
Hari pernikahan telah tiba, Erina menunggu di kamar hotel dengan perias profesional yang dari 2 jam lalu memoles wajahnya dan perancang busana dengan beberapa pegawainya yang sedang sibuk menata gaun Erina agar tampak cantik di lihat. Di balut gaun putih nan elegan dan mewah, baju khas pengantin gaya eropa. Erina tampak sangat cantik, tinggi badan 168 cm dan bentuk badan yang ideal membuat Erina tampak begitu sempurna.
"Cantik sekali kamu nak. " Puji mama nya, matanya berkaca-kaca sambil memegang lembut pipi erina.
"Ini adalah hari spesial mu, mama sangat bersyukur kamu sudah menemukan calon pilihanmu nak. Mama mendoakan yang terbaik untuk pernikahan mu." airmata bahagia mengalir di pipi mamanya, Erina yang sudah mencoba menahan airmatanya akhirnya jatuh juga.
"Sudah nak, jangan menangis nanti dandanan kamu luntur, trus jadi gak cantik lagi. " goda mama Erina sambil mengusap lembut airmata yang membasahi pipinya.
Dan walaupun Erina banjir airmata juga tak akan mempengaruhi make up nya, karna periasnya memakai produk yang terbaik dan pastinya termahal. begitulah pikir Erina.
Aku bahkan tak berharap untuk bahagia ma, andai mama tahu alasan pernikahan ini. Akankah mama tetap merestui kami.
gumam Erina dalam hati, dia merasa bersalah kepada mamanya.
Mama Erina yang datang kemarin malam bersama papa dan kakaknya Erik, menginap di hotel milik keluarga Tuan Arga. Tempat resepsi acara pernikahan Erina dan Tuan Arga berlangsung.
Tok... Tok...Tok....
Suara ketukan pintu.
Mama Erina segera membukakan pintu kamar, Erik mendongak dari balik pintu. Mama dan Erik berjalan masuk ke dalam kamar Erina. Dia tampak begitu senang melihat adiknya.
"Erin, aku yakin Tuan Arga akan membahagiakanmu." kalimat kak Erik membuat Erina tertunduk dan terdiam sesaat.
"Tuan Arga sendiri yang bilang pada kakak, dia sangat mencintaimu. Dan dia berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan mu. itulah janjinya kepada kami." lanjut kak Erik.
Erina hanya bisa tersenyum dan memeluk kakaknya.
Kenapa Tuan Arga bicara seperti itu?
Erina semakin dalam kebingungan nya. Teka-teki alasan kenapa dia yang dipilih sebagai calon istrinya saja belum terjawab. Sekarang sudah muncul teka teki baru lagi.
***
Gedung mewah di sulap seperti dalam cerita-cerita dongeng putri kerajaan, warna silver mendominasi ruangan yang seluas stadion sepak bola (pikiran lebay Erina). Bunga-bunga cantik menghiasi seluruh ruangan. Hampir di setiap sudut terdapat bunga yang menempel di dinding dan hiasan tiang-tiang yang berjajar rapi.
Hidangan tertata rapi dan sangat menggugah selera bagi setiap tamu yang sekedar mencicipi nya.
Erina tersenyum manis menyalami satu persatu tamu yang mengucapkan selamat kepadanya dan Arga, guyonan semoga cepat dapat momongan kerap di lontarkan oleh beberapa tamu yang menggoda mereka.
Arga tampak sangat tampan dengan setelan jas putih dan dasi silver. Hampir seluruh tamu yang mengucapkan selamat berkata bahwa mereka sangat serasi. Cantik dan ganteng, begitulah guyonan para tamu undangan.
Arga melirik Erina, tampak sekali gurat lelah diwajahnya. Arga mengisyaratkan kepada sekertaris Sam yang memang tak berada jauh dengan nya untuk menghentikan tamu yang ingin sekedar memberi ucapan selamat dan berfoto selfie kepada presdir terkaya di negeri ini.
Sekertaris Sam segera menganggukan kepala dan mengikuti intruksi Tuan Arga. Tampak wajah kecewa para tamu yang memang sudah menanti-nantikan momen bersejarah ini.
"Eh, kenapa Pak Sam menghentikan tamu-tamu itu Tuan?" Erina tampak bingung dengan situasi yang dilihatnya.
"Kamu terlihat sangat lelah, aku tak mau kamu kecapekan dan sakit." kalimat Tuan Arga membuat Erina tersenyum, dia merasa sangat tersanjung.
Tuan Arga ingin menunjukkan kepada Erina bahwa ini adalah pesta untuknya, walaupun tidak didasari dengan cinta Erina. Tapi Tuan Arga ingin membuat kenangan yang indah untuk nya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Tuan, saya hanya.... " belum selesai kalimatnya, Tuan Arga memegang erat tangan Erina. Memandang lekat-lekat wajag Erina.
"Sejak hari ini, kamu adalah milikku. Tak akan ku biarkan kamu capek apalagi sakit. Kita sudahi pesta sekarang dan pulang kerumah baru kita. "
Deggg....
Hati Erina seperti disiram air surga, dingin dan menyejukkan. Pipi Erina bersemu merah, malu dan tak tahu apa maksud dari perkataan Tuan Arga.
Dia hanya sedang menghiburku kan? Tidak ada maksud lain dari kalimatnya ini kan? Aku tak boleh berbangga hati, aku harus bisa menguasai hatiku. Dia Tuan Arga Erin, ingat itu**!
gumam Erina dalam hati.
Erina meyakinkan hatinya. Tentang siapa dirinya, sampai berani berharap lebih kepada Tuan Arga. Erina teringat kata-kata kak Erik, bahwa Tuan Arga akan membahagiakan nya.
