Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Salah Sasaran (Spesial Episode)


__ADS_3

"Sayang," Arga memeluk mesra Erina, seolah tak peduli ada orang lain di ruangannya.


Laki-laki yang sedari tadi duduk di depan Arga, tersenyum smirk melihat adegan mesra antara Arga dan Erina. Laki-laki itu adalah Mr. Gerald.


Erina merasa tak nyaman, bukan masalah pelukan Arga tapi tatapan Mr. Gerald padanya yang seolah tersirat sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.


Mr. Gerald mengangkat satu sisi bibirnya, pandangannya masih tetap tertuju pada Erina. Pak Sam sekilas memperhatikan ekspresi Mr. Gerald kepada Erina, ia merasa ada yang tidak beres dengan laki-laki yang tengah duduk dengan menopang dagu itu.


Pak Sam merasa sanksi dengan tujuan Mr. Gerald ke kantor Arga, dia tidak sedang ingin bernegosiasi tentang bisnis. Tapi ada motif lain dibalik tatapan matanya itu, penuh misteri dan teka teki.


Sepertinya aku perlu menyelidiki tentang Mr. Gerald, dia bahkan lebih menakutkan dari yang Tuan Arga bayangkan.


Mata Pak Sam masih terus mengawasi gerak gerik Mr. Gerald. Tak sedetikpun pandangannya beralih dari Mr. Gerald, laki-laki bertubuh besar dan tinggi itu melirik ke arah Pak Sam. Dia terlihat tersenyum sinis dan segera membuang muka ke sembarang arah. Pak Sam semakin menaruh curiga pada sosok laki-laki yang sudah dikenal Arga selama lebih dari tiga tahun itu.


Arga melepaskan pelukannya, ia masih tak percaya Erina datang mengunjunginya ke kantor. Sebuah kejutan yang luar biasa menurutnya, bahkan Erina membawa sebuah kotak makanan untuknya. Arga mengulas senyum lebar dengan mata berbinar senang, ia mengawasi sebuah kotak makan yang sedari tadi dibawa oleh Erina.


"Apa yang sedang kamu bawa sayang?" Arga menarik jemari Erina, sorot matanya menunjukkan rasa penasaran namun terlihat lucu dengan gayanya.


Erina tak menjawab pertanyaan Arga, dia masih merasa aneh dengan laki-laki asing yang berada di depannya.


"Sayang." Arga memperhatikan Erina sesekali melirik ke arah Mr. Gerald, raut wajah Erina tampak gelisah.


"Sayang, are you okay? " lirih Arga, ia melingkarkan tangannya di pinggang Erina. Arga menuntun Erina agar duduk di sofa yang berada di sudut ruangan.


Erina terkesiap dengan perlakuan Arga kepadanya, dengan mata membulat ia bertanya dengan wajah polosnya. "Kamu tadi bicara apa sayang?" ucap Erina, ia seperti sadar dari ingatan nya.


Arga sedikit kesal karena di acuhkan oleh Erina, lalu Arga seolah menyadari Erina tak nyaman dengan kehadiran laki-laki asing di ruangan nya saat ini.


"Ehem ... Mr. Gerald, maaf jika anda sudah tidak ada kepentingan lagi disini. Silahkan anda meninggalkan ruangan saya." usir Arga tanpa basa basi.


Laki-laki berwajah bule itu tersenyum masam mendengar ucapan Arga, sakit hati akan kalimat Arga? Tentu iya, ia bahkan belum mengutarakan tujuannya datang ke kantor Arga untuk apa?


"Well, saya terlalu asyik melihat kemesraan anda dengan istri anda sampai saya lupa waktu. I'm sorry. Saya akan pergi, tapi sebelum saya pergi saya ingin mengundang anda untuk jamuan makan malam dirumah saya besok Tuan. Dan akan sangat menyenangkan jika nona cantik, istri dari Tuan Arga bisa ikut datang." Mr. Gerald menatap Erina dengan tatapan yang sulit dibaca.


"Tahan pandangan anda Mr. Gerald, anda mempunyai etika bukan? Erina ku tak nyaman dengan tatapan mata anda, dan yang paling merasakan ketidaknyamanan itu tentu saya. Saya tidak suka anda memandang istri saya seperti itu, alihkan pandangan mata anda sebelum anda menyesal." Sorot mata Arga tajam menatap Mr. Gerald, ia rupanya sudah menyadari gelagat Mr. Gerald terhadap istrinya.


