Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Aku Akan Bertanggung Jawab


__ADS_3

Setelah Eric mengantar Dokter Mili, tak ada obrolan yang tercipta antara kedua insan itu. Mereka tampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Eric yang bingung dengan perubahan sikap Anggen, tampak berpikir keras. Ia bukan laki-laki yang bisa menebak isi hati dan gelagat seorang gadis hanya dengan menebak dari raut wajahnya saja. Selain itu, dia juga belum ber pengalaman dalam hal tersebut.


"Terimakasih kak Eric, aku masuk dulu," ucap Anggen setelah sampai di halaman rumah nya. Ia segera membuka pintu mobil dan keluar dengan langkah kesal, Eric semakin heran dengan sikap Anggen.


Laki-laki itu segera turun dari mobil, ia setengah berlari mengejar Anggen.


"Anggen tunggu!" Eric menarik lengan Anggen, gadis itu dengan susah payah melepaskan cengkraman Eric.


"Lepas kak, aku mau masuk!" desis Anggen.


"Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kamu berubah begini?"


Anggen berhasil melepaskan cengkramannya, dengan cepat ia mengeluarkan kunci rumah nya dan segera membuka daun pintu yang ada dihadapannya itu.


"Kak Eric, pulang lah. Hati-hati di jalan," ucapnya tanpa menoleh ke Eric.


Namun, langkah Anggen terhenti. Eric kembali menarik lengan gadis itu, ia memegang kedua pundak Anggen.


"Kenapa kamu tak menjawab pertanyaan ku?" suara Eric lebih lembut, ia memegang dagu gadis itu dan mengangkatnya secara perlahan.


"Ku mohon, jangan mendiamkan aku. Katakan jika aku punya salah kepadamu? Aku akan memperbaikinya." Eric menatap lekat kedua manik coklat Anggen.


Anggen segera mengalihkan pandangannya, entah kenapa rasanya sulit mengatakan bahwa Ia sedang cemburu. Lidahnya terasa keluh, antara kesal dan malas untuk menjabarkan isi hatinya saat ini.


"Anggen ...."


Tak terasa kedua sudut matanya basah akan cairan bening.


Ah ... menyebalkan sekali, kenapa aku malah menangis pada saat seperti ini sih**!


Anggen sedikit menengadahkan kepalanya agar airmatanya tak jatuh, Ia tak mau Eric melihat nya menangis. Akan semakin runyam urusan nya, begitu pikir nya.


"Sudah lah kak, ini sudah larut malam. Lebih baik kak Eric segera pulang dan beristirahat, aku sangat lelah," kilah Anggen. Dengan cepat Ia menyeka airmatanya dengan salah satu tangannya.


Eric mengangkat tangannya, berpindah pada wajah Anggen yang saat ini semakin tampak sayu. Laki-laki itu mendesah lirih.


"Aku bukan laki-laki yang bisa menebak isi hati seorang gadis hanya dengan menatap wajahnya saja, aku hanya laki-laki biasa yang mencoba membahagiakanmu. Ku mohon, jangan diam kan aku seperti ini. Hatiku sakit," lirih Eric. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam.


Anggen merasa tak tega dengan laki-laki di hadapannya itu, dadanya berdenyut sakit ketika mendengar ucapan Eric.

__ADS_1


Itulah kelemahan Cinta, tak rela jika seseorang yang Ia cintai terluka. Terasa sakit meskipun itu hanya sebuah lara yang hanya secuil, tetap saja menyakitkan bagi mereka para pecinta.


"Maafkan aku kak, aku hanya merasa tak pantas untuk kak Eric. Masih banyak gadis di luar sana yang lebih baik dari aku," tutur Anggen dengan perasaan tak karuan, entah apa yang merasukinya hingga muncul kata-kata itu di bibirnya.


"Apa yang sudah kamu katakan? Kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti ini?" Eric sedikit mengguncang pundak Anggen, merasa tak terima dengan ucapan gadis itu.


Tapi Anggen terdiam, Ia seolah tak ingin melanjutkan ucapan nya. Bibirnya kembali terkunci rapat.


Eric seolah teringat sesuatu, laki-laki itu segera menatap Anggen semakin lekat. Ia hampir memangkas jarak antara mereka berdua.


Sangat dekat, hingga hembusan napas Eric sangat terasa di pipi Anggen.


"Apa ini tentang Dokter Mili?" pertanyaan Eric tepat sasaran, dan lebih tepat nya lagi. Ia sudah sadar dengan kesalahan fatal yang berakibat dengan rasa cemburu Anggen.


🍁🍁🍁


Anggen memutar bola matanya, entah kenapa pertanyaan Eric membuatnya sedikit gugup. Ia tak bisa bilang secara gamblang bahwa Ia sangat cemburu melihat kedekatannya dengan gadis cantik yang berprofesi Dokter itu.


