Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Makan Siang


__ADS_3

"Mama, itu mobil siapa ya?? " Erina penasaran karna ada mobil berhenti di halaman depan rumah orang tuanya.


"Iya, siapa ya. Mama juga gak tau nak. " Mama Erina menggelengkan kepala kemudian menoleh ke arah papa Erina. Papa Erina hanya mengangkat bahu tanda tak tahu juga.


Seorang laki-laki bertubuh besar keluar dari mobil. Tersenyum dan menundukkan kepala.


"Sudah siap semua?? " Arga berdiri dan melangkah keluar rumah.


"Honey kenapa harus bawa mobil lagi, kita kan muat ka.... " baru sadar bahwa mobil itu adalah milik suami nya. mArga melotot ke arah Erina. Suatu kode bahwa jangan membantahku.


"Mama, Papa gak apa-apa ya kita pisah mobilnya. Soalnya mobil suami gak cukup, gak enakan kalau harus berdesakan. " Erina mencoba menjelaskan, dia merasa gak enak hati dengan orangtuanya.


Dasar tuan Muda suka pamer, aku kan gak enak hati sama orangtuaku. Erina menggerutu dalam hati


"Sudah, tidak apa-apa nak. Mama, papa ngerti. " mama Erinab tersenyum dan menepuk pundak Erina.


***


"Honey, kenapa harus pakai 2 mobil?? mobil satu kan seharusnya cukup. Papa bisa di depan, mama, aku dan kamu di belakang. Atau bisa di balik. " Erina masih mencoba protes pada suaminya.


Cih,


"Kamu pikir kita naik angkutan umum apa, kita harus berdesak-desakan. " jawab Arga kesal.


Sepertinya naluri kaya nya memang sangat mendarah daging. Sehingga jiwa kayaismenya sangat melekat pada dirinya. Erina sangat kesal dan membuat istilah aneh untuk suaminya. haha


"Kamu tahu alasanku sebenarnya? " Arga membisikkan pada telinga Erina. Erina kaget dan merasa geli. "Jika kita satu mobil, Kita tidak bisa bermesraan. " Arga tersenyum dan menarik tangan Erina, mengecup berkali-kali. Erina semakin manyun.


Bisa-bisanya dia masih memikirkan hal itu. Erina


"Kamu harus bertanggung jawab nanti malam ya, karna kamu benar-benar menggoda hari ini. " Arga kembali membisikkan di telinga Erina di ikuti gigitan lembut di telinganya.


Kali ini Erina benar-benar terkekeh mendengarnya dan merasakan sensasi geli di telinganya.


Mobil berhenti di sebuah restoran mewah, seperti biasa. Entah sihir apa yang dilakukan Arga sehingga tak ada pengunjung sama sekali. Erina mengedarkan pandangan menyapu sekeliling mencari mungkin ada satu atau dua orang. Tapi benar-benar sepi tak ada pengunjung sama sekali. Erina memandang suaminya dengan tatapan heran, Arga tersenyum dan memalingkan wajahnya.


Ini kan hanya makan siang biasa bersama keluarga. Rasanya jadi tak nyaman kan jika hanya ada kami berempat di restoran ini. Dasar**!!


Mereka duduk di kursi dengan meja besar panjang di depannya. Para pelayan menarik kursi dan mempersilahkan mereka duduk.


Erina melirik suaminya yang mulai menanggapi pertanyaan papa Erina


"Ini kenapa sepi begini ya tuan. Apa baru buka ya? " Pertanyaan polos papa Erina. Mungkin siapapun yang datang kesana akan bertanya hal yang sama. Papa dan mama Erina saling pandang merasa sedikit aneh dan tak nyaman karena tidak ada pengunjung lain.


"Tidak pa, dengan begini kita akan merasa nyaman dan seperti makan siang di rumah sendiri. " jawab Arga sambil tersenyum


Iya.. iya... Tuan yang berkuasa, hanya dirimu saja yang merasa nyaman. Bagaimana mana mungkin orangtuaku bisa menganggap rumah sendiri di restoran semewah ini.

__ADS_1


"Lho, berarti ini sudah tuan booking semua??" Papa Erina masih penasaran.


Arga tertawa kecil.


"Ini adalah salah satu, restoran keluarga saya pa. Papa dan mama makan sepuasnya ya, anggap saja ini rumah sendiri. " Erina hanya diam dan merasa suaminya berlebihan.


Beberapa hidangan sudah tersaji di meja. Puluhan makanan sudah berjejer rapi di meja. Erina dan kedua orang tuanya tercengang heran, makanan sebanyak ini siapa yang akan menghabiskannya. Begitu pikir mereka bertiga.


"Hun, kenapa pesan makanan sebanyak ini. Kita kan hanya berempat, bukan se RT lho. " ada penekanan di kalimat Erina.


"Makan saja sesuai yang kamu suka honey, dan aku juga tidak tau selera papa dan mama. " Arga menjawab seadanya.


Walaupun sedikit canggung, kedua orang tua Erina sangat menikmati makan siang mereka. Papa Erina memuji masakan di restoran ini, benar-benar lezat dan menggugah selera. Begitu pujinya.


Setelah selesai makan siang, Erina berbisik kepada suaminya. "Honey, ini kan masih banyak bagaimana kalau dibungkus saja, nanti bisa dibagikan kepada tetangga mama dan papa. " pinta Erina.