"Dan untuk jamuan itu, sekali lagi saya tegaskan. Saya tidak bisa menghadiri acara jamuan makan malam anda, kita hanya rekan bisnis disini. Jadi anda tak perlu repot-repot mengundang saya dan istri saya untuk sebuah jamuan. Terimakasih banyak, silahkan anda angkat kaki dari ruangan saya." imbuh Arga, Mr. Gerald segera bangkit dari kursi dengan senyuman di bibirnya.


"it's okay, no problem. Maybe next time. Saya minta maaf jika membuat anda dan istri anda merasa tak nyaman dengan kehadiran saya, saya akan segera keluar dari ruangan anda. Tuan Arga." ada penekanan dalam penyebutan nama Arga, Mr. Gerald tersenyum smirk dengan tatapan licik. Pak Sam membukakan pintu untuknya, mereka saling beradu pandang dengan sorot yang menantang satu sama lain.


Erina merasakan atmosfer yang mencekam antara ketiga laki-laki yang berada satu ruangan dengannya saat ini, ia merasa datang di waktu yang tidak tepat.


Selepas kepergian Mr. Gerald, Pak Sam juga meninggalkan ruangan Arga. Ia memberikan kesempatan Tuan Muda nya untuk berduaan dengan istri tercintanya.


***


Mr. Gerald meninggalkan kantor Arga dengan kekecewaan yang amat sangat, rencananya untuk mempertemukannya dengan anak gadis nya kembali gagal. Namun, Mr. Gerald mempunyai rencana lain ketika ia melihat Erina, dia adalah kelemahan bagi Arga.


Laki-laki paruh baya itu segera menghubungi seseorang ketika ia sudah menaiki mobilnya.


Incall


"Iya bos, saya siap menerima perintah." ujar seorang laki-laki dari sebrang sana.


"Siapkan beberapa anak buahmu, ada misi penting yang harus kamu lakukan siang ini." ucap Mr. Gerald


"Siap laksanakan perintah bos, misi apa yang harus saya lakukan bos?" tanya laki-laki tersebut.


"Menculik istri seorang presdir Montana Grup, lakukan pekerjaan kalian secantik mungkin. Masalah fee, jelas lebih besar dari misi-misi lainnya. Kamu mengerti?" tegas Mr. Gerald.


"Siap laksanakan bos." laki-laki itu menutup telfon dari Mr. Gerald.


End call


Mr. Gerald tersenyum smirk, ia begitu yakin dengan menculik istri Arga. Arga akan dengan mudah ia dapatkan, laki-laki berambut silver itu bahkan meyakini tingkat keamanan dan kewaspadaan Arga tidaklah seketat taipan kaya di negerinya.


***


Ruangan Arga


Satu kotak yang berisi makanan penuh yang dibawa Erina untuk Arga hasil dari jerih payahnya yang dilanjutkan oleh Bibi Mar, sekarang bersih tak bersisa.


Arga begitu menikmati makan siangnya kali ini, bahkan bisa dikatakan. Ini adalah makan siang ter nikmat di sepanjang hidupnya. Bagaimana tidak? Ia sudah seperti anak kecil yang merengek untuk di suapi sepanjang makan siangnya tadi.


Erina bahkan hampir kewalahan dengan tingkah suaminya itu, dia tidak hanya direpotkan dengan menyuapi Tuan Muda. Tapi juga sesekali merasakan sentuhan-sentuhan nakal dan beberapa kali kecupan di seluruh wajahnya.


"Sudah sayang, makanannya sudah habis." lirih Erina sambil menunjukkan kotak makan yang sudah bersih tak tersisa.


Arga menyunggingkan senyumannya, senyuman yang paling manis menurutnya.


"Anak pintar." goda Erina dengan mengelus lembut kepala Arga. Erina terkekeh karena Arga hanya menurut saja dengan perlakuan Erina.


"Sayang ... aku pulang dulu ya, kamu habis ini kan ada rapat. Aku tak mau mengganggumu terlalu lama." seru Erina sambil membereskan kotak makannya.


Arga merucutkan mulutnya, seolah tak rela Erina meninggalkannya. Arga menghela nafas berat, lalu beranjak dari sofa yang ia duduki.


