
"Selamat malam nona Anggen," sapa gadis yang berparas cantik itu sambil tersenyum tipis.
Anggen segera menoleh ke arah gadis itu, Ia mengerutkan kening karena merasa tak kenal dengan gadis yang tengah berdiri di hadapannya tersebut.
"Selamat malam nona," balas Anggen seraya tersenyum.
"Bisa kita bicara sebentar?" ucap gadis itu.
Gadis yang mengenakan dress warna hitam selutut itu adalah Clarissa. Ya, Clarissa sudah mengikuti Anggen dan Eric sedari tadi. Namun, tak ada yang menyadari keberadaan Clarissa.
Anggen yang masih tampak bingung akhirnya mempersilahkan Clarissa untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Silahkan masuk nona!" ajak Anggen.
Clarissa berjalan masuk mendahului Anggen, gadis itu tampak mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia segera mendaratkan tubuhnya di sofa yang terletak di ruang tamu.
Ruang tamu yang berkonsep minimalis itu terlihat begitu nyaman, Clarissa menarik salah satu sudut bibir nya setelah melihat ruang tamu Anggen.
"Apa kamu tinggal sendiri?" tanya Clarissa.
"Saya tinggal bersama orang tua saya nona, tapi sekarang ayah dan ibu saya. Sedang berada di luar kota karena ada urusan," jelas Anggen.
"Oh ya, kalau boleh tahu nona siapa ya? Sepertinya kita belum pernah bertemu sebelumnya, tapi wajah nona tampak tak asing," imbuh Anggen.
"Maaf, aku lupa memperkenalkan diriku. Aku Clarissa, bisa di katakan keluarga ku sangat berpengaruh di negeri ini. Tentu saja kamu merasa tak asing dengan wajah ku, karena aku sering berlalu lalang di televisi," jelas Clarissa dengan nada angkuh.
Anggen membulatkan mata dan mulutnya, Ia begitu terkesiap ketika tahu siapa yang ada di hadapannya itu. Seorang anak konglomerat di negeri nya, bahkan rumor beredar. Nona cantik yang tengah duduk di ruang tamu nya ini, mempunyai beberapa bisnis yang berkembang pesat. Bisnis itu dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri.
"N-nona Clarissa?" seru Anggen terbata.
"Baiklah, karena Aku tak punya banyak waktu. To the point saja. Mulai sekarang jauhi Eric, karena dia adalah calon tunanganku," jelas Clarissa dengan penuh percaya diri.
Bagai di sambar petir di siang bolong, Anggen begitu terkesiap mendengar pengakuan Clarissa.
"Apa?" tanpa sadar kata itu keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Aku tahu reaksi mu pasti tak percaya, Eric sedang marah kepada ku. Dan saat ini dia hanya sedang bermain-main denganmu, jadi kamu jangan pernah berharap lebih dari Eric," ucap Clarissa penuh penekanan.
Dada Anggen bergemuruh, rasa sesak memenuhi dadanya. Cairan bening mulai menggenang di kedua pelupuk matanya, tapi sekuat tenaga Ia tahan agar tak jatuh. Sesekali Ia menengadahkan kepalanya ke atas, agar air matanya tak jatuh untuk saat ini.
"Baiklah kalau begitu, itu saja yang ingin Aku sampai kan kepadamu. Aku akan pergi sekarang." Clarissa bangkit dan berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, Clarissa membalikkan tubuhnya dan menatap tajam Anggen.
"Jangan pernah coba-coba untuk mendekati Eric lagi, kamu tahu akibatnya jika kamu sampai berani mendekati Eric? Keluarga mu sebagai jaminan, aku tak segan-segan menyakiti kedua orang tuamu," ancam Clarissa. Kedua manik coklatnya masih menatap tajam ke arah Anggen.
"Oh ya, jika kamu masih belum percaya dengan apa yang aku katakan. Datanglah besok siang ke cafe Te Amo, kamu akan menemukan jawaban hubungan ku dengan Eric," imbuh Clarissa sambil tersenyum tipis.
Clarissa segera berlalu meninggalkan Anggen sendiri dengan perasaan tak karuan, air mata yang sudah ia tahan sedari tadi akhirnya lolos juga.
