Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Mencari


__ADS_3

Arga telah sampai di sebuah restoran untuk menghadiri acara jamuan makan malam, dia sama sekali belum menghubungi Erina tentang kepulangannya. Masih dengan perasaan kecewa terhadap Erina. Sepertinya ini adalah sebuah hukuman untuk Erina, menurutnya.


Hujan masih belum reda. Pak Yan yang sudah beberapa jam menunggu di ruang khusus sopir di kantor Arga, akhirnya menyadari bahwa hanya dia dan security yang masih berada di kantor. Pak Yan hendak bergegas pulang kerumah dan menemukan tas Erina masih berada di mobil.


"Oh, pantes saja nona Erina tidak menelfon. Lha ini, tasnya ketinggalan di mobil." ucap Pak Yan seraya mengemudikan kendaraannya meninggalkan lokasi kantor.


Beberapa menit kemudian, Pak Yan telah sampai di kediaman Arga dan Erina. Pak Yan segera menghampiri Bibi Mar.


"Bi, bisa minta tlong?" tanya Pak Yan.


"Ada apa Pak Yan?" sahut Bibi Mar.


"Ini lho, tas nona Erina ketinggalan di mobil tadi. Minta tolong hubungi Pak Sam, mungkin nona Erina lupa dan mencari tasnya Bi." seru Pak Yan yang sudah mengira bahwa nona Erina bersama Tuan Arga.


"Iya Pak Yan." jawab Bibi Mar singkat.


Bibi Mar segera mengambil telfon dan menghubungi Pak Sam.


"Halo Pak Sam, ini tas nona Erina ketinggalan di mobil tadi. Barangkali nona Erina mencari keberadaan tasnya, sepertinya lupa tadi tidak membawa tas waktu turun di kantor Tuan." jelas Bibi Mar kepada Pak Sam di telfon.


Pak Sam terdiam sejenak, mencoba memahami situasi karna pada saat itu Pak Sam belum bertemu sama sekali dengan Erina.


"Maaf Bi Mar, Tuan sekarang sedang di restoran untuk jamuan makan malam. Sepertinya nona Erina tadi tidak bertemu dengan Tuan Arga." ucap Pak Sam tenang.


"Berarti nona Erina kemana ya? sebentar Pak Sam." Bibi Mar menoleh ke arah Pak Yan.


"Pak Yan, nona Erina tidak bersama Tuan. Kamu tadi yakin nona Erina ke kantor?" ucap lirih Bibi Mar.


"Iya, yakin Bi. Tadi sore saya mengantar nona Erina tepat di kantor Tuan, lalu saya disuruh menunggu di basement Bi. Saya hanya menuruti yang nona Erina perintahkan." jelas Pak Yan. Bibi Mar dan Pak Yan tampak kebingungan dengan keberadaan nona Erina sekarang, mereka antara takut dan khawatir dengan keadaan nona Erina.


Pak Sam yang mendengar percakapan Bibi Mar dan Pak Yan sedikit gusar, takut terjadi sesuatu dengan nona Erina.


"Nona Erina tidak ada bersama Pak Yan dan belum pulang kerumah Pak Sam." suara Bibi Mar terdengar tidak bertenaga.


"Baik Bi." Pak Sam menutup telfon dan melihat ke arah Tuan Arga yang tengah sibuk berbincang dengan koleganya.


Sekertaris Sam menunggu situasi yang tepat untuk menyampaikan kabar yang baru saja dia terima.


Arga melihat ke arah Pak Sam dan menjentikkan tangannya, Pak Sam mengikuti intruksi dari Tuan Arga untuk mendekatinya.


"Hari ini suasana hatiku masih sedikit buruk, siapkan kamar di hotel untuk menginap malam ini. Aku akan pulang kerumah besok pagi." perintah Tuan Arga kepada Pak Sam.


"Mohon maaf Tuan, nona Erina tidak ada dirumah sekarang." jelas Pak Sam.


"Apa maksudmu? Erina pergi dengan Rendra?" sahut Arga. Raut wajah Arga tampak sangat tidak senang.