"Pak Sam, masuklah." seru Arga via interkom, tak lama Pak Sam masuk kedalam ruangan Arga.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Pak Sam yang kini berdiri di hadapan Arga.


"Bisakah rapat hari ini kita tunda?" ucapnya dengan nada memelas.

__ADS_1


Pak Sam tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.


"Mohon maaf Tuan, rapat hari ini mengenai akuisisi perusahaan Corin Corp. Jika kita menunda akan sangat merugikan bagi kita Tuan." Jawab Pak Sam tegas.


Erina yang tidak tahu menahu masalah bisnis hanya mengerutkan kening karena bingung, dia hanya menangkap bahwa Arga ingin membatalkan rapat karena kehadirannya.


"Sayang, aku akan pulang sekarang. Jadi aku mohon jangan melakukan hal konyol hanya karena kedatanganku di kantor ini." Erina merasa bersalah karena kehadirannya yang kurang pas momennya.


Arga hanya melihat Erina dengan raut wajah sedih, seolah akan berpisah selama beberapa hari saja.


"Tuan, sebaiknya nona di antar oleh bodyguard. Keselamatan nona saat ini harus di prioritaskan." Pak Sam meyakinkan Arga untuk mencari seseorang untuk mengantarkan Erina, Arga yang mulai mengerti arah pembicaraan Pak Sam segera mengiyakan.


"Baiklah, tapi siapa? Aku tak mau Erina ku satu mobil dengan laki-laki lain." Arga segera membayangkan Erina bersama salah satu bodyguard nya dan raut wajahnya seketika berubah kesal.


Arga menjetikkan jarinya, dia seperti mendapat ide cemerlang.


"Suruh bawahan mu yang dulu pernah menemani Erina di acara ulang tahun tante Sanjaya." ucap Arga dengan penuh semangat.


Pak Sam segera menganggukkan kepala tanda mengerti dengan bawahan yang dimaksud Arga adalah Gea. Ia segera menyuruh Gea untuk menghadap ke ruangan Arga.


Erina yang masih heran dengan maksud kedua laki-laki didepannya hanya bisa mendengus pelan.


***


Gea sudah berada di ruangan Arga, dia tampak semangat dengan tugas yang akan diterimanya. Karena itu artinya ia akan mendapat tambahan bonus yang bisa berkali lipat dari gajinya.


"Ingat selalu pesanku, pastikan keselamatan nona. Jangan biarkan siapapun mendekatinya. Oke." titah Arga kepada Gea.


Gea hanya menganggukkan kepala dengan mantap, "Baik Tuan, saya akan selalu mengingat pesan Tuan." lirih nya.


Arga memberikan pelukan hangat saat Erina hendak meninggalkannya, Erina yang masih nampak kebingungan dengan pengawalan yang dilakukan untuknya hanya menuruti saja kemauan suaminya itu.


***


Erina dan Gea sudah berada di loby kantor, mobil milik Arga sudah menunggu di depan. Seorang laki-laki yang berprawakan kurus tinggi membukakan pintu untuk Erina dan Gea.



Gea merasa takjub dengan interior mobil milik bosnya itu. Gea hampir saja terbentur pinggiran pintu karena matanya tak henti mengagumi kemewahan di dalam mobil Maybach Exelero milik Arga.


Mobil yang ditumpangi Gea dan Erina berjalan meninggalkan perusahaan Montana Grup, sopir Arga beberapa kali melirik ke arah spion mobil yang ia kendarai. Tampak mobil suv berwarna hitam terlihat mengikuti mobil milik Arga, sang sopir yang bernama Roni itu pun segera melajukan kecepatan mobil yang ia kemudikan.


Roni tersenyum lega karena berkat keahlian mengemudi nya ia berhasil lolos dari mobil yang membuntutinya sedari keluar dari kantor bosnya itu. Erina merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Roni. Pasalnya, tak biasanya Roni mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Ada apa pak? Apa ada sesuatu yang sedang terjadi?" raut wajah Erina nampak panik.


"Tidak ada nona, semua baik-baik saja." Roni mencoba menenangkan Erina.


"Pak, bisa berhenti sebentar." ucap Erina kepada Roni.


"Iya nona, ada apa memangnya non?" tatapan Roni tak lepas dari spion mobil, Roni masih terus waspada karena takut mobil misterius itu berhasil mengejarnya lagi.


