Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Maafkan Aku


__ADS_3

Flashback


Seorang laki-laki yang hendak menuju ke apartemennya terkejut mendapati seorang perempuan tergeletak di taman. Perempuan itu tak lain adalah Erina.


Laki-laki itu segera mendekati Erina, satu tangannya memegang pergelangan tangan Erina dan satunya tetap memegang payung.


"Syukurlah dia masih hidup." ucap lirih laki-laki itu.


Dia segera menggendong Erina dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dia membawa Erina ke rumah sakit tempatnya bekerja. Ya, laki-laki itu adalah seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit di kota Erina. Dia bernama dokter Mirza.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, karna semakin derasnya hujan yang turun. Membuat pandangan dokter Mirza tak terlalu jelas. Beberapa menit kemudian, dokter Mirza dan Erina sudah sampai di rumah sakit. dokter Mirza segera menggendong Erina masuk ke Instalasi Gawat Darurat.


"Dia mengalami hipotermia, untungnya denyut nadinya masih ada. Segera ganti pakaiannya dan hangatkan tubuhnya." perintah dokter Mirza ke beberapa perawat jaga. Mereka dengan sigap menuruti intruksi yang diberikan oleh dokter Mirza.


dokter Sigit selaku dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat segera memeriksa keadaan Erina. Tubuh Erina menggigil kedinginan, beberapa perawat segera mengganti baju Erina dengan baju pasien.


dokter Mirza menunggu di luar dengan raut wajah yang gusar tapi tetap mencoba untuk tenang.


"Apakah dia kekasih anda dok?" tanya rekan kerja dokter Mirza, yang saat itu sedang kunjungan di Instalasi Gawat Darurat.


"Apakah membawa seorang pasien ke rumah sakit itu sudah bisa dikatakan kekasih pasien? Tidak kah itu sangat merugikan bagi pasien itu sendiri atau pihak penolong?" seru dokter Mirza yang kurang senang dengan pertanyaan rekan kerjanya.


"Haha, serius sekali di dok. Saya kan tadi cuma bercanda." sahut rekan kerja dokter Mirza.


"Kamu harus berhati-hati dengan candaan kamu, bisa jadi itu jadi bomerang untukmu suatu hari nanti." ucap dokter Mirza dengan raut wajah dingin. Rekan kerja dokter Mirza hanya bisa meringis mendengar ucapannya.


Penanganan terhadap Erina sudah dilakukan, dokter Mirza segera masuk dan melihat keadaan Erina yang saat itu sudah terpasang selang oksigen di hidungnya dan beberapa selimut tebal menutupi hampir sebagian tubuhnya.


"Bagaimana kondisinya?" tanya dokter Mirza pada dokter Sigit.


"Keadaanya sudah mulai stabil dok, hanya kita perlu pemantauan khusus untuk pasien." ucap dokter Sigit.


"Anda benar, pasien ini sepertinya sebelum pingsan sudah duduk terlalu lama di bawah derasnya air hujan. Karna tangan dan kakinya sudah sangat dingin ketika aku menemukannya tadi. Tapi aku bersyukur pasien tidak mengalami Frostbite (cedera pada kulit dan jaringan di bawahnya karena membeku)." kata dokter Mirza.


"Iya dok, anda datang tepat pada waktunya. Dan menyelamatkan nyawa pasien. Saya permisi keluar sebentar dok." pamit dokter Sigit.


dokter Mirza mendekati Erina, terlihat suhu tubuh Erina mulai menghangat. Ada butir kecil-kecil yang muncul di wajah cantiknya, dokter Mirza mengambil salah satu selimut yang menutupinya.


"Arga... Arga.... " suara lirih Erina memanggil-manggil nama Arga, Erina mengigau Arga dalam mimpinya. Airmata Erina mengalir pelan dari balik mata yg masih tertutup rapat.


"Arga? Sepertinya dia terluka karna sosok Arga ini. Siapapun dia, dia telah berdosa melukai gadis secantik ini." ucap lirih dokter Mirza. Tanpa sengaja dia telah mengusap airmata Erina, merasa iba dengan gadis yang terbaring lemah di depannya.


dokter Sigit masuk ke dalam ruangan.


"dokter siapa nama pasiennya? Apa dokter mengetahuinya?" tanya dokter Sigit.


"Tidak, aku tidak tahu namanya. Dia bahkan tidak membawa identitas sama sekali." seru dokter Mirza.


"Malam ini aku ada tindakan Appendisektomi (operasi bedah untuk mengangkat usus buntu), setidaknya aku mohon untuk menjaga pasien ini untukku." ucap dokter Mirza.


"Tenang saja dok, pasien ini dalam pantauan kami." sahut dokter Sigit.


"Terimakasih." ucap dokter Mirza sambil menepuk pelan baju dokter Sigit.


dokter Mirza memandang lekat-lekat wajah Erina yang masih terpasang selang di hidungnya, Tiba-tiba ada perasaan getir menyelimuti hatinya. dokter Mirza berjalan meninggalkan ruangan Erina.


