
Erina membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang di lihatnya, ruang utama yang memiliki luas 4x lipat dari ruangan lain. Sudah dipenuhi oleh barang-barang peralatan bayi, lebih tepat nya Nyonya Hutama sudah menyulap ruangan itu menjadi baby shop mini.
Gadis yang berprofesi menjadi instruktur senam itu pun tak kalah terkejutnya dengan Erina, walau pun itu bukan sesuatu yang sulit untuk Nyonya Hutama tapi tetap saja itu suatu hal yang luar biasa bagi Anggen. Barang-barang yang dijamin tidak murah harga nya itu, sukses membuat Anggen dan Erina membulatkan mata dan mulut mereka.
Di atas meja tempat Erina biasa meletakkan Mac book nya itu sudah penuh dengan baju bayi mulai dari popok, bedong, sarung tangan, kaos kaki, topi dan berbagai macam perlengkapan bayi lain nya.
Disisi sebelah kanan terdapat tiga buah model keranjang bayi yang berbeda-beda, ada model ayunan dan dorong. Erina yakin ibu mertuanya masih belum tahu dengan kehamilan bayi kembar tiganya, namun sungguh di luar dugaan ibu mertua nya bahkan sudah membelikan keranjang bayi sebanyak tiga buah. Apakah ini naluri seorang nenek? Entah lah Erina juga tidak tahu.
"Ibu .... " panggilnya lirih.
Nyonya Hutama seolah tahu apa yang sedang di pikir kan oleh menantu nya itu.
"Iya sayang." sahut Nyonya Hutama.
"Tidak kah ini sedikit berlebihan ibu?" ucap Erina sambil menunjuk beberapa barang yang masih terbungkus plastik dengan rapi.
"Ish, kamu ini. Ini bahkan masih kurang menurut ibu, ada banyak sekali barang yang bahkan ibu lupa beli. Lain waktu seperti nya ibu harus membawa catatan agar tidak terlupakan satu pun." jelas ibu mertua nya dengan raut wajah bersemangat.
Arga yang baru saja pulang dari kantor, terlihat shock dengan rumah nya yang sekarang lebih mirip dengan toko bayi itu.
Laki-laki bernama Arga itu tampak terpaku, Ia melihat sekeliling ruangan yang dipenuhi dengan perlengkapan bayi. Arga berdecak heran dengan pemandangan yang di lihat nya, sorot matanya langsung menangkap objek seorang wanita paruh baya yang sangat Ia cintai.
Arga langsung mengerti situasi yang terjadi, ini semua pasti karenakerjaan ibunya. Seorang ibu yang sudah tidak sabar dengan kehadiran cucu nya.
Laki-laki itu berjalan mendekati istri nya dan segera melepas jas yang membuat tubuh nya sedikit gerah. Arga meminta tolong kepada Bibi Mar agar meletakkan jas nya.
"Ada apa sayang? Kenapa rumah kita seperti toko bayi yang baru saja di renovasi?" seloroh Arga. Anggen yang berdiri di dekat Erina langsung membekap mulutnya untuk menahan tawa.
"Kenapa? Apa yang lucu?" Arga mendelik ke arah Anggen, entah kenapa jika Anggen dan Arga bertemu. Mereka seperti Tom & Jerry saja, ada saja hal yang membuat Arga kesal dengan Anggen.
"Tidak, saya tidak sedang menertawakan anda Tuan." bantah Anggen. Gadis itu mengatupkan bibirnya untuk menahan rasa tawa yang menggelitiknya.
"Dasar kamu ... Apa kamu hari ini melakukan tugasmu dengan baik? Kamu tidak menyuruh istriku melakukan gerakan yang aneh-aneh bukan?" celetuk Arga kepada gadis yang berprofesi instruktur senam ibu hamil untuk Erina.
