Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Bahagia Memilikimu


__ADS_3

Ruang kamar mandi yang di dominasi warna putih itu kini tengah menjadi tempat untuk menghilangkan rasa penat setelah seharian berkutat dengan tumpukkan dokumen yang harus ditanda tanganinya.


Guyuran air hangat yang memancar dari shower, menyegarkan raga dan pikirannya, sejenak Ia biarkan tubuhnya yang penuh dengan sabun dan shampo itu. Lalu dengan perlahan Ia menggosok rambutnya dengan telapak tangannya, Arga cukup menikmati ritual mandinya kali ini. Seolah beban yang seharian menumpuk di pikirannya melebur dengan air yang mengucur dari shower tersebut.


"Sudah aku siapkan air sayang, apa kamu mau mandi sekarang?" tanya Arga sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Kamu sudah mandi sayang?" Cairan bening tampak membasahi kedua sudut matanya saat Ia menguap beberapa kali, tanda bahwa wanita itu masih mengantuk.


Arga berjalan mendekatinya, mendudukkan tubuhnya di sebelah Erina yang masih menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


"Apa kamu mau tidur seharian sayang? Jika memang begitu aku akan menemanimu tidur." Pria itu merebahkan tubuhnya dan segera melingkarkan tangannya di tubuh istrinya yang sangat Ia cintai. Ia mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Erina.


"Iya, rasanya tubuh ku malas sekali di gerakkan sayang."


"Mau aku mandikan? Dengan senang hati aku akan memandikanmu sayang, ayo!" Arga segera bangun dan menggendong tubuh Erina, wanita itu tampak terperangah dengan gerakan tiba-tiba sang suami.


"Tapi sayang ....?"


Erina mencoba melepaskan tubuhnya dari Arga, tapi usahanya sia-sia. Meskipun pria itu terlihat kesusahan saat menggendong Erina, tapi itu tak menyulut semangatnya.


Dengan tersenyum smirk Arga menurunkan Erina tepat di depan bathub yang sudah penuh terisi oleh air hangat.



Aroma Essential oil chamomileΒ menguar di indra penciuman Erina, begitu menenangkan pikirannya.


"S-sayang, apa yang kamu lakukan? Aku bisa mandi sendiri sayang!" protes Erina seraya menghentikan tangan Arga yang mulai menyingkap dress hamilnya.


"Sudah, jangan membantah. Tadi kamu bilang malas bergerak? Jadi biarkan aku membantumu bergerak sayang," godanya dengan tersenyum miring. Membuat bulu Erina meremang dengan kata-kata yang baru saja terucap dari bibir suaminya itu.


"Tapi sayang ...."


"Sudah, kamu terlihat manis kalau kamu nurut. Jangan membantah, Ok!" Arga semakin melancarkan aksinya, Ia segera membuka resleting dress Erina. Dan dengan sekali hentakan tubuh polos Erina terpampang di hadapan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu, Arga tampak menelan salivanya beberapa kali.


"Kamu sangat seksi sayang," godanya tepat di telinga Erina. Membuat wanita itu merasakan sensasi yang tak ingin Ia lanjutkan, karena Ia benar-benar merasa lelah sekali.


"Sayang ... sudahlah, aku akan mandi sendiri. Kamu hanya akan membuatku menjadi sasaran empukmu untuk bergerilya, iya kan?"


"Kamu pikir aku seorang penjajah yang melakukan kudeta kepada seorang musuh apa?" Arga segera menggendong tubuh Erina dan meletakkan di bathub. Kali ini Erina tak membantah, Ia menuruti perlakuan suaminya dengan raut wajah menahan malu.


Pria itu dengan perlahan menggosok punggung Erina dan memberikan pijatan kecil di setiap sentuhan nya, wanita itu sangat menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan.


Namun, mata Erina terbelalak ketika tangan jahil Arga menyentuh bagian sensitifnya. Ia segera mengalihkan tangan pria itu dengan mendelik kesal.


"Tak ada mandi plus-plus," hardik Erina dengan memukul pelan tangan Arga. Pria itu terkekeh melihat reaksi istrinya.


"Maaf khilaf ...." ucapnya dengan senyuman tergambar di wajahnya.


"Jangan ulangi lagi, atau ...." kalimat Erina terhenti, karena Arga segera mengunci bibirnya.

__ADS_1


Arga memagut bibir mungil Erina yang sedari tadi sudah sangat menggodanya, Ia tak tahan. Sungguh tak tahan, untuk tak menjamah bibir itu.


Mereka berdua tampak larut dalam ciuman yang semakin liar itu, mendamba satu sama lain dan bahkan menjadi candu untuk mereka.


Andai saja malam ini tak ada acara penting kakaknya, Erina akan dengan senang hati melayani sang suami. Tapi, ia tak bisa melewati malam bersejarah itu. Ia ingin menjadi saksi untuk sebuah lamaran yang telah disiapkan oleh Eric untuk Anggen.


🍁🍁🍁


"Sayang ... ku mohon, ini bukan waktu yang tepat. Kita harus datang di acara lamaran kak Eric." Erina mendorong tubuh Arga dan menghentikan aktifitas ciuman panas mereka.


Arga berdecak kesal, bagaimana tidak? Ia bahkan belum terpuaskan dan Erina menghentikan semuanya secara sepihak.