Gea yang sudah tersadar dari rasa kagumnya itu merasa bingung dengan perintah Erina yang menyuruh memberhentikan mobil.


"Kenapa nona?" tanya Gea dengan mengernyitkan keningnya.


"Aku lupa kalau sopir ku masih di kantor suamiku, sekarang dia menuju ke sini untuk menjemputku." Erina mencoba menjelaskan kepada Roni dan Gea.


"Tapi nona ... nanti Tuan ...." Kata-kata nya terhenti, Erina tersenyum. Ia seolah paham akan kecemeasan Gea.


"Nanti aku yang akan bilang pada Tuan, kamu tenang saja ok." tutur Erina.


Dengan hati-hati akhirnya Roni menghentikan mobilnya, ia masih tampak cemas dengan mobil misterius itu. Selang beberapa menit Pak Yan sudah sampai di lokasi yang disebutkan Erina.


Erina menggenggam erat tangan Gea, ia memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Gea hanya mengangguk lemah, ia tak bisa menolak permintaan Erina saat ini.


Erina sudah masuk kedalam mobil miliknya, sementara Gea dan Roni memutar balik mobil ke arah kantor.


***


Mobil suv yang membuntutinya ternyata sedang menunggu di sebrang jalan, mereka sempat kehilangan jejak mobil yang dikendarai Roni.


"Eh, lihat itu. Itu mobil yang tadi bukan?" seru salah seorang dari ketiga pria kekar yang berada dalam mobil itu.


"Wah, bener tu. Tancep gas bang kita susul mobil itu sebelum kita kehilangan jejak lagi." tukas seorang lainnya.



Karena dirasa aman, Roni melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Namun naas, mobil yang tadi sempat tidak terlihat kini mulai menyalip dan menghentikan secara paksa mobil yang dikendarainya.


Ketiga laki-laki dengan badan kekar turun dari mobil, mereka terlihat seperti trio pentol korek karena kepala mereka plontos semua.


"Cepet turun atau gue pecahin kaca mobil mewah ini." teriak salah satu dari pria kekar itu.


Gea yang berada dalam mobil, nampak panik. Walaupun dia jago beladiri. Namun, melihat wajah sangar dan badan ketiga pria itu yang segede sumo. Seketika membuat nyalinya menciut, Gea hanya bisa pasrah dan berdoa semoga ketiga pria kekar ini tak menyakitinya.


Gea turun dari mobil dengan wajah ketakutan, ia mencoba memberanikan diri bertanya pada salah satu pria yang kini sedang memegang lengannya dengan kasar.


"Apa yang abang inginkan, jangan sakitin saya ya bang." ucapnya memelas.


Namun, pria itu malah tertawa senang. Ia tak habis pikir istri dari seorang konglomerat begitu polos dan lugu.

__ADS_1


"Udah, nona santai saja. Nona tidak akan kami sakiti kalau nona nurut sama kita." serunya dengan senyuman smirk.


Mereka segera menyeret Gea untuk masuk ke dalam mobil suv hitam, Gea mencoba memberontak namun mulutnya segera dibekap oleh salah satu dari mereka.


Roni yang luput dari pengawasan ketiga pria kekar itu, segera keluar dan bersembunyi di balik batang pohon.


Tiba-tiba ada seorang pemuda yang berwajah tampan dengan mengenakan jas lengkap dengan dasinya mencoba untuk menolong Gea. Dia segera menghajar habis-habisan ketiga pria kekar itu.


Roni masih bersembunyi di balik pohon, badannya gemetar melihat situasi yang tengah di alaminya saat ini.


"Itu kenapa kok mau diculik?" suara seorang laki-laki berprawakan acak adul sukses mengejutkan Roni.


"Astaghfirullah! Ngagetin aja!" pekik Roni.


Laki-laki itu hanya nyengir kuda.


"Iya, kenapa itu bisa di culik? Oh ya, nama gue Bambang dan ini Ismed." seru seorang teman laki-laki acak adul itu, Roni memandang dari atas sampai bawah. Ia tertegun melihat laki-laki yang bernama Bambang itu.


"Saya Roni bang, saya juga gak tau ... saya akan coba telpon bos saya." jawab Roni sambil meraih ponsel di sakunya.


