Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Oh My Sweat


__ADS_3

Sore itu, Arga sedang mengencangkan otot-otot nya di ruang gym yang terletak di lantai dasar rumahnya. Ruang gym yang memiliki luas 17 x 10 meter dengan dominan warna putih dan lampu yang selalu berpendar ketika sang empunya melakukan aktivitas disana.


Ornamen sederhana menghias dinding ruang gym serta lantai yang terbuat dari enginering parket yang merupakan jenis kayu solid yang dilapisi veneer dari kayu berkualitas tinggi di permukaan atasnya. Konsep modern minimalis membuat siapa saja yang berada disana bakal betah berlama-lama untuk melakukan aktivitas yang menguras keringat.



Setelah melakukan pemanasan dengan berlari kecil di atas alat bernama treadmill, Arga melanjutkan aktifitas nya dengan squat rack. Sebuah alat latihan untuk kebugaran dan kekuatan, Squat yang berfokus pada paha, pinggul dan pantat. Alat yang sangat di gemari oleh Arga.


"Sayang .... " suara seorang perempuan menghentikan aktifitas nya.


Arga menoleh kepada sumber suara yang kini sudah berada di ambang pintu ruang gym. Nampak Erina berjalan ke arahnya dengan membawa sebuah botol besar di tangan kanannya. Aktifitas yang selalu rutin Arga lakukan di sore hari pada akhir pekan.a



Arga segera menghentikan aktifitasnya setelah melakukan beberapa pukulan pada samsak yang terletak di sudut ruangan, dia segera membuka handwrap yang sudah membungkus tangannya. Erina yang berdiri di depannya terlihat terpukau dengan keringat yang membasahi tubuh atletisnya.


"Kenapa ...? Baru sadar kalau suamimu ini sangat tampan?" Arga tersenyum smirk .


Erina tersipu dan segera mengalihkan pandangannya. "Dasar suami narsis." gerutunya, walaupun hatinya tak bisa memungkiri bahwa memang suaminya ini adalah pria yang sangat tampan.


Arga menarik tangan Erina yang sedari tadi berdiri di depannya, sontak hal itu membuat tubuh Erina bergerak mendekatinya. Dan kini Erina sudah berada di atas pangkuannya, jantungnya seolah lepas dari tempat nya. Erina terlihat sangat gugup, dia menggigit bibir bawahnya.


Rambut Erina yang sudah di ikat tinggi membuat tekuknya terbuka, hembusan nafas Arga hangat menerpa tekuknya membuat darahnya berdesir. Sentuhan demi sentuhan yang Arga berikan memberikan sensasi geli dan aneh di sekujur tubuhnya. Arga memutar tubuh Erina, kini mereka saling berhadapan. Tangan kekar Arga yang basah akan keringat, terlihat mengkilat akibat pantulan cahaya yang menyala.


Arga memegang dagu Erina, menarik pelan agar wajah Erina lebih dekat dengan wajahnya. Namun tiba-tiba.


Huwek ... huwek ....


Erina membekap mulutnya, dia segera berlari menuju wastafel yang berada tak jauh dari ruang gym. Arga sempat mematung di tempat, sampai akhirnya dia menyadari istrinya sedang tidak baik-baik saja. Dia segera berlari mendekati Erina, di elusnya pelan punggung perempuan yang sangat ia cintai itu. Erina merasa sudah lebih baik, namun ketika Arga mencoba memeluknya untuk menenangkannya. Rasa mual itu kembali ia rasakan.


Arga yang terlihat panik segera berlari dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas tempat untuk menyimpan handuk di ruang gym nya. Dia menggeser layar ponselnya untuk mencari sebuah nama Dokter Mili, jarinya terhenti dan segera menekan dengan kasar tombol telfon.


"Halo .... " suara seorang perempuan menyauti dari sebrang sana.


"Halo Dok, Erina terlihat kurang enak badan. Dokter Mili segera datang kerumah, se... ce... patnya!" ada penekanan pada kalimat terakhirnya. Arga segera menutup telfonnya dan meletakkan di meja sebelah wastafel.


Arga kembali mencoba membantu Erina, bibir yang biasa berwarna merah kini nampak terlihat sedikit pucat. Arga yang begitu panik, tak pikir panjang. Dia segera menggendong tubuh Erina untuk menuju ke kamar. Namun, Erina merasa mual kembali.


"Aku bisa sendiri, ku mohon turunkan aku." suara Erina terdengar lemah.


Arga nampak tak senang karena Erina menolak di gendongnya. "Jangan keras kepala, biar aku membantumu untuk ke kamar."


"Tidak ... aku bisa jalan sendiri." Erina bersikukuh untuk tetap berjalan dan meninggalkan Arga.

__ADS_1


Merasa sangat kesal, Arga segera menarik tangan Erina. "Kenapa kamu tiba-tiba bersikap aneh seperti ini?" teriaknya.


Erina terdiam, dia nampak bingung dengan perubahan tubuhnya. Entah kenapa ketika Arga mendekati nya, Erina tiba-tiba merasa mual.


"Sudah jangan membantah, biarkan aku menggendongmu." Arga bersiap untuk menggendong tubuhnya, namun Erina dengan cepat menepis tangan Arga.


Raut wajah Arga nampak begitu kesal.


"Jangan mendekati ku, tiba-tiba aku merasa mual ketika kamu mencoba mendekatiku." wajahnya terlihat pias.


Arga memandang Erina dengan pandangan tak percaya, kenapa dia tiba-tiba tak ingin disentuh olehnya. Erina terlihat sedih dan segera berlalu meninggalkan Arga yang masih berdiri terpaku di depan kamar.


***


"Dokter ... bagaimana keadaan Erina?" suara Arga tampak begitu cemas.


