
Anggen merasa tak nyaman di sekujur tubuhnya, Ia sudah terbangun setelah tak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius yang di hirupnya. Kedua tangannya sudah terikat ke belakang kursi yang sekarang di dudukinya, mulutnya di bekap dengan lakban hitam.
Kepalanya masih terasa berat, Ia mencoba mengingat apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
Flashback On
Anggen baru saja keluar dari minimarket, Ia baru ingat. Kalau hari ini Ia ada janji dengan temannya, Anggen hampir saja melupakan untuk memberi kabar pada Erina. Bahwa Ia tidak bisa datang hari ini.
Gadis itu berjalan ke taman yang berada tak jauh dari minimarket tersebut, Ia mendudukkan dirinya di kursi yang berada di tengah taman. Anggen segera mengambil ponsel di saku celananya, tangannya dengan lincah mencari nama Nona Erina di ponselnya. Ia segera menekan tombol hijau dan meletakkan ponselnya di telinga kirinya.
"Halo, iya Anggen."
"Nona, hari ini aku tidak bisa datang mengajar. Aku lupa memberi kabar Nona kemarin, hari ini aku akan memenuhi undangan dari temanku. Tidak apa-apa kan nona?" jelas Anggen.
"Oh begitu, tidak apa-apa Anggen. Santai saja."
Tiba-tiba seorang laki-laki yang mengenakan masker datang menarik tangan Anggen, Anggen yang panik segera berteriak minta tolong.
"Tolong ... tolong ...." suara Anggen terdengar begitu jelas di ponsel Erina, karena saat itu Anggen belum menutup percakapan antara mereka berdua.
"Halo ... Anggen, kamu kenapa? Anggen?" suara Erina terdengar begitu panik mendengar permintaan tolong Anggen.
__ADS_1
Laki-laki misterius itu segera membekap mulut Anggen, tak lupa Ia segera membawa ponsel yang sedari tadi masih di genggam oleh Anggen.
Suasana taman yang sangat sepi membuat laki-laki misterius itu tak kesulitan melancarkan aksinya, Ia segera membawa tubuh Anggen masuk ke dalam Mobil. Gadis itu sudah tak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius yang sudah Ia hirup.
Flashback Off
🍁🍁🍁
Anggen mengedarkan pandangannya ke sekeliling, penerangan di ruangan itu tak begitu terang. Membuat kedua mata Anggen harus memicingkan matanya guna untuk memperjelas pandangannya pada sosok yang berdiri kira-kira enam meteran dari tempatnya.
Laki-laki misterius itu mengulas senyuman melihat Anggen sudah sadarkan diri, Ia segera berjalan mendekatinya.
Gadis itu terus menatap sosok laki-laki misterius itu, rasa takut mulai menyergap perasaannya. Laki-laki itu semakin mendekatinya, Anggen begitu terkesiap melihat laki-laki yang kini berada tepat didepannya.
Laki-laki bernama Burhan itu, tersenyum smirk padanya.
"Kenapa? Apa kamu terkejut? Atau malah bahagia bisa bertemu lagi denganku?" desis Burhan sambil mencengkram dagu Anggen, gadis itu tampak meringis kesakitan. Ia mulai memberontak dengan cara menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, usahanya sia-sia Burhan semakin kuat mencengkram dagunya.
Burhan kemudian menarik pelan lakban yang menutup mulut Anggen, Ia mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Anggen.
Hembusan napas Burhan hangat menerpa kulit wajah Anggen, gadis itu tampak begitu ketakutan.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Sementara itu, di kantor Montana Grup. Pak Sam sudah kembali dengan membawa laporan yang di minta oleh Arga.
"Tuan, Nona Anggen sudah di culik oleh seseorang. Sekarang dia berada di rumah tua yang ada di pinggir kota," jelas Pak Sam memberi laporan. Bukan hal sulit baginya untuk mengetahui keberadaan seseorang, anak buahnya yang sudah sangat terlatih mempermudahnya untuk mencari sumber informasi yang Ia ingin kan dengan waktu yang cukup singkat.
"Bolehkah aku ikut untuk menyelamatkan gadis yang bernama Anggen itu?" pinta Eric.
Arga yang tengah duduk di sofa diruangannya segera melemparkan pandangannya ke arah Eric dengan pandangan heran, Arga tersenyum tipis. Ia kembali mengingat rencana Erina yang berniat menjodohkan kakaknya itu dengan Anggen.
Jika Anggen dan kak Eric bertemu itu bisa memuluskan rencana Erina untuk menjodohkan mereka berdua, setidaknya gadis senam ibu hamil itu lebih baik daripada Clarissa, gumam Arga.
"Tentu saja kak Eric boleh bergabung dalam misi ini," sahut Arga.
Eric tampak bernapas lega, Ia masih berdoa semoga Anggen yang akan Ia selamatkan bukanlah Anggen si gadis manis itu.
Bersambung ....
Eric
__ADS_1