
"Kamu mau kemana? Ini bahkan masih gelap sayang." Tanya Arga dengan mata masih terpejam, laki-laki itu melingkarkan tangan kekarnya di perut Erina yang sudah nampak membuncit.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar sayang." jawab Erina sambil merenggang kan tangan Arga. Ia mendekatkan wajah nya tepat di telinga suaminya. "Aku kebelet." lirih nya.
Arga yang matanya masih terasa lengket, segera membukanya secara paksa. "Kamu kebelet sayang? Ayo aku sudah siap sekarang." ucap nya penuh semangat.
Erina terkekeh mendengar ucapan suaminya, "Dasar Ih ... kamu mesum. Emang kebelet apaan coba, aku tu ... lagi kebelet pengen pipis." desis nya sambil memukul pelan pundak Arga, Ia merasa benar-benar sudah tidak tahan lagi. Gadis itu segera menghamburkan diri ke kamar mandi.
Arga tampak kecewa, Ia pun segera membaringkan tubuh nya lagi ke tempat tidur nya.
Kamar yang di dominan dengan warna biru tua dan putih itu terasa sangat membosankan bagi Arga, pasalnya Erina yang pamit ke kamar mandi itu tidak kunjung keluar juga. Hampir lima belas menit Erina berada di dalam kamar mandi, Arga yang sudah tidak bisa memejamkan matanya kembali. Hanya bisa membolak-balik kan badan nya ke kanan dan ke kiri.
Erina keluar dari kamar mandi, Ia segera mendekati Arga yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidur. Laki-laki ber tubuh kekar itu memejamkan mata, berpura-pura tidur.
"Wah, ternyata dia tidur lagi." gerutu Erina, Erina memilih untuk beranjak dari tempat tidur nya. Namun tangannya segera ditarik oleh Arga, tubuh nya tersentak. Dengan sedikit hentakan tubuh nya terhempas di kasur yang super empuk itu.
Arga segera memeluk tubuh nya dari belakang, dengan mata masih terpejam. Tangannya mulai mengelus lembut perut istri nya itu.
"Bayi kecil, apa kamu tidak merindukan kehadiran ayah mu ini? Apa kamu masih menjadi bayi-bayi yang sangat posesif kepada ibumu?" seloroh Arga, Ia membuka matanya dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi kanan Erina.
Cup ....
Erina terkesiap, Ia segera memutar leher nya agar bisa dengan leluasa memandang suaminya itu. Mata mereka beradu, jantungnya berdegup kencang. Darahnya mulai berdesir, tatapan mata Arga seolah menghipnotis Erina. Tatapan mata yang menuntut lebih untuk sekedar mengecup pipi nya, tatapan seorang suami yang merindukan cumbuan dan belaian dari sang istri.
Tatapan mata Arga kian lama kian menuntut, Ia tak tahan? Tentu saja, setiap hari dia menahan hasratnya untuk tak menyentuh Erina tiap malam, namun bagaimana pun Ia menahannya. Semakin naik pula hasratnya untuk mencumbui Erina.
"Aku ingin bercinta sayang." bisik Arga tepat di telinga istri nya itu.
Degg ....
Suara dan desahan nafas Arga di telinga Erina sukses menyalurkan sengatan yang memabukkan, Erina merasakan darahnya semakin berdesir. Jantungnya memompa lebih cepat dari sebelumnya, dan mulutnya mengatup. Bingung antara menyanggah atau menerima tawaran yang sudah membangunkan hasratnya itu.
Erina terdiam, Arga mengartikan bahwa istrinya menyetujui idenya untuk mengajaknya bercinta sebelum matahari muncul dari peraduannya. Arga menarik pelan tangan Erina agar seluruh tubuh nya naik ke atas ranjang, Erina hanya menuruti.
