Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Kelicikan Clarissa


__ADS_3

Nyonya Hutama yang melihat keberadaan Erina dan Clarissa di sebelah pintu keluar Galeri, segera bergegas menuju kesana. Clarissa yang sekilas melihat Nyonya Hutama berjalan mendekatinya, segera merencanakan hal buruk kepada Erina.


"Erina .... " panggil Clarissa.


"Iya." sahut Erina


"Tolong kamu pukul nyamuk yang ada di pipiku, aku phobia terhadap nyamuk." pinta Clarissa, bola mata Erina terpusat pada pipi mulus Clarissa. Tidak ada satu pun sesuatu di pipinya.


"Tapi ... di pipimu ...." belum sempat Erina menyelesaikan kalimat, Clarissa meminta ulang.


"Cepat Erina, aku sudah sangat jijik ada sesuatu menempel di pipiku." bentak Clarissa. Clarissa melebarkan matanya.


Erina mengerutkan dahinya, menyipitkan matanya agar bisa melihat lebih jelas ke arah wajah Clarissa.


"Erina ... cepat." bentak nya sekali lagi. Clarissa menyatukan kedua alisnya.


Erina akhirnya menuruti permintaan Clarissa, dengan wajah kebingungan dia mengangkat salah satu tangannya.


Merasa Erina sudah menuruti kemauannya, Clarissa berkata sekali lagi.


"Lakukan dengan keras!" seru Clarissa.


Erina membulatkan bibirnya, masih sedikit bingung. Dia mengedipkan mata secara perlahan berulang kali.


Kenapa dia tiba-tiba bertingkah seperti ini sih?


gumam Erina yang masih terlihat bingung.


Clarissa melirik ke arah Nyonya Hutama yang semakin mendekat ke arah mereka.


"Erina ... cepat lakukan dengan keras, sekarang juga." ucapan Clarissa penuh dengan penekanan, raut wajahnya sedang tak main-main.


Erina yang masih di selimuti kebingungan, akhirnya mendaratkan satu tangannya di pipi Clarissa. Bukan sebuah tamparan keras seperti yang pernah dia lakukan di pesta Nyonya Sanjaya dulu, tapi sebuah pukulan kecil.


Clarissa tersenyum puas dalam hatinya.


Akhirnya kamu kena jebakanku juga Erina, sekarang tante Hutama menyaksikan sendiri kamu menamparku tanpa alasan. Dia yang begitu menyayangiku pasti akan membencimu sekarang.


gumam Clarissa penuh kemenangan.


Clarissa segera meletakkan salah satu tangan di pipinya, mengaduh sekeras mungkin. Gadis itu sedang menjalankan peran nya, peran seorang gadis yang telah di sakiti oleh Erina.


"Aduh, kenapa kamu menamparku?" teriak Clarissa mengaduh. Dia segera berlari ke arah Nyonya Hutama dan Nyonya Sanjaya dengan tangan masih memegang pipinya yang tak lecet sedikit pun.


Erina segera menyadari kelicikan Clarissa, ternyata dia sedang dijebak. Tapi sayangnya Erina tak bisa membela diri, semua orang melihat dia sedang menampar Clarissa.


"Tante ... sepertinya Erina sangat membenciku. Dia bahkan menamparku tanpa alasan." peran antagonis sukses dimainkan oleh Clarissa. Begitu pikir Erina.


Erina terdiam mematung, dia terus mengawasi Clarissa yang terus memojokkan nya. Tak ada pembelaan yang dilakukannya, Clarissa telah menguasai keadaan. Dia lah korbannya, begitu pikir kebanyakan orang.


Nyonya Sanjaya melemparkan pandangannya ke arah Erina, pandangan jijik sekaligus merendahkan bercampur menjadi satu.


Cih,


"Sekali level rendah, tetap tak akan bisa sepadan dengan kelas konglomerat." ucap Nyonya Sanjaya lirih, seketika Nyonya Hutama langsung melirik ke arah Nyonya Sanjaya.

