Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Mengungkap Sandiwara Clarissa Part. 1


__ADS_3

Erina tampak semakin sehat, wajah cerianya telah kembali. Walau hatinya masih terasa perih karna harus mengalami kejadian yang dia sendiri masih bergetar jika membayangkannya.


"Selamat siang nona Erina dan tuan Arga. " sapa ramah dokter Mili.


"Selamat siang dokter. " Erina tersenyum manis kepada dokter Mili.


Dokter Mili memeriksa Erina dengan seksama.


"Bagaimana keadaan istri saya dok? " Arga masih tampak khawatir dengan keadaan Erina.


"Nona Erina sudah sehat dan diluar dugaan saya, yang butuh waktu 4-5 hari untuk penyembuhan. Nona Erina memiliki semangat yang luar biasa. Hari ini nona boleh pulang, minggu depan bisa datang untuk kontrol." jelas dokter Mili yang tampak senang dengan perkembangan Erina


"dokter bagaimana dengan program hamil? maksud saya. Tidak akan ada masalah kan jika saya hamil lagi, saya masih bisa hamil kan dok? " Erina merasa khawatir akan kondisinya. Arga seolah mengerti apa yang dirasakan Erina. Segera dia melingkarkan tangan dibahu istrinya dan mengelus lembut punggungnya.


"Anda tidak perlu khawatir nona. Untuk pemulihan. Nona harus istirahat yang cukup dan jangan terlalu capek. Untuk beberapa bulan ke depan, baru bisa melakukan program hamil." tatapan dokter Mili seolah meyakinkan Erina tidak usah terlalu khawatir nona.


Arga mendekatkan bibirnya di telinga Erina. "Kita masih punya banyak waktu istriku. Yang penting sekarang adalah kesehatanmu. " Arga mengecup pipi Erina.


Dokter Mili merasa tak nyaman dengan adegan yang barusan di lihatnya.


"Baik nona Erina, saya permisi dulu. Jaga kesehatan anda ya nona. Jangan biarkan Tuan Arga tak bisa tidur karna mengkhawatirkan anda. " goda dokter Mili sambil melirik ke arah Arga. Arga hanya mendelik ke arah dokter Mili. Erina terkekeh melihat tingkah suaminya.


"Terimakasih dokter Mili." dokter Mili menganggukkan kepala dan berlalu di balik pintu.


"Honey, maafkan aku ya yang sudah membuatmu khawatir sampai kamu tak bisa tidur. " Erina memeluk pinggang suaminya, merasa tak enak dan sedih.


"dokter Mili terlalu melebihkan kalimatnya honey. Tapi memang aku sangat mengkhawatirkan mu kemarin. Aku takut kehilanganmu. " Arga membalas pelukan Erina.


"Oh, maafkan aku honey. Aku sudah membuatmu khawatir. " Membenamkan wajahnya di dada suaminya. "Honey, boleh tanya sesuatu?" Erina tampak ragu memulai kalimatnya.


"Mau tanya apa? " membelai lembut rambut Erina. Menggeser posisinya dan duduk di sebelah Erina.


"Bagaimana kondisi Dion hun? " Erina bertanya sangat lirih takut suaminya marah akan pertanyaannya.

__ADS_1


"Dion, siapa dia? " Arga menatap Erina, merasa tak senang dengan pertanyaan istrinya.


"Dia laki-laki yang." Ucapan Erina belum selesai Arga sudah memotongnya. "Kamu bahkan masih mengkhawatirkan laki-laki b*jingan itu? " wajah Arga berubah menjadi geram


"Bukan seperti itu suamiku, aku hanya takut kamu berbuat yang lebih jauh kepadanya. Aku tak mau kamu melakukan suatu kejahatan hanya karna aku. " Erina menitikkan airmata benar-benar takut jika suaminya sampai membunuh Dion. Bahkan Erina masih teringat jelas bagaimana amarah suaminya waktu itu.


Arga menyadari kekhawatiran istrinya. Arga menatap lekat-lekat wajah Erina, dan mengusap pelan pipinya.


"Siapapun tak akan kubiarkan untuk menyentuhmu, karna dia sudah terlanjur menyentuhmu. Jadi dia sudah ku kubur hidup-hidup. " Jawab Arga datar


"Apa? Kamu sudah membunuhnya. " Erina mulai menangis dengan keras


"Kenapa kamu menangisinya? " Menatap istrinya dengan tatapan tak senang


"Bagaimana kamu bisa tenang begini, setelah membunuh seseorang, nanti akan ada polisi datang kesini dan dia akan menangkapmu. Dan aku akan sendiri menunggumu keluar dari penjara. " Erina menggeleng-gelengkan kepala, memejamkan mata membayangkan apa yang akan terjadi dengan suaminya. "Tidak, tidak! Suamiku." Erina menatap Arga dan menangis lebih kencang lagi.