Tak ada penolakan, ngidam yang di alami selama tri semester awal sepertinya sukses Ia lalui. Ia sudah tak merasakan mual lagi ketika berdekatan dengan suaminya, bahkan ketika Arga bersimbah keringat pasca melatih semua ototnya juga tak menjadi masalah sekarang.
Arga memegang kedua pundak Erina dan perlahan berpindah pada tekuk istrinya, Ia menarik tekuk Erina agar wajah perempuan yang Ia cintai itu bisa lebih dekat dengan wajahnya. Arga mulai memagut bibir ranum Erina, pagutan yang awalnya lembut berubah menjadi liar dan menuntut lebih. Erina mulai hanyut dalam ciuman Arga yang sungguh memabukkan itu, kini ciuman itu bak candu bagi Erina. Ia merasa ketagihan lagi dan lagi.
Arga merebahkan secara perlahan tubuh Erina di atas kasur berukuran king size itu. Dengan pelan-pelan Arga menyibak baju tidur Erina, hingga menunjukkan perut buncit Erina yang tampak polos.
"Saat hamil, kamu terlihat semakin sexy sayang." pujinya kepada Erina, perempuan itu tersipu. Pipi nya memerah. Entah sejak kapan dia mudah sekali di gombali oleh Arga, lebih tepatnya sekarang merasa butuh untuk di gombali. Rasa nya sungguh menyenangkan. Begitu pikir Erina.
Arga terdiam menatap lekuk tubuh Erina yang terlihat sangat berisi karena efek dari kehamilan nya, Ia menatap kagum tubuh istrinya itu. Ia menelan salivanya secara kasar berulang kali.
Arga terdiam sejenak, keningnya berkerut. Kedua alisnya saling bertaut. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Erina yang menyadari perubahan suaminya, segera mengajukan pertanyaan.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Erina penasaran.
Namun Arga masih terlihat bingung, Ia mengabaikan pertanyaan Erina dan melontarkan sebuah pertanyaan baru untuk Erina.
"Sayang, kira-kira ada peraturan posisi yang benar untuk bercinta ala Ibu hamil tidak?" sebuah pertanyaan yang mengganggu pikirannya berhasil lolos dari mulut Arga.
"Apa?!" Erina terkejut dengan pertanyaan Arga, namun reaksi Erina sama dengan raut wajah Arga sekarang. Kerut berkening dan kedua alis saling bertaut, mereka berdua mencoba berpikir keras untuk mengingat pesan atau lebih pantas disebut wejangan dari Dokter Mili.
Flashback on
Rumah Sakit Poli Kandungan
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Nyonya Arga Hutama, Dokter Mili menuliskan beberapa catatan resep kepada Erina. Sebuah kertas kecil dengan tulisan sandi rumput ala Dokter, di terima oleh Erina.
Setelah mengucapkan salam dan terimakasih kepada gadis cantik berprofesi Dokter itu, Erina dan Arga beranjak meninggalkan ruangan Dokter Mili.
Namun, suara Dokter Mili menghentikan langkah mereka berdua.
__ADS_1
"Tuan, jaga selalu kondisi Nona. Jangan biarkan Nona merasa capek, jangan membuat Nona memikirkan hal yang tidak perlu. Selalu buat dia nyaman dalam kondisi apapun, dan satu lagi jangan 'bermain kasar' Tuan." tutur Dokter Mili sambil mengulas senyuman kepada kedua pasangan Muda itu.
"Iya ... iya, kamu cerewet sekali Dokter. Tanpa kamu beritahu pun Aku pasti akan melakukan semuanya dengan baik. Karena aku adalah suami dan ayah yang terbaik di dunia ini, bukankah begitu sayang?" Arga menatap Erina lekat-lekat, mencari pembenaran pernyataan nya tentang 'suami yang terbaik di dunia'.
Erina melingkarkan tangannya di lengan kekar Arga dan menyunggingkan sebuah senyuman. "Iya, kamu adalah suami dan ayah yang terbaik di dunia ini." lirih Erina, Ia ingin menyenangkan hati suaminya dan tentu nya pernyataan itu sangat lah benar. Mengingat Arga yang selalu siaga untuk Erina.