***


Situasi di kantor Arga


Arga duduk di kursinya dengan perasaan yang tak tenang, pikirannya terus melayang pada Erina. Terakhir Pak Sam melaporkan anak buahnya belum juga dapat menemukan keberadaan Erina.


"Apakah kamu sekarang sedang menghukumku? Sungguh aku sangat tersiksa, ku mohon kembalilah Erin. Aku sangat mencintaimu." ucap Arga lirih. Arga memejamkan mata, airmata mulai membasahi pipinya. Dia segera mengusap kasar dengan tangannya.

__ADS_1


Pak Sam yang mengamati Tuan nya merasa iba. Keberadaan nona Erina yang tak dapat dijangkau nya, membuat dia sendiri tak habis pikir. Puluhan orang kepercayaannya sudah dikerahkan untuk mencari nona Erina, tapi hasilnya masih nihil sampai saat ini. Pertama kalinya dia gagal menjalankan tugas penting dari Tuan Arga. Pak Sam masih terus melakukan pencarian, dia sangat berharap nona Erina segera ditemukan.


***


Sementara itu suasana di Rumah Sakit.


Erina masih belum sadarkan diri, dokter Mirza datang menjenguknya. Dia duduk di sebelah ranjang Erina, ada prasaan aneh yang dia rasakan. Prasaan yang muncul setelah lama dia kubur dalam-dalam.


dokter Mirza bernafas berat, berharap gadis yang dia sendiri belum tahu namanya segera membukakan mata. Seorang perawat masuk untuk mensuntikkan obat pada selang infus Erina.


"dokter, apa dokter sudah mengetahui identitas pasien ini?" tanya perawat yang bernama Diyah.


"Belum, tapi kemarin dia sempat mengigau nama Arga. Mungkin itu bisa jadi sebuah petunjuk tentang keluarganya." jawab dokter Mirza.


"Arga?" ucap lirih perawat Diyah. Lalu dia memandang dengan seksama wajah Erina. Setelah selesai suntikkannya, perawat Diyah pamit pada dokter Mirza.


"dok, sudah selesai saya permisi dulu." pamitnya.


Perawat Diyah berjalan cepat menuju ruang perawat.


"Sepertinya memang benar dugaanmu mbak Lin, dia Erina istri Tuan Arga yang sangat kaya raya itu." ucap perawat Diyah tiba-tiba kepada rekan kerjanya yang bernama Linda.


Linda adalah perawat yang membantu Erina mengganti pakaiannya kemarin malam, dia sedang shift terusan untuk menggantikan temannya yang sedang cuti melahirkan.


Waktu pertama bertemu dengan Erina yang tak sadarkan diri, Linda merasa tidak asing dengan wajah Erina. Karna dia adalah salah satu pengagum rahasia Tuan Arga, dia selalu mengikuti perkembangan Konglomerat muda itu di berita online.


Mendengar berita pernikahannya dengan seorang gadis bernama Erina membuat dia patah hati. Dan sekarang istri Arga berada di rumah sakit tempat dia bekerja, rasanya seperti mimpi baginya.


"Benarkah apa yang kamu katakan?" tanya Linda yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Diyah.


"Bener mbak, tadi dokter Mirza bilang kalau pasien itu mengigau nama Arga. Bukankah itu nama suaminya?" seru Diyah penuh keyakinan.


Linda terlihat sangat senang, dia segera berlari keluar.


"Mau ke dokter Mirza bilang kalau itu istrinya Tuan Arga, biar Tuan Arga cepat datang kesini." seru Linda penuh semangat. Dia berlari kecil menuju ruangan Erina.


Tok... Tok....


dokter Mirza menoleh ke arah Linda.


"Masuk. Ada apa?" tanya dokter Mirza.


"dokter, saya sudah mengetahui identitas pasien." ucap Linda penuh yakin.


"Benarkah? Darimana kamu tahu?" tanya dokter Mirza menyelidik.


"dia adalah istri Arga Hutama dok, eksekutif muda yang sangat kaya raya itu dok." jelas Linda penuh semangat.


dokter Mirza yang mendengar penjelasan Linda, hanya mengernyitkan dahi heran melihat tingkah Linda.


Merasa tingkahnya sudah terlalu berlebihan, Linda terdiam dan tersenyum malu pada dokter Mirza.


"Aku akan mencoba menghubunginya." ucap dokter Mirza, dia beranjak dari tempat duduknya dan mencoba menghubungi seseorang di handphone nya.


Beberapa saat kemudian, dokter Mirza sudah mendapatkan nomer telfon Arga Hutama. Dia segera menekan layar handphone nya.


***


"Halo." terdengar suara seorang laki-laki mengangkat telfon dokter Mirza. Laki-laki itu adalah sekertaris Sam.


