
Erina merasa lebih baik pagi ini, tubuhnya sudah terasa lebih segar. Dia baru saja terbangun, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamarnya.
"Dimana Tuan Muda? tumben dia pergi tanpa membangunkan aku." ucap Erina, dia merasa sedih karna Arga meninggalkannya tanpa pesan.
Erina hendak berdiri dari tempat tidurnya, terdengar suara pintu terbuka. Dia menghentikan aktifitasnya, menoleh ke arah pintu itu.
Ceklek....
Pintu terbuka lebar, Arga berdiri di balik pintu sambil membawa nampan besar di atasnya terdapat dua buah piring berisi sandwich dan buah-buahan yang sudah di potong kecil-kecil. Arga melangkah masuk dan satu kakinya menutup pintu kamar.
Tuan Muda kenapa terlihat sangat manis pagi ini?
gumam Erina dalam hati, Erina tersenyum dan segera memalingkan wajah ketika Arga melihat ke arahnya.
Arga melihat Erina sudah terbangun dan duduk di tepi tempat tidur.
"Tunggu, kamu mau kemana sayang?" seru Arga.
"Mau ke kamar mandi." sahut Erina.
Arga segera menaruh nampan di atas meja, dia berjalan ke arah Erina.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Erina terkejut dengan perlakuan Arga.
"Menurutmu? Aku membantumu berjalan." sahut Arga.
Tubuh Erina sekarang sudah terangkat sempurna dalam tangan kekar Arga.
"A... aku bisa jalan sendiri sayang." ucap Erina lirih.
Erina merasa tak enak hati, karna sejak pulang dari rumah sakit. Perlakuan Arga benar-benar berlebihan menurut nya.
Arga tak menghiraukan ucapan Erina, dia tetap menggendong Erina berjalan menuju kamar mandi.
"Kamu masih dalam masa pemulihan, biarkan aku menjadi kakimu kemanapun kamu ingin pergi." kata Arga, raut wajahnya menunjukkan dia sedang tak main-main.
Erina merasa tersanjung diperlakukan begitu istimewa oleh suaminya, dalam hati dia sangat bersyukur dicintai oleh Tuan Arga. Bukan karna latar belakang nya sebagai konglomerat, tapi karna cinta tulusnya yang akhirnya meluluhlantakkan hatinya.
Erina tersenyum manis.
"Ini terlalu berlebihan sayang, aku takut kamu capek kalau kamu gendong-gendong aku terus." raut wajah Erina tampak sedih.
Arga yang menyadari perubahan wajah Erina, segera berhenti dan duduk di sebuah meja besar di sudut kamarnya.
Arga memandang lekat-lekat wajah istri yang sangat dicintainya, dia mengelus pelan pipi putih dan sedikit bersemu merah. Arga menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Sunyinya suasana kamar, membuat Erina mendengar dengan jelas hembusan nafas suaminya itu.
"Sayang, aku tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Kamu membuat hidup ku dipenuhi dengan kebahagiaan, dengan semua apa yang kamu miliki. Aku sangat bersyukur memilikimu. Kamu adalah belahan jiwaku, jika kamu sakit aku juga akan merasa sakit. Aku ingin kamu berbagi semua yang kamu rasakan. Bahagia, sedih dan sakitmu hanya kepadaku. Jadi, anggaplah sekarang kamu sedang berbagi sakit yang kamu rasakan kepadaku." ucap Arga. Yang terdengar mengandung arti yang dalam bagi Erina.
Arga menggenggam erat tangan Erina dan menciumnya perlahan.
"Kamu adalah hidupku." ucapnya lirih sambil mencium kening Erina.
Tidak bisa dipungkiri, Erina juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Arga. Dia benar-benar sangat bahagia mendengar pernyataan suaminya.
"Terimakasih" ucap lirih Erina seraya memeluk Arga.
Arga terkejut dengan pelukan spontan Erina, tapi dia juga sangat senang jika Erina berinisiatif terlebih dahulu. Arga segera membalas pelukan Erina, mereka berdua larut dalam bahagia.
***
__ADS_1
Erina dan Arga sudah terlihat rapi, Erina sibuk merapikan jas dan dasi suaminya di ruang tengah. Pak Sam dengan setia menunggu Tuan Nya di ruang tamu dengan menghadap laptop di depannya.