"Bukan Tuan, tadi nona Erina ke kantor di antar Pak Yan. Dan Pak Yan mengira nona Erina sudah bersama Tuan." ucap Pak Sam mencoba menjelaskan kepada Tuan Arga.


"Dia dirumah juga tidak ada?" Arga tampak cemas.


"Tidak ada Tuan." seru Pak Sam.


Arga segera berpamitan kepada kolega-koleganya dan bergegas keluar menuju mobil di ikuti dengan Pak Sam.

__ADS_1


"Kita ke tempat Rendra." ucap Arga kepada Pak Sam. Pak Sam hanya menganggukkan kepala, menyetujui.


***


Hujan masih mengguyur dengan derasnya, perasaan Arga kini berkecamuk tak karuan. Pikirannya terpusat "kemana Erina pergi?". Terlihat jelas kekhawatiran Arga terhadap Erina. Rasa kesalnya akan foto Erina dan Rendra sudah dia kesampingkan. Berganti dengan rasa cemas yang menyelimuti, berharap Erina baik-baik saja.


Mobil telah sampai di apartemen Rendra, Arga berhambur keluar dan segera masuk lift menuju lantai tempat tinggal Rendra. Arga mengetuk pintu Rendra dengan keras. Rendra yang tengah sibuk bercengkrama dengan seorang gadis cantik, terkejut dengan kedatangan Arga secara tiba-tiba.


" Dimana Erina?" tanya Arga sambil mencengkram baju Rendra.


"Apa maksudmu?" Rendra mencoba melepaskan cengkraman Arga, tapi cengkraman nya terlalu kuat.


"Jangan pura-pura tak tahu, dimana kamu sembunyikan Erina ku?" teriak Arga.


"Aku bahkan tak tahu Erina pergi kemana?" seru Rendra kebingungan.


"Apa kamu sepicik itu? aku bahkan mulai tak mengenalimu. Kamu mencoba menggoda Erina dibelakang ku." Arga mendaratkan pukulan tepat di wajah Rendra. Rendra tersenyum sinis.


Gadis yang bersama Rendra hanya bisa berteriak ketakutan. Pak Sam mengintruksikan kepada gadis itu supaya meninggalkan tempat tinggal Rendra. Gadis itu mengangguk menuruti perintah Pak Sam. Dia segera berlari keluar.


"Ya, aku memang menginginkan Erina. Aku berharap bisa merebutnya darimu. Dan sekarang Erina jelas-jelas telah meninggalkanmu." senyum Rendra semakin mengembang di bibirnya.


Satu pukulan hampir mendarat di wajahnya sekali lagi, namun tangan Rendra dapat menahan pukulan Arga. Dan menghempaskan nya ke udara.


"Tuan, sepertinya keselamatan nona Erina sekarang lebih penting daripada pengakuan perasaan kalian berdua." seru Pak Sam mencoba menengahi Arga dan Rendra.


Seketika itu Arga melepaskan cengkraman nya. Rendra yang sudah tersungkur di lantai, mencoba untuk berdiri.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu lain waktu." ucap Arga masih menahan amarahnya.


"Kamu bahkan tidak sadar, semua ini terjadi karena ulahmu." ucap Arga penuh penekanan.


"Terserah apa katamu, aku bantu cari Erina." Rendra langsung berhambur keluar menuju lift.


Arga dan Pak Sam segera berlari menyusul, belum surut emosinya.


Situasi dalam lift.


"Lupakan, aku akan mencari istriku. Kamu tak usah ikut campur." ucap Arga tanpa menoleh ke arah Rendra.


"Aku tak peduli, aku akan tetap mencari Erina." sahut Rendra. Dia tak perduli dengan ancaman Arga.


Kedua sahabat ini benar-benar sama keras kepalanya.


gumam Pak Sam, Pak Sam seolah mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang sama persis di alaminya dengan kejadian saat ini.


Arga dan Rendra bersikeras mencari barang milik Rendra yang telah di hilangkan Arga. Barang yang sangat berharga untuk Rendra, barang peninggalan dari kakeknya. Tak sengaja dihilangkan oleh Arga. Rendra yang saat itu sangat murka, begitu marah kepada Arga. Namun, Arga terus meminta maaf dan membantu mencarinya walaupun telah dilarang Rendra.