Dokter Mili mendengus pelan dan memutar kedua bola matanya, pemandangan yang sangat menyesakkan bagi nya. Kenapa pasangan ini selalu sukses membuat orang lain iri dengan mereka, sebuah tindakan kecil Arga pada istrinya membuat orang di sekitar nya bergumam dalam hati "Ah, kenapa Tuan Muda ini begitu so sweet."
Flashback Off
Arga mengetuk-ketuk pelan dagunya dengan jari manisnya, ingatannya tak menangkap pernyataan Dokter Mili tentang 'bagaimana bercinta dengan Ibu hamil yang baik dan benar'.
Arga menyugar rambut nya dengan frustasi, "Apa aku harus menanyakan hal itu kepada Dokter Mili sekarang? Atau menyuruh Pak Sam mencari artikel tentang bagaimana posisi bercinta yang aman untuk Ibu hamil. Aaarggh." teriaknya frustasi.
Erina menarik selimut untuk menutupi tubuh nya yang terbuka, Ia memegang pundak Arga dengan pelan.
"Sayang, kita bisa melakukan nya lain waktu bukan. Kita masih punya banyak waktu untuk ini." ucap Erina dengan wajah merona malu.
Arga yang sudah berjanji untuk selalu menjaga Erina dan calon bayi nya hanya bisa menuruti perkataan istrinya itu dengan raut wajah frustasi. Ia mendengus kasar.
"Haaaaah ... baiklah, ini kesalahanku kenapa aku tak menanyakan hal penting ini kepada Dokter Mili." keluh Arga, Ia segera mendekap tubuh Erina dan mendaratkan kecupan di kening Erina.
"Kamu pasti kecewa ya sayang, maaf ya." ucap Arga sembari mengelus pelan punggung Erina.
"Hah ... bukan nya dia yang kecewa? Kenapa malah nuduh aku. Haish ... dasar Tuan Muda yang tak mengakui perasaan kecewa nya." gumam Erina dalam hati.
πππ
Suasana di Rumah Orang Tua Erina
Erina dan Arga sudah sampai di rumah orang tuanya, Erina mengenakan baju dress panjang selutut berwarna biru dipadu padankan dengan warna putih. Sangat serasi sekali dengan tubuh nya yang putih memesona. Sedangkan Arga memakai kemeja berwarna biru muda dengan lengan di gulung sampai siku. Membuat ketampanannya semakin tampak sempurna.
Kedatangan mereka ternyata sudah dinantikan oleh kedua orang tua Erina dan juga kak Eric.
Eric yang saat itu mengenakan kemeja putih berlengan panjang, tampak tersenyum menyambut kedatangan adik kandung dan adik iparnya. Erina segera menghamburkan diri memeluk mama nya.
Erina tersenyum dengan perlakuan mamanya, Ia kembali mendekap tubuh mamanya. Dekapan yang selalu membuat Erina merasa tenang, dekapan yang selalu Ia rindu kan setiap waktu.
πππ
Ruang tamu yang di dominasi warna putih dan cream itu terlihat sederhana namun sangat nyaman, furniture yang hampir keseluruhan berbahan kayu itu membuat kesan natural dan hangat.
Erina mendudukkan dirinya di sebelah mamanya, tangannya masih melingkar manja di pinggang perempuan yang sudah melahirkannya itu. Sementara itu ketiga laki-laki yang sangat berarti dalam kehidupan Erina, yaitu papa Erina, Eric dan Arga nampak bercengkrama di kursi panjang yang berada pada ruangan tersebut.
"Lihat sayang, perut mu sudah terlihat besar." ucap mama Erina dengan mengulas senyum dan mengelus pelan perut Erina yang membuncit.
Erina melepaskan pelukannya, Ia menatap manik coklat milik mamanya.
