Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Tak Ingin Terulang


__ADS_3

Satu bulan setelah pesta pernikahan Bima, Erina menjalani kehidupannya dengan normal kembali. Setelah menjalani masa hukuman selama dua puluh hari, karena yang sepuluh hari dispensasi. Haha (gak kebayang kan kalau berturut-turut selama tiga puluh hari)


Hukuman yang menurut Erina sangat aneh, pasalnya hampir setiap malam dia harus dengan suka cita melayani suaminya bercinta. Memang sudah tugas seorang istri untuk melayani suaminya, tapi permintaan Arga kali ini benar-benar membuat Erina frustasi.


Pasangan pada umumnya hanya melakukan hubungan secara normal dua minggu sekali atau paling tidak tiga minggu sekali. Namun, ini tidak berlaku untuk Arga. Entah apa yang membuatnya setiap malam selalu bersemangat menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami, memberi nafkah batin kepada sang istri. Hampir tiap malam Erina selalu di buat kewalahan oleh gairah sang suami.


Erina merasa ada yang aneh, pasalnya selama satu bulan terakhir dia belum datang bulan. Erina merasa sedikit trauma dengan kehamilan yang pernah dia alami tujuh bulan yang lalu, tepat pada waktu pertama kali dia mengetahui bahwa dirinya hamil. Disaat itu juga kejadian buruk menimpanya.


Erina tak ingin kejadian buruk menimpanya kembali, hingga akhirnya dia biarkan telat datang bulannya sebagai hal yang wajar yang bisa di alami oleh semua perempuan. Karena Erina merasa tidak ada perubahan dalam dirinya.


***


Hari ini Arga berniat memberi kejutan untuk Erina, sebuah kejutan makan malam romantis di salah satu restoran mewah di kotanya.


"Sayang, bersiaplah-siaplah. Malam ini ... aku ada sedikit kejutan untukmu." ucap Arga sambil mengecup mesra kening Erina.


Erina yang tengah membaca novel kesayangannya segera menutup bukunya.


"Kejutan ....?" Erina mengerutkan keningnya.


"Iya sayang." jawab Arga, kedua sudut bibirnya melengkung sempurna.


Erina akhirnya hanya mengiyakan ajakan suaminya, walau dia merasa tiba-tiba kepalanya sedikit berat. Namun, Erina tidak ingin mengecewakan suaminya.


***



Erina merasa takjub dengan restoran yang di datanginya kali ini, pasalnya restoran yang sangat mewah ini terlihat sangat nyaman. Dengan desain interior stylish dan konsep konservatif, restoran ini sungguh membuat kesan yang tak akan terlupakan bagi siapa saja yang datang kesana. Tak terkecuali Erina.


Arga memegang erat tangan Erina, menuntun pada sebuah tempat yang berada di ujung restoran itu. Tidak ada satupun pengunjung disana, seperti biasa Arga memang sudah membooking restoran mewah ini.


"Hanya kita berdua, tak ada yang boleh mengganggu." Begitu ucap nya ketika Erina mengerutkan kening sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tak percaya dengan ulah suaminya, meskipun di hati kecilnya merasa sangat bahagia karena perlakuan Tuan Muda kepadanya. Erina seolah menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.

__ADS_1



Sebelum masuk ke privat dining room, Arga menutup mata Erina dengan kain berwarna biru muda. Arga menuntun pelan tangan Erina, Erina hanya mengikuti setiap langkah dengan keadaan mata masih tertutup.


Arga membuka kain penutup mata Erina, Erina begitu terpesona dengan pemandangan yang ada di depan matanya itu. Suasana yang terkesan sangat romantis dengan pencahayaan keemasan dan panorama kota di malam hari yang hanya dibatasi dengan kaca transparan berukuran besar terpampang jelas di depan sana.


Sekali lagi Erina merasa menjadi gadis yang sangat beruntung malam ini, seorang gadis yang dulu bahkan bermimpi saja ia tak berani. Kini semua yang nampak sulit baginya, satu per satu menjadi kenyataan di depan matanya.


Seorang pelayan menarik kursi dan mempersilahkan Arga dan Erina duduk. Erina benar-benar menikmati acara Romantic Dinner yang di persiapkan Arga hanya dalam hitungan jam saja. Betapa semua terlihat sangat mudah ketika seorang milyader seperti Arga menginginkan sesuatu, seolah dunia sudah berada dalam genggamannya.


"Kamu suka sayang?" Arga menarik pelan tangan Erina, dan mengecupnya dengan mesra.


Rona merah di pipinya sungguh tak bisa ia sembunyikan, terlihat jelas bahwa pipinya bersemu merah. Ada rasa bahagia dan seperti melayang ke tempat yang tinggi.


"Iya ... aku suka sayang." ucapnya malu-malu.


"Honey ... are you okay**?" Arga melihat wajah Erina sedikit pucat, meski make up tipis sudah menutup wajah cantik Erina. Arga masih bisa melihat, istrinya terlihat kurang sehat.


"Aku baik-baik saja sayang .... " Erina menarik kedua sudut bibirnya hingga melengkung ke atas dengan sempurna.


Arga tersenyum penuh arti, wajahnya terlihat begitu menawan di bawah pencahayaan yang keemasan. Sebuah senyuman tergambar jelas di bibir Arga, senyuman yang mampu membuat siapapun yang melihatnya terkesima. Sebuah senyuman yang mampu membuat jantung Erina berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


Dua orang pelayan datang dengan mendorong troli yang penuh dengan makanan, satu persatu makanan itu mereka letakkan di meja. Dengan sangat hati-hati mereka meletakkan makanan di meja yang berbentuk segi empat itu, semua tampak mengunggah selera. Arga memesan makanan yang paling spesial di restoran ini dan tentu dengan harga yang spesial pula.


Erina menikmati hidangan yang sudah tersaji rapi di meja. Namun, tiba-tiba kepalanya terasa sangat berat. Dan pandangannya mulai kabur, dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk tetap duduk tenang di kursi yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat tua.


Erina sudah tidak dapat menahan tubuhnya, matanya mulai tertutup di iringi dengan tubuhnya yang mulai melemah. Seketika itu Erina tak sadarkan diri. Arga yang sedang menikmati makanan di piringnya reflek melempar sendok yang tengah di pegangnya. Direngkuh nya tubuh Erina dalam pelukannya, raut wajahnya tampak begitu panik.


Arga segera menggendong tubuh Erina dan berlari menuju lift. Seorang pelayan melihat Arga yang begitu panik, segera membantunya untuk menekan tombol lift.


"Kenapa begitu lama." serunya sedikit kesal, Arga tampak tak sabar karena restoran mewah ini berada di lantai tiga puluh.


Arga memandang wajah Erina yang masih tertutup rapat matanya, pikiran Arga di liputi rasa takut yang membuncah. Dia begitu panik hingga tak menyadari lift sudah terbuka.

__ADS_1


Arga segera berlari menuju loby, dua orang bodyguard yang menunggu di pintu utama segera berlari menuju Arga. Arga segera memerintahkannya untuk menyiapkan mobil, mereka segera memberikan hormat dan berlalu menuju basement. Tak berapa lama kedua bodyguard itu sudah berhenti tepat di depan pintu utama.


Dengan sigap Arga segera duduk ke dalam mobil nya dengan tangan masih menopang tubuh Erina.


"Erin ... ku mohon bangunlah ...." ucapnya sambil mengusap pelan ujung rambut Erina, mengecup berulang kali kening Erina yang sudah basah akan keringat dingin. Erina tak bergeming, tak ada reaksi dari tubuh Erina.


Arga hanya menghela nafas pasrah.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, raut wajah Arga terlihat semakin tegang. Bulir-bulir keringat tampak membasahi keningnya, sorot matanya terlihat kekhawatiran yang mendalam. Arga mendengus kesal.


"Kenapa lama sekali ....?" ucapnya dengan nada tinggi. Bodyguard yang berbadan kekar dan berwajah datar itu pun segera menambah kecepatan mobil yang dikemudikannya.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit, bodyguard yang duduk di depan segera keluar dan membukakan pintu untuk Arga. Arga segera turun dan berlari dengan tangan masih menggendong tubuh Erina.


Beberapa suster segera menyusul Arga yang sudah masuk ke ruang UGD, Arga meletakkan tubuh Erina di atas bed yang berada di UGD.


"Dimana Dokternya?" seru Arga dengan wajah yang terlihat begitu panik.


Seorang wanita muda berjalan setengah berlari menghampirinya, dia adalah dokter jaga di UGD.


"Saya Dokter jaganya Tuan, saya mohon Tuan tunggu di luar sebentar. Saya akan melakukan pemeriksaan kepada pasien." ucap Dokter jaga itu. Arga hanya menuruti perintah Dokter muda itu.


Arga mendudukkan dirinya di kursi yang berada di ruang tunggu UGD, dia menyugar rambutnya dengan gusar lalu meraup kasar wajahnya.


Pikirannya menerawang dan kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu, kejadian saat Erina pingsan sesaat setelah ia menemukan keberadaan Erina dari aksi penculikan.


Arga menggelengkan kepalanya, membuang pikiran itu jauh-jauh. Tak ingin kejadian yang sama terulang kembali pada Erina.


Bersambung


.


.

__ADS_1


Minta dukungannya teman-teman untuk like+coment dan Vote ya.. Terimakasih ☺


__ADS_2