"Sayang, tapi aku ingin ...." Raut wajah Arga tampak memelas.


"Sayang, kita tidak punya banyak waktu. Sudah lanjutkan saja sendiri, aku akan lanjutkan mandiku di shower." Erina segera bangkit dan berjalan ke tempat shower.


"Ck ... kamu berhutang padaku untuk hari ini," pekik Arga dengan raut wajah kesal. Dengan terpaksa Ia harus melanjutkan penuntasan hasratnya seorang diri.


"Iya, aku akan membayar hutangku itu," teriak Erina di bawah guyuran air shower.


"Benarkah?" tanya Arga dengan wajah berbinar. "Nanti malam ya?" imbuhnya.


"Tidak, setelah aku melahirkan ketiga anakmu ini sayang," seloroh Erina di iringi tawa renyahnya.


"Apa ...? Itu sama saja kamu menyiksaku, kamu kan masih lama melahirkan nya sayang," desis Arga semakin kesal.


🍁🍁🍁



Eric sudah menyewa cafe tersebut untuk malam ini, tak ada pengunjung lain selain mereka bertiga. Eric yang mengenakan jas berwarna hitam dengan kemeja putih tampak tampan sekali, sama halnya dengan Arga yang tampak sangat menawan malam itu. Pria itu mengenakan jas berwarna biru senada dengan warna celananya.



"Kak Eric," sapa seorang gadis yang saat itu mengenakan atasan warna putih dengan rok selutut berwarna hitam. Terlihat sangat manis sekali.


"Anggen, kamu sudah datang?" Eric mengulas senyum, sangat terlihat kebahagiaan terpancar di wajah pasangan tersebut.


"Duduklah!" Eric menarik kursi untuk gadis itu, dengan senyum masih terpancar di wajah manisnya Ia duduk perlahan. Gadis itu mengedarkan pandangannya, terasa aneh karena tak ada pengunjung lain selain mereka berempat.


"Kenapa sepi sekali?" tanya Anggen setelah Eric mendaratkan tubuh nya di hadapannya.


Eric kembali tersenyum, senyuman yang mengandung sejuta makna. Senyuman yang mewakili perasaannya saat ini.


🍁🍁🍁


Suara band pengirim mulai terdengar, Eric yang sebelumnya pamit untuk ke toilet kepada Anggen ternyata sudah di berada di kursi paling depan band tersebut.


Lagu Yovie & Nuno "Janji Suci" terdengar sayu-sayu dinyanyikan oleh Eric, Anggen yang tempat duduk nya berada tepat di hadapan band tersebut tampak terkesiap.

__ADS_1


*Dengarkanlah, wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu, dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


Tuk yang pertama dan terakhir*


Eric bangkit dari tempat duduk nya, pria itu berjalan mendekati Anggen. Ia menjatuhkan tubuh nya ke lantai dan bertumpu pada kedua lututnya, kedua tangannya meraih jemari Anggen dan menggenggamnya.


"Anggen ... Aku bukanlah pria yang pandai merangkai kata, Aku hanyalah pria biasa yang mencoba untuk selalu membahagiakan gadis yang Aku cintai saat ini dan selamanya. Dan gadis itu adalah kamu. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Menjadi orang pertama yang selalu Aku lihat saat aku bangun tidur. Menjadi ibu untuk anak-anakku, dan menemaniku di saat susah dan senang? Anggen, maukah kamu menikah denganku?"


Kalimat Eric benar-benar menyentuh hati Anggen, mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu.


"Iya, aku mau," ucap Anggen dengan malu-malu. Cairan yang sedari tadi tampak menggenang, perlahan mulai lolos dari kedua sudut mata gadis itu. Tangisan bahagia.



Eric tampak tersenyum, Ia benar-benar bahagia mendengar jawaban Anggen. Pria itu segera beranjak dan berdiri di hadapan Anggen.



Eric menarik pelan tangan Anggen, gadis itu mengikuti gerak tangan Eric. Pria itu segera memeluk erat Anggen dan berucap, "Terimakasih-terimakasih." Ia tak henti berucap terimakasih kepada Anggen.


🍁🍁🍁


Sementara itu, di kursi yang tak terlalu jauh dengan Eric dan Anggen. Tampak Erina sedang terisak, Ia begitu terharu dengan adegan mereka berdua. Tangisan bahagia yang terus keluar dari sudut mata Erina membuat Arga berpikir keras, bagaimana caranya agar tangisan bahagia Erina semakin sempurna.


Arga tampak mengedarkan pandangannya, menyapu ke seluruh ruangan. Ia berjalan mengambil bucket bunga yang berada tak jauh dari mejanya.



"Untukmu sayang?"


Erina terperangah, tangisan nya semakin kencang. Ia kembali terharu dan bahagia, kedua pria yang sangat penting dalam hidupnya. Membuat Ia sangat bahagia malam ini, dengan terisak Ia meraih bucket dari tangan Arga.



Wanita itu segera memeluk Arga dengan erat, Arga pun sama dengan Erina. Ia merasakan kebahagiaan tiada terkira, karena kebahagiaan nya cukup sederhana. Melihat Erina bahagia adalah hal yang membahagiakan nya.


Bersambung ....


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Sambil nunggu up, mampir ke novel temen author ya😍

__ADS_1



__ADS_2