***


Pak Sam nampak mengernyitkan kening setelah mendapat telpon dari Roni. Roni menjelaskan panjang lebar kronologinya kepada Pak Sam, dia bersyukur Erina selamat dari aksi penculikan. Pak Sam sudah bisa menebak siapa dalang dibalik semua ini.


Arga yang melihat raut wajah Pak Sam yang tak biasa itu, segera menanyakan apa yang sedang terjadi. Pak Sam menjelaskan secara singkat tentang penculikan yang tengah di alami Gea. Ia juga menenangkan Arga bahwa Erina sudah sampai rumah dengan selamat. Raut wajah Arga nampak lega mendengar Erina baik-baik saja.


Arga mengintruksi untuk menunda sementara rapat yang sedang berlangsung itu, Arga dan Pak Sam segera menuju lokasi tempat kejadian penculikan Gea.


***


Sementara itu, pria berjas yang di panggil Bambang dengan sebutan Zeno itu masih sibuk berkelahi dengan dua pria kekar, pria kekar yang satunya sedang sibuk menyeret wanita yang hendak diculik ke dalam mobil. Salah satu pria kekar itu menjambak rambut Zeno dan pria yang satunya memukul perut Zeno.


Zeno hendak menjambak rambut pria kekar yang menjambak rambutnya tapi tidak bisa karena kepalanya botak.


"Kurang ajar! Gua gak bisa maen jambak-jambakan karena mereka botak, sial!"


Zeno pun menendang lutut pria kekar yang menjambak rambutnya itu dan melepaskan diri. Dia pun menendang pelipis pria kekar yang memukul perutnya dengan tendangan yang mengagumkan.


Kedua pria kekar botak itu pun dipukul habis-habisan oleh Zeno. Mereka berdua hampir menangis dan minta ampun. Mereka sampai berlutut di kaki Zeno.


"Ampun, Bang! Jangan pukul lagi," mohon pria kekar yang menjambak Zeno.


"Iya, Bang! Ampun!" sahut pria kekar yang memukul perut Zeno.


Zeno pun tersenyum smirk dan hendak menolong wanita itu dari pria kekar botak yang satunya. Namun takdir berkata lain, fokus Zeno terpecah ketika melihat ayam jago miliknya yang hendak kabur lagi.


"Zaenudin!" Zeno pun tak memperdulikan penculik itu dan mengejar Zaenudin yang sudah terbang menjauh, Zeno tidak ingin kehilangan Zaenudin untuk kedua kalinya.


Kesempatan itu pun digunakan untuk penculik untuk kabur dan membawa wanita targetnya itu.


Bambang, Bang Ismed, dan Roni pun tak habis pikir dengan kelakuan Zeno. Padahal sudah mau berhasil, malah gagal gara-gara Zaenudin kabur. Emang ayam tidak berakhlak sama sekali.


"Waduh! Gagal total," ujar Roni sambil menepuk jidatnya.


***


Arga dan Pak Sam telah sampai di lokasi yang sudah di share oleh Roni.


"Bagaimana Gea bisa diculik?" tanya Arga kepada Roni.


"Saya juga gak paham, Tuan," jawab Roni sambil menunduk.


Bambang yang seperti mengenal sosok Arga pun langsung menyapanya.


"Eh! Lu kan Arga Hutama?! CEO perusahaan Montana Grup," sapa Bambang sedikit ragu.


Arga mengeryitkan dahinya berusaha mengingat sosok Bambang.


"Kamu Bambang Gentolet? Anak Pak Gatot Gentolet, CEO Gentolet Corp?!" sahut Arga.


Bambang dan Arga saling berpelukan. Ternyata mereka saling kenal dan sahabat waktu masih kecil.


Pak Sam mendekat ke arah Arga dan berbisik.


"Tuan, keselamatan Gea." lirih Pak Sam.


Mendengar kalimat Pak Sam, Arga segera pamit kepada Bambang dan kawan-kawannya.


Pak Sam segera menyimpulkan, bahwa penculik itu telah salah sasaran. Karena jelas yang di inginkan oleh laki-laki tua itu adalah Erina.


Bersambung


Penasaran dengan Bambang, Zeno, Ismed dan si ayam bar-bar yang sukses membuat Zeno gagal dalam menyelamatkan Gea. Kuy ikuti kisah mereka dalam novel bergenre romantis, komedi yang berjudul Mafia Kampungan In Love by Linanda Anggen



Zeno



Bambang

__ADS_1



__ADS_2