
Erina menagih janji kepada Arga. Setelah Ia mendengar kabar bahwa Clarissa sudah sadar dari koma. Wanita itu bahkan sudah siap untuk pergi ke Rumah Sakit. Dia tampak anggun dengan dress berwarna merah maroon.
"Ayo kita berangkat sekarang sayang, aku ingin melihat bagaimana keadaan nona Clarissa," desak Erina sambil mengguncang pelan tangan kanan suaminya.
"Baik lah, kita pergi sekarang sayang," ucap Arga yang memang tak ada pilihan lain selain menuruti permintaan sang istri untuk saat ini.
🍁🍁🍁
Mereka berdua telah sampai di Rumah Sakit Hutama, perut Erina yang semakin besar membuat jalannya sedikit lambat. Hal itu membuat Arga harus memperlambat langkahnya.
"Sayang, apa kamu mau aku gendong?" seloroh pria yang saat ini tengah menggenggam erat jemarinya.
"Jangan macam-macam!" desisnya.
"Kamu terlihat semakin susah berjalan sayang, aku tak tega melihatmu seperti ini. Biarkan aku membantumu ya?"
Tawaran Arga segera di akhiri Erina dengan mendelik menatapnya, wanita itu tidak ingin suaminya itu berbuat yang aneh-aneh kepada nya saat ini.
"Sayang, ini Rumah Sakit. Jangan macam-macam deh!"
"Kamu bahkan lupa, jika Rumah Sakit ini adalah milik kita sayang. Tidak ada yang berani menghentikan kita disini sayang, kita bahkan bisa berciuman di tengah lobby ini jika kamu mau!"
Erina segera menghentikan langkahnya, Ia menatap kesal ke arah pria yang langkahnya ikut terhenti karena reflek menarik tangan Arga yang sedari tadi menggenggam nya itu.
"Ck ... kita sedang dirundung kesedihan sayang, nona Clarissa sedang bersedih karena baru saja mengalami musibah. Bisa-bisanya kamu bercanda seperti itu!"
Wanita itu tampak bersungut-sungut, Ia benar-benar tak habis pikir dengan suaminya itu. Ia mendesah kasar, lalu segera berjalan mendahului suaminya dengan langkah yang sedikit dipercepat walau pun Ia kesusahan.
Arga tampak menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istrinya tersebut, seulas senyum tergambar di wajah tampannya. Pria itu tampak setengah berlari untuk mengejar istrinya.
"Sayang, apa kamu marah?"
"Hmm ...."
"Hmm? Jawaban apa itu? Sayang, Ayo lah ... Aku kan hanya bercanda, jangan marah ya." Arga terus memohon kepada Erina. Sampai Ia tak menyadari mereka sudah berhenti di depan lift, dan beberapa orang tampak melihat ke arah nya dengan pandangan aneh. Seorang pria yang terlihat seperti eksmud tampak merajuk pada seorang wanita hamil. Begitu pikir mereka.
Arga mencoba bersikap tenang, Ia tak mau menjadi pusat perhatian. Meskipun memang begitu kenyataannya, dimana pun Ia berada selalu menjadi pusat perhatian bagi kaum hawa.
Pintu lift terbuka, wanita itu bergegas masuk ke dalam tanpa menoleh lagi ke Arga. Pria itu segera menyusulnya, masih dengan wajah memohon.
"Sayang bagaimana kalau nanti kita mampir ke toko kue favorite kamu?" rayu Arga.
Sepertinya toko kue sangat ampuh untuk meredam kekesalannya, sebuah senyuman tampak tersungging di wajah cantiknya.
"Oke, kalau begitu kamu aku maafkan suamiku," ucapnya masih dengan senyuman di bibir.
"Hah, ternyata segitu mudahnya merayumu," gerutu Arga.
"Kamu bilang apa sayang?"
"Oh ... itu ... Aku bilang makasih sayangku!" ucapnya seraya tersenyum yang menunjukkan deretan gigi putihnya.
🍁🍁🍁
Dengan perlahan Arga dan Erina melangkah masuk ke kamar tempat Clarissa di rawat, kamarnya tampak sepi hanya ada Rendra yang terlihat duduk di sebelah ranjang tempat Clarissa berbaring.
Arga mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar.
"Sendirian Ren? Tante dan Om Yoland kemana?" tanya Arga memecah keheningan.
Rendra tak langsung menjawab pertanyaan Arga, sejenak Ia terlihat mengamati Erina dari atas sampai bawah. Keningnya tampak berkerut, Ia tampak terkesiap dengan perubahan wanita yang tengah hamil bayi kembar itu.
Erina merasa tak nyaman dengan tatapan yang ditujukan kepada nya, Ia merasa sedikit risih. Pria yang berdiri di sampingnya juga terlihat tak suka dengan cara memandang Rendra kepada istrinya itu.
