
Satu minggu pasca pesta di keluarga Sanjaya, ibu mertua meminta Erina untuk menemani ke acara pembukaan galeri lukisan milik koleganya.
Erina sudah siap untuk pergi, dia terlihat sangat cantik dengan dress lengan panjang garis-garis berwarna merah.
Beberapa menit kemudian Nyonya Hutama yang tak lain adalah ibu mertua nya sudah sampai di rumahnya, Nyonya Hutama sengaja menjemputnya karna lokasi galeri lukisan memang searah dengan rumah Arga dan Erina.
Erina bergegas menghampiri mobil Nyonya Hutama, karna sang sopir menyampaikan bahwa Nyonya Hutama sudah menunggu di dalam mobil.
***
Erina sudah berada di mobil suv mewah milik ibu mertua nya, Nyonya Hutama terlihat sangat senang bertemu dengan menantu kesayangannya.
"Kamu terlihat sangat cantik sayang." Nyonya Hutama mendaratkan ciuman di pipi dan kanan Erina.
"Ibu juga terlihat sangat anggun." Erina tersenyum manis kepada Nyonya Hutama. Nyonya Hutama merasa benar-benar beruntung memiliki menantu sebaik dan secantik Erina.
Diperjalanan menuju galeri Nyonya Hutama bercerita tentang perjalanannya ke beberapa negara dengan ayah mertuanya, Nyonya Hutama terlihat sangat antusias bercerita.
"Aku sudah katakan kepada Arga, nanti kalau kondisi fisikmu sudah bagus. Kita pergi liburan bersama ya Erin sayang." seru Nyonya Hutama sangat bersemangat.
"Iya bu." sahut Erina dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Oh ya, aku membelikanmu sedikit oleh-oleh." Nyonya Hutama menunjuk jok mobil belakang yang sudah di penuhi beberapa tas. Erina melihat ke belakang dan sedikit shock.
"Ibu, itu sungguh banyak sekali." Erina merasa tak enak hati dengan ibu mertuanya, karna sudah repot-repot membelikan barang yang begitu banyak untuknya.
"Ck ... bicara apa kamu ini, ini bahkan masih kurang banyak menurut ku. Sebenarnya ada di satu toko, disana bajunya sangat lucu-lucu dan itu pasti sangat bagus jika kamu yang memakainya. Tadinya aku berniat membeli semua baju di toko itu, tapi ayahmu melarang ibu." ucap Nyonya Hutama terlihat sedih.
"Ibu .... " Erina berucap lirih
"Kamu tahu, apa alasan ayahmu?" raut wajah Nyonya Hutama seketika berubah, Erina hanya menggelengkan kepala penasaran.
__ADS_1
"Katanya, kamu nanti bakal kebingungan memakainya. Soalnya baju yang mau ibu beli berjumlah ribuan." Nyonya Hutama terkekeh dengan satu tangan menutup mulutnya. Erina pun turut tertawa bersama dengan ibu mertuanya.
Sepertinya sifat Tuan Muda memang sudah diturunkan dari ibu mertua, lihat betapa mirip sekali mereka.
gumam Erina membayangkan suaminya, yang memang sangat suka membelikan barang yang tidak terlalu penting baginya. Erina terkekeh dalam hati.
***
Mereka telah sampai di galeri lukisan, Nyonya Hutama turun dari mobil di ikuti dengan Erina. Nyonya Hutama menggandeng lengan Erina, mereka berjalan beriringan masuk ke dalam galeri tersebut.
Hampir semua tamu memberikan salam dan beberapa teman dekat menyapa Nyonya Hutama.
"Selamat siang Nyonya Hutama, suatu kehormatan bagi saya pribadi karna Nyonya sudah meluangkan waktu untuk pembukaan galeri saya." sambut Nyonya Merry pemilik galeri lukis. Nyonya Merry memberikan pelukan hangat kepada Nyonya Hutama dan juga Erina.
"Ini pasti istri Tuan Muda ... Nyonya Hutama terlihat sangat menyayangi menantunya ya" goda Nyonya Merry.
"Tentu saja, dia menantu kesayanganku. Dia sudah aku anggap seperti anakku sendiri." seru Nyonya Hutama sambil menepuk pelan tangan Erina, terlihat jelas bahwa Nyonya Hutama sangat menyayangi Erina.
Bahagia menelusup di hati Erina, dia sangat terharu karna ibu mertuanya begitu baik memperlakukan nya.
Nyonya Merry mempersilahkan Nyonya Hutama berkeliling galeri miliknya, mereka bertiga berkeliling melihat satu persatu lukisan yang tersusun rapi di dinding berwarna putih itu.
"Selamat siang Nyonya Hutama dan Nyonya Merry." Nyonya Sanjaya mendaratkan ciuman pipi kanan kiri kepada Nyonya Hutama dan Nyonya Merry. Begitupun Clarissa, dia melakukan hal yang sama dengan Nyonya Sanjaya kepada Nyonya Merry dan Nyonya Hutama.
Nyonya Sanjaya tak menghiraukan keberadaan Erina, dia hanya melirik sesekali. Nyonya Hutama yang sudah mengetahui kejadian di acara ulang tahun Nyonya Sanjaya seminggu yang lalu, merasa sangat tidak senang karna sudah memperlakukan menantu kesayangannya secara tidak hormat.