"Mama ... mama akan memiliki cucu tiga sekaligus." lirih Erina, Ia berkata lirih sekali agar tak mengganggu obrolan para lelaki yang ada dihadapannya.
Namun reaksi mama Erina sungguh mengejutkan. "Apa? Kamu hamil kembar tiga sayang?" teriak mama Erina, suara mama Erina yang lantang membuat ketiga laki-laki itu menoleh secara bersamaan.
Papa Erina dan Eric tak kalah terkejutnya dengan perempuan paruh baya itu, mereka segera mendekati Erina dan memeluk nya secara bergantian. Arga tampak membelalakkan matanya, Ia tak senang istrinya dipeluk oleh laki-laki lain sekalipun itu adalah papa dan kakak laki-laki nya.
Laki-laki yang berstatus suami Erina itu nampak kesal sekali, Ia membuang muka ke sembarang arah dengan wajah memerah menahan kesal nya. Erina yang memperhatikan suaminya itu, tersenyum geli. Perempuan itu seolah tahu apa yang sedang di rasakan oleh suaminya.
"Dasar suami posesif." gumam Erina dalam hati.
Perasaannya membuncah bahagia, ternyata rasanya menyenangkan sekali di cintai oleh laki-laki posesif seperti Tuan Muda Arga ini. Pikir Erina.
πππ
Erina yang sudah sangat penasaran dengan ucapan kakak nya kemarin malam, segera menghampiri kakak nya yang kini tengah berada di dapur bersama mamanya.
__ADS_1
"Kak Eric." panggilnya.
Eric yang sedang membuatkan minuman untuk dirinya itu segera menoleh, Ia mengulum senyum.
"Kamu kenapa ke sini, biar kakak saja yang membantu mama menyiapkan minuman untukmu dan suamimu." ujarnya seraya mendekati Erina.
"Iya sayang, kamu temani saja suami mu di sana." timpal mamanya.
Erina tak menghiraukan kakak dan mama ya, ia mendekati kursi yang berada tak jauh dari tempat nya berdiri. Ia mendudukkan perlahan tubuh nya di kursi rotan.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu pada kak Eric ma." jawab nya singkat.
"Sesuatu? Sesuatu apa Erin?" Tanya Eric dengan raut wajah serius.
"Kakak kok malah lupa sih? Faktor U ini pastinya." ledek Erina dengan sedikit kesal.
Eric terkekeh mendengar ucapan adik satu-satunya itu, Ia segera mendekati Erina dan mengacak-acak rambut Erina. Mamanya tersenyum, hatinya merasa bahagia. Pemandangan yang sudah jarang sekali di lihat oleh mama mereka, kini kembali ia saksikan.
"Ih ... kak Eric, aku udah mau punya anak tau. Jadi perlakukan aku seperti calon ibu-ibu pada umumnya." protes Erina, ia mengerucutkan bibirnya menahan kesal. Tapi hal itu malah membuat Eric semakin terkekeh.
"Iya Nyonya Arga." ledeknya sekali lagi.
"Udah ah kak, becandanya." seru Erina Kepada kakaknya.
"Iya ... iya sayangku." ujar Eric, ia menarik kursi dan meletakkan tepat di sebelah Erina.
"Jadi, apa yang ingin kakak sampaikan padaku?" tanya Erina setelah kakaknya mulai memasang raut wajah serius.
"Jadi gini adikku yang paling cantik."
"Kakak serius!" potong Erina.
Eric hanya mengulas senyuman dengan menganggukkan kepala, tanda ia benar-benar serius kali ini.
"Kakak sedang jatuh cinta Erin, kakak ingin minta pendapatmu. Soalnya kakak ingin melamar gadis ini secepatnya." ucap Eric dengan mata berbinar.
"Ah, senangnya. Akhirnya kakak tercintaku jatuh cinta juga." Kata Erina dengan mengatupkan kedua tangannya lalu menepuk secara berulang kali.
"Dasar kamu ya." