Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Gadis Yang Manis ....


__ADS_3

"Clarissa memiliki rencana untuk kak Eric, dia tidak tulus mencintainya." suara Arga tampak berat, Ia meraup wajahnya dengan kasar.


Erina membelalakkan mata dan segera membungkam mulutnya dengan salah satu tangannya.


"Kak Eric," lirih Erina, tak terasa airmatanya meleleh membasahi pipinya.


"Sayang ....," lirih Arga sambil mengusap cairan bening di wajah Erina.


"Clarissa balas dendam padaku?" ucap Erina dengan menatap sendu manik coklat milik Arga.


"Terlalu rumit untuk dijelaskan sayang, Clarissa antara obsesi dan ambisi," jelas Arga, Ia segera memeluk tubuh Erina. Mendekap erat perempuan yang tengah hamil buah cintanya itu.


"Ini semua pasti karena salahku," Erina melingkarkan kedua tangannya di tubuh Arga, Ia merasakan ketenangan di dada bidang suaminya itu.


"Bukan salahmu dan bukan salah kita sayang, Clarissa gadis yang terlalu berambisi ....," Arga memberi jeda kalimatnya.


"Clarissa sudah merencanakan semuanya, perusahaan Allina Corp adalah perusahaan sahabat nya. Clarissa yang menyelidiki semua tentang kak Eric, akhirnya merasa senang. Karena Allina Corp adalah perusahaan milik sahabatnya, Ia meminta bantuan temannya untuk melancarkan misinya. Kak Eric akhirnya di promosikan menjadi supervisor dan dipindahkan ke kantor pusat, itu semua untuk memudahkan Clarissa mendekati kak Eric. Dia ingin menyakitimu melalui kak Eric, tapi gadis itu terlalu bodoh. Dia lupa berhadapan dengan siapa sekarang, dia meremehkan keberadaanku. Aku bahkan bisa membuatnya hancur saat ini juga ....," ucap Arga, ada penekanan dalam kalimat terakhirnya.


Sorot mata Arga menyiratkan amarah, tangannya mengepal geram. Erina bergetar melihat suaminya saat ini, Erina tak menyangka bahwa suaminya begitu emosi dengan tindakan Clarissa.


"Sayang ....," lirihnya dengan suara bergetar, Arga menyadari bahwa istrinya sedang ketakutan dengan reaksinya.


"Kamu tenang saja sayang, aku tak akan tinggal diam. Clarissa benar-benar keterlaluan, dia sudah berani mempermainkan perasaan orang lain. Dia sudah menyulut api dan sekarang apinya sudah berkobar semakin besar," Arga merenggangkan pelukannya, Ia menatap lekat-lekat kedua bola mata yang tampak sayu itu.


"Clarissa akan menyesali perbuatannya, aku janji," Arga mencoba meyakinkan Erina, ada rasa gemuruh di dadanya. Rasa yang sudah ingin segera Ia lampiaskan.


"Aku harus segera memberitahu kak Eric, bahwa Clarissa tak tulus dengannya," ucap Erina dengan mata berkaca-kaca.


Arga mendesah kasar, "Tidak semudah itu sayang, perasaan laki-laki yang sudah jatuh cinta akan sangat sulit menerima pendapat orang lain. Itu hanya akan memicu masalah baru kak Eric denganmu," jelas Arga.


"Tapi selama ini kak Eric selalu mendengarkan apa yang aku katakan," Erina menjeda kalimatnya.


"Selama ini kak Eric selalu bekerja keras untuk kami, dia selalu mementingkan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Dia bahkan tak pernah jatuh cinta sebelumnya, dan sekarang dia sudah jatuh cinta kepada gadis yang berniat balas dendam kepadaku. Aku tak bisa tinggal diam sayang, setidaknya aku harus memberitahunya tentang kebenaran ini. Aku tak mau kak Eric terlampau sakit, aku harus katakan sebelum semuanya terlambat," suara Erina terdengar parau, Ia terisak. Dadanya terasa sesak, sungguh menyakitkan melihat orang yang kita sayangi disakiti oleh orang lain yang dicintai nya.


Aku berjanji, Clarissa tak akan bisa menyakiti kak Eric lebih dari ini. Aku tak mau melihatmu tersiksa seperti ini sayangku. gumam Arga, Ia menekan dadanya yang terasa sesak.


"Lakukan yang terbaik sayang, aku akan selalu mendukungmu. Tapi apa kamu mau membantuku?" tanya Arga.


Erina segera menyeka airmatanya, Ia terlihat antusias dengan ucapan Arga.


