
Erina merasa sedikit tak nyaman dengan tatapan yang diberikan Nyonya Sanjaya untuknya, dia tak berani berucap sepatah katapun. Erina sadar, keberadaannya di pesta ini tak begitu di inginkan oleh Nyonya Sanjaya dan juga Clarissa.
Erina memutar bola matanya, pandangannya terhenti ketika Clarissa menatapnya tajam sarat akan kebencian di dalamnya. Erina mengalihkan perhatian ke sembarang arah dengan perasaan yang benar-benar tak menyenangkan. Arga yang melihat gerak gerik aneh Erina, seolah tahu siapa orang yang membuat istrinya tak nyaman. Arga melempar pandangannya dengan tajam ke arah Clarissa, pandangan mata mereka beradu. Sorot mata kecoklatan Arga tampak sangat tak bersahabat. Arga segera mengalihkan pandangan nya pada Erina, Arga mendekatkan tubuhnya dan mengarahkan wajahnya agar lebih dekat dengan telinga Erina.
"Sayang, kamu bisa pergi dengan Gea dulu untuk ambil minum. Aku ingin sedikit memberi pelajaran pada Clarissa." bisik Arga kepada Erina.
Mata Erina membulat, terkejut dengan kalimat Arga. Ingin rasanya Erina membantah, tapi dia tidak mempunyai keberanian saat ini. Erina hanya menganggukan kepala dan segera mengajak Gea untuk menjauh dari kerumunan orang kaya ini.
Sebelum meninggalkan Nyonya Sanjaya, Erina menundukkan sedikit kepalanya. Nyonya Sanjaya hanya mengangkat satu sisi ujung bibirnya. Kebencian yang tak beralasan Nyonya Sanjaya, membuat Arga tak ingin tinggal diam.
Arga mendekat ke arah Clarissa, tatapannya masih sangat tajam dan membuat Clarissa salah tingkah.
"Ikut aku Cla .... " seru Arga. Clarissa hanya menuruti ajakan Arga, dia mengekor di belakang Arga.
Nyonya Sanjaya hanya mengawasi dari samping, begitu juga dengan Rendra. Rendra merasa Clarissa memang sudah di luar batas, mungkin jika dia di posisi Arga dia bisa melakukan sesuatu yang lebih heroik untuk menyelamatkan Erina dari rencana jahat Clarissa. Begitulah pikir Rendra.
Arga sudah berdiri menjauh dari Nyonya Sanjaya dan kerumunan orang-orang, Clarissa sudah berada tepat di depan Arga. Arga memandang lekat-lekat ke arah Clarissa, bukan pandangan seorang sahabat tapi layaknya pandangan seorang penyelidik kepada seorang tersangka. Clarissa hanya menundukkan kepala, ia merasa bahwa kali ini Arga tak akan memberinya ampun.
"Apa kamu masih belum puas?" suara Arga terdengar begitu dingin dan datar.
"Apa maksudmu .... ?" sahut Clarissa, Clarissa mendongakkan kepala, dia memberanikan diri menatap Arga yang masih di selimuti emosi.
"Jangan berlagak bodoh, aku tahu kamu sudah menghasut tante Sanjaya untuk mempermalukan Erina? Tapi Erina ku tak sebodoh yang kalian pikir." seru Arga, sorot matanya masih terlihat tajam. Siapapun yang sedang melihat Arga tak akan mampu untuk membalas tatapan mata Arga, begitu juga dengan Clarissa yang segera membuang pandangannya ke segala arah.
"Aku hanya ingin menyadarkanmu." ucapnya lirih.
Arga mendengus kesal, dia melipat kedua tangan di dadanya. Menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.
"Aku sudah cukup bersabar kepadamu Cla, seharusnya kamu berkaca pada dirimu sendiri. Semakin kamu ingin menyakiti Erina, maka aku sendiri yang akan turun tangan untuk menghadapimu." tangan Arga menunjuk tepat di wajah Clarissa.
Erina yang melihat Arga dan Clarissa merasa tak tenang, takut suaminya akan berbuat sesuatu kepada Clarissa. Erina hendak melangkah ke arah Arga, namun segera di hadang oleh Pak Sam.
"Jangan nona, biarkan Tuan menyelesaikan masalah nya terlebih dulu." seru Pak Sam yang kini sudah berdiri tepat di depan Erina.
"Tapi ... Pak Sam, aku takut suamiku akan berbuat yang tidak baik kepada nona Clarissa." sahut Erina, raut wajah Erina menunjukkan kecemasan.
Nona Erina, aku tahu kecemasanmu. Tapi Tuan tak akan senang jika kamu membela Nona Clarissa saat ini.
batin Pak Sam.
"Nona tenang saja, tuan tidak akan berbuat di luar kendali. Dia hanya memberikan peringatan saja kepada nona Clarissa." jelas Pak Sam, namun Erina masih belum sepenuhnya percaya kepada Pak Sam. Erina masih terus memandang dari kejauhan Arga dan Clarissa.
Hati Clarissa seperti disayat-sayat mendengar pembelaan Arga terhadap Erina, padahal dulu dialah orang yang selalu dibela oleh Arga. Airmata yang sedari tadi sudah di tahannya, kini sudah mengalir deras di pipinya.
"Kamu jahat Arga, kamu bahkan sudah melupakan aku bahwa aku adalah sahabatmu dari kecil. Kamu lebih memilih dia yang seorang gadis miskin dan tak jelas asal usulnya .... " Clarissa menghentikan kalimatnya, dia mengusap dengan kasar kedua pipinya yang basah oleh airmatanya.
"Cukup Cla .... " bentak Arga
__ADS_1
"Kamu tidak sadar apa yang sudah kamu lakukan kepada Erina sudah sangat menyakitinya, kamu bahkan sudah membunuh calon anakku." ucap Arga sedikit berteriak. Clarissa segera mendongakkan kepala.
Erina berjalan mendekati Arga dan Clarissa karna Pak Sam sudah tak mempunyai alasan menghentikan Erina. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, seolah tak percaya apa yang baru saja dikatakan Arga.
Sementara Rendra yang juga berdiri tak jauh dari Arga dan Clarissa terkejut bukan main.
Pesta telah di mulai, beberapa penyanyi sudah mulai membawakan lagu andalan mereka.
Semua para undangan tampak begitu bersemangat, namun berbeda dengan Arga, Rendra, Clarissa dan Erina. Mereka di selimuti perasaan berkecamuk di dada mereka masing-masing.
Arga yang menyadari keberadaan Erina yang tak jauh dari tempat nya berdiri segera menghampiri Erina. Sedangkan Clarissa masih tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan Arga.
"Sayang, kamu tak apa-apa kan?" tanya Arga yang sekarang sudah berada di dekat Erina.
Erina masih terdiam, dia melangkah mendekati Clarissa.
Plaaaaakkk ....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Clarissa. Arga dan Rendra membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya. Erina mengatur nafasnya yang masih terengah-engah, kedua sudut matanya sudah di penuhi dengan cairan bening.
"Kamu tahu, bagaimana perasaan seorang ibu ketika dia kehilangan calon anaknya. Kamu tahu, betapa terluka hatinya ketika anak yang dikandungannya harus pergi?" Erina terus mencerca Clarissa.
Clarissa mematung dengan memegang pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan Erina, dia hanya bisa menggigit ujung bibirnya.
"Kamu tak akan tahu, betapa terlukanya aku waktu itu. Aku harus kehilangan anak yang aku kandung. Kenapa kamu setega itu, menyuruh seseorang untuk bertindak kasar kepada seorang wanita yang tengah hamil." Erina memegang dadanya yang mulai sesak, airmatanya terus mengalir.
"Cukup Cla ... kamu sudah benar-benar keterlaluan. Bawa dia pergi Ren, sebelum kesabaranku habis." ucap Arga kepada sahabat nya. Rendra mengiyakan dan segera membawa Clarissa pergi lewat pintu samping menuju rumah utamanya.
Arga memeluk Erina yang masih berurai airmata, ia merasakan kesedihan yang Erina rasakan. Betapa terlukanya Erina dulu ketika dia tahu bahwa ia telah keguguran, hal itu adalah kenangan pahit yang ingin ia kubur dalam-dalam.
"Ayo kita pulang sayang." Arga memapah tubuh Erina.
Pak Sam dan Gea segera mengekor di belakang mereka berdua. Gea yang tak mengerti duduk permasalahan nya hanya bisa memegang perutnya yang sudah terasa sangat lapar, karna sedari tadi dia belum mencicipi makanan yang tersaji di pesta.
***
Erina masih terdiam di pelukan Arga, seolah mengingat sesuatu. Erina segera bangun dari pelukan Arga.
"Dimana Gea?" tanya Erina
"Dia sedang diantar pulang oleh Pak Sam." jawab Arga.
"Segera telfon Pak Sam, aku ingin makan malam bersamanya. Boleh kan?" pinta Erina, Erina memohon kepada Rendra dengan mata yang masih sembab karna sepanjang perjalanan dia tak berhenti menangis.
Arga tersenyum dan mengiyakan permintaan Erina. Ia segera menelfon Pak Sam dan menyuruhnya untuk berputar balik menuju restoran terkenal yang berada di tengah kota.
Pak Sam memberi instruksi kepada pak sopir untuk memutar balik arah tujuannya, Gea yang masih menahan lapar bingung karena tujuan rumahnya sudah hampir dekat tapi kenapa malah putar balik.
__ADS_1
"Tuan ... rumah saya sudah hampir dekat, kenapa malah putar balik?" tanya Gea kebingungan.
"Nona Erina ingin mengajakmu makan malam. Karna kamu terlihat sudah sangat kelaparan?" sahut Pak Sam. Pak Sam melihat Gea memegang perutnya tanpa Gea sadari Pak Sam sejak tadi sudah mendengar beberapa kali perutnya beebunyi meronta ingin diberi makan.
Gea melepaskan tangannya, meringis dan hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Pak Sam menyunggingkan senyumnya.
"Sebentar lagi sampai di restoran, makanlah sepuasmu." seru Pak Sam.
Raut wajah Gea terlihat sangat bahagia.
Perut, kamu sabar ya. Habis ini aku akan memberikan mu makanan yang enak.
gumam Gea sambil mengelus perutnya.
***
Sementara di kediaman Sanjaya, pesta masih berlangsung semakin meriah. Nyonya Sanjaya terlihat sangat bahagia sehingga dia tidak menyadari bahwa anak kesayangannya dan sahabat-sahabatnya sudah menghilang.
Di rumah utama keluarga Sanjaya, Clarissa dan Rendra sudah duduk berhadapan di sofa ruang tengah.
"Sepertinya kamu sudah benar-benar keterlaluan Cla, kamu sudah melakukan suatu kejahatan." ucap Rendra mencoba menyadarkan sahabatnya.
Clarissa menoleh ke arah Rendra dengan tatapan nanar.
"Kamu tahu, apa yang aku rasakan semenjak kehadiran gadis miskin itu. Aku benar-benar terluka, aku seolah tak punya tumpuan untuk berpijak Ren. Dia menghancurkan semuanya." seru Clarissa, di selingi isak tangis.
"Aku tahu Cla, tapi bukankah sekarang lebih baik bagimu untuk merelakan Arga bahagia dengan Erina? Dia sudah menikah Cla, bahkan Arga sangat mencintai Erina. Melebihi cintanya kepadamu dulu." Sahut Rendra, ada penekanan di kalimat terakhirnya.
Clarissa yang mendengar ucapan Rendra segera menutup wajahnya, ia menangis sejadi-jadinya.
"Aku masih berpikir bahwa Arga masih sangat menginginkan ku, aku terus menanamkan dalam pikiranku bahwa pernikahannya adalah sandiwaranya untuk membuatku terluka. Tapi setelah tadi dia mengatakan bahwa Erina keguguran anaknya, rasanya hatiku sangat sakit Ren. Dia bahkan sudah melakukannya dengan gadis itu." tangisan Clarissa semakin kencang, seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Dia terlihat sangat terluka.
Bukan hanya kamu yang terluka Cla, aku juga sangat terkejut mendengar pernyataan Arga tadi. Aku kira Erina belum disentuh oleh Arga, sehingga aku masih punya peluang. Tapi rasanya sekarang semua sudah jelas. Kamu sudah menjadi milik Arga sepenuhnya Erina.
gumam Rendra dalam hati, entah mengapa perasaan Rendra semakin dalam kepada Erina. Rendra bernafas berat dan menghembuskannya secara perlahan.
"Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang Ren." seru Clarissa sambil mengusap cairan bening di pipinya.
"Kita mulai dari awal Cla .... " sahut Rendra mencoba menenangkan.
"Apa maksudmu dengan kita mulai dari awal?" Clarissa merasa bingung dengan kalimat Rendra.
"Maksudku ... kamu harus melupakan Arga dan segera mencari laki-laki yang tulus mencintaimu." jelas Rendra.
Mendengar ucapan Rendra, Clarissa hanya bernafas dalam. Dia merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang sekarang ia duduki, matanya menerawang kosong ke atas langit-langit rumah mewah milik keluarga Sanjaya.
__ADS_1
Bersambung