Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Kejutan Untuk Tuan Muda


__ADS_3

"Nona, biar saya saja yang melanjutkannya. Nona tunggu disana saja ya." pinta Bibi Mar untuk yang kedua kali. Namun, Erina masih tak bergeming. Dia masih kekeh untuk melanjutkan mengiris wortel menjadi bentuk bunga.


Semenjak kehamilannya, Erina memang kerap kali bersikeras untuk membantu Bibi Mar yang sedang memasak di dapur. Walaupun Arga sudah melarang keras Erina untuk ke dapur apalagi membantu Bibi Mar, namun hal itu sama sekali tak membuat Erina menyerah. Kekhawatiran Arga memang sedikit berlebihan tapi ada alasan kuat tentang larangan yang dilakukan oleh Arga.


Pasalnya, saat kehamilan Erina menginjak usia satu bulan. Jari Erina tak sengaja terkena sayatan pisau, dan itu sungguh membuat Arga panik setengah mati.


Flashback On


Sore hari saat menjelang makan malam, Arga yang tengah duduk di meja makan dengan tangan menopang dagu. Persis seperti seorang bocah yang sedang menunggu ibunya menghidangkan sesuatu untuknya. Dia memang sengaja melihat Erina yang sedang membantu Bibi Mar menyiapkan makan malam, beberapa kali Arga tersenyum melihat Erina yang sedang memasak dengan lincah nya. Tangan Erina tak henti bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.


Sampai akhirnya suara mengaduh terdengar dari mulut Erina.


"Aduh." Erina nampak meringis sambil memegang tangannya.


Arga segera bangkit dari tempat duduknya, dia berlari ke tempat Erina. Raut wajahnya terlihat begitu panik. Erina masih memegang tangan nya, tampak darah segar mengucur dari jari manis Erina. Arga segera meraih jari Erina dan menghisap pelan darah yang masih terus keluar itu, lalu memuntahkannya ke wastafel yang berada tak jauh dengan tempatnya berdiri. Arga melakukannya sampai beberapa kali, sampai darah benar-benar sudah tak keluar dari jari Erina.


Bibi Mar yang melihat kejadian itu merasa sangat bersalah.


"Bibi kenapa masih berdiri disini, cepat ambilkan kotak P3K." seru Arga dengan suara meninggi.


Arga begitu panik, namun Erina hanya diam mematung. Tindakan Arga membuatnya salah tingkah, raut wajahnya merona. Ia tak mampu menahan debaran hati yang ia rasakan saat ini, seorang suami yang menjadi Presdir perusahaan Montana Grup. Begitu mengkhawatirkan dirinya yang hanya terkena sayatan kecil. Seperti ada siraman air surga di hatinya, sangat menyejukkan sekali.


Bibi Mar datang membawa P3K dengan langkah cepat, perasaan antara takut dan khawatir membaur jadi satu.


"Ini Tuan." lirih Bibi Mar. Bibi Mar menyerahkan sebuah kotak berbentuk persegi panjang berwarna putih, di tengahnya ada lambang (+) berwarna merah.


Seketika Erina tersadar, bahwa kecerobohonnya sudah membuat orang lain terkena dampaknya. Terlihat tangan Bibi Mar sedikit bergetar menyerahkan kotak itu kepada Arga. Arga segera meraih kotak itu dengan kasar, sama halnya dengan Bibi Mar. Arga bahkan begitu panik mendapati istri tercintanya terluka, walau luka itu hanya sebuah sayatan kecil.


Hati Erina merasa sesak melihat ketakutan Bibi Mar, ia melihat wajah Bibi Mar berubah pucat melebih dirinya yang baru saja kehilangan darah beberapa mililiter.


"Aku bisa sendiri sayang," Erina menarik pelan jarinya yang masih di obati Arga, ia mencoba menunjukkan pada Arga bahwa ia masih baik-baik saja. Jadi jangan berlebihan seperti ini. Begitu pikirnya.


Namun Arga yang masih di selimuti dengan rasa cemas, hanya menajamkan pandangannya ke arah Erina. Erina tahu betul pandangan itu, tatapan yang tersirat makna jangan membantah ku. Aku sama sekali tak suka dibantah, Erina bahkan sekarang sudah pintar dengan bahasa tubuh ataupun kode yang keluar dari diri Arga.


Tatapan Arga mampu membungkam mulut Erina, pantas saja Bibi Mar merasa ketakutan. Erina yang menjadi korban saja merasa terintimidasi dengan hanya menatap mata Arga.