Nyonya Hutama kini melihat secara langsung bagaimana sikap Nyonya Sanjaya terhadap Erina, Nyonya Hutama segera menegur Nyonya Sanjaya.
"Nyonya Sanjaya ... apakah menantu kesayanganku terlalu bersilau sehingga kamu hanya melewatinya saja." Nyonya Hutama menyilangkan kedua tangan di dadanya dengan tatapan tidak senang ke arah Nyonya Sanjaya. Erina yang terkejut dengan reaksi ibu mertuanya seketika langsung membulatkan matanya.
"Maaf ... Nyonya Hutama, saya tidak sengaja. Saya benar-benar tidak menyadari kehadirannya, apa mungkin karna dandanannya yang terlalu biasa ya." Nyonya Sanjaya tertawa kecil sambil melirik Clarissa.
Nyonya Hutama dan Nyonya Merry terkejut tak percaya dengan kalimat Nyonya Sanjaya.
Oh ... berani sekali dia bersikap seperti itu kepada menantu kesayanganku.
Raut wajah Nyonya Hutama terlihat sangat tidak senang, kedua pipinya memerah menahan emosinya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa Nyonya besar keluarga Sanjaya bisa berkata demikian kepada menantu kesayangan keluarga Hutama, bukankah itu sama saja dengan mencari masalah." suara Nyonya Hutama terdengar seperti ancaman bagi Nyonya Sanjaya.
Nyonya Sanjaya tidak menyangka bahwa reaksi Nyonya Hutama sangat berlebihan, melebihi reaksi Arga sendiri. Menyadari kalimat Nyonya Hutama sedang tidak main-main, dia segera merubah sikap. Dia langsung memikirkan saham keluarga Hutama yang sangat berpengaruh pada perusahaannya, jika sekali saja dia membuat keluarga Hutama marah maka bisa jadi keluarga nya akan menderita kerugian besar.
"Maaf Nyonya ... saya tidak bermaksud demikian. Saya hanya bercanda saja, saya sangat senang sekali melihat nona Erina disini." Nyonya Sanjaya mendekati Erina dan memberikan pelukan serta ciuman di pipi kanan kirinya. Erina hanya mengikuti setiap gerakan Nyonya Sanjaya dengan raut wajah polosnya.
Melihat sikap Nyonya Sanjaya yang berubah drastis membuat Clarissa geram, pasalnya dia yang masih tidak bisa melihat kebahagiaan Erina. Harus merubah rencananya sekali lagi.
Nyonya Hutama masih bisa memberikan toleransi kali ini, tapi lain kali jika Nyonya Sanjaya berbuat tidak menyenangkan sekali lagi terhadap Erina. Nyonya Hutama tidak akan tinggal diam. Begitu pikirnya.
Nyonya Hutama kembali berjalan untuk mengelilingi lukisan di galeri milik Nyonya Merry, Erina mengekor di belakang ibu mertuanya.
Clarissa berjalan lebih cepat agar bisa mendekati kepada Erina.
"Bisa kita bicara sebentar." ucap Clarissa setengah berbisik, tak menunggu jawaban Erina. Clarissa segera menarik kasar tangan Erina untuk menjauh dari ibu mertuanya.
Clarissa terus menarik tangan Erina sampai berada di sebelah pintu keluar galeri. Erina yang merasa canggung, hanya terdiam menundukkan kepala.
"Kenapa diam? Dimana nyalimu yang kemarin sampai berani menamparku?" Clarissa menyilangkan tangannya, menatap tajam Erina yang masih tertunduk.
Erina menarik nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan, dia mendongakkan kepala sehingga kini ia bisa leluasa memandang wajah Clarissa yang masih menatap nya dengan tajam.
"Awalnya aku tak begitu ambil pusing kenapa kamu sangat membenciku, tapi setelah kejadian beberapa waktu lalu. Aku tak menyangka kamu bisa setega itu." Erina angkat bicara.
Erina mengurungkan niatnya untuk meminta maaf kepada Clarissa, karna rasanya tidak mungkin gadis yang didepannya akan dengan mudah menerima maafnya.
Cih,
"Kamu yang menyebabkan semua ini, kamu telah merebut semuanya dariku. Bahkan sekarang tante Hutama juga sangat perduli padamu. Entah sihir apa yang sudah kamu gunakan." Clarissa mengangkat satu sudut di bibirnya.
Erina bernafas panjang, raut wajahnya kini berubah menjadi serius.
"Nona Clarissa, sebelumnya aku sangat menghormati mu karna kamu adalah sahabat dari suamiku. Tapi jika kehadiran ku masih mengganggumu, itu adalah masalah Anda. Bukan masalah saya." Erina berkata dengan tenang dan datar. Clarissa segera membelalakkan matanya, tanda tak senang dengan ucapan Erina.
Sementara itu, Nyonya Hutama yang menyadari Erina tidak berada di sampingnya segera berlalu mencarinya.
"Nyonya Merry, saya permisi sebentar ya." pamitnya kepada Nyonya Merry, Nyonya Sanjaya langsung mengekor di belakang Nyonya Hutama tanpa berkata sepatah kata pun.
__ADS_1
Nyonya Hutama yang melihat keberadaan Erina dan Clarissa di sebelah pintu keluar galeri, segera bergegas menuju kesana. Clarissa yang melihat sekilas Nyonya Hutama berjalan mendekatinya, segera merencanakan hal buruk kepada Erina.
Bersambung