bening lolos dari kedua sudut mata Clarrisa. Erina pun sama. Ia menangis haru, wanita itu dengan susah payah mencoba memeluk Clarrisa. Sesaat mereka kembali di suguhkan dengan pemandangan haru.


Namun, secara tiba-tiba. Erina merasakan mules yang sangat hebat. Wanita itu segera melepaskan pelukannya, Ia mencoba mendekati suaminya.


"Sayang, perutku. Rasanya sakit sekali," desisnya.


Mereka semua tampak panik, tak terkecuali Arga. Pria itu dengan sigap segera membawa Erina ke parkiran mobil, Pak Sam yang memang selalu siap siaga segera menyiapkan mobil.


Dokter Mili yang duduk tak jauh dengan tempat mereka berdiri juga tampak segera mengikuti langkah Arga.


🍁🍁🍁


Pak Sam melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, sepanjang perjalanan rambut Arga tak henti menjadi sasaran Erina untuk menahan rasa sakit yang Ia rasakan. Wanita itu tampak mengerang dan berulang kali menjambak rambut Arga. Sampai akhirnya rambut Arga berantakan tak beraturan, Ia hanya bisa pasrah mendapat perlakuan dari sang Istri. Beruntung jarak Rumah Sakit dan hotel tak terlalu jauh.


Dokter Mili yang saat itu mengenakan gaun dan heels setinggi tujuh centimeter itu tampak kesusahan untuk berjalan. Ia segera melepas heels nya dan mengangkat gaun nya agar tak menghalangi langkahnya.


Beberapa perawat tampak keluar dari ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) dengan mendorong Brankar, dengan di bantu Dokter Mili. Arga meletakkan tubuh Erina dengan sangat hati-hati.


"Dokter kenapa prediksinya tak sesuai, kamu bilang perkiraan Erina akan melahirkan tanggal dua puluh sembilan. Sedangkan sekarang masih tanggal sepuluh," protes Arga dengan masih mendorong Brankar Erina. Rambutnya masih terlihat acak-acakan dan jasnya terlihat kusut karena tak luput dari cengkraman kuat Erina.


"Itu hanya perkiraan saja Tuan, tak bisa dijadikan patokan. Dan lagi, sekarang bukan waktunya memperdebatkan masalah itu. Sekarang yang terpenting adalah Nona Erina harus segera ditangani," tukas Dokter Mili.


Arga membenarkan ucapan Dokter muda itu, Ia menatap Erina yang tengah berbaring di atas brankar itu. Wajahnya menunjukkan rasa sakit yang begitu hebat, Arga tampak meneteskan air mata. Hatinya sakit melihat tubuh istrinya tergolek lemah dan sebentar lagi akan bertaruh nyawa untuk melahirkan sang buah hati.


"Tuan, mohon maaf. Nona Erina akan saya periksa terlebih dahulu. Anda bisa menunggu sambil mengganti pakaian anda yang akan di siapkan oleh perawat saya," jelas Dokter Mili menghentikkan langkah Arga.


Laki-laki itu menatap nanar kepada Erina dan Dokter Mili yang hendak masuk ke ruang persalinan. Perasaannya berkecamuk, hatinya terasa pilu.


Bersambung ....


💖💖💖


Batik Motif Sido Mukti



Mampir ke novel temen author ya😍

__ADS_1



__ADS_2