Arga membalut luka Erina dengan plester, ia nampak hati-hati sekali. Ia tak mau jika Erina merasa sakit dengan perlakuan nya. Erina sangat tersanjung akan hal itu, tapi jika mengingat tatapannya beberapa detik lalu. Membuat Erina sedikit waspada dengan getaran yang akan dirasakannya selanjutnya, seorang Arga yang mampu membuat ia senang sekaligus takut.


"Kamu tak apa-apa kan sayang?" Arga masih terlihat khawatir, ia telah selesai mengobati jari Erina. Tangannya sudah berada di wajah Erina yang sudah menegang. Erina hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Mulai sekarang kamu tidak boleh lagi berada di dapur, tak ada lagi kegiatan masak-memasak." suara Arga tampak tak main-main.


"Tapi sayang, ini kan hany--."


"Tidak ada tapi-tapian, ini bahkan bisa membuat ku mati khawatir jika sampai kamu terluka parah. Bibi Mar, ingat baik-baik pesanku. Jangan biarkan Erina di dapur, apalagi menyentuh barang-barang berbahaya ini." Arga mengarahkan pandangannya pada pisau dan talenan, benda yang sukses membuat semua orang panik karena kurang hati-hati nya si pemakai.


Erina hanya mendengus pelan, ia tak tahu jika reaksi Arga sangatlah berlebihan. Mungkin jika Erina sadar akan hal itu, ia akan memakai sarung tangan dan mantel anti peluru sekalipun agar tangan dan tubuhnya tidak terluka.


Flashback Off


"Nona, saya mohon. Biar saya saja yang melanjutkannya." lirih Bibi Mar, tangan Bibi Mar mengatup memohon kepada Erina.

__ADS_1


Erina menghentikan aktifitasnya, "Bibi apa yang sedang Bibi lakukan, jangan berlebihan seperti ini ah." Erina merasa tak enak hati pada Bibi Mar, ia segera meraih tangan Bibi dan menarik kebawah dengan pelan.


"Saya takut, Tuan akan marah jika mendapati nona di dapur sekarang." suara Bibi Mar terdengar lemah.


"Bibi, tidak ada Tuan sekarang. Dan juga ini masakan untuk Tuan, jadi aku rasa dia tidak akan marah jika aku memasak untuknya." mata Erina nampak berbinar-binar, dia sangat ingin mengirimkan bekal makan siang untuk Arga.


"Nona tidak mau kan kalau saya dihukum Tuan." ucap Bibi Mar dengan tatapan sayu.


Seketika Erina terdiam, "Dihukum? Dihukum bagaimana Bi?" Erina mengerutkan keningnya, seingat dia tidak ada kata hukuman yang keluar dari mulut Arga saat kejadian berlangsung.


"Nona, saya akan dihukum tidak bisa bekerja disini lagi. Jika saya tidak bisa menjaga nona dengan baik." tutur Bibi Mar, ia menundukkan kepala. Ia tak punya pilihan lain untuk menghentikan aktifitas Erina saat ini, ia berharap dengan sedikit ancaman akan merubah niat Erina.


Erina mengedipkan mata berulang kali setelah mendengar ucapan Bibi Mar, ia antara percaya dan tidak dengan yang dikatakan oleh Bibi Mar. Seorang Arga bahkan bisa mengusir Bibi Mar yang sudah merawatnya dari kecil karena sikap keras kepala Erina. Begitu pikir Erina saat itu.


Dia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan nya secara perlahan.


"Aku tak mau hukuman itu terjadi pada Bibi, baiklah aku tak akan lagi mengganggu Bibi." Erina menarik kedua sudut bibirnya, sebuah senyum yang terkesan dipaksakan olehnya. Bibi Mar merasa tak enak, tapi ia juga tak mau Arga sampai murka kepadanya.


"Saya akan menyiapkan semua nya sesuai keinginan nona." Bibi Mar menyunggingkan senyumannya. Erina mengangguk pelan.


"Kalau begitu aku siap-siap dulu bi." Erina berjalan lemah meninggalkan Bibi Mar. Bibi Mar hanya mengawasi Erina dengan tatapan iba, namun ia juga tak bisa membiarkan Erina tetap berada di dapur bersamanya.


***


Suasana di kantor Arga


Erina nampak cantik dengan setelan blazer kuning, dia sudah keluar dari lift menuju ruangan Arga. Erina sengaja untuk memberikan kejutan pada suaminya, ia membawakan bekal yang sudah di siapkan oleh Bibi Mar.