Ia menangis sejadi-jadinya, Ia menumpahkan rasa sesak yang menyelimuti dadanya. Anggen memejamkan matanya, bernapas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar.
"Apa yang harus aku lakukan? Di saat aku mulai membuka hati untuk orang lain. Di saat itu juga aku merasa terluka," ucap Anggen seraya memegang dadanya yang masih terasa sesak. Air matanya terus mengalir menghujam pipi nya.
🍁🍁🍁
Matanya menatap langit-langit kamarnya, bayangan senyuman Anggen memenuhi isi kepalanya. Eric tampak bersemangat jika membayangkan Anggen, pesona Anggen membuat Eric percaya lagi adanya Cinta. Bahkan lebih indah dari sebelumnya.
Suara dering telpon memecah lamunan Eric, Ia segera bangkit dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
Eric melihat nama sang pemanggil, "Clarissa," ucapnya lirih. Keningnya berkerut, Ia tampak ragu menggeser tombol telpon nya. Dengan perlahan Ia meletakkan ponselnya di telinga kirinya.
"Eric, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, kamu sendiri. Bagaimana kabarmu?"
"Aku tak terlalu baik Eric, aku sangat merindukkanmu."
Eric mendesah pelan,
"Cla, hubungan kita sudah berakhir. Aku selalu berdoa agar kamu mendapatkan laki-laki yang sepadan denganmu."
"Tak semudah itu Eric, Aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
"Cla, kumohon. Kamu hanya terjebak dengan perasaan yang kamu ciptakan sendiri, pertemuan kita hanya sebuah kesalahan. Kamu terlalu berambisi untuk membalas sakit hati yang kamu rasakan, kamu hanya ingin menyakiti Erina. Semua sudah selesai Cla, biarkan semua berjalan seperti apa adanya. Jika kamu menelpon hanya untuk mengatakan ini, maka aku katakan kepadamu sekali lagi. Ini hanya sebuah ambisi bukan Cinta, suatu saat kamu akan memahami perasaanmu yang sebenarnya."
"Tidak, bukan ini tujuan ku menelpon. Aku ingin kita bertemu untuk terakhir kali, Aku harap kamu tak akan menolak. Dan setelah ini, aku akan coba untuk melupakanmu."
Eric tampak terdiam sejenak, Ia tampak menimang kalimat Clarissa. Mungkin akan lebih baik, jika Ia mengabulkan permintaan Clarissa untuk bertemu dengannya. Setidaknya, Ia bisa meminta Clarissa untuk melupakannya.
"Baiklah, aku akan menemuimu besok."
"Benarkah? Terimakasih, aku tunggu besok siang di cafe Te Amo. Cafe favorit kita."
"Oke." ucap Eric singkat, lalu segera menutup telponnya.
Eric tampak tersenyum getir, Ia kembali mengingat kenangannya bersama Clarissa beberapa bulan yang lalu.
"Kamu hanya berambisi Cla, karena misimu belum tuntas. Aku tak ingin siapa pun menyakiti Erina, meskipun aku sudah memaafkan semua perbuatanmu atas perlakuanmu terhadap Erina. Tapi perasaanku padamu, sudah sirna seiring dengan kebenaran yang terungkap." Eric mendesah kasar seraya meletakkan ponselnya ke tempat semula.
🍁🍁🍁
Di tempat Clarissa, setelah Ia menutup telponnya. Gadis itu tampak tersenyum puas, matanya berbinar senang. Sekilas wajah Eric terlintas di ingatannya.
"Kamu akan menjadi milikku lagi Eric, tidak ada yang bisa memilikimu selain aku," ucap Clarissa penuh percaya diri.
"Dan jika kamu tak bisa menjadi milikku, maka Anggen pun tak boleh memilikimu." Clarissa menatap tajam pantulan tubuhnya di cermin besar yang berada di sudut kamarnya.
"Kita lihat besok, aku akan menghancurkan semuanya."
Bersambung ....
💖💖💖
Sembari menunggu up, mampir ke novel teman author yang super keren. Dan awas baper ya 🤭
Dipaksa Menikahi Tuan Muda Duda by kak Duwi Sukema 😍
__ADS_1