__ADS_1


Nyonya Hutama terlihat begitu kecewa kepada Erina, Nyonya Hutama memejamkan pelan kedua matanya dan mengambil nafas dalam-dalam. Membuka kedua kelopak matanya secara perlahan dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, Nyonya Hutama berjalan pelan ke arah Erina.


"Telfon suamimu, suruh dia menjemputmu. Aku masih ada beberapa urusan." Suara Nyonya Hutama terdengar sangat jelas di seluruh ruangan, Erina hanya bisa menganggukan kepala dengan lemah.


Nyonya Hutama segera pergi meninggalkan lokasi galeri lukisan tanpa Erina.


Sorak sorai menari di kepala Clarissa, dia terlihat sangat senang. Karna Nyonya Hutama berhasil larut dalam permainannya.


Rasakan sekarang kamu Erina, sudah tak ada harapan lagi untuk bertahan saat ini.


gumam Clarissa penuh percaya diri.


Nyonya Sanjaya dan Clarissa berjalan mendekati Erina yang masih terpaku di sudut pintu keluar Galeri.


"Kamu harus tahu diri, gadis murahan. Disini bukan tempatmu, kamu tak akan menang melawanku." ucap Clarissa dengan menepuk pelan pipi Erina. Erina hanya memejamkan matanya, menahan airmata yang dari tadi sudah ingin jatuh ke pipinya.


***


Erina keluar Galeri, dia tidak menghubungi Arga. Hatinya sangat kacau saat ini, tidak mungkin bertemu suaminya dengan perasaan tak karuan seperti ini. Bisa-bisa nanti masalah akan semakin runyam, begitu pikirnya.


Erina memesan taksi online di ponselnya, tak menunggu lama. Taksi online segera menjemputnya, Erina melangkahkan kakinya dengan sedikit ragu. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk dengan pikiran melayang kemana-mana.


Di sepanjang perjalanan Erina hanya diam sambil terus mengingat kejadian di Galeri itu.


Ia tak habis pikir, Clarissa bisa melakukan hal selicik itu.


Dia hanya ingin melihatku pergi dari kehidupan Tuan Arga, dan sekarang ibu mertua sudah mulai membenciku. Lalu apakah aku harus tetap bertahan?


gumam Erina merasa putus asa.


Aku hanya ingin menenangkan diri sebentar saja.


Batin Erina mencoba menenangkan pikiran nya yang benar-benar sedang kalut.


Mobil berhenti di sebuah mall, Erina mengernyitkan dahinya.


Kenapa berhenti disini. Batinnya.


Erina tidak sadar telah menulis tujuan ke mall di ponselnya sebelum memesan taksi online.


Sepertinya ini tak terlalu buruk.


Gumamnya dalam hati.


Erina segera mengambil selembar uang dari dalam tasnya dan keluar mobil.


"Kembaliannya nona?" seru pak sopir sambil mengulurkan beberapa lembaran kepadanya.


"Buat bapak saja." sahut Erina tersenyum manis kepada pak sopir.


"Terimakasih banyak nona." jawabnya dengan raut wajah bahagia, Erina pergi berlalu meninggalkan sopir taksi itu.


"Ya Allah, cantik sekali nona itu." Ucapnya lirih seraya mengemudikan kendaraannya untuk menjauh dari parkiran mall.


***

__ADS_1


Erina melangkah masuk ke mall, dia memutar bola matanya. Tak tahu kemana kakinya akan melangkah, dia terus berjalan dan berhenti di sebuah gerai kue. Erina tersenyum dan segera berjalan masuk ke gerai tersebut, di dalam gerai itu ada beberapa kue favoritnya.


Erina menundukkan badannya agar bisa leluasa melihat beberapa macam kue yang tersusun rapi di sebuah etalase khusus kue.