"Ga, apa yang sudah kamu lakukan kepada Erina?" tanya Rendra dengan pandangan heran.
"Ck ... itu lah kenapa kamu sampai sekarang belum menikah? Kamu tak memahami sepenuhnya bagaimana seorang wanita," jawabnya dengan rasa bangga, salah satu sudut bibirnya terangkat.
Erina memutar bola matanya, merasa jengah dengan pertengkaran antara kedua sahabat yang sudah lama tak berjumpa ini. Ia tak lagi menggubris kedua pria dewasa yang bersikap seperti kanak-kanakan ini.
__ADS_1
Wanita itu berjalan mendekati ranjang Clarissa, gadis itu tampak terdiam. Sama sekali tak terusik dengan kebisingan yang di ciptakan oleh kedua sahabat nya itu.
"Nona Clarissa?" sapa Erina.
Clarissa bergeming, Ia masih tetap memalingkan wajah nya dari pandangan Erina.
Kedua pria itu tampak sudah kembali tenang, Arga berjalan mendekati Erina. Pria itu tahu bahwa Clarissa tak mengindahkan sapaan istrinya.
"Cla, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa ada yang kamu keluhkan?" tanya Arga mencoba mencairkan suasana.
Tapi Clarissa masih tetap terdiam, sepertinya Ia masih enggan untuk sekedar basa basi kepada orang yang dulu pernah Ia sakiti.
"Clarissa mengalami patah tulang di kaki kirinya, untuk sementara waktu dia diharuskan untuk istirahat total agar pemulihan kakinya lebih maksimal," jelas Rendra.
Erina tampak begitu terkesiap mendengar penjelasan Rendra, cairan bening tampak menggenang di kedua pelupuk matanya.
"Kalian puas kan?" pekik Clarissa tiba-tiba, tanpa menoleh ke arah mereka berdua.
"Kalian puas kan melihat Aku seperti ini? Ini kan yang kalian harapkan? Kalian senang saat aku menderita?"
Air mata Erina sudah tak terbendung, cairan bening itu lolos dari kedua sudut matanya. Hatinya bergetar saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir Clarissa, Ia seolah bisa merasakan yang gadis itu rasakan.
"Aku mengerti yang kamu rasakan, aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini," ucap Erina dengan terisak, Arga segera melingkarkan tangannya di pundak Erina.
Clarissa segera menoleh ke arah Erina, tatapannya tajam seolah tak terima jika Ia dikasihani.
"Jangan tunjukkan wajah seperti itu di hadapanku, aku bahkan tak sudi melihat airmata palsumu. Kalian semua jahat ... jahat!" Clarissa tampak semakin tak bisa menguasai emosinya, Rendra memberi kode kepada Arga untuk mengajak Erina segera pergi.
Pria itu menganggukkan kepala dan segera membawa Erina berjalan keluar kamar, wanita itu masih terus terisak. Ia tak mengerti mengapa Clarissa masih sangat membencinya.
🍁🍁🍁
Malam harinya, Arga masih terus membujuk Erina agar mau ikut bersama nya untuk datang ke acara resepsi pernikahan koleganya Nevan dengan Risa.
Setelah kejadian dari Rumah Sakit tadi siang, mood Erina masih belum membaik. Ia masih terus bertanya-tanya kenapa Clarissa begitu membencinya, Arga acap kali membesarkan hatinya. Tapi tetap saja Erina belum menemukan jawaban yang membuat nya tenang.
🍁🍁🍁
Resepsi Nevan dan Risa
"Halo Tuan Muda, dunia memang sempit ya. Sampai-sampai kita bisa ketemu disini," sapa Ansel dengan tawa renyahnya. Pria itu segera memeluk sahabatnya. Sesaat mereka tampak melepaskan sejenak kerinduan dalam sebuah pelukan singkat tersebut.
Erina dan Angela pun terlihat saling mencium pipi kanan kiri mereka.
"Apa kabar Nona Erina? Wah, perut Nona sudah tampak semakin besar ya?" tanya Angela dengan mengelus pelan perut Erina, Ia tampak tak sungkan dan Erina juga tak keberatan dengan sentuhan yang di berikan oleh istri Ansel itu.
"Aku baik, Nona Angela bagaimana kabarnya?" Ia mengulas senyum, tangannya menyentuh lengan kiri Angela dengan lembut. Kedua wanita hamil itu tampak sangat akrab sekali.
"Aku juga baik Nona."
Perhatian Angela teralihkan pada sosok Arga yang tengah bercengkrama dengan suaminya itu, entah kenapa tiba-tiba ia sangat ingin memeluk suami Erina. Bos Montana itu benar-benar sudah menyita perhatian nya.
"Nona Erina, aku permisi sebentar ya," pamit Angela.
Erina menganggukkan kepala seraya tersenyum manis.