Arga yang awalnya bingung dengan tingkah istrinya, kini dia tertawa karna melihat begitu menggemaskan istrinya ketika mengkhawatirkannya.


"Kok malah ketawa? " Erina bertanya polos.


"Jadi kamu tidak menguburnya hidup-hidup kan? Dia tidak apa-apa kan? " segera menghapus airmatanya dan tampak begitu senang.


"Jika kamu masih mengkhawatirkan nya, aku benar-benar akan menguburnya. " Arga membalikkan badannya kesal.


Erina kehabisan kata-kata, dia langsung memeluk suaminya dari belakang. "Suamiku, aku tidak mengkhawatirkannya, sungguh. Tapi aku mengkhawatirkan kita."


Membalikkan badan dan tersenyum kepada istrinya. "Aku masih punya hati nurani sayang, walaupun sebenarnya sangat ingin melakukannya. Karna dia telah berani menculik dan menyakitimu. Sepertinya dia benar-benar bosan hidup. Aku hanya memberikan pelajaran kecil kepadanya. " Arga mencium pipi istrinya dan memeluknya erat.


Arga mengantarkan Erina pulang dan membaringkan istrinya di tempat tidur. "Istirahatlah, aku keluar sebentar menemui pak Sam. " Arga meraih dagu Erina dan mengecup bibir Erina. Erina hanya mengangguk pelan.


***


Pak Sam membawa berkas dan menyerahkan kepada Arga. Arga meneliti berkas itu dengan seksama.

__ADS_1


"Dion adalah teman kuliah nona Tuan. Dia sangat terobsesi dengan nona, dia pernah ditolak cintanya dan merasa frustasi. Satu bulan yang lalu dia ditawari seseorang untuk menculik nona dan setelah tahu bahwa yang akan diculik adalah nona Erina. Dia sangat antusias menerima tawaran itu." Jelas Pak Sam.


"Siapa yang menyuruhnya? " sambil menebak siapa yang sudah berani melawan dirinya.


"Nona Clarissa Tuan. " Pak Sam menjawab dengan tegas.


"Nona Clarissa menyuruh seseorang menelusuri latar belakang nona Erina dan menggunakan masa lalu Dion untuk keuntungannya Tuan. " Arga mengepalkan tangan menahan amarahnya.


Kamu ternyata belum mengenalku Cla, kamu bahkan berani mencelakai perempuan yang benar-benar aku cintai. Kamu benar-benar perempuan berhati kejam.


Arga masih tak percaya dengan yang dikatakan Pak Sam. "Clarissa."


"Sayangnya hatimu tak secantik wajahmu. " Gumamnya dengan masih menahan amarah.


"Lalu kecelakaan itu? " menoleh ke pak Sam penasaran


"Hanya sandiwara nona Clarissa tuan, untuk mengalihkan perhatian anda. Agar Dion leluasa menculik nona. "


"Kamu sungguh selicik itu Cla, kamu bahkan menggunakan Ibu untuk meyakinkan sandiwaramu. " Arga semakin geram


"Pak Sam, kamu sudah tahu kan apa yang harus kamu lakukan? " Menoleh ke arah pak Sam.


Pak Sam mengangguk "dokter yang membantu nona Clarissa sudah dipindah tugaskan ke daerah terpencil Tuan. Dion sudah mendekam di penjara. Nona Clarissa? Sampai sekarang dia masih mencoba bertahan dengan sandiwaranya tuan. Dia masih di Rumah Sakit menunggu simpati Tuan. "


Pak Sam menghentikan kalimatnya.


"Clarissa biar aku yang urus. Dia sudah menyulut api, yang sekarang sudah berkobar hebat dan bahkan bisa membakarnya." Tatapan tajam muncul lagi dimata Arga.


Tatapan seperti elang yang sedang mengincar mangsanya dan siap menerkam kapanpun dia inginkan.


"Baik Tuan, saya permisi untuk kembali ke kantor. " Pak Sam menundukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Arga dengan pikiran masih melayang kepada sosok cantik yang pernah mengisi hatinya.


Kecantikanmu rupanya hanya kedok Cla, aku bersyukur sekarang sudah terlepas dari kedok mu itu. Dulu, aku sangat mengagumimu. Tapi rupanya seperti itu caramu memikat orang lain, dengan rupamu bukan dengan hatimu.

__ADS_1


Perlahan emosinya mulai surut dan mulai berpikir tindakan apa yang akan dilakukan untuk Clarissa.


Bersambung


__ADS_2