Dan siapa dia? Sampai berani mensejajarkan posisi nya dengan seorang Dokter, tentu saja lelaki normal manapun mungkin akan lebih memilih seorang Dokter cantik ketimbang gadis instruktur senam seperti dirinya.


Ah ... pikiran ngelanturnya membuat dadanya semakin sesak saja. Ia segera menggelengkan kepalanya guna untuk menyadarkan kesadarannya.


"Anggen, apa kamu baik-baik saja?" tanya Eric yang melihat gelagat aneh Anggen.


Eric yang masih terus memegang kedua pipi Anggen merasa mendapat jawaban dalam keheningannya.


"Maafkan aku, aku berjanji. Aku tak akan mendekati gadis lain lagi mulai saat ini."


Anggen segera mendongakkan kepala, tak percaya Eric bisa membaca isi hatinya. Bahkan sekarang kegundahan hatinya mulai menemui titik terang. Sebuah janji yang lolos dari bibir laki-laki yang sangat Ia cintai seolah mewakili semua nya. Namun, Ia tak ingin menjadi gadis yang mudah termakan sebuah janji. Setidaknya Ia juga butuh bukti untuk janji yang sudah terikrar itu.


"Tidak usah berjanji kak, aku tak ada bandingannya dengan Dokter Mili. Dia gadis yang sangat cantik dan elegan, sedang kan aku?"


Eric segera mengatupkan jari manisnya di bibir Anggen, gadis itu tampak terkesiap. Jantungnya berdetak lebih cepat, Ia tak menyangka Eric akan menyentuh bibirnya.


"Sssst ... kamu adalah gadis satu-satunya yang mengisi relung hatiku. Tak ada gadis lain, karena pintu hatiku sudah ku kunci rapat-rapat dan tak akan ku biarkan siapapun masuk ke dalam sini." Eric menunjuk dadanya.


Tubuh Anggen terasa melambung, kalimat sederhana yang terlontar dari bibir Eric mampu membuat Anggen melayang di hamparan awan yang indah.


Tak terasa kedua sudut bibir Anggen terangkat samar, Ia begitu bahagia malam itu. Bahagia sekali.


"Apa kamu masih perlu bukti?" ucapan Eric membuat Anggen mengerutkan kening, Ia tak mengerti betul dengan 'bukti' yang dimaksud Eric.

__ADS_1


"Bukti ....?"


Eric kembali memegang pipi Anggen dengan salah satu tangannya, menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan tubuh Anggen.


Salah satu tangannya memegang pinggang Anggen, dengan sekali hentakan tubuh gadis itu kini semakin dekat dan hampir tak ada jarak pada tubuh mereka.


Detak jantung Anggen kembali terpacu, kini lebih cepat dari sebelumnya. Ia tak berani menatap wajah Eric yang begitu dekat dengan wajahnya.


Dengan lembut Eric membelai pipi Anggen dan turun ke bibirnya, tangan Eric tampak membelai bibir merah muda itu. Ia menatap lekat bibir Anggen dan dengan perlahan wajahnya semakin mendekat.


Anggen membelalakkan matanya, ciuman pertama nya?


Bibir Eric semakin mendekat dan akhirnya kedua bibir mereka bertemu, Eric sejenak membenamkan bibirnya pada bibir gadis itu. Ia semakin mendekap erat tubuh Anggen, membiarkan bibir mereka bersatu dalam cinta yang menggairahkan. Tak menuntut lebih, karena Eric tetap berpegang teguh pada ikatan berlandas pernikahan.


Ia tetap akan menjaga kesucian Anggen sampai tiba waktunya, sampai kata "SAH" terucap dari seluruh tamu undangan yang menyaksikan hari bahagia mereka.


Eric melepas ciuman nya, napas mereka memburu karena kehabisan napas saat berciuman.


Tampak bulir kecil keluar dari sudut mata Anggen, Eric segera menyeka dengan ibu jarinya.


"Apa kamu menyesal?" tanya Eric.


Anggen menggelengkan kepalanya dan memegang bibirnya dengan satu tangannya, "Ini adalah ciuman pertamaku."


"Benarkah? Aku orang pertama yang menciummu?" Eric tampak begitu senang.


"Kamu juga orang pertama yang aku cium, ini juga ciuman pertamaku?" imbuh nya sambil mengelus pipi Anggen.


Mata Anggen terbelalak tak percaya, menjadi yang pertama dan sangat berkesan baginya.


"Aku akan bertanggung jawab, karena sudah berani mengambil ciuman pertamamu." Eric tampak serius. Laki-laki itu menggenggam erat jemari Anggen.


Anggen tampak menyunggingkan senyumannya dan segera memeluk Eric, laki-laki itu tampak terkejut. Namun, Ia begitu senang dan membalas pelukan gadis yang begitu Ia cintai saat ini dan selamanya.




Bersambung ....


πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


Sambil menunggu up, kunjungi novel kakak online author ya Menikah Karena Skandal by Linanda AnggenπŸ˜πŸ‘πŸ»



__ADS_2