
Erina masih terdiam memandang Grand Piano yang sekarang sudah tepat berada di depan nya.
Clarissa yang memandang Erina penuh kebencian, akhirnya terlihat sangat senang karena merasa berhasil mempermalukan Erina di depan umum.
Rasakan gadis miskin, sekarang kamu tau kan status kamu tu beda sama kita. Kamu gak akan mampu sejajar dengan kita. Arga ... kamu pasti bakal mikir-mikir punya istri gak guna kayak Erina.
Gumam Clarissa, senyum kemenangan mengembang di wajahnya.
Gea yang merasa sesuatu yang membahayakan nona nya hanya bisa berdoa dalam hati, mulutnya terlihat komat kamit.
OMG! Bagaimana ini, kasihan nona Erina pasti sekarang dia kebingungan di atas sana. Haduh, aku harus bagaimana ini!
Gea terlihat sangat cemas sekali, dia khawatir dengan situasi yang sedang terjadi.
Sebenarnya Gea juga belum mengerti benar apa yang sedang terjadi antara Erina, Nyonya Sanjaya dan Clarissa. Dia hanya menyimpulkan sendiri, bahwa mereka berdua kurang menyukai Erina. Karena terlihat dari nada bicara nya kepada Erina.
Erina mengangkat kedua tangannya memulai menekan secara bersamaan tuts-tuts pada piano. Sayu-sayu terdengar melodi yang sangat indah, denting piano terdengar semakin jelas. Erina memainkan instrumen River Flows In You By Yiruma.
Semua tamu seolah terhipnotis oleh melodi yang dimainkan Erina, begitu indah dan sangat menyentuh. Jari-Jari Erina yang lentik menari di atas tuts piano, Erina memejamkan mata merasakan setiap gerakan jarinya.
Arga telah sampai di pesta, dia langsung menatap ke arah Erina yang berada jauh di atas panggung. Arga mematung mendengar kan melodi piano yang sedang di mainkan oleh istri tercintanya, ada perasaan bangga menelusup dalam benaknya.
Sedangkan Clarissa, sempat tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Ternyata aku meremehkan gadis miskin itu, dia ternyata bisa memainkan piano.
gumam Clarissa
Clarissa tampak begitu kesal, seperti senjata makan Tuan. Alih-alih ingin membuat Erina malu, kini semua para undangan tampak begitu terkesima melihat penampilan Erina bermain piano.
Erina sukses memainkan instrumen River Flows In You By Yiruma, suara riuh tepuk tangan para undangan terdengar memenuhi gedung. Erina tersenyum tipis dan kembali memainkan jarinya di atas tuts piano.
Instrumen kedua Kiss The Rain By Yiruma, melodi yang dimainkan Erina berhasil membuat para tamu undangan larut di dalamnya. Erina menyentuh tuts-tuts piano dengan penuh penghayatan, setiap sentuhan jari Erina berhasil menghasilkan bunyi yang sangat indah.
Arga yang masih terpaku di tempat, mulai memejamkan mata. Membiarkan pikirannya hanyut dalam melodi yang begitu menenangkan hatinya.
Aku tak menyangka bahwa istri yang sangat aku cintai adalah seorang pianis, melodi yang dimainkannya benar-benar membuat sangat tenang.
gumam Arga dengan mata masih terpejam.
Suara Erina sayu-sayu terdengar, dan kini terdengar lebih jelas.
"Jika hidup hanya soal perbandingan, maka selamanya kita tidak akan menerima perubahan." ucap Erina di sela-sela permainan pianonya. Jarinya masih terus menari di atas tuts piano itu, Erina melanjutkan kalimatnya.
"Perubahan adalah sesuatu yang sangat menyakitkan untuk mereka yang ingin hidup dengan mudah, mereka bisa menghancurkan dan melenyapkan siapa saja yang melakukan perubahan terhadapnya. Tidak ada rasa simpati, yang ada hanya ego yang menguasai hati mereka. Jika seseorang hanya mampu melihat orang lain dari luarnya saja, maka selamanya mereka akan di tipu dengan mata mereka." Erina sesekali memandang ke arah Nyonya Sanjaya dan Clarissa. Tatapan nanar Erina membuat Nyonya Sanjaya sedikit tak nyaman.
Erina menyelesaikan permainan piano keduanya dengan perasaan lega, Erina memandang ke seluruh ruangan dan melihat Arga sudah berdiri di ujung. Tersenyum kepadanya.
Tepuk tangan memenuhi seluruh ruangan, kasak kusuk mulai terdengar. Tidak ada yang mengenal Erina, tapi mereka begitu terkesima akan penampilan nya.
Erina berdiri dan membungkukkan sedikit badannya, memberi hormat kepada seluruh para undangan. Erina melangkah untuk menuruni beberapa anak tangga. Gea yang sedari tadi sangat takjub akan pertunjukkan yang di sungguh kan Erina segera berlari kecil menghampiri Erina.