Rendra segera berlari menuju mobilnya, Arga hanya melihat Rendra dari belakang. Ada perasaan aneh di hati Arga melihat Rendra bersikeras untuk membantu mencari Erina.


Pak Sam dan Arga sudah berada di dalam mobil. Pak Sam memberi ide untuk mengecek CCTV kantor.


"Tuan, bagaimana kalau kita mengecek CCTV di kantor? Berdasarkan laporan Bi Tina tadi. Nona Erina pergi ke kantor untuk menemui anda." jelas Pak Sam, Arga segera mengiyakan.

__ADS_1


Mobil melaju kencang menuju kantor. Sesampai di kantor Pak Sam dan Arga segera turun dan berlari ke ruang operator CCTV.


Arga melihat dengan seksama layar monitor besar di ruangan tersebut. Tampak sosok perempuan turun dari mobil yang tak lain adalah Erina. Erina berjalan dari depan kantor menuju ke pintu masuk kantor, tapi langkahnya terhenti dan kemudian langsung berjalan meninggalkan kantor.


Arga terdiam memikirkan sesuatu.


Kenapa dia berhenti dan tiba-tiba meninggalkan kantor, ada apa sebenarnya?


Arga seolah mengingat-ingat sesuatu.


"Clarissa. Ya, Erina pasti melihat saat aku bersama Clarissa." Arga menepuk pundak Pak Sam.


"Ayo kita pergi, semoga dia masih tidak jauh dari lokasi kantor." ucap Arga, karna terakhir melihat di CCTV Erina berjalan keluar kantor.


Arga dan Pak Sam menyusuri jalanan yang mulai terlihat sepi. Hari semakin larut tapi Erina masih belum ditemukan keberadaannya, bahkan Pak Sam sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Erina. Tapi belum juga ada tanda-tanda dimana Erina sekarang.


Arga semakin tampak khawatir, gurat lelah dan cemas menyatu jadi satu di wajah Arga.


"Betapa Bodohnya aku, aku sudah membiarkanmu pergi. Awalnya aku ingin menghukummu dengan caraku, tapi sepertinya sekarang aku yang menderita akibat ke egoisanku. Dimana kamu Erin?" Arga mendesah lirih, menyalahkan ke egoisannya.


Pak Sam melirik ke arah Arga tampak mencemaskan tuannya.


"Tuan, malam semakin larut. Apa tidak sebaiknya anda beristirahat dulu? Saya dan anak buah saya akan semaksimal mungkin mencari nona Erina." seru Pak Sam mencoba membujuk Arga.


Arga hanya bernafas berat.


"Bisakah aku istirahat sedangkan Erina belum aku temukan." ucapnya lirih dan tak bersemangat.


"Saya sangat mengerti kondisi anda Tuan. Tapi istirahat akan membuat anda kembali bugar, anda tidak ingin kan bertemu dengan nona Erina dengan fisik lemah?" ucap Pak Sam membujuk Arga sekali lagi.


Arga akhirnya mengalah dan menuruti saran Pak Sam. Pak Sam mengantar Arga pulang.


Sesampainya dirumah, Bibi Mar dan Pak Yan masih terjaga menunggu majikannya pulang, tapi begitu melihat Tuan Arga seorang diri. Bi Tina dan Pak Yan kembali diselimuti perasaan khawatir.


Ingin sekali mereka bertanya keberadaan nona Erina kepada Tuan Arga, tapi segera di urungkan niat mereka. Melihat gurat wajah Tuan Arga yang sangat tidak bersahabat.


Arga melangkah ke kamar dengan langkah gontai, dia langsung merebahkan diri ke tempat tidur tanpa mengganti bajunya.


Dia rebahkan diri dan menatap langit-langit kamarnya, sunyi yang sekarang ia rasakan.


"Erina, aku sangat merindukanmu dimana kamu sekarang?" ucap lirih Arga, pikirannya melayang membayangkan Erina.


Dan akhirnya Arga terlelap dalam lelahnya. Masih dengan pakaian lengkap dengan sepatu menempel di kakinya.


Bersambung


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan teman-teman semua, jangan lupa klik fav + coment + rate + like + vote ya.. 🥰


__ADS_2