"Bantu apa sayang? Aku akan mencoba semampuku," ucap Erina.


"Bujuk kak Eric sekali lagi untuk mau bergabung di perusahaanku, aku akan memberikan jabatan yang penting untuknya," tawar Arga.


Erina terdiam, tawaran yang kedua kali dari Arga. Beberapa bulan lalu Arga sudah menawarkan untuk bergabung dengan perusahaannya, namun tawarannya ditolak secara halus oleh Eric. Dia ingin sukses dengan caranya sendiri, tapi walaupun begitu Arga tak serta merta lepas tangan. Dia selalu mengirim uang untuk kedua mertuanya melalui rekening kak Eric, awalnya Eric menolak. Tapi Erina memohon kepada kakaknya untuk menerimanya sebagai balasan kepada orangtuanya dan Eric dengan berat hati menyetujuinya.


"Akan aku coba sayang, aku tak terlalu berani memaksa kak Eric untuk urusan ini. Karena ini adalah prinsipnya. Tapi jika keadaan seperti ini, mungkin aku akan berjuang lebih keras membujuk kak Eric." tutur Erina, Ia mengulas senyuman.


Arga bernapas lega, setidaknya dengan beberapa rencana yang muncul di kepalanya bisa satu per satu terealisasikan dan memuluskan aksinya untuk membuat Clarissa sadar.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Kantor Allina Corp


Eric adalah seorang pekerja keras, tak sulit baginya untuk menyelesaikan pekerjaan yang selalu dikejar target setiap minggunya. Eric bahkan menjadi The Best Employee untuk bulan ini.


Kecerdasan Eric membuat Clarissa semakin kagum kepada sosok laki-laki yang sangat bertanggung jawab ini, Clarissa yang awalnya mempunyai rencana buruk kepada nya. Kini seolah lupa dengan rencananya itu, Ia sering kali terperangkap dalam perasaannya.


Perasaan yang tumbuh secara alami dan semakin hari semakin kuat rasa itu, Clarissa menikmatinya tapi Ia sendiri tak ingin terlalu larut dalam permainannya sendiri.


Drrrttt ... drrrttt ... drrrttt ....


Suara ponsel Eric menghentikan aktifitasnya, Eric mengambil ponsel yang Ia taruh di meja kerjanya. Eric melirik nama si penelpon "Clarissa", Ia segera menggeser tombol berwarna hijau dan meletakkan ponselnya di daun telinga kirinya.


"Halo, Eric ... besok kamu ada acara? Ada hal yang ingin Aku sampaikan," terdengar suara Clarissa dari sebrang sana.


"Ehmm ... bisa, jam berapa? Kebetulan besok Aku sedang tidak ada acara," ucap Eric mengiyakan ajakan Clarissa.


"Kalau begitu, kita ketemu di cafe biasa ya. Jam 10 pagi, Ok. Sampai ketemu besok Eric," ujar Clarissa sembari menutup telfon.


Eric tersenyum tipis, seketika bayangan Clarissa menari di kepalanya. Membuat laki-laki itu tersenyum lebih lebar dan berdecak heran, kenapa hanya dengan membayangkannya saja sudah bisa membuatnya bahagia.


🍁🍁🍁


Sore itu, saat Eric bergegas untuk membelikan kue kesukaan mamanya. Ia memarkir mobilnya di depan sebuah taman, dia sengaja memarkir mobilnya di sana karena dia ingin membelikan nasi padang kesukaan papa nya yang terletak tak jauh dari taman tersebut.


Eric harus berjalan beberapa meter untuk sampai di toko roti tersebut dan juga melewati taman yang berada di depan toko roti tersebut, dalam perjalanan ke toko kue itu. Eric tak sengaja mendengar suara gadis yang terisak, karena penasaran. Laki-laki itu mencari sumber suara itu, Eric berjalan perlahan. Ia melihat ada seorang gadis yang duduk membelakanginya, suara tangisnya terdengar semakin keras.


Laki-laki itu mendekati gadis yang sedari tadi masih menangis tersedu, Eric segera mendudukkan tubuhnya di kursi kosong tepat sebelah gadis itu.



"Mau ice cream*? Makan ice cream di percaya bisa menenangkan hati yang sedang sedih lho," Eric menawarkan sebuah ice cream* rasa vanilla kepada gadis itu.


Gadis itu segera menoleh ke arah Eric, dia menyeka airmatanya dengan satu tangannya dan kemudian melirik pada ice cream yang berada di tangan kanan laki-laki itu. Gadis itu terlihat menelan saliva nya dengan susah payah, akibat godaan ice cream yang ditawarkan oleh Eric.