"Nona, Anda benar-benar luar biasa. Saya semakin ngefans sama nona." ucap Gea spontan. Gea segera menutup mulutnya, matanya membulat melihat bagaimana reaksi Erina setelah mendengar pernyataan tak penting dari mulut Gea.
Erina hanya tersenyum sambil memegang bahu Gea. Arga yang berjalan menuju Gea dan Erina segera menyahuti ucapan Gea.
"Tidak ada yang boleh ngefans sama Erina ku, karna hanya aku yang menjadi penggemar sejatinya." sahut Arga. Arga melingkarkan tangannya di pinggang Erina. Arga tersenyum simpul. Membuat Gea merasa canggung.
Gea yang tidak menyadari kehadiran Tuan Arga, segera memukul pelan mulutnya sendiri.
__ADS_1
Haduh, apakah ini akan berujung dengan pemotongan gajiku? Apa aku akan di pecat ya?
batin Gea yang tampak sangat cemas dengan kondisinya sendiri.
"Ma ... maaf Tuan." ucap lirih Gea.
Arga hanya tersenyum menanggapi ucapan Gea. Pak Sam yang berdiri di samping Tuan Arga segera memerintah kan Gea untuk meninggalkan acara.
"Tuan sudah sampai, sekarang tugasmu telah selesai. Kamu boleh pergi sekarang." seru Pak Sam kepada Gea.
Erina yang mendengar ucapan Pak Sam segera menyahuti.
"Biarkan Gea disini dulu, dia bahkan belum makan apa-apa." sahut Erina memohon kepada suaminya.
"Baiklah, kamu boleh disini dulu. Pak Sam berikan bonus juga untuk dia, karna dia sudah berkerja dengan sangat baik hari ini." perintah Arga kepada Gea dan pak Sam.
Suasana hati Arga sangat baik, dia merasa sangat senang karna istri yang dicintainya sudah memberikan pertunjukan yang luar biasa untuk nya.
Gea yang mendengar ucapan Arga seketika matanya berubah jadi ijo (haha, gak juga sih), dia tak henti mengucapkan Terima kasih kepada Arga dan Erina.
Arga menarik tubuh Erina, tangannya masih melingkar di pinggang Erina.
"Ikut aku." ucap Arga. Erina hanya menuruti ajakan suaminya.
Para undangan yang dari tadi penasaran akan sosok Erina, langsung mengetahui bahwa dia adalah istri Tuan Arga. Mereka tersenyum ke arah Erina dan Arga, dan terdengar sayu-sayu. "Mereka sangat serasi ya."
Arga yang mendengar ucapan mereka tersenyum dengan penuh bangga.
Arga dan Erina berhenti tepat di hadapan Rendra, Clarisa dan Nyonya Sanjaya. Raut wajah Clarissa tampak sangat kesal. Namun, Nyonya Sanjaya tenang seperti biasanya, arogan dan sangat berwibawa.
Siapa dia sebenarnya? mustahil gadis biasa begitu mahir memainkan piano. Sepertinya aku terlalu meremehkan gadis ini.
gumam Nyonya Sanjaya dalam hati.
Pujian Arga membuat Nyonya Sanjaya tersipu malu, tapi berbeda dengan Rendra. Dia terlihat sangat kesal dengan perkataan Arga, yang mengartikan bahwa wajah Rendra lebih tua daripada ibunya sendiri. Mata Rendra melotot kesal arah Arga, Arga hanya mengangkat satu sisi di ujung bibirnya. Membuat Rendra semakin mendengus kesal.
"Kamu memang selalu bisa ya, kalau soal merayu. Rasanya istrimu ini juga sudah termakan rayuan gombalmu dan tentu tergoda dengan status sosialmu." seru Nyonya Sanjaya, Nyonya Sanjaya menatap Erina dengan tatapan sinis. Erina hanya menundukkan kepalanya.
Sepertinya Clarissa sudah sangat pintar menghasut ibuku, dia bahkan tak peduli ada Arga disini. Dan bagaimana jika ibu tahu aku juga memiliki perasaan ke Erina ya?
gumam Rendra.
Dia segera menepis kan pikirannya jauh-jauh, takut sesuatu benar-benar terjadi kepada Erina.
Di waktu yang sama, Arga juga membatin dalam hati.
Sepertinya tante Sanjaya belum puas dengan apa yang di lakukan kepada Erina. Aku tak boleh lengah, agar Erina tidak tersudut kan. Aku tak mau orang lain menyakiti Erina ku.
"Tante salah, dia berbeda dengan gadis lainnya. Dia bahkan tak menginginkan apapun dariku, dan aku tak pernah merayunya sekalipun. Karna yang aku katakan padanya adalah suatu kebenaran tentang perasaanku, jadi aku tak perlu bersusah payah untuk merayunya." sahut Arga, Arga memegang tangan Erina dan menepuk pelan lalu menciumnya mesra. Erina tersenyum malu memandang Arga.