Angela terlihat berbisik kepada Ansel, mereka berdua tampak berjalan menjauh dari Arga dan Erina.
"Ada apa dengan mereka berdua sayang?" tanya Arga yang melihat kejanggalan dengan pasangan artis tersebut.
"Entahlah sayang, aku juga tidak tahu." Erina mengedikkan bahunya.
Erina tak sengaja melihat ke arah Ansel dan Angela, tampak Ansel mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
Kening Erina berkerut. "Sayang, apa tidak sebaiknya kita kesana saja?"
"Tidak sayang, itu masalah pribadi mereka. Tak baik ikut campur urusan rumah tangga orang lain," tutur Arga yang di benarkan oleh Erina.
🍁🍁🍁
Beberapa menit kemudian, Ansel dan Angela tampak berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Tapi raut wajah Ansel tampak begitu kesal.
"Kamu baik-baik saja Sel?" tanya Arga setelah Ansel berdiri tepat di hadapannya.
Ansel tak langsung menjawab, Ia terlihat berpikir sejenak. Namun, Angela tampak semakin mendesaknya.
"Yang, boleh ya Yang? Ini juga permintaan bayi kamu Yang." Angela menarik-narik lengan jas Ansel berulang kali. Pria itu tampak mendesah kasar, Ia seolah tak punya pilihan lain saat ini.
"Istriku ingin memeluk mu!" ungkap Ansel.
"Apa? Kamu bercanda kan?" tanya Arga tak percaya.
"Aku harap juga begitu, tapi sayang nya ini serius Tuan Muda!" tandasnya.
Erina yang langsung menangkap percakapan antara kedua laki-laki di hadapannya itu, tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti Angela yang saat ini sedang mengalami ngidam, sama persis yang di alaminya dulu kepada Ansel.
"Sayang, Nona Angela sedang mengidam. Turuti saja permintaan nya ya," pinta Erina kepada suaminya.
Kening Arga berkerut. "Sayang ini suamimu lho yang di peluk, apa kamu tak cemburu suamimu disentuh oleh wanita lain?"
Erina terkekeh. "Tidak, selama itu untuk kepentingan ngidam dan juga si baby. Aku tak akan pernah cemburu sayang," ucapnya seraya menatap Angela dengan menyunggingkan senyuman.
Mata Angela berbinar senang, karena mendapat restu dari Erina. "Terimakasih Nona!" kata Angela sambil memegang tangan Erina.
Kedua suami posesif itu tampak semakin frustasi, pasalnya kedua istri mereka tampak tak terganggu dengan keinginan Angela.
Arga yang tak mempunyai opsi lain akhirnya menuruti kemauan Angela, pria itu dengan sangat terpaksa membiarkan dada bidangnya di peluk oleh wanita lain. Bukankah harusnya senang, seorang laki-laki di peluk oleh seorang wanita. Tapi berbeda dengan Arga, Ia bahkan terlihat risih karena dia sudah berikrar bahwa tubuhnya hanya boleh disentuh oleh Erina seorang.
Angela tampak bersemangat saat memeluk Arga. Perasaan tenang sekaligus senang tampak Ia rasakan.
Kedua pria itu akhirnya bisa menghembuskan napas lega saat sesi berpelukan itu selesai.
🍁🍁🍁
Setelah drama ngidam sang artis Angela, Erina dan Arga segera berjalan mendekati mempelai pengantin Nevan dan Risa.
Pelaminan yang terlihat begitu indah itu menjadi tempat terakhir yang di kunjungi Arga dan Erina. Tampak jelas guratan-guratan lelah di wajah wanita cantik itu, Arga ingin segera mengajak Erina pulang ke rumah. Dan merebahkan tubuh mereka di kasur yang super empuk.
Pria itu tampak menghampiri mempelai pengantin pria.
"Selamat Pak Nevan, semoga langgeng sampai kakek nenek. Dan jangan lupa langsung lembur bikin baby ya," seloroh Arga.
Risa yang duduk di sebelah Nevan tampak malu dengan kalimat Arga.
Risa tampak bersembunyi di belakang punggung Nevan dengan tawa renyahnya, begitu juga dengan Nevan. Pria itu terlihat terkekeh dengan ucapan selamat Arga.
"Anda bisa saja Pak Arga! Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk hadir di resepsi pernikahan kami," ucap Nevan masih dengan senyum terulas di bibirnya.
Arga dan Erina ikut merasakan kebahagiaan sang mempelai pengantin itu, mereka berdua akhirnya pamit di ikuti dengan Ansel dan Angela.
Bersambung ....
💖💖💖
Penasaran dengan kisah Ansel, Angela, Nevan dan Risa? Cus kunjungi novel kakak online author ya Terpaksa Menikahi Aktor Posesif by Linanda Anggen 😍👍🏻
__ADS_1