Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Aku Akan Membantumu


__ADS_3

"Kamu tidak apa-apa Nona?" tanya laki-laki itu. Namun, betapa kagetnya Anggen melihat siapa yang sudah menolongnya itu. Begitu juga dengan laki-laki yang kini tengah berdiri tepat di hadapan Anggen itu, Ia merasa sangat terkejut.


"Nona Anggen ....," sapa laki-laki tersebut, yang tak lain adalah Eric. Laki-laki itu membulatkan matanya tak percaya.


"Anda ....?" ucap Anggen yang tak kalah terkejutnya.


Mereka berdua tampak terdiam sesaat, sebelum akhirnya Eric memilih duduk di sebelah Anggen.


"Dunia memang sangat sempit ya, buktinya kita selalu bertemu secara kebetulan seperti sekarang ini," ucap Eric membuka percakapan.


Tak ada sahutan dari Anggen, ia hanya mengulas senyum menanggapi ucapan Eric.


Laki-laki itu membungkukkan tubuhnya dengan lutut menopang kedua tangannya, ia menoleh ke arah Anggen seraya berkata, "Butuh tumpangan?"


Anggen segera menoleh ke arah Eric, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak terimakasih," sahutnya.


"Baiklah, kalau begitu. Aku pergi dulu nona," Eric beranjak dari tempat duduknya, "Oh ya, disini sering terjadi tindak kriminal. Terakhir ada seorang gadis duduk disini dan diculik oleh segerombolan preman," imbuhnya.


Eric berjalan pelan menuju mobilnya, Anggen yang mendengar pernyataan Eric seketika bergidik ngeri. Pikirannya langsung membayangkan bagaimana jika seandainya kedua pemuda itu kembali dan mengganggunya, gadis itu segera menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran negatifnya dan bangkit dari duduk nya.


"Tuan ... tunggu," pekik Anggen.


Eric segera mendongakkan kepalanya, "Iya ... apa kamu memanggilku nona?" goda Eric.


Anggen mendesah lirih, ia merasa tak enak dan malu kepada Eric.


"Ehm ... Bo-bolehkah, aku menumpang sampai depan sana Tuan?" ucap Anggen dengan terbata, Ia menundukkan kepala menahan malu.


Eric menyunggingkan sebuah senyuman, "Masuklah?" perintah Eric.


Anggen segera mengangkat kepalanya, Ia begitu senang karena Eric memberinya tumpangan. Namun, Anggen masih bergeming.


"Apa perlu aku membukakan pintu untukmu nona?" tawar Eric, karena melihat Anggen yang masih tak bergerak dari tempatnya.


"Tidak ... tidak Tuan, aku bisa membukanya sendiri." Anggen segera berlari kecil dan masuk ke dalam mobil Eric.


Laki-laki itu tampak tersenyum simpul melihat tingkah Anggen.


🍁🍁🍁


Suasana di Dalam Mobil


"Rumahmu dimana nona?" tanya Eric memecah keheningan antara mereka berdua.


"Eh, tidak usah mengantar sampai rumah Tuan. Aku akan memesan taksi online saja," ucap Anggen sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


"Aku tidak bilang akan mengantarmu pulang kan, aku hanya ingin tau dimana rumahmu? Itu saja," ucap Eric tanpa ekspresi.


Lagi-lagi Anggen menunduk malu karena kalimat Eric, gadis itu terlihat kesal dan tak menggubris ucapan Eric. Ia memalingkan wajahnya kesamping dan menatap pemandangan luar dari dalam mobil.


Mobil berhenti karena lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah, Anggen yang sedari tadi memandang ke luar mobil tampak terkejut mendapati sosok yang dulu sangat Ia cintai, berjalan bergandengan tangan dengan seorang gadis.


Mereka berdua melewati mobil yang tengah ditumpangi Anggen, rasa sesak kembali menghujam dadanya. Gadis itu tampak menutup rapat kedua matanya, menyapu airmata yang menggenang di kedua sudut matanya.



Eric yang melihat gelagat aneh Anggen, tampak menatap lekat gadis yang berada disampingnya itu. Eric mulai curiga perubahan sikap Anggen di karenakan oleh dua orang yang baru saja menyebrang jalan itu.


