
Seperti biasa, setiap beberapa hari sekali Eric selalu berkunjung ke rumah Anggen. Gadis itu pun mulai terbiasa dengan kehadiran laki-laki yang umurnya terpaut lima tahun lebih tua darinya.
Eric dan Anggen merasa nyaman satu sama lain, tak ada ikatan antara mereka. Tapi mereka memiliki chemistry yang kuat, Eric seringkali merasakan rindu jika lama tak bertemu dengan Anggen. Begitu pun sebaliknya, Anggen merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan Eric.
Eric dan Anggen sudah berada di salah satu cafe di kotanya, cafe yang menyuguhkan panorama langit sore menjelang petang. Langit biru nan elok terpampang jelas, konsep outdoor dengan beratap langit dan lampu yang berpendar membuat suasana begitu syahdu untuk pasangan yang sedang kasmaran.
Tak terkecuali Anggen dan Eric, meskipun hubungan mereka tak pernah terucap kata maukah kamu menjadi kekasihku. Tapi hal itu tak pernah menyurutkan rasa mereka yang terus bertumbuh, Eric bukan lah orang yang mudah menebar janji. Setidaknya dia ingin membuktikan pada Anggen dengan tindakan bukan dengan kata-kata yang bisa menghanyutkan sekaligus menenggelamkan.
Eric dan Anggen begitu menikmati hidangan dinner sederhana ala mereka, senyum manis tergambar di wajah Anggen yang malam itu tampak begitu cantik dengan polesan make up natural.
Sejenak Eric memandang lekat wajah Anggen, gadis itu tampak tersipu. Eric semakin mendekat ke arah Anggen, ia meraih tisu yang terletak di tengah meja.
Tubuh mereka semakin dekat, Eric mengarahkan tangannya ke ujung bibir Anggen. Darah gadis itu berdesir ketika tangan Eric menyapu bibir mungilnya dengan tisu, Anggen bergeming tak berkutik mendapat perlakuan secara tiba-tiba dari Eric.
Menyadari tubuh Anggen mematung, Eric mengulas senyum seraya berkata, "Maaf, bibirmu belepotan," jelas Eric. Ia segera membenarkan posisi duduk nya.
Mata Anggen mengerjap cepat, samar-samar ia menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Gadis itu mengelus dadanya secara perlahan, untuk menormalkan detak jantung nya.
"Terimakasih," ucapnya seraya menyunggingkan sebuah senyuman yang menampakkan gigi putihnya untuk mengusir rasa canggungnya.
Bibir Eric melengkung ke atas dengan sempurna, "Sama-sama," balas nya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Taman kota adalah tujuan mereka setelah makan malam, suasana di Taman tersebut tak terlalu ramai pengunjung. Hanya ada beberapa pengunjung yang tampak duduk di kursi Taman, termasuk Eric dan Anggen.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Eric membuka percakapan.
"Apa?" Anggen tampak terhenyak mendengar pertanyaan Eric.
"Hubungan kita saat ini, apakah kamu merasa nyaman?" Eric mengubah posisi duduk nya, lalu menoleh ke arah Anggen yang terlihat masih belum siap dengan pertanyaan nya.
"Aku merasa nyaman dengan hubungan kita, meskipun aku tak pernah mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi aku merasa, aku hanya perlu membuktikannya saja padamu. Bahwa perasaanku adalah kesungguhan," ungkap Eric.
"Jika kamu butuh kepastian tentang hubungan kita, saat ini aku hanya perlu meyakinkanmu. Tunggu aku ... persiapanku hampir sempurna, apa kamu mau menungguku?" imbuhnya.
Anggen menelan saliva nya dengan susah payah, ucapan Eric membuat debaran jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Suasana hening sesaat, Anggen tampak masih menimang jawaban yang tepat untuk Eric.
"Kamu tak harus menjawab sekarang, kita masih punya banyak ....,"
"Aku akan menunggumu! Iya, aku mau menunggumu kak Eric," potong Anggen.
Eric begitu senang mendengar jawaban Anggen. Pria yang memiliki lesung pipi ketika tersenyum itu segera meraih tangan Anggen, matanya berbinar senang.
"Aku menyukaimu, sangat menyukaimu," ucap Eric sambil mengulas senyum. Ia menggenggam erat jemari Anggen.
Anggen yang mendengar ungkapan suka Eric merasa sangat bahagia, senyuman manis tergambar di bibirnya. Lidahnya terasa keluh tak bisa berkata-kata, hanya senyuman yang menjadi jawaban untuk pernyataan Eric.
🍁🍁🍁
"Masuk lah," perintah Eric ketika mereka sampai di depan rumah Anggen.
__ADS_1
Namun, Anggen menggelengkan kepala nya.
"Aku ingin melihatmu pergi dan memastikan kamu untuk kembali lagi kesini," tutur Anggen seraya menyunggingkan sebuah senyuman.
Eric mendesah pelan, "Baiklah, jika itu yang kamu mau. Aku akan secepatnya kembali ... untuk menjemputmu, jadi tunggu lah aku. Sampai aku datang nanti."
"Aku pasti akan selalu menunggumu," ucap Anggen.
"Aku pergi dulu, tidur lah secepatnya. Agar kita bisa bertemu lagi ... Aku akan datang di mimpimu."
Anggen hanya menganggukkan kepala beberapa kali, "Itu pasti."
Eric berjalan meninggalkan Anggen, beberapa kali Ia menoleh ke arah ke gadis itu dan melambaikan tangan. Seolah enggan untuk berpisah.
Adegan antara Anggen dan Eric ternyata sudah di awasi oleh seseorang yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka, Ia sengaja bersembunyi di balik pohon. Agar Eric tak mengetahui keberadaannya.
Setelah di rasa Eric sudah pergi jauh, gadis itu berjalan menghampiri Anggen.
"Selamat malam nona Anggen," sapa gadis itu sambil tersenyum tipis.
Anggen segera menoleh ke arah gadis itu, Ia mengerutkan kening karena merasa tak kenal dengan gadis yang tengah berdiri di hadapannya itu.
Bersambung ....
💖💖💖
Mampir ke karya kakak online author ya, cerita kocak si Zeno yang ingin balas dendam kepada keluarga Wijaya. Namun, di tengah rencananya. Ia dilanda dilema karena Zeno memiliki rasa kepada putri musuhnya tersebut. Penasaran gimana kisahnya. Kuy, ikuti kisahnya di novel Balas Dendam Cowok Kampungan by Linanda Anggen ya😍👍🏻
__ADS_1