Erina tersenyum manis kepada Linda, dia berjalan mendekat ke arah Linda. Namun, tiba-tiba seorang perempuan mengagetkan nya.


"Nona Erina!" sapa seorang gadis, Erina menoleh kepada gadis itu. Dia yang tak lain adalah Gea, gadis yang pernah menemaninya di acara pesta ulang tahun Nyonya Sanjaya.


"Gea." raut wajah Erina nampak begitu senang, dia merasa senang ada seseorang yang ia kenal di kantor sebesar ini. Walaupun ini adalah kantor suaminya, tapi Erina tak berharap semua orang mengenalinya.


Linda yang sedari tadi mengawasi Gea dan Erina sedikit heran, "Gea, apakah nona ini teman kamu?" ucap Linda ragu. Gea segera mendekati Linda, dia berbisik. "Sstt, mbak Linda tidak kenal istri Tuan Arga."


Dengan cepat Linda segera membekap mulutnya, dia benar-benar merasa gagal menjadi orang kepercayaan bosnya. Pasalnya, istri yang selalu di bangga-banggakan oleh Arga saja ia tidak tahu. Linda merutuki ketidaktahuan nya.


"M-maaf nona, saya benar-benar tidak tahu." Linda mengangkat kedua tangannya, mengatupkan sejajar dengan dadanya. Dia sedikit membungkukkan badannya, raut wajahnya terlihat sangat gusar.


Gea menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, ia mencoba menahan tawa. Seorang Linda yang selalu berpenampilan cool dan berwibawa bisa terlihat begitu panik karena ketidaktahuan nya.


Erina menepuk pelan bahu Linda, "Tidak apa-apa, bahkan aku berharap tidak ada seorang pun yang mengenaliku disini. Kecuali Gea." Erina melirik ke arah Gea, ia terlihat senang bisa bertemu lagi dengan gadis humoris ini.


"Saya mau bertemu suami saya, bisa?" tukas Erina kemudian. Linda sejenak tampak bingung, seolah ada sesuatu.


"Tu-tuan masih ada tamu nona." jawab Linda dengan suara gugup.


Erina mengernyitkan keningnya, matanya membulat melihat ekspresi yang di tunjukkan Linda.

__ADS_1


Pak Sam tiba-tiba keluar dari ruangan Arga, dia yang melihat Erina berdiri dengan kedua stafnya nampak bingung.


"Nona Erina." sapa Pak Sam dengan membungkukkan setengah badannya. Erina tersenyum membalas sapa yang ditujukan Pak Sam kepadanya.


"Kenapa kamu tidak memberitahu saya, kalau nona berada di sini. Tuan akan sangat marah jika istrinya kamu biarkan menunggu disini." tatapan Pak Sam tajam ke arah Linda. Pak Sam tahu betul bagaimana sifat Arga, dia akan sangat marah jika stafnya tak menjalankan tugas dengan baik.


"Ma-maaf Tuan .... " lirih Linda.


"Tidak apa-apa Pak Sam, aku baru saja mau masuk." seru Erina, ia tahu bahwa laki-laki yang kini berada didepannya sama garangnya dengan suaminya.


"Silahkan masuk nona." Pak Sam segera membukakan pintu, Erina menyunggingkan senyuman dan melangkah masuk ke ruangan Arga. Pandangan mata Erina langsung tertuju kepada pria yang tengah duduk di depan Arga.


Erina menoleh ke arah Pak Sam, "Suamiku masih ada tamu." tuturnya pelan. Pak Sam hanya tersenyum tipis.


Arga yang mengetahui kedatangan Erina benar-benar merasa senang, dia segera bangkit dari kursi kebesaran nya.


"Sayang," Arga memeluk mesra Erina, seolah tak peduli ada orang lain di ruangannya.


Laki-laki yang duduk di depan Arga, tersenyum smirk melihat adegan di depannya. Laki-laki itu tak lain adalah Mr. Gerald.


Bersambung


🍁🍁🍁


Kira-kira apa ya tujuan Mr. Gerald datang ke kantor Arga? 🤔


A. Minta sumbangan


B. Minta maaf


C. Minta doa restu


D. Semua jawaban di atas absurd 😂😂


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kunjungi juga novel temen author yang bisa bikin baper 😍


Takdir Cinta Rianti ~ Sandrila Patilima



Kabut Menjelang Pernikahan ~ Emekama



Back To The Previous Dynasty ~ Laura V



Cek Tampan Itu Jodohku ~ Eka Pradita

__ADS_1



__ADS_2