
"Rendra Sanjaya!" Gumam Arga dalam lamunannya.
Rendra Sanjaya adalah seorang produser film ternama. Dua tahun yang lalu Rendra pergi ke luar negeri untuk meneruskan bisnis keluarganya. Selama itu dia vakum dari industri perfilman, bukan keinginannya. Tapi karena tanggung jawab terhadap keluarga sebagai ahli waris satu-satunya di keluarganya.
Rendra adalah teman dekat Arga, tapi sebelum Rendra pergi ke luar negeri. Hubungan Arga dan Rendra sempat terjadi masalah.
Rendra yang terkenal playboy kelas kakap dan sering berganti-ganti pacar. Membuat Arga jengah dengan sifat Rendra, sebelum Rendra berangkat keluar negeri Clarissa menyatakan cintanya. Namun Rendra menolak karena tidak ingin melukai perasaan Arga yang telah mencintai Clarissa sejak lama. Clarissa sempat terluka dan membuat Arga kesal kepada Rendra.
Sepertinya rasa kesal itu muncul lagi setelah mendengar nama Rendra disebut lagi oleh anak buah Pak Sam. Bukan karena Clarissa tapi karna Erina. Istri yang sangat dicintainya, sudah bertemu dengan Rendra.
"Tuan, ada Tuan Rendra di loby. Dia ingin bertemu dengan anda. Jika ini membuat anda tidak nyaman, saya akan menyuruh Tuan Rendra untuk pergi." Suara Pak Sam membuyarkan lamunan Arga tentang sosok Rendra Sanjaya.
Kebetulan sekali, dia kesini.
Gumam Arga dalam hati dan tersenyum.
"Suruh masuk saja, sudah lama aku tidak bertemu dengannya." perintah Arga kepada Pak Sam.
Pak Sam menganggukan kepala dan segera berlalu meninggalkan Tuan Arga. Pak Sam menginformasikan kepada staffnya untuk menyuruh Tuan Rendra ke ruangan Tuan Arga.
"Tuan, anda boleh masuk ke ruangan Tuan Arga." Jelas resepsionis di loby depan.
"Terimakasih ya." Rendra tersenyum dan mengedipkan satu matanya lalu pergi berlalu dari balik pintu lift. Sifat playbonya tidak pernah berubah.
Rendra berjalan menuju ruangan Arga.
"Terimakasih Pak Sam." Pak Sam membukakan pintu. Rendra mengedarkan pandangannya melihat sekeliling ruangan yang dominan berwarna silver dan putih.
"Bagaimana kabar kamu sahabatku? " sapa Rendra seraya memeluk Arga yang sudah berdiri di samping meja kerjanya.
"Aku baik, ada angin apa yang membuat mu kembali ke negeri ini? " suara Arga terdengar datar.
"Kamu tidak berubah ya, tetap dingin dan tanpa basa basi! " sahut Rendra.
"Oh ya, aku dengar kamu sudah menikah ya. Dan sepertinya bukan Clarissa? Apa kamu ditolaknya lalu mencari pelarian? " ledek Rendra diiringi tawa di bibirnya.
__ADS_1
Arga hanya menghela napas, mencoba menahan emosinya.
"Kamu tak perlu tahu alasanku! Kamu bahkan masih bisa tertawa seolah tak terjadi apa-apa dengan masa lalumu?!" Jawab Arga dengan nada sedikit kesal.
"Ayolah Tuan Muda, aku sudah mengalah untukmu. Tak seharusnya kamu mengungkit masa lalu." Rendra membela diri, Rendra menyadari bahwa Arga masih kesal terhadapnya.
"Baiklah, lupakan masa lalu. Karna aku tak pernah mau mengungkitnya lagi." sahut Arga tegas.
"Oh ya, aku sangat penasaran dengan istrimu. Bagaimana gadis itu bisa benar-benar membuatmu melupakan Clarissa?" ucap Rendra. Dan mulai menyesali kata-katanya karna wajah Arga berubah geram ketika nama Clarissa disebut.
