
Arga segera berlari menghampiri Erina, Ia menjatuhkan kedua lututnya untuk menahan tubuh Erina agar tidak sampai terjatuh ke lantai. Laki-laki itu bersyukur istri nya bisa Ia tangkap tepat waktu.
Pak Sam segera mengintruksi kepada anak buahnya untuk menjaga Gerald, dia segera berlari menuju Grace. Laki-laki kepercayaan Arga itu tak mau sampai sesuatu hal buruk terjadi kepada Tuan maupun istri Tuannya. Pak Sam segera meraih benda-benda berbahaya yang ada di depan gadis itu, termasuk pisau yang berhasil Erina minta dengan paksa tadi. Erina meletakkan pisau itu di ujung meja sebelum Ia mendekati Grace untuk memeluk nya.
Arga segera bangkit dan menggendong tubuh Erina. "Sayang, aku tidak apa-apa. Turunkan aku." Erina merasa tak nyaman tubuh nya diangkat oleh Arga, selain banyak mata yang memandang. Ia juga tak ingin membuat Grace lebih tersiksa dengan adegan yang Ia lihat saat ini.
Namun Arga sama sekali tak mengindahkan ucapan Erina, laki-laki itu tau istri nya akan menolak perlakuan yang Ia berikan.
"Pak Sam, urus mereka berdua. Aku akan membawa istriku pergi dari sini, bisa-bisa aku yang akan lepas kontrol jika masih terus berada disini." Arga melirik ke arah Grace, Ia begitu geram karena sudah membuat Erina dalam posisi bahaya.
"Baik Tuan." sahut Pak Sam dengan menganggukkan kepala.
Erina hanya terdiam, Ia tidak ingin menambah rasa kesal suaminya lagi. Arga berjalan dengan masih menggendong tubuh Erina. Ia benar-benar sudah muak dengan sikap Grace yang sudah tidak waras itu, obsesinya hampir membuat Erina kehilangan bayinya untuk yang kedua kali.
Aku tak akan memaafkanmu jika sampai terjadi sesuatu dengan istri dan anak ku. gumam Arga sambil terus berjalan meninggalkan ruangan.
Grace nampak putus asa, Ia memandang nanar tubuh Arga dari belakang.
"Tuan, tidak bisa kah kau memberi ku kesempatan?" teriak Grace pada Arga yang sudah berada di depan pintu restoran.
Arga menghentikan langkah nya, Ia menoleh ke sembarang arah tanpa memutar tubuh nya.
"Tidak akan ada kesempatan untuk orang yang sudah mencoba mencelakai istriku, asal kamu tahu. Cinta adalah tentang kesetiaan, jadi ku harap kamu bisa membedakan obsesi dan cinta itu tidak lah sama. Karena yang kamu rasakan saat ini adalah sebuah obsesi." Arga menjeda kalimat nya sebelum kembali melanjutkan. "Pak Sam kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan, segera bereskan mereka berdua."
Arga kembali melanjutkan langkah nya, kali ini Erina merasa bahagia dengan perlakuan nya. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Arga, Ia mengulas senyuman dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya itu. Erina bahagia, ya sangat bahagia. Arga sudah membuat nya menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini.
Gerald yang mendengar ucapan Arga merasa terancam nyawa nya, Ia tak tahu pasti apa maksud Arga dengan kata 'membereskannya'.
Sementara itu Grace nampak berlinang air mata, Ia seperti telah kehilangan segalanya. Pertemuan yang sudah di nantikannya berujung pada penolakan yang menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan daripada menyayat pergelangan tangannya.
Gadis itu mendudukkan tubuh nya pada kursi yang ada di belakang nya, tubuh nya melemah. Pandangan nya kosong dan tiba-tiba kesadarannya menghilang.
πππ
Arga masih tetap menggendong Erina untuk masuk ke rumah sakit terbesar di kotanya, rumah sakit yang di bangun oleh keluarga Hutama.
Dokter Mili nampak duduk di kursi kerja nya, Arga meletakkan Erina pada bed yang ada di sebelah meja kerja Dokter Mili. Dokter berambut ikal itu mengerutkan kening nya ketika Arga sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan Tuan? Apa anda melakukan nya secara kasar? Hingga membuat nona Erina kesakitan?" ledek Dokter Mili sambil mengulum senyum.
Arga menajamkan pandangan nya, Ia merasa kesal dengan ucapan Dokter yang ada di hadapannya itu.
"Bagaimana bisa aku bermain kasar, sudah beberapa bulan aku tak menyentuh nya Dok. Kamu sedang meledekku ya?" pekiknya, Ia mendudukkan tubuh nya pada kursi yang berada di depan meja kerja Dokter Mili. Raut wajah nya masih terlihat kesal.