"Tak usah malu, ambil saja," tawar Eric sekali lagi, gadis itu mengatupkan bibirnya dan dengan malu-malu mengambil ice cream dari tangan Eric.


"Terimakasih," lirih gadis itu, Ia segera menjilat ice cream vanilla itu.


Eric mengulas senyuman, "Ini," Eric menyerahkan saputangan miliknya yang berwarna biru tua kepada gadis itu.


"Untuk apa? Aku sudah tidak menangis," gadis itu menolak sapu tangan pemberian Eric.


"Mulutmu belepotan Nona, sapu tangan ini bukan untuk airmatamu. Tapi untuk bekas ice cream yang tersisa di sudut bibirmu," ucap Eric datar.


Gadis itu merasa malu, Ia segera meraih sapu tangan Eric dan mengelap dengan cepat bekas ice cream yang belepotan di sudut bibirnya.


"Terimakasih," ucap gadis itu sekali lagi.

__ADS_1


Eric menganggukkan kepala, "Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Eric sambil memiringkan kepala agar bisa melihat gadis itu dengan jelas.


Gadis itu merasa malu dengan tatapan Eric, Ia menganggukkan kepala dengan ragu-ragu.


"Iya, Aku merasa lebih baik walaupun hatiku masih terasa sakit," gadis itu memejamkan mata dan menekan dadanya, perasaan nya masih berkecamuk.


Eric seolah mengerti perasaan gadis itu, "Jika kamu butuh teman untuk berkeluh kesah, Aku siap menjadi pendengar yang baik untuk mu nona," ucap nya dengan mengulum senyum.


Gadis itu bergeming, airmatanya kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia kembali terisak, sakit hati yang Ia rasakan tak lagi mampu Ia sembunyikan dari laki-laki yang baru saja memberinya ice cream.


"Rasanya sangat sakit sekali, Aku menunggunya. Tapi dia mengkhianatiku," ucapan gadis itu terhenti, Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Membiarkan airmatanya jatuh melewati sela-sela jemarinya.


"Berarti dia tak pantas untukmu, kamu terlalu baik untuknya. Jangan menangisi hal yang sia-sia, dia tak pantas untuk kamu tangisi. Justru kamu harus bersyukur karena kamu terbebas dari orang yang tak menghargaimu," tutur Eric.


Gadis itu segera menurunkan kedua tangannya, Ia menyeka airmatanya dengan kedua tangannya. Ucapan laki-laki itu dibenarkan olehnya, tak seharusnya ia menangisi orang yang tak pantas di tangisi.


Drrrttt ... drrrrttt ... drrrrttt ....


Suara ponsel Eric memecah kesunyian antara mereka berdua, Eric segera menerima panggilan yang berasal dari ponselnya.


"Erina," lirih Eric setelah melihat nama di layar ponselnya.


"Halo, ada apa Rin?" tanya Eric


"Kak, entah kenapa Aku tiba-tiba merindukanmu. Bisakah besok kamu datang kerumah ku?" ucap Erina


"Ha-ha-ha, ini permintaan adik ku yang sangat cantik ini atau permintaan ketiga keponakan paman?" seloroh Eric, yang membuat Erina ikut tertawa.


"Keduanya kak," jawab Erina dengan diiringi tawa.


"Ya sudah, besok pagi Aku akan datang kerumahmu. Tunggu kakak besok ya," tutur Eric sembari menutup telepon.


Gadis yang berada di sebelah Eric masih terdiam, namun Ia terlihat sudah lebih baik. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri tepat di hadapan Eric.


"Terimakasih, saputangan ini boleh untukku. Tak mungkin Aku mengembalikannya, karena ini sangat kotor," ucap gadis itu.


Eric juga bangkit dari kursi taman itu, Ia menganggukkan kepala dan mengulas senyuman kepada gadis itu.


"Ambilah," lirih Eric.


Gadis itu menganggukkan kepala, "Terimakasih, Aku pergi dulu," kata gadis itu seraya berjalan meninggalkan Eric.


"Boleh Aku tahu namamu ....?" teriak Eric, Ia menjeda kalimatnya, "Supaya Aku bisa menegurmu, ketika Aku menjumpaimu kembali menangis."



Gadis itu tersenyum, "Namaku Anggen," teriak nya seraya melambaikan tangan dan berlalu meninggalkan Eric sendiri. Laki-laki itu mengulas senyuman.


"Gadis yang manis," gumam Eric

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2