"Selamat siang, selamat datang di Gerai Kue Nania. Ada yang bisa saya bantu nona?" sapa seorang pegawai roti tersebut, dengan senyum ramah mengembang di bibirnya.


Erina menegakkan badannya, kini dia berdiri sejajar dengan pegawai kue yang berada di belakang etalase kue itu.


Erina tersenyum simpul.


"Saya mau pesan ini, ini dan ini mbk." Erina menunjuk beberapa jenis kue yang menurutnya sangat menggugah seleranya.


Pegawai itu segera mengambil jenis roti yang sudah di tunjuk Erina. Erina juga memilih salah satu minuman yang ada di daftar menu di depan kasir, Erina segera membayar dan duduk di pojok gerai.


Erina memilih duduk di sebelah kaca besar transparan yang dengan leluasa bisa melihat ke arah luar mall, karena gerai itu berada di lantai dasar mall.


Erina menikmati kue berukuran mini yang di balut dengan keju parut di atasnya, rasanya benar-benar lumer di mulut Erina. Erina sangat menikmati gigitan demi gigitan, sampai lupa dengan masalah yang baru saja di hadapinya.


***


Arga sudah berada di perjalanan untuk menjempur Erina, Arga mengikuti petunjuk di ponselnya. Lokasi Erina sudah tersambung lewat ponsel milik Arga. Alat canggih itu akan secara otomatis mendeteksi keberadaannya dan sekarang sudah terbaca oleh Arga.


Arga telah berada di mall tempat Erina bersantai untuk melupakan sejenak masalahnya, sekilas Erina melihat beberapa bodyguard suaminya. Erina menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya dengan yang baru saja dia lihat. Karna tak mungkin suaminya juga berada di mall itu. Pikir Erina.


Arga telah sampai di gerai tempat Erina menikmati kue-kue favoritnya. Kedatangannya sontak membuat pengunjung gerai tertegun, karena penampilannya yang memang selalu mencolok. Setelan jas dan kemeja hitam sukses membuat seluruh pengunjung wanita tak henti mengaguminya.



Erina yang sedang asyik menikmati potongan kue terakhirnya seketika langsung terkejut melihat suaminya sudah berada di gerai kue tersebut. Erina menjatuhkan kue yang akan di lahap nya, mata dan mulut Erina membulat sempurna.


Tunggu bagaimana dia bisa tahu kalau aku sedang berada disini.


gumam Erina tersadar dari rasa terkejutnya, dia segera meraih ponsel di tasnya.


"Aku tidak mengirimkan pesan kepadanya kan." ucapnya lirih sembari mengecek ponselnya.


Arga sudah duduk tepat di depan Erina, Erina tak mampu menatap suaminya. Dia merasa kali ini sedang tak aman jika harus berhadapan dengan suaminya, walaupun suasana hati nya sudah sedikit membaik. Tapi dia masih belum siap jika harus dicerca pertanyaan.


"Tunggu ... kamu tahu darimana aku ada disini sayang?" tanya Erina dengan raut wajah penasaran.


"Kemanapun kamu pergi, aku pasti akan menemukanmu. Karna kamu adalah belahan jiwaku." Arga memangku wajahnya dengan kedua tangannya, memandang lekat-lekat Erina yang sedang kebingungan tentang keberadaan nya yang sudah diketahui oleh suaminya.


Erina segera menundukkan kepala, pipinya seketika berubah menjadi merah merona karna ucapan Arga.


"Ayo pulang, kita nanti di undang ibu untuk makan malam dirumah." Arga beranjak dari kursi dan menarik pelan tangan Erina.


Deggg ....


Erina sedikit terkejut dengan ucapan Arga, raut wajahnya berubah menjadi sedih.



Apa ini membahas masalah di galeri tadi? Apa ibu akan sangat marah kepadaku?


pikiran Erina kembali tak tenang, kejadian di galeri tadi kembali menghantuinya lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2