Tok... Tok... Tok....
Suara ketukan pintu terdengar begitu jelas.
Pak Sam beranjak membukakan pintu dan ternyata Rendra yang telah berdiri di balik pintu dengan membawa bermacam-macam buah yang sudah dihias rapi.
Pak Sam menundukkan kepala dan mempersilahkan masuk. Arga yang sedang berdiri di ruang tengah menunggu istrinya merapikan dasinya, segera menoleh ke ruang tamu yang memang tak ada sekat yang membatasi.
Raut wajah Arga seketika berubah menjadi tak senang, Erina yang melihat reaksi Arga ikut menoleh ke sosok tamu yang baru saja datang. Erina terkejut karena Rendra datang dengan membawa sesuatu di tangannya.
Arga yang tak senang dengan kedatangan Rendra segera melingkarkan tangannya di pinggang Erina, mencium kedua pipi dan kening Erina.
Erina telah selesai merapikan dasinya, segera diraih tangan nya oleh Arga dan berjalan menuju ruang tamu.
"Apa kamu tak ada pekerjaan lain, pagi-pagi sudah menganggu kenyamanan orang lain!" seru Arga dengan tatapan tajam ke arah Rendra.
Rendra hanya tersenyum sinis.
"Aku mendengar Erina sudah ditemukan, aku hanya ingin menjenguk dia." sahut Rendra, dia berjalan ke arah Erina dan menyerahkan buah-buahan yang sudah dibawanya.
Arga segera menarik pinggang Erina, agar Erina sedikit menjauh dari Rendra.
"Bibi Mar!" seru Arga.
"Iya Tuan." Bibi Mar berlari kecil menuju ruang tamu.
"Ada apa Tuan?" sahut Bibi Mar.
"Ini, tolong terima Bi." ucap Arga.
"Baik Tuan." sahut Bi Mar.
Bibi Mar segera meraih buah-buahan dari tangan Rendra.
Rendra terlihat kesal.
"Kamu tidak apa-apa Erin?" tanya Rendra.
"Heyyy... siapa yang mengijinkanmu memanggil istriku seperti itu?" seru Arga.
Arga terlihat sekali tidak senang dengan panggilan yang ditujukan Rendra untuk Erina.
"Bukankah Erina memang namanya, trus aku harus memanggil apa? Sayang? Cinta?" sahut Rendra tak kalah kesal.
"Heyyy... tutup mulutmu itu, kamu tak berhak memanggil Erina ku seperti itu. Mau cari mati ya kamu." sahut Arga geram.
Pak Sam dan Erina hanya bisa bernafas dengan berat, heran dengan dua sahabat yang bertingkah seperti anak kecil ini.
Arga terdiam, bola matanya memutar ke kanan dan kiri seolah memikirkan sesuatu hal. Arga menjentikkan tangannya, menemukan ide yang sangat bagus.
"Panggil dia Nyonya Arga." seru Arga sambil menyunggingkan senyumannya.
"Aku tak mauuu....! Kamu sungguh suami yang posesif terhadap istrimu, aku hanya ingin berteman saja dengan istrimu." teriak Rendra.
"Kamu sudah kekurangan perempuan ya di luar sana? Tidak boleh, Erina tak butuh teman seperti mu. Yang dia butuhkan hanya aku seorang." Arga mempererat pelukannya di pinggang Erina.
Pak Sam semakin menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
Sungguh tak bisa di nalar, dua laki-laki dewasa ini masih tetap bertingkah seperti anak TK yang memperebutkan mainan saja.
gumam Pak Sam dalam hati.
"Erina, kamu mau kan berteman denganku?" Rendra memelas pada Erina.
"Sungguh memalukan... sudah jangan memasang wajah seperti itu. Sudah aku bilang Erina ku hanya butuh aku seorang, kamu benar-benar sudah merusak kebahagiaan orang lain di pagi hari ya. Pak Sam, carikan dia perempuan untuk menjadi temannya, supaya dia menjauh dari istriku." Arga benar-benar sangat kesal dengan kelakuan Rendra.
"Tunggu, aku ingin mendengar langsung dari mulut Erina. Kalau dia tidak ingin berteman denganku." seru Rendra.
"Kamu ya.... " Arga menahan geram melihat tingkah sahabatnya yang sudah mulai keterlaluan.
"Setelah itu, aku tak akan mengganggu hubunganmu dengan Erina. Jika memang dia benar-benar tidak ingin berteman denganku. Tapi jika jawaban Erina ingin berteman denganku, ku mohon padamu untuk membiarkannya." jelas Rendra.
Sejenak semua yang berada di ruangan itu terdiam.
"Erina, maaf aku mungkin datang di saat yang salah. Dan juga perasaanku ini juga salah, tapi aku benar-benar tak bisa menghentikan rasa ini. Ini diluar jangkauanku. Aku menyukaimu Erina, aku menyukaimu sebagai seorang pria kepada wanita.... " ucap Rendra.
Rendra terlihat sedang tak main-main, raut wajahnya menunjukkan bahwa dia benar-benar serius dengan apa yang baru saja dikatakannya.
"Kauuuu.... " Arga mengepalkan tangannya, harga dirinya seolah di injak-injak oleh sahabatnya sendiri.
"Erina tolong jawab pertanyaan ku. Bagaimana perasaanmu terhadapku, aku akan menerima apapun jawabanmu." ucap Rendra.
Semua orang yang berada di ruang tamu tercengang dengan apa yang baru saja di dengar mereka, tak terkecuali Erina dan Arga. Mereka begitu kaget mendengar pengakuan cinta Rendra kepada Erina yang jelas-jelas telah sah menjadi istri sahabatnya itu.
Erina ingin segera meluruskan kesalah pahaman Rendra terhadap dirinya.
"Tuan Rendra, saya tidak cukup senang mendengar pengakuan suka anda terhadap saya. Anda adalah sahabat suami saya, tidak seharusnya anda berkata demikian. Suami saya benar, yang saya butuhkan memang hanya dia seorang. Saya tidak membutuhkan siapapun sekarang. Jadi, saya mohon jangan mengganggu hubungan kami lagi." jelas Erina.
Arga merasa sangat senang dengan apa yang dikatakan oleh Erina, dia merasa menjadi Laki-laki yang sangat beruntung di dunia ini.
Rendra seolah belum puas dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Jika aku bukan sahabat suamimu dan jika kamu belum menikah dengan sahabatku, apa kamu akan mencintaiku?" tanya Rendra sekali lagi.
Arga yang sudah geram melihat tingkah Rendra. Segera melayangkan satu pukulan di wajah Rendra, Rendra tersungkur di sofa.
"Kamu sungguh keterlaluan Ren, aku cukup bersabar menghadapimu tapi kali ini kamu benar-benar keterlaluan. Jelas-jelas Erina adalah istriku dan dia tidak menyukaimu, apa kamu ingin menjadi perusak hubungan rumah tangga sahabatmu sendiri, Hah!" Arga benar-benar murka, nafasnya terengah-engah menahan emosinya.
Erina mencoba menahan Arga tapi di hentikan oleh Pak Sam. Pak Sam menggelengkan kepala kepada Erina yang diartikan biarkan saja mereka berdua nona. Erina mulai angkat bicara sekali lagi.
"Tuan Rendra, anda sepertinya sudah terlalu jauh berpikir. Itu tidak lah mungkin terjadi, sekalipun itu terjadi. Saya rasa saya bukanlah jodoh anda. Jadi, saya mohon anda menyudahi ini semua. Karna yang terjadi adalah kesalah pahaman saja." ucap Erina dengan tegas dan jelas.
Rendra yang mendengar jawaban Erina, akhirnya bangun dari sofa.
"Baiklah, maafkan aku. Aku tak akan mengganggu hubungan kalian lagi. Tapi, sekarang aku merasa sangat lega bisa mengungkapkan perasaan ku kepadamu." ucap Rendra.
Rendra tersenyum kepada Erina dan segera berlalu dari pandangan Erina dan Arga.
Arga langsung memeluk Erina.
"Terimakasih, aku pastikan ke depannya tidak akan ada gangguan seperti ini lagi." seru Arga, Arga bernafas dengan lega.
Begitupun Bibi Mar dan Pak Sam, mereka bernafas dengan lega.
Erina tersenyum dan membalas pelukan suaminya yang kini menjadi tempat ternyaman baginya.
Bersambung
__ADS_1