Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Kado Istimewa


__ADS_3

Malam semakin larut, namun Arga masih terjaga disamping tubuh Erina yang masih menutup rapat kedua kelopak matanya. Hanya suara denting jam yang berbunyi memenuhi ruangan yang kini semakin sunyi. Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan terhadap erina, Arga meminta untuk memindahkan Erina ke kamar. Agar Erina bisa istirahat dengan tenang.


Tok ... Tok ... Tok ....


Suara ketukan pintu membuat lamunan Arga tersadar, Arga melirik jam dinding yang berukuran cukup besar menempel di dinding kamar VVIP itu, jam sebelas lewat lima menit. Siapa yang datang di jam selarut ini? Pikirnya.


"Masuk .... " suara Arga memecah kesunyian.


Handle pintu bergerak, perlahan daun pintu yang berada di sudut ruang kamar terbuka. Seorang perempuan dengan memakai sweater berwarna merah muda dan celana jeans warna biru semburat putih di bagian lutut melangkah masuk. Dia adalah Dokter Mili, Dokter yang khusus di tunjuk Arga untuk menangani Erina selama beberapa bulan terakhir ini. Selain itu Dokter Mili merupakan Dokter spesial kandungan. Muda, cantik dan pintar begitulah kesan pertama Erina saat bertemu Dokter Mili.


Arga bahkan lupa, bahwa dia yang sudah menyuruh Dokter Mili untuk datang kesini secepatnya.


"Selamat malam Tuan." sapa Dokter Mili.


"Selamat malam Dokter." Arga bangkit dari tempat duduknya, dia berjalan menuju sofa yang berada tak jauh dari pintu kamar. Arga mendudukkan tubuhnya di sofa, mengangkat satu kaki dan bertumpu pada kaki satunya. Arga menyandarkan punggungnya pada sofa empuk yang ia duduki.


"Silahkan duduk Dokter .... " seru Arga


"Terimakasih Tuan." Dokter Mili duduk tepat didepan Arga.


"Bagaimana keadaan istri saya? Saya tidak terlalu puas dengan hasil yang diberikan oleh Dokter jaga di UGD tadi." Arga membuka pembicaraan.


"Hasil pemeriksaan memang mengatakan demikian Tuan, tekanan darah nona sangat rendah. Itu sangat beresiko untuk gravida (wanita hamil). Selain nona Erina memiliki riwayat abortus spontan (keguguran), kondisi nona juga sangat lemah." jelas Dokter Mili.


Arga mengerutkan kening mendengarkan penjelasan Dokter Mili, dia bingung mencerna istilah medis yang baru saja di dengarnya.


"Dokter, ku mohon hentikan istilah mu yang aneh itu. Kamu sedang berbicara dengan seorang pengusaha muda, bukan sedang bicara dengan rekan kerjamu di meja operasi." protes Arga yang memang benar-benar tak mengerti istilah yang sedang digunakan oleh Dokter Mili.


Dokter Mili terkekeh mendengar protes Arga, selain Arga memang seorang yang narsis dia juga orang yang tak suka basa basi. Dia akan selalu ingat akan hal itu.


" Maaf Tuan ... Nona hanya butuh istirahat total selama satu minggu, hamil yang kedua setelah keguguran beberapa bulan lalu membuat tubuhnya mengalami perubahan Tuan." Dokter Mili mencoba menjelaskan dengan kalimat sesederhana mungkin. Mengingat Tuan Muda yang berada di depannya adalah seorang yang tak ingin mengulang perkataan selama dua kali. Jadi Dokter Mili tak ingin di repotkan dengan penjelasannya yang rumit.

__ADS_1


Mata Arga membulat mendengar pernyataan Dokter Mili.


"Erina ku hamil Dok?" serunya tak percaya.


Wajahnya terlihat letih, namun tersirat kebahagiaan yang membuncah.


"Iya, nona Erina sedang hamil. Usia kandungannya baru menginjak dua minggu, dan sepertinya kondisi tubuhnya sedang tidak Fit. Anda tidak menyuruh nona Erina kerja Rodi kan?" Dokter Mili memincingkan matanya, bibirnya tersenyum sarkas.


Arga mencebikkan bibirnya. "Kamu pikir aku seorang suami yang kejam? Erina bahkan bingung menghabiskan uangku, kenapa dia harus bekerja untukku." ucap Arga dengan nada tinggi, merasa kesal dengan ucapan Dokter Mili.


"Ck ... saya tidak bilang bekerja dalam arti sesungguhnya Tuan." ucap Dokter Mili tak kalah kesal.


"Maksud saya, hubungan suami istri. Nona Erina bukan wanita karier, dan untuk masalah lainnya. Sepertinya juga tak mungkin jika sampai membuat kesehatan nona Erina menurun, jadi .... " Dokter Mili menatap Arga dengan senyuman menyeringai.


"Kamu menuduh ku ....?" Arga mendelik.


"Saya tidak bilang demikian Tuan ... hanya saja ini dalam tanda kutip. Saya tidak bisa secara gamblang menanyakan langsung kepada anda." raut wajah Dokter Mili berubah menjadi serius.


Arga merasa tersudut kan dengan pernyataan Dokter Mili, pikirannya kembali mengingat hukuman yang sudah diberikan kepada Erina satu bulan yang lalu. Hukuman yang sudah membawanya mencapai surga dunia hampir setiap malam. Tiba-tiba Arga merasa sedikit berdosa kepada Erina.


Mungkinkah ini semua karena hukuman itu, mungkinkah Erina kecapekan dan menjadi seperti saat ini.


batin Arga berkecamuk, rasa bahagia selama satu bulan terakhir karena merasa menjadi pria yang sangat menggairahkan untuk Erina tiba-tiba musnah sudah. Hukuman yang awalnya untuk menyenangkan hasratnya dan tentu saja untuk membuktikan bahwa Erina adalah miliknya seutuhnya, kini menjadikan dirinya sangat bersalah karena sudah sangat egois. Arga meraup kasar wajah tampannya, menyugar rambutnya dengan kedua tangannya.


"Hah .... " Arga mendengus pelan. Arga menceritakan semua kejadian satu bulan yang lalu, Dokter Mili untuk beberapa saat menjadi pendengar setia atas pengakuan Arga. Dokter Mili seperti seorang polisi yang sedang melakukan investigasi kepada seorang tersangka. Tatapan menyelidik beberapa kali ia arahkan kepada Arga, membuat Arga tak nyaman.


"Anda bukan seorang Hiperseks kan?" Dokter Mili tertawa atas pertanyaannya sendiri, Arga segera mendelik tak senang dengan pertanyaan Dokter Mili.


Hukuman yang diberikan oleh Arga sungguh tak bisa di nalar oleh pikiran wanita berumur 29 tahun itu. Dokter Mili menggeleng gelengkan kepalanya dan tersenyum sarkas kepada Tuan Muda yang berada di depannya.


"Kamu mau kariermu berakhir saat ini juga?" Arga merasa menyesal sudah menceritakan semuanya kepada Dokter Mili. Namun, ancaman Arga seolah membekap mulut Dokter Mili. Perempuan itu bahkan hampir lupa, bahwa dia sedang berhadapan dengan Tuan Muda yang memang sangat berpengaruh terhadap kariernya.

__ADS_1


"Saya mohon maaf Tuan, saya tidak bermaksud demikian." Dokter Mili mencoba membenarkan duduknya, dia sudah kelewatan kali ini. Begitu pikirnya.


Arga mendengus pelan, dia melempar pandangannya pada tubuh Erina yang masih terbaring di atas bed pasien.


"Aku sangat mencintainya, dan tanpa sadar aku melakukan hukuman dengan maksud agar dia menjadi milikku seutuhnya. Membuktikan padanya bahwa hanya akulah yang mencintainya saat ini dan selamanya. Namun, sepertinya itu malah membuatnya menderita." sekali lagi Arga sangat menyesal. Arga memejamkan matanya.


Seketika ruangan menjadi sangat hening. Namun, tiba-tiba suara Dokter Mili memecah kesunyian dan berhasil membuat matanya terbuka secara paksa.


"Tuan ... nona Erina hanya butuh istirahat. Esok hari setelah dia bangun, dia akan merasakan lebih baik pada tubuhnya. Dan dengan mendengar kabar baik tentang kehamilannya, itu akan sangat berpengaruh positif untuk nona." senyum mengembang di bibir Dokter Mili, ada perasaan lega yang dirasakan Arga.


"Mungkin kamu benar, dengan adanya berita kehamilan nya. Erina pasti akan sangat bahagia." ucapnya lirih, kedua sudut bibirnya melengkung ke atas dengan sempurna.


"Baik ... kalau begitu, saya permisi Tuan. Hari sudah menjelang pagi, sebaiknya Anda juga harus istirahat untuk menjaga kondisi tubuh Anda agar selalu siaga untuk nona Erina." Dokter Mili beranjak dari tempat duduknya.


"Anak buah ku akan mengantar Dokter pulang ... " seru Arga dengan tangan sudah menggeser layar ponselnya. Dan segera mengintruksi bodyguard nya melalui ponsel nya untuk mengantar Dokter Mili.


"Tidak perlu repot-repot Tuan, saya sudah terbiasa pulang larut malam." ucap Dokter Mili menolak tawaran Arga.


"Saya tidak terbiasa dengan penolakan Dokter, mereka sudah menunggu dibawah." ucapnya datar.


"Hati-hati di jalan Dokter .... " ucapnya seraya tersenyum kepada Dokter Mili. Dokter Mili tak ada pilihan lain, selain menuruti tawaran Arga. Dia menundukkan kepala dan segera berlalu meninggalkan Arga yang kini sudah berdiri di samping Erina.


Suasana kembali menjadi sunyi, Arga membenarkan selimut Erina. Arga memandang lekat-lekat wajah Erina yang terlihat begitu tenang dalam lelapnya.


"Terimakasih sayang, kamu sudah memberikan hadiah terbaik untukku." airmata bahagia tampak di kedua sudut matanya, Arga mengecup pelan kening Erina.


Arga melirik jam tangannya di pergelangan tangan kirinya, jam menunjukkan pukul setengah satu lewat tujuh menit. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, Arga tersenyum simpul.


Rencananya untuk menikmati malam panjang bersama istrinya di restoran mewah, harus berakhir di kamar VVIP Rumah Sakit terbaik di kotanya. Namun, ada perasaan bahagia. Dia akan menjadi seorang ayah, kabar kehamilan Erina tepat di hari ulang tahunnya. Itu merupakan kado yang sangat spesial di sepanjang hidupnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2