"Ish ... kamu ini selalu seperti itu jika berhadapan dengan Anggen, kamu harus nya berterimakasih kepada nya. Karena berkat Anggen menantu ibu ini tidak kesepian lagi." bela Nyonya Hutama sambil mendekapkan kedua tangan di dadanya.
"Dasar Tuan Muda arogan." umpat Anggen dalam hati
Erina hanya bisa mengulas senyum dan menggelengkan-gelengkan kepala melihat sikap suaminya itu.
"Ibu, kenapa ibu belanja barang sebanyak ini? Persalinan Erina masih kurang beberapa bulan lagi, masih banyak waktu untuk mempersiapkannya." tutur Arga pada ibunya.
"Ck ... kamu ini sama saja dengan istrimu, kalian ini baru pertama memiliki anak. Jadi untuk pengalaman jelas ibu yang lebih ber pengalaman. Ibu tak mau cucu ibu sampai kekurangan satu barang pun saat dia lahir nanti, makanya ibu belanja mulai dari sekarang." jelas Nyonya Hutama, Ia sedikit kesal dengan anak dan menantu nya yang tak sepenuhnya mendukung pekerjaan belanja keperluan bayi hari ini.
Arga mengerutkan kening dan mengangguk-anggukkan kepala, ada benarnya juga ucapan ibunya. Apalagi mereka akan mendapatkan bayi kembar tiga, jadi bukanlah hal mudah untuk mempersiapkan segalanya. Mereka perlu mempersiapkan jauh-jauh hari.
"Tunggu ... apa Ibu sudah tahu dengan kehamilan Erina? Bukan, maksudku dengan kehamilan bayi kembar anak kita?" ucap Arga.
Kening Nyonya Hutama berkerut setelah mendengar kata 'bayi kembar'.
"Tadi kamu bilang apa sayang? Bayi kembar?" Nyonya Hutama memperjelas pertanyaan nya.
Raut wajah Arga menyeringai, merasa bangga dengan dirinya sendiri. "Iya Ibu, Ibu akan mendapatkan cucu kembar tiga sekaligus." kata Arga dengan mengangkat tiga jarinya.
Nyonya Hutama membelalakkan matanya, Ia terlihat begitu senang dengan kabar yang baru saja Ia dengar. Perempuan yang masih cantik di usia senjanya itu segera menghampiri Erina, dipeluknya dengan erat menantu kesayangannya itu.
"Sayang ... terimakasih. Ini adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi Ibu, Ibu akan memiliki tiga cucu sekaligus." tutur Nyonya Hutama dengan raut wajah yang terlihat begitu bahagia. Dan tak terasa air mata sudah menghujani pipi nya, Ia segera menyeka air mata bahagianya.
__ADS_1
Erina pun larut dalam kebahagiaan, kedua sudut matanya juga sudah basah oleh cairan bening bahagia.
"Iya Ibu, Ibu akan memiliki cucu kembar." ucap Erina terharu.
Nyonya Hutama segera mengusap pelan air mata yang jatuh di pipi Erina. Anggen yang merasa canggung dengan suasana bahagia keluarga Hutama itu memilih untuk undur diri.
"Nyonya dan Nona Erina, Saya ijin pulang dulu. Tak enak, jika Saya masih terus berada disini." ujar Anggen canggung.
Nyonya Hutama segera mengalihkan pandangan nya pada gadis itu, "Tidak, kamu tidak boleh kemana-mana dulu. Ini adalah hari bahagia dalam hidupku. Mari kita rayakan dengan makan di sebuah restoran." tutur Nyonya Hutama dengan mengulas senyum.
"Sayang, kamu ganti baju ya. Kita pergi sekarang." perintah Nyonya Hutama kepada Erina. Erina menganggukkan kepala dan segera berjalan meninggalkan ruang utama.
πππ
Mereka semua telah sampai di restoran mewah nan elegan, Nyonya Hutama sengaja memesan private room agar makan malam nya semakin intens. Ruangan yang di dominasi dengan warna keemasan dan warna merah di beberapa ornamen, membuat kesan mewah bagi siapa saja yang berkunjung kesana. Tentu pemandangan ini membuat Erina dan Anggen merasa takjub akan kemewahan yang di suguhkan oleh suasana restoran yang mengusung konsep Istana Perancis ini.
Perempuan yang selalu terlihat cantik di setiap moment itu memberikan daftar menu kepada Anggen, gadis itu menerima daftar menu dan membuka nya secara perlahan.
Anggen menelan saliva nya dengan susah payah, pasalnya menu yang tertera di buku berwarna keemasan itu benar-benar membuatnya pusing dan berpikir keras dengan arti dari nama menu itu.
Nyonya Hutama yang segera menangkap kebingungan Anggen, hanya mengulas senyum di wajah nya.
"Kenapa Anggen? Bagaimana kalau aku saja yang memilih kan menu untuk mu?" ucap Nyonya Hutama, Anggen yang sedari tadi hanya membolak-balik daftar menu itu segera menyetujui usul Nyonya Hutama dengan mata berbinar-binar.
"Tentu Nyonya, saya yakin pilihan anda adalah yang terbaik." celoteh Anggen dengan wajah menyeringai senang.
Nyonya Hutama dan Tuan Hutama tertawa kecil mendengar celoteh Anggen.
"Baiklah, Grilled Wagyu Beef Sirloin Marble 9,Β Atlantic Sea Scallop A La Plancha. Aku rasa cocok untukmu Anggen." Nyonya Hutama menyebutkan salah satu menu yang begitu sulit untuk di ucapkan kembali oleh Anggen, gadis itu mengangguk pelan menyetujui menu yang di pilihkan oleh Nyonya Hutama.
Selang beberapa menit, dua orang pelayan masuk dengan membawa berbagai jenis makanan yang benar-benar menggugah selera. Penataan makanan yang sarat estetika menambah kesan tersendiri bagi siapa saja yang akan menyantap makanan yang harga nya tidak murah itu.
Mereka sangat menikmati makan malam di restoran yang bisa di sebut dengan Perancis mini, tidak hanya dimanjakan oleh interior mewah nan elegan saja. Tapi makanan nya pun sangat lezat sekali. Begitu pikir Anggen.
Suara ponsel Erina, Ia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya "Kak Eric".
Erina menatap Arga meminta persetujuan untuk mengangkat telfon, karena menurutnya mengangkat telfon waktu makan adalah hal yang jarang terjadi pada keluarga Hutama.
"Kak Eric." lirih Erina sambil menunjukkan layar ponselnya pada suaminya itu.
Arga menganggukkan kepala, "Angkatlah, mungkin ada sesuatu yang penting." ucap Arga.
Erina menyunggingkan senyuman dan meminta ijin kepada Ayah dan Ibu mertuanya untuk mengangkat telfon, Tuan dan Nyonya Hutama tersenyum dan mengiyakan permintaan Erina. Mereka sangat senang mempunyai menantu yang sangat sopan seperti Erina.
Erina beranjak dari tempat duduk nya, Ia berjalan ke sudut ruangan. Erina segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan segera menempelkan benda pipih itu di telinga kirinya.
"Halo Erin." Sapa kak Eric dari sebrang sana.
"Kak Eric, bagaimana kabar mu kak?" sahut Erina dengan raut wajah senang, karena sudah hampir 2 bulan dia tidak pernah bertukar kabar dengan saudara kandung laki-laki nya itu.
"Baik Erin, kamu sendiri bagaimana kabar kamu dan kehamilan mu?" Tanya kak Eric.
"Aku dan bayi ku juga baik kak." ucap Erina dengan menyunggingkan senyuman.
"Oh ya, beberapa minggu yang lalu aku datang ke rumah mu. Tapi kata Bibi yang bekerja di tempat mu, kamu dan suami mu sedang pergi ke London untuk menghadiri pesta pernikahan teman suami mu." terang kak Eric kepada Erina.
Erina memutar bola matanya, dia sejenak mengingat sesuatu.
"Seperti nya Bibi Mar lupa memberi tahu aku, kalau mas Eric datang ke rumah." gumam Erina dalam hati.
"Rin ... kamu tidak apa-apa kan Erin?" suara Eric mengagetkan lamunan Erina.
__ADS_1
"Eh, iya kak. Aku gak apa-apa kok. Sepertinya Bibi Mar lupa kasih tahu aku, kalau kakak ke rumah." jelas Erina.
"Oh, begitu ya. Pantas saja kamu tidak menghubungi kakak. Ya udah, gak apa-apa Rin." ujar kak Eric, kak Eric menjeda kalimat sebelum melanjutkan nya.
"Oh ya, kalau besok kamu senggang. Kamu bisa pulang ke rumah Rin. Ada sesuatu yang ingin aku sampai kan. Mama Dan Papa juga sudah kangen sama kamu lho." tutur kak Eric.
"Oh iya kak, besok aku akan pulang ke rumah." sahut Erina dengan semangat.
"Kamu gak ijin suami mu dulu?" tanya Eric.
"Iya, nanti ijin nya kak. Pasti dibolehin kok sama suamiku." Jawab Erina.
"Ya udah syukur kalau begitu, udah dulu ya Rin. Aku masih ada urusan, sampai ketemu besok. Kamu hati-hati dijalan ya besok." kata kak Eric seraya menutup telponnya.
"Iya kak, sampai ketemu besok." sahut Erina.
"Kira-kira kak Eric mau ngomong apa ya?" gumam Erina yang merasa penasaran dengan tujuan Eric menyuruhnya untuk pulang.
πππ
"Ada sesuatu hal yang penting sayang?" Tanya Arga kepada Erina yang baru saja kembali duduk di kursi nya.
Erina tersenyum dan mengedarkan pandangannya ke seluruh orang yang berada di ruangan itu. Nyonya Hutama tersenyum menatap anak menantu nya itu.
"Apa ada sesuatu yang penting sayang?" Nyonya Hutama mengulangi pertanyaan Arga.
"Tidak ada hal penting Ibu, hanya saja mama dan papa sedang kangen sama Erina." Jawab Erina mengulas senyuman dengan mengedarkan pandangan ke Nyonya Hutama dan Arga secara bergantian.
"Arga, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" seru Nyonya Hutama sambil mengulum senyuman.
"Tentu Ibu, Aku akan menjadi suami yang selalu siaga untuk Erina ku." lirih nya sembari memegang erat tangan Erina.
"Aku akan mengantarmu sayang." imbuhnya, kedua sudut bibirnya terangkat sempurna, membuat degup jantung Erina tak karuan.
Pemandangan kemesraan antara Erina dan Arga sungguh membuat Anggen iri, pasalnya kini Anggen sedang menjalani LDR (Long Distance Relationship) dengan tunangannya.
"Kenapa kalian bermesraan di depan ku sih, nyesek tau rasa nya. Mana tunangan ku lagi jauh. Oh begini amat nasib LDR." gumam Anggen dalam hati, Ia meratapi nasibnya sendiri.
Erina masih bertanya-tanya dalam hati, pikirannya kembali mengingat ucapan kakak nya mengenai hal apa yang ingin di sampai kan oleh nya.
"Semoga tidak terjadi sesuatu pada kak Eric, mama dan papa." do'a Erina dalam hati.
Bersambung
Mampir juga ke novel temen-temen author ya. Dijamin di bikin baper π
.
Menikah Karena Skandal ~ Linanda Anggen
Kencan Buta ~ Tya Gunawan
Akibat Sandiwaraku ~ Mamika
OB Kerudung Biru ~ Putri Tanjung
__ADS_1
Pacar Settingan PresDir ~ Citoz