"Halo, apa benar ini dengan Tuan Arga?" dokter Mirza memulai pembicaraan nya.


"Iya, saya sekertaris Tuan Arga. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak sam.

__ADS_1


"Saya dokter Mirza. Tolong sampaikan kepada Tuan Arga, istrinya sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit XX. Dia sekarang masih belum sadarkan diri." jelas dokter Mirza. Gurat wajah dokter Mirza terlihat tenang namun ada rasa berkecamuk dalam batinnya.


"Baik, terimakasih dokter Mirza." seru Pak Sam sambil menutup telfon dari dokter Mirza. Muncul pertanyaan besar di kepala Pak Sam.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan nona Erina, kenapa dokter tadi mengatakan bahwa nona Erina belum sadarkan diri?" ucap lirih Pak Sam.


Pak Sam segera menghampiri Tuan Arga yang terlihat sangat tidak bersemangat.


"Ada apa? Jangan bicara kalau bukan tentang Erina. Aku sedang tak ingin diganggu." seru Arga dingin.


"Tuan, saya baru saja mendapat telfon dari dokter Mirza. Dia mengatakan bahwa sekarang nona Erina masih tak sadarkan diri, nona Erina berada di rumah sakit xx." jelas Pak Sam.


Arga terkejut dengan informasi yang baru saja di dengarnya. Ada perasaan lega dan cemas menjadi satu.


"Siapkan mobil, ayo kita kesana sekarang." Arga beranjak dari kursinya. Dia menghembuskan nafas lega, Arga berjalan sangat cepat diikuti Pak Sam. Mobil sudah siap di depan kantor, Arga duduk di bangku belakang dan Pak Sam duduk di kursi depan.


Mobil melaju cepat menuju rumah sakit xx.


***


Arga dan sekertaris Sam telah sampai di rumah sakit xx. Pak Sam berjalan di depan Arga, Pak Sam segera menuju ruang Instalasi Gawat Darurat. Arga yang sudah tidak sabar mendatangi Pak Sam.


Pada saat itu, Linda yang berada di depan ruang IGD terpaku melihat Arga secara langsung.


Ya Tuhan, ternyata Tuan Arga lebih ganteng dari fotonya.


gumam Linda dalam hati, dia masih terpaku menatap Arga.


Arga yang menyadari dirinya di perhatikan, langsung bertanya tanpa basa-basi.


"Ada apa melihatku seperti itu?" ucap Arga dingin.


"Ti... tidak Tuan, saya hanya ingin mengatakan kalau istri Tuan Arga berada di ruangan itu." ucap Linda gugup. Tangannya menunjuk ke salah satu ruangan yang ada di ujung.


Arga segera berjalan menuju ruangan tersebut. Arga melangkahkan kaki masuk, dia melihat ada seorang laki-laki sedang duduk di sebelah ranjang Erina. Arga segera mendekat dan melihat laki-laki itu penuh curiga.


"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa disini bersama istriku?" ucap Arga. Arga kemudian melihat ke arah Erina yang masih terbaring di atas tempat tidur.


Dadanya terasa sesak, Arga segera mendekati Erina dan mendekap tubuh Erina.


"Akhirnya aku menemukanmu, aku sangat merindukanmu." airmata Arga menetes tanpa aba-aba. Arga melihat Erina yang masih terpejam.


"Bangunlah sayang, aku sudah di sini. Ku mohon bangunlah." ucap Arga lirih, dia sudah tak memperdulikan airmatanya yang terus mengalir.


Arga menoleh kepada dokter Mirza.


"Erina ku kenapa?" tanya Arga, pandangan nya menatap tajam dokter Mirza.


dokter Mirza bernapas berat.


"Kemarin sore, waktu aku melewati taman dekat dengan apartemenku. Aku melihat dia sudah tergeletak di tengah taman, waktu itu hujan mengguyur sangat derasnya. Dia mengalami hipotermia dan sampai hari ini dia belum sadarkan diri." jelas dokter Mirza.


"Apa?" raut wajah Arga terlihat sangat terkejut dengan apa yang baru di dengarnya.


"Sepertinya dia mengalami kesedihan yang mendalam, dia sengaja berdiam diri di tengah guyuran hujan yang mengakibatkan tubuhnya menggigil kedinginan." seru dokter Mirza. Tatapan sinis dia tujukan kepada Arga.


"Sekarang kondisinya mulai membaik, semoga dia segera sadar. Karna anda telah datang, saya ijin pamit dulu. Dan sepertinya dia sangat mencintai anda, sudah berulang kali nama anda disebutnya. Untuk kedepannya, jangan pernah sakiti dia lagi." ucap dokter Mirza, dia segera berlalu dari balik pintu meninggalkan ruangan Erina.


Arga hanya terdiam mendengar ucapan dokter Mirza.


"Maafkan aku, maafkan aku." ucap Arga berulang kali, airmatanya semakin deras mengalir. Dia semakin mempererat pelukannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2