"Kamu bercanda ya, orang lain kamu kasih bekas kita. " Arga mendelik


Siapa suruh pesan makanan sebanyak ini, lagipula kita kan hanya menyentuh beberapa makanan nya. Tidak semua kan.


Arga memberi kode kepada pelayan agar menyiapkan bungkusan untuk dibawa pulang orang tua Erina.


"Maaf, bisa sekalian bungkus smua ini. Daripada di buang lebih baik dibungkus saja." Erina menatap makanan yang masih ada di meja dengan perasaan sedih.


Ini kan mubadzir namanya, dosa tau... Erina menggerutu.


Box makanan sudah memenuhi bagasi mobil. "Apa ini tidak berlebihan tuan, makanan sebanyak ini?? " papa Erina kaget dengan puluhan box yang sudah tersusun rapi di mobil.


"Tidak apa-apa pa nanti bisa dibagi-bagikan ke tetangga. " Erina tersenyum ke arah orangtuanya.


"Maaf ya ma, pa. Kami tidak bisa mengantar sampai rumah. " Erina meminta maaf kepada orangtuanya tidak bisa mengantar sampai rumah karna suaminya ada urusan mendadak.


"Tidak apa-apa nak, kalian datang berkunjung saja sudah membuat kami senang. Terima kasih Tuan karna sudah meluangkan waktunya. " orang tua Erina menundukan kepala memberi salam.


"Tidak usah sungkan pa, saya senang bisa menemani istri saya berkunjung kerumah orangtuanya. " kata Arga sambil melingkarkan tangan di bahu Erina.


Erina memeluk kedua orang tuanya sebagai salam perpisahan.


Mereka berlalu dengan arah tujuan yang berbeda.


"Terimakasih ya suamiku. " Erina mengecup pipi suaminya.


"Hanya itu?? " goda Arga.


"Mulai deh. " Erina mencubit pipi suaminya gemas dan membenamkan diri di pelukan suaminya. Arga mempererat pelukannya.


"Kamu harus mengucapkan terimakasih dengan benar, aku akan menagihnya nanti malam. " sambil mengelus kepala Erina lembut dan mengecupnya.

__ADS_1


Dasar!!


Erina benar-benar bahagia dalam pelukan suaminya. Tak pernah dibayangkan sebelumnya, dia merasa benar-benar dicintai oleh suaminya. Seperti mimpi saja rasanya.


***


"Aku akan kembali sebelum makan malam, istirahat dan siapkan tubuhmu untukku. " Goda Arga sambil tersenyum penuh arti. Pipi Erina merona merah saking malunya.


Setelah sampai kamar, Erina merebahkan dirinya di tempat tidur dan tenggelam dalam mimpinya.


Beberapa jam berlalu, Erina masih terlelap.


Arga masuk ke dalam kamar, melihat istrinya tertidur pulas Arga tidak tega membangunkannya. Arga beranjak ke kamar mandi.


Setelah selesai Arga menghampiri Erina. Membelai lembut rambut istrinya, Erina menggeliat dan mulai membuka matanya.


"Suamiku.. kamu sudah pulang??" Erina tampak kagetn melihat suaminya sudah tampak segar.


"Aku mandi dulu ya hun. " Erina berdiri, Arga menarik tangannya sampai akhirnya Erina jatuh di pangkuan Arga.


Mengecup bibir merah Erina lalu membenamkan wajahnya di dada istrinya. Arga memejamkan matanya, Erina hanya bisa terdiam terpaku melihat tingkah suaminya.


"Mau aku mandiin sayang?? " Tiba-tiba suara Arga memecah keheningan.


Erina tampak malu mendengar kata-kata Arga barusan.


"Aku bisa mandi sendiri honey. " Erina meringis dan mengendorkan tubuhnya sedikit.


Arga menggendong tubuh Erina masuk ke dalam kamar mandi. "Suamiku, aku bisa mandi sendiri. Kamu tunggu saja diluar ya." Erina mencoba menahan tubuh Arga, tapi tak menggeser sedikit pun tubuh kekar suaminya.


Arga melepas kaos yang dikenakannya, memperlihatkan dada bidang dan tubuh atletis nya.


Erina merasa pipinya terasa panas karna malu.


Arga melepaskan satu persatu baju Erina. Mendudukkan Erina di bathup yang sudah terisi air hangat dan aroma terapi.


Erina hanya menuruti perintah suaminya. Kini dia sudah duduk membelakangi Arga. Arga mengambil sabun cair dan menggosok-gosokan di tubuh Erina. Erina menahan geli akibat ulah tangan Arga yang sudah menggerayangi tubuhnya. Tangan Arga berhenti di daerah favoritnya, memainkan lama dan membuat Erina kewalahan. Cukup lama mereka mandi plus-plus dan akhirnya Arga menyudahi aktifitasnya. Membilas tubuh Erina dan mengeringkan nya. Erina hanya terdiam dan menunduk malu.


"Kamu sudah menyita pikiranku, selama aku pergi tadi. Aku tak berhenti memikirkanmu. " Bisik Arga.


Membuat degup jantung Erina berdetak lebih kencang. Erina hanya membalas dengan senyum manis. Membuat Arga gemas dan tak tahan untuk tidak mencium bibir merah istrinya. Erina sempat kaget dan tak bisa bernafas karena serangan tiba-tiba Arga.


Bersambung


Terimakasih atas dukungan nya readers.


Jangan lupa untuk vote + like ya, dukungan kalian sangat berarti untuk semangat authoršŸ˜šŸ„°ā¤

__ADS_1


__ADS_2