"Baiklah, aku mengerti lupakan pertanyaanku barusan." Rendra mencoba mencari aman.
"Apa tidak ada pesta selamat datang untukku?" goda Rendra.
"Kamu terlalu banyak bicara Tuan Rendra. Dan hari ini aku sangat sibuk, lain waktu saja kita rayakan. " ucap Arga yang mulai tak nyaman karna Rendra sudah terlalu banyak bicara.
"Sepertinya aku diusir dengan cara yang halus ya. Karna Tuan Muda Arga sangat sibuk, jadi aku harus secepatnya meninggalkan kantornya." kata Rendra dengan sedikit senyum di bibirnya.
Arga memandang Rendra. "Lalu, kenapa kamu masih disini?" tanya Arga dengan tatapan kesal.
"Aku bahkan tak mengijinkan mu masuk ke halaman rumahku." Arga tampak semakin kesal.
"Ayolah, rupanya kamu sangat posesif ya sama istrimu?!" goda Rendra membuat Arga benar-benar tidak tahan.
"Apa kamu sudah bosan hidup hah? Sudah pergi sana. Aku tak punya banyak waktu untuk meladenimu." Arga berteriak kesal kepada Rendra.
Rendra akhirnya memilih untuk menyerah.
"Baiklah, aku akan pergi kali ini. Tapi kamu harus luangkan waktu untuk pesta kedatanganku." ucap Rendra dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Iya." sahut Arga singkat.
Rendra akhirnya berjalan meninggalkan ruangan Arga. Pikiran Rendra masih berkecamuk.
Ternyata Arga benar-benar telah melupakan Clarissa. Aku ingat beberapa bulan yang lalu Clarissa menelfon ku, menangis memohon kepadaku untuk membantunya mendapatkan cinta Arga. Tapi jika seperti ini situasinya, rasanya semakin tidak mungkin. Arga tidak ingin istrinya diganggu oleh siapapun.
__ADS_1
Rendra sempat duduk sesaat di loby, memikirkan situasi yang dihadapinya.
"Cinta segitiga yang rumit untuk diurai. "
Gumam Rendra.
***
Sementara di ruangan Arga. Pikiran Arga kembali bertanya-tanya.
"Sepertinya Rendra tidak tahu kalau Erina adalah istriku, lalu pertemuan kemarin adalah suatu kebetulan dan apa Rendra benar-benar tertarik kepada Erina?" Arga mengepalkan tangannya.
"Kali ini kamu tak akan kubiarkan menganggu istriku." ucap Arga sambil menatap tajam pemandangan luar yang dibatasi oleh sebuah kaca.
***
Rendra masih penasaran dengan istri Arga. Masih trus bertanya-tanya, seperti apa perempuan yang bisa membuat Arga melupakan Clarissa. Perempuan yang dulu sangat dicintai Arga, kini seolah tak ada kenangan apapun tentang Clarissa di hidup Arga.
Rendra membuka laman pencarian, tentang Arga Hutama. Puluhan artikel membahas tentang bisnis dan kesuksesan Arga. Rendra terus mencari dan berhenti pada sebuah artikel tentang pernikahan Arga Hutama dan Erina Andriana. Rendra membuka artikel itu, dan Rendra sangat terkejut bahwa gadis yang ditabraknya kemarin adalah istri Arga.
"Sungguh menarik sekali, Clarissa bilang bahwa gadis ini tidak selevel dengannya. Tapi sepertinya Arga memang tidak salah pilih. Dia bahkan lebih menarik dari gadis-gadis kaya yang pernah aku kencani."
Rendra tersenyum penuh arti.
"Aku sendiri bahkan sudah tersihir oleh pesona gadis ini." Rendra terus terbayang kejadian di cafe, kejadian dimana pertama kali bertemu dengan Erina.
"Erina."
Nama yang cantik, secantik orangnya.
Rendra terus melihat gambar Erina di artikel ponselnya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Jari Rendra mengetuk-ketuk meja, berpikir rencana apa yang akan dilakukan.
Jari Rendra berhenti, seolah mendapat ide brilian dan tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Bersambung