Ah, entahlah**!
Erina menyerah berpikir untuk saat ini.
***
Acara telah usai, keluarga Erina kembali ke kamar hotel untuk beristirahat. Begitu juga dengan ibu dan ayah Tuan Arga. Mereka kembali pulang untuk melepas lelah.
Arga menggandeng mesra tangan Erina, Erina hanya pasrah menuruti suaminya (walaupun hanya status) menurut Erina. Mereka pergi meninggalkan pesta pernikahannya dan segera masuk ke dalam mobil.
Mobil mewah berwarna putih meninggalkan hotel dan menuju ke rumah baru, hadiah dari kedua orang tua Tuan Arga.
Beberapa menit kemudian, Arga dan Erina telah sampai di rumah baru mereka.
Rumah yang di impikannya terdapat kebun bunga di samping halaman rumahnya, dan ayunan untuk bermain dengan anak-anak nya nanti. Begitulah gambaran rumah impian Erina, yang sekarang sudah menjadi kenyataan.
Erina terlihat sangat senang dan seolah hilang semua lelah dan penat yang dirasakan selama acara pernikahan tadi.
"Kamu senang? " tanya Tuan Arga.
Tak perlu bertanya pun sebenarnya Tuan Arga sudah tahu bagaimana jawaban Erina. Karna dia melihat Erina turun dari mobil dan berlari kecil ke arah ayunan dan menyentuh beberapa tanaman yang berjejer rapi. Erina tampak sangat bahagia.
"Iya, saya sangat senang Tuan. " Erina berteriak sambil tertawa senang menjawab pertanyaan Tuan Arga.
"Ini adalah rumah impian saya Tuan. Ya, walaupun saya tak berani membayangkan rumah semewah ini. Tapi ayunan dan taman kecil ini sudah mewakili rumah impian saya. " Erina tampak semangat sekali.
"Saya tidak pernah salah pilih kan." Tuan Arga tampak puas.
Setelah puas berkeliling taman, Erina mengikuti langkah Tuan Arga untuk masuk ke dalam rumah.
"Wah! Ini indah sekali, ini juga, ini juga." seru Erina.
Erina tak henti belarian kesana kemari karna takjub dengan benda-benda mahal yang ada dirumahnya. Mungkin jika ada orang lain dirumah ini selain Tuan Arga dan pak Sam. Mereka akan bilang, bahwa Erina sangat norak atau kampungan. haha
Tuan Arga tersenyum melihat tingkah Erina.
"Pak Sam, kamu boleh pulang sekarang. " kata Tuan Arga mempersilahkan sekertaris nya untuk meninggalkan rumah barunya.
__ADS_1
"Baik Tuan, selamat malam dan selamat istirahat. " sahut Pak Sam.
Pak Sam menundukkan kepala dan meninggalkan Tuan Arga dan Erina.
"Sampai kapan kamu melakukan hal bodoh seperti itu, bahkan di pesta tadi kamu terlihat sangat kelelahan. Sekarang seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru saja, sampai lupa dengan capek mu." kata Tuan Arga yang sudah capek melihat tingkah Erina, yang tak henti-hentinya berlarian dan memuji-muji benda mati itu.
Ternyata sifat lembutnya tadi hanya akting saja ya, sekarang sudah balik ke kehidupan nyata Tuan Arga yang aneh. Dasar**!
gumam Erina.
Erina menoleh ke kanan dan kiri mencari sesuatu.
"Sedang apa kamu?" tanya Tuan Arga yang masih memperhatikan setiap gerak gerik Erina.
"Kamar saya sebelah mana Tuan? " tanya Erina
"Itu...." tuan Arga menunjuk ke sebuah kamar utama.
"hmm, bukankah itu kamar Tuan. Maksud saya kamar saya yang sebelah mana? " Erina mencoba memperjelas pertanyaannya.
"Kamu lupa ya, sekarang kita kan sudah sah menjadi suami istri. Jadi kamar kita ya jadi satu." Tuan Arga berteriak kesal karna pertanyaan Erina.
Apa? Kenapa satu kamar? Bagaimana ini, aku bahkan tak pernah memikirkannya.
gumam Erina bergidik.
Erina memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir pikiran aneh di kepalanya.
"Hei, ada apa denganmu? Tenang saja aku tak akan melakukan apapun kepadamu, karna hari ini aku sangat capek. Entah besok. Hahaha." Tuan Arga tertawa sangat keras
Erina merinding mendengar kata-kata yang diucapkan Tuan Arga. Raut wajah gelisah Erina muncul lagi.
***
Arga dan Erina sudah berada di dalam kamar mereka.
"Saya tidur di sofa saja Tuan, saya tidak ingin menganggu istirahat Tuan. " Erina melangkah ke arah sofa yang berada di sebelah tempat tidur.
"Berhenti! Apa yang sudah kamu lakukan. Naik sini! Aku kan sudah bilang aku tak akan melakukan hal aneh kepada mu." teriak Tuan Arga. Tuan Arga tampak sangat kesal dengan Erina.
Aku harus bagaimana ini**!
gumam Erina bingung apa yang harus dilakukannya.
Erina membalikkan badannya dan melangkah ke arah tempat tidur dengan langkah berat. Erina tidur di ujung tempat tidur, agar tidak bersentuhan dengan Tuan Arga.
Erina melirik Tuan Arga, melihat sudah terpejam. Erina membalikkan tubuhnya menghadap Tuan Arga. Erina sangat menikmati pemandangan di depannya.
Kenapa Tuan Arga kalau tidur kelihatan tampan sekali ya.
Erina tersenyum tersipu malu sendiri dan akhirnya dia terlelap dengan posisi masih menghadap Tuan Arga.
__ADS_1
Bersambung