Erina sudah berbaring di atas tempat tidurnya, dia merasa kepalanya sedikit pusing, Erina masih terjaga menunggu hasil yang akan dikatakan Dokter Mili.


Dokter Mili tersenyum kepada kedua pasangan ini, yang mulai beradaptasi dengan perubahan sikap sang istri dikarenakan hamil mudanya.


"Nona Erina hanya sedang mengidam Tuan." seru Dokter Mili.


Arga mengerutkan keningnya, merasa tak puas dengan jawaban Dokter Mili. "Erina memang sudah mengidam sejak beberapa hari yang lalu Dok."


"Iya, memang wanita hamil muda memang kerap kali mengalami ngidam Tuan?" Dokter Mili mengulangi perkataan nya tentang Ngidam, Dokter Mili sedikit tertegun karena Tuan Muda tidak menanyakan apa itu ngidam.


"Tapi hari ini dia terasa mual ketika aku mendekatinya, aku juga tak mengerti. Aku baru saja selesai berolahraga dan dia seolah tak ingin aku sentuh." Arga menoleh ke arah Erina dengan pandangan sendu, matanya menyiratkan kesedihan. Erina dapat membaca mata itu, seolah mengatakan 'Jangan menjauh dariku'.


Erina hanya mendengus pelan, dia terdiam seribu bahasa. Mulutnya seolah terkunci rapat.


Sekali lagi, Dokter Mili menyunggingkan senyumannya. Dia menghela napas panjang, seolah merasakan apa yang sedang Arga rasakan.


"Sepertinya nona Erina tak suka bau keringat anda Tuan." Dokter Mili berkata lirih dan sangat hati-hati, takut jika perkataan nya tak bisa diterima oleh Tuan Muda yang berada tepat di depannya.


"Maksud Dokter?" Arga mengernyitkan dahinya.


"Tadi anda mengatakan setelah anda berolahraga, tiba-tiba nona Erina tak mau berdekatan dengan anda bukan?" tegas Dokter Mili.


"Iya." raut wajahnya tak berubah, masih heran dan bingung dengan penjelasan wanita yang sudah berprofesi Dokter sejak lima tahun yang lalu.


"Nona .... " suara Dokter Mili terhenti.


"Cukup ... jadi, maksud Dokter. Seperti itu juga bisa dikatakan ngidam?" Arga mencoba mencerna ucapan Dokter Mili.

__ADS_1


"Iya Tuan." jawabnya singkat.


Arga meraup wajahnya dengan kasar, lalu menyugar rambutnya dengan kedua tangan nya.


"Itu berarti aku tak bisa mendekatinya selama aku berkeringat?" ucapnya dengan suara tertahan.


Wanita muda itu hanya menganggukkan kepala dengan mantap.


Arga bernapas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


"Ok, bagaimana dengan hubungan suami istri? Tak ada masalah kan dengan itu, Dokter bilang aku tak boleh menyentuh Erina selama beberapa minggu. Ini bahkan lebih dari satu bulan aku tak menyentuhnya." sorot matanya terlihat tajam. Dokter Mili merasa ragu angkat bicara. Namun, pandangan mata Arga seolah menuntut untuk sebuah jawaban.


"Tidak masalah ... jika anda bisa tidak berkeringat saat bercinta." Raut wajah Dokter Mili terlihat sedang menahan, menahan tertawa dan menahan malu dengan ucapannya sendiri.


Erina tampak menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia benar-benar tak habis pikir dengan pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut suaminya.


"Apa ... ? Dokter bilang tak masalah selama aku tak berkeringat. Oh Tuhan ... Cobaan apa ini? Bagaimana mungkin selama bercinta aku tidak berkeringat, apa perlu aku bercinta di Kutub dengan dingin yang sangat extrim agar aku tak berkeringat." Arga mengumpat kesal, wajahnya terlihat merah karena menahan kesal.


"Anda sedang tidak mempermainkanku kan Dok?" tanya Arga dengan wajah menyelidik.


Gadis cantik berambut ikal itu sama sekali tidak terpancing oleh ucapan Arga, dia tetap bersikap tenang.


"Tuan, saya sangat menjaga profesionalitas. Saya tidak pernah main-main jika itu tentang kesehatan pasien." serunya dengan senyuman di bibirnya.


"Baiklah ... aku percaya padamu, kamu sedang tidak mengerjaiku."


Dokter Mili tersenyum smirk. Arga terdiam seolah berpikir sesuatu.


"Dokter, apa tidak ada obat untuk keringat? Maksudku, agar aku tak keluar keringat begitu?" wajahnya terlihat memelas seolah berkata 'Tolong aku kali ini saja.'


"Hah .... " Dokter Mili dan Erina kompak menunjukkan keheranannya.


"Maaf Tuan, tidak ada obat yang seperti itu. Jika anda tidak ingin berkeringat maka duduklah dengan manis tanpa melakukan aktifitas apapun. Oke!" Dokter Mili benar-benar tak habis pikir dengan Tuan Muda satu ini.


"Itu berlangsung berapa lama Dok?" tatapannya kini mulai sendu, seolah sudah tak ada gairah lagi dalam hidupnya.


"Biasanya tri semester pertama Tuan." Jawab Dokter Mili singkat.


"Tiga bulan ... Oh, aku akan sangat tersiksa karena harus menahan diri setiap malam." ucapnya sambil menghempaskan tubuhnya di sofa kamarnya.


Arga menatap Erina yang sedari tadi hanya diam seribu bahasa, ada perasaan tak nyaman menyelimutinya. Erina merasakan kesedihan yang Arga rasakan.


"Oh, bayi kecil ... Kali ini kamu benar-benar membuat ayahmu menderita." Arga membenamkan wajahnya di atas bantal sofa.

__ADS_1


Bersambung.


.


__ADS_2