"Ha-ha-ha, Saya bercanda Tuan." goda Dokter Mili sekali lagi.
"Aku tak suka bercandamu." ketus Arga, Dokter Mili semakin terkekeh dengan sikap Arga.
"Maaf Tuan." lirih nya, Ia mengatupkan mulut nya untuk meredam rasa gelinya.
Dokter Mili mendekati Erina yang sudah berbaring di bed, Ia mendudukkan dirinya tepat di depan alat Ultrasonografi (USG). Seorang perawat nampak menutupi tubuh bagian bawah Erina dengan selimut, lalu memberikan gel pada perut Erina yang terbuka.
Dokter Mili menempelkan alat yang bernama Tranducer di perut Erina yang sudah nampak membuncit. Raut wajah Arga nampak menegang.
"Dokter apa yang akan kamu lakukan kepada calon bayi ku? Dan kenapa juga Erina harus membuka perutnya di depanmu? Bukankah ini sedikit vulgar?" Arga mendelik ke arah Dokter Mili.
Gadis yang mengenakan kemeja berwarna putih dan jas putih berlengan panjang itu nampak mendengus kasar, Ia tak habis pikir Tuan Muda kaya raya ini begitu polos dan sedikit aneh.
"Tuan membawa nona Erina ke sini tadi untuk di periksa kan?" tanya Dokter Mili
Kali ini Erina hanya tersenyum menanggapi sikap suaminya itu, Ia mulai terbiasa dengan cara pikir Tuan Muda yang pintar dalam segala hal, namun polos dalam menghadapi kehamilan nya itu.
"Jadi ... menurut anda Saya sedang bermain Dokter-Dokteran begitu?" seloroh Dokter Mili.
Perawat yang sedari tadi berdiri di sebelah Erina tak bisa menahan tawanya, Ia menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Melihat hal itu Arga segera mendelik ke arah perawat yang bertugas membantu pekerjaan Dokter Mili itu.
"Apa yang lucu, kamu sedang menertawaiku ya?" ucap laki-laki itu dengan nada kesal.
Perawat itu segera meminta maaf Dan membekap mulutnya.
Dokter Mili memutar kursi yang sebelum nya menghadap layar monitor kecil berwarna hitam putih itu, kini Ia berhadapan dengan Tuan Muda yang sangat pintar namun sungguh polos dan lugu.
"Kenapa kamu tiba-tiba memandang ku seperti itu?" seru Arga sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
"Anda ingin Saya melanjutkan pemeriksaan nya bukan?" Dokter Mili menjeda ucapan nya, Ia menatap tajam Arga untuk menunggu sebuah jawaban.
Tatapan Dokter Mili seolah mengintimidasinya, "Iya silahkan Dokter lanjut kan, bukankah itu memang pekerjaan Dokter?" ujarnya dengan mengangguk-anggukan kepala.
"Jadi?" Dokter Mili mempertajam pandangan nya pada Arga.
"Jadi apa? Kenapa Dokter malah main tebak-tebakan?" Jawab nya kesal.
Dokter Mili mendengus kasar, Ia harus extra sabar menghadapi calon ayah satu ini.
"Baiklah lupakan ... Saya akan melanjutkan pemeriksaan terhadap nona Erina. Anda bisa melihat di sebelah sana." gadis itu menunjuk sisi kanan Erina.
Kali ini Arga langsung menuruti ucapan Dokter Mili, dia sedikit tak nyaman dengan tatapan yang baru saja di tujukan pada nya.
Dokter Mili segera melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, Ia menempelkan Tranducer itu ke perut Erina. Dokter Mili menggeser-geser dengan pelan alat tersebut, nampak sebuah gambar di layar monitor berwarna hitam putih itu.
Terlihat tiga buah benda dengan bentuk yang berbeda, Arga Dan Erina nampak sedikit bingung dengan gambar yang mereka lihat. Sebuah senyuman tampak di wajah Dokter Muda itu.
"Nona, selamat! Bayi anda kembar tiga." kata Dokter Mili dengan mata berbinar.
Arga dan Erina saling pandang dan dengan kompak berkata "Kembar tiga."
Bersambung
Penasaran dengan bayi kembar tiga Erina dan Arga, ikuti terus ya kelanjutannya. Like + comment + favorite + Vote ya... Terimakasih atas dukungan teman-teman dan para readers semua. I Love U allπ₯°
**Sembari menunggu Up jangan lupa mampir ke novel temen online author yaπ
.
Menikah Karena Skandal ~ Linanda Anggen
Aku Mencintaimu ~ Nurhalimah
Tentang Hati ~ Aldekha DePe
__ADS_1
CEO Tampan Itu Jodohku ~ Eka Pradita**