
Erina tampak gelisah, hampir setengah jam dia di dalam kamar mandi. Mondar-mandir tak jelas. Erina memegang bungkus kecil yang bernama "Testpack" yang dibelinya via online, Erina masih tampak ragu menggunakannya.
Sudah hampir satu bulan aku tidak datang bulan, bagaimana ini.
Erina menatap bungkus itu sambil membolak-balikkan nya.
Dan aku tak tahu cara memakainya.
Erina merasa frustasi. Erina mencari petunjuk pemakaian. Dia membuka dan mengeluarkan alat tespacknya.
Erina melakukan sesuai intruksi di petunjuk pemakaiannya, dan mengambil alat testpack yang sudah di rendam beberapa menit. Awalnya tampak jelas garis satu, kemudian garis kedua tampak samar dan beberapa detik kemudian jelas terpampang dua garis.
Erina bergegas mengambil bungkus dan membaca dengan teliti, apa arti dari dua garis itu. Ya, Erina sangat lugu dan polos dalam masalah ini. Dia benar-benar awam tentang masalah kehamilan.
"Positif, itu artinya aku hamil. " Erina menutup mulutnya dengan satu tangannya. Tampak tak percaya dengan hasil alat kecil itu. Airmata Erina tampak mengalir sendiri tanpa aba-aba. Airmata bahagia.
Erina ingin segera memberitahu suaminya, tapi diurungkan nya.
Tidak, aku akan memberitahunya nanti di saat yang tepat.
Erina keluar dan melihat suaminya masih di terlelap di tempat tidurnya. Ingin rasanya Erina berlari dan memeluk suaminya dan mengatakan "aku hamil". Tapi kembali di urungkan niatnya.
Erina keluar kamar menuju dapur, membantu bibi Mar yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.
Bibi Mar sudah tidak pernah melarang Erina, karna Erina menggunakan senjatanya "Bibi Mar, nanti kalau bibi melarangku lagi. Bibi aku adukan kepada tuan ya kalau bibi nakal sama aku. " Bibi Mar bukan malah takut, malah terkekeh mendengar kalimat Erina. Karna memang nona mudanya ini sangat menggemaskan. Sejak itu bibi Mar senang jika Erina membantunya di dapur.
***
Arga sudah rapi dengan jas dan dasinya. Erina menemani suaminya sarapan, "Honey, nanti malam kita makan diluar ya. Beberapa hari ini aku terlalu sibuk dengan urusan kantor, aku merasa sudah sedikit mengabaikanmu dan kamu pasti sangat kesepian. Pak sam sudah mempersiapkan semuanya dengan baik" jelas Arga
"Iya honey, nanti aku juga ada kejutan buat kamu. " Erina tersenyum menggoda Arga.
"Apa kejutannya??" Arga tampak penasaran.
"Nanti saja ya suamiku. " Erina mengedip-kedipkan matanya. Dan terlihat sangat menggemaskan
"Kamu yaa, awas nanti kalau sampai aku tidak terkejut." Arga mencubit hidung Erina.
"Sudah berangkat sana, pak sam sudah menunggu tu." kata Erina sambil menunjuk pak Sam yang setia menunggu di ruang tengah.
"Aku berangkat dulu ya istriku. " Arga mencium kening Erina dan berlalu meninggalkannya.
***
Suasana di kantor Arga
"Tuan, ada telfon dari nyonya besar. " pak Sam memberikan ponsel tuannya.
"Iya bu, ada apa bu?? " Arga menerima telfon ibunya.
"Arga.. " suara ibu tampak berat
"Ada apa bu?? " Arga semakin penasaran.
"Clarissa kecelakaan, kamu bisa ke rumah sakit kan sayang. Ibu sekarang tidak bisa menemaninya karna ibu dan ayahmu masih Di negara XX untuk suatu urusan. Dia sendirian di rumah sakit. " jelas ibu Arga yang sangat tampak khawatir dengan keadaan Clarissa. Karna Clarissa di negara ini sendirian, keluarganya berada di negara lain.
__ADS_1
"Baik bu. " Arga menutup telfon dan tampak khawatir dengan keadaan Clarissa.
Arga diam memikirkan sesuatu dan akhirnya dia memutuskan untuk menelfon istrinya.
"Honey, hari ini kamu berangkat di antar pak Yan ya. Aku tak bisa menjemput mu. " suara Arga terdengar seperti tak biasa.
"Oh iya honey, tidak apa-apa. Aku akan berangkat bersama pak Yan. Pekerjaan mu belum selesai hun?? " Erina penasaran apa yang sedang terjadi dengan suaminya.
"Bukan honey, ibu barusan menelfon ku. Clarissa kecelakaan, dia memintaku untuk menjenguknya kesana. Karna disini dia kan tinggal seorang diri." jelas Arga dengan hati-hati takut melukai perasaan istrinya.
"Kalau begitu kita batalkan saja makan malamnya hun. Apa perlu aku temani ke rumah sakit?? " Erina tampak mengkhawatirkan keadaan Clarissa.
"Tidak honey, kita tetap makan malam diluar. Hanya saja aku akan datang terlambat. Aku hanya menjenguknya saja selanjutnya biar pak Sam yang mengurus masalah Clarissa. " jelas Arga kepada Erina.
"Baiklah hun. " Erina menutup telfon suaminya.
Semoga Clarissa baik-baik saja
Erina sangat mengkhawatirkan kondisi Clarissa.
***
Arga sudah berada dirumah sakit, dia melihat Clarissa masih belum sadarkan diri.
"Pak Sam, setelah ini urus semuanya. Aku akan pergi menemui Erina. " jelas Arga kepada pak Sam.
"Baik tuan" pak Sam menganggukan kepala
Erina sudah sampai di restoran, dia menunggu di tempat yang sudah di siapkan oleh pak Sam.
Erina tersenyum melihat pemandangan di depannya. Erina menggunakan gaun berwarna merah muda dengan lengkap anting dan kalung yang melingkar di lehernya. Penampilannya sungguh sangat cantik malam ini.
Erina menunggu beberapa menit dan memutuskan untuk menyusul ke rumah sakit karna perasaan khawatir nya semakin besar.
Erina melangkah keluar menuju parkiran, dan tiba-tiba mulutnya sudah di sumpal dengan kain yang sudah dibubui obat bius sebelumnya.
Laki-laki itu membopong tubuh Erina yang sudah terkulai lemas masuk ke dalam mobil. Mobil itu melaju kencang membawa Erina ke suatu tempat.
***
Di rumah sakit, Arga masih tampak khawatir dengan Clarissa yang belum sadarkan diri.
Pak Sam menerima pesan singkat. Pesan berisi foto Erina di bopong oleh seorang laki-laki misterius. Pak Sam terlihat sangat tidak senang dia mengepalkan tangannya. Dan berpikir apa yang akan terjadi jika Tuan Arga tau.
"Tuan" Pak Sam memberikan ponsel yang baru saja dilihatnya kepada tuan Arga.
Tuan Arga mengambil ponsel yang masih di pegang pak Sam. Tatapan Arga tampak begitu marah, sorot matanya benar-benar menakutkan. "Apa yang sudah dilakukan anak buahmu, sampai Erina lepas dari pandangan mereka?? " tuan Arga berteriak kepada sekertaris nya.
Tuan Arga tak berpikir panjang. Dia berlari keluar rumah sakit, "Tuan, mereka sudah mengikuti mobilnya." pak Sam mengikuti Arga dari belakang
"Siapkan mobil, kita akan menyusul kesana. Aku tak mau terjadi apa-apa dengan istriku. " perintah tuan Arga yang sekarang sangat mencemaskan keselamatan Erina.
"Baik tuan"
Mobil Arga melaju dengan kencang, mengikuti petunjuk arah yang diberikan anak buah pak Sam.
__ADS_1
"Maaf tuan, kami kehilangan jejak. " anak buah pak Sam menelfon
"Bo**h kalian, cari sampai ketemu. " pak Sam, terlihat sangat murka dengan anak buahnya.
"Baik tuan. "
Pak Sam mengubungi seluruh anak buahnya dan memberi intruksi untuk mencari keberadaan nona Erina.
Arga mengepalkan tangan menahan amarahnya. Dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Erina.
Erina kamu dimana sekarang.
Arga mendesah dalam hati.
***
Erina sudah tergeletak di kasur, di sebuah gudang yang lama tak berpenghuni. Tiga laki-laki besar sudah berdiri menjaga di depan pintu.
Seorang laki-laki tampak mengamati Erina yang masih belum sadarkan diri, memandang Erina dengan penuh kerinduan dan amarah.
"Sekarang kamu akan tahu siapa aku Rin. " suara laki-laki itu tampak menahan amarahnya.
Erina tampak sudah sadar, dia melihat sekitar dan hanya ada laki-laki misterius itu yang terus mengamatinya. Tubuh Erina gemetar ketakutan. Menekuk lututnya dan memeluknya.
"Kaaa... mu siapa?? maaaa.. uu apa kamu?? " suara Erina bergetar
"Kamu lupa ya denganku sayang? " laki-laki itu membelai rambut Erina dengan kasar. Membuat Erina mengaduh kesakitan.
"Kumohon lepaskan aku, apa yang kamu inginkan dariku?? " Erina mengumpulkan keberaniannya.
"Rupanya kamu benar-benar lupa denganku yaa. " laki-laki itu lebih mendekat ke wajah Erina. Erina tampak kaget.
"Dion, apa yang kamu inginkan?? " Erina mengenal laki-laki itu. Laki-laki yang pernah menyatakan cintanya namun Erina tak menerima cintanya.
"Sudah ingat rupanya kamu?? " tubuh Dion semakin mendekat membuat Erina mundur sampai menatap tembok.
"Aku masih mencintaimu sayang, jika saja kamu menerima cintaku aku tak akan menyakitimu. " suara Dion mulai melembut.
"Tidak, aku sudah menikah Dion." Erina menjawab tegas tapi tangannya masih gemetar ketakutan.
"Kamu masih saja menolakku ya, kamu masih sombong ya. " tangan Dion mencengkram rambut Erina. Erina berteriak kesakitan.
"Kumohon Dion hentikan, sakit. " suara Erina terdengar pias.
Dion menarik rambut Erina, hingga Erina berdiri mengikuti gerakan tangan Dion dan turun dari kasur. Dion kini mencengkram lengan Erina.
"Sekarang jawab, Terima cintaku atau kau akan menyesal seumur hidup?? " Dion berteriak ke arah Erina.
Membuat Erina semakin putus asa.
"Sudah aku katakan, aku sudah menikah Dion. " suara tangis Erina kini terdengar
Dion semakin murka dan menghempaskan tubuh Erina ke sudut ruangan. Tubuh Erina menatap meja. Erina meringis kesakitan.
Suamiku.. aku mohon, tolong aku..
__ADS_1
Bersambung