"Apa laki-laki itu yang membuatmu menangis selama ini?" tanya Eric sambil menunjuk dua orang yang masih belum terlalu jauh.


Anggen segera membuka kedua kelopak matanya, matanya terlihat berkilat akibat pantulan cairan bening yang menggenang.


Gadis itu mengangguk lemah, mengiyakan ucapan Eric. Lampu sudah berubah warna menjadi hijau, laki-laki bermata indah itu kembali mengemudikan kendaraannya. Eric menghentikan mobilnya di parkiran restoran, Anggen yang sudah tidak fokus terlihat heran.


"Kenapa kita berhenti disini?" tanya Anggen penasaran.


Eric tak menjawab pertanyaan gadis itu, Ia segera turun dari mobil dan berjalan memutari mobil.


Gadis itu terkesiap melihat Eric sudah berada di depan pintu mobilnya, laki-laki itu segera membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Anggen turun.



"Ayo," ucap Eric. Salah Satu tangannya menengadah tepat di wajah Anggen, gadis itu mengerutkan kening. Semakin bingung dengan sikap Eric.


"Letakkan tanganmu di atas tanganku," perintah Eric.


"Untuk apa?" protes Anggen.


"Aku akan membantumu," bisiknya tepat di telinga Anggen.


Degg ....


Jantung Anggen berdetak lebih cepat, tapi Ia coba untuk menguasai perasaannya.


Eric yang gemas melihat Anggen masih bergeming, segera menarik tangan gadis itu dan meletakkan di atas tangannya. Laki-laki mulai meremas jemari Anggen.


Darah Anggen berdesir merasakan tangannya bersentuhan dengan Eric, lagi dan lagi Anggen terus dibuat malu dengan sikap Eric.


Eric tersenyum melihat perubahan wajah Anggen, kedua pipi gadis itu tampak bersemu merah. Menandakan bahwa sang pemilik sedang tersipu malu.


"Sudah siap?" tanya Eric.

__ADS_1


Anggen hanya menatap wajah Eric sekilas, Ia masih mencoba mencerna kalimat Eric tentang 'Aku akan membantumu'.


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya, Eric segera berjalan dengan tetap menggandeng tangan Anggen.


Mereka berdua masuk ke restoran tersebut, Eric memilih duduk di tengah restoran itu. Anggen hanya bisa menundukkan kepala, laki-laki itu menarik kursi dan mempersilahkan Anggen untuk duduk di kursi tersebut.


Lagi-lagi Anggen hanya menuruti perintah Eric, Ia mendudukkan tubuhnya di kursi itu. Anggen menggigit bibir bawahnya, perasaannya sekarang benar-benar tak karuan dengan sikap Eric.


Anggen mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran, manik coklatnya menangkap sosok tunangannya yang sudah mengkhianatinya. Anggen segera menoleh ke arah Eric dengan tatapan bertanya-tanya.


Eric yang duduk di depan Anggen hanya mengulas senyum melihat reaksi Anggen.


"Kita mulai sekarang ... biarkan aku membantumu membalas rasa sakit hatimu pada laki-laki itu," tutur Eric.


Sorot mata Anggen tampak sendu, Ia mulai mengerti tujuan Eric. Namun, Anggen masih tampak ragu.


Eric melirik sekilas pada meja tempat mantan tunangan Anggen dan kekasihnya itu, Ia mengulas senyuman.


Begitupun dengan Anggen, gadis itu melakukan hal yang sama dengan Eric. Ia melirik kepada mantan tunangannya itu. Namun, di luar kendali Anggen. Mata mereka beradu, mantan tunangannya menatap ke arah nya. Sorot matanya tajam melihat padanya dan berganti menatap Eric. Tangannya terlihat mengepal kesal, Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke meja Eric dan Anggen.


Bersambung ....


Eric




πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Kira-kira apa ya yang dilakukan mantan tunangan Anggen?


A. Minta foto


B. Minta makan


C. Minta di unyeng-unyeng


D. Minta di tabok


Dan sepertinya option di atas hanyalah pikiran absurd author🀭


Kuy sembari menunggu update author, bisa mampir ke novel temen author yang keren banget. Kisah perjuangan cinta mbak Isna dan Tuan Krisna di Istri Kedua Tuan Krisna by kak Syala YayaπŸ˜πŸ’–


__ADS_1


__ADS_2