Clarissa dan Rendra tampak sangat tidak nyaman dengan pemandangan di depannya, Clarissa mencoba membuang muka ke segala arah dengan tatapan kesal. Begitupun dengan Rendra, rasanya hatinya terbakar melihat orang yang sangat di sukainya harus bermesraan dengan sahabatnya yang telah menjadi suami sahnya.
Andai dulu, aku bertemu terlebih dulu dengan Erina. Pasti sekarang dia sudah menjadi milikku, dan tak akan pernah aku lepaskan.
gumam Rendra kesal.
Sementara itu, Gea yang masih berdiri mematung di belakang Erina dan Arga tampak begitu senang.
Oh so sweet banget sih Tuan Arga ini, rumor bahwa Tuan Arga adalah orang yang dingin selama ini sepertinya salah besar. Dia justru adalah sosok pria idaman para perempuan.
__ADS_1
Gea senyam senyum di belakang mereka berdua. Pak Sam yang melihat ke arah Gea, merasa aneh dengan gerak gerik Gea. Pak Sam berdehem keras kepada Gea, membuat gadis itu celingukan.
Nyonya Sanjaya menghela napas dengan berat, usahanya untuk menyadarkan Arga tidak berjalan sesuai rencananya dan Clarissa. Dia bahkan tidak sadar bahwa Clarissa sudah berhasil menghasut nya.
Flashback On
Clarissa sengaja datang ke rumah Rendra lebih awal, dia tahu bahwa Arga dan Erina akan datang ke acara ulang tahun Nyonya Sanjaya.
"Selamat sore tante." sapa Clarissa saat bertemu dengan Nyonya Sanjaya di ruang utama. Clarissa mencium pipi kanan kiri Nyonya Sanjaya.
"Selamat sore sayang." sahut Nyonya Sanjaya membalas Clarissa.
Clarissa membawa sebuah tas kertas berukuran besar, dia memberikan tas itu kepada Nyonya Sanjaya.
"Tante, maaf hanya bisa memberikan hadiah yang tak seberapa ini kepada tante. Oh ya, mami dan papi Cla mengucapkan salam kepada tante." seru Clarissa.
"Ck ... kamu seharusnya tak usah repot-repot seperti ini sayang, kamu bisa nyempetin datang ke acara ulang tahun tante saja. Tante sudah senang sekali. Oh ya, salam balik untuk mami dan papimu. Bilang kalau tante kangen kepada mamimu." sahut Nyonya Sanjaya.
Nyonya Sanjaya menerima hadiah dari Clarissa, hadiah yang bagi kalangan Hokay (horang kaya) sesuatu yang biasa. Gadino Bag oleh Hilde Palladino seharga US$ 38.470 atau jika di rupiah kan sekitar 540 juta.
***
"Tante, aku boleh minta tolong." ucap Clarissa memulai pembicaraan.
"Hmm ... minta tolong apa sayang?" sahut Nyonya Sanjaya, sambil membenarkan rambutnya.
"Tante tau kan istrinya Arga? Dia itu sebenarnya gak sekelas sama kita tan. Tapi gak tau juga kenapa Arga kok kelihatan suka sekali sama istrinya itu, padahal ceweknya kan hanya gadis biasa. Rasanya aku pengen menyadarkan Arga biar mata dan hatinya terbuka, kalau sebenarnya dia itu gak cocok sama gadis itu tan." jelas Clarissa.
"Tante juga sempat berpikir seperti yang kamu pikirkan waktu datang ke acara pernikahannya dulu, kok bisa Arga kepincut sama gadis biasa itu. Dan kenapa Nyonya Hutama menyetujui pernikahan yang jelas-jelas tak menguntungkan bagi mereka." sahut Nyonya Sanjaya.
Karna di mata Nyonya Sanjaya status sosial yang tinggi adalah nomer satu untuk mencari pendamping hidup di kelas konglomerat seperti mereka, dan harus menguntungkan kedua belah pihak.
Merasa rencananya mendapat lampu hijau dari Nyonya Sanjaya, Clarissa meneruskan niat jahatnya kepada Erina.
"Iya, bener banget tante. Mereka itu sama sekali gak cocok. Saya punya ide tante." ucap Clarissa.
Clarissa membisikkan suatu rencana jahat di telinga Nyonya Sanjaya, Nyonya Sanjaya mengangguk-angukkan kepala tanda mengerti.
"Baiklah, nanti kita akan lakukan rencana itu." seru Nyonya Sanjaya.
Mereka berdua tersenyum sinis.
Flashback Off
Bersambung
.
.
Penasaran instrumen yang dimainkan Erina River Flows in You sama Kiss The Rain by Yiruma cek Instagram author ya Nafasal8 . Bukan Erina beneran sih yang maen, tapi emang beneran bakal meleleh kalau dengerin instrumennya.. hehehe😅
.
.
Makasih yang sudah baca, Jangan lupa untuk vote + like + coment + share yaðŸ¤ðŸ¥°
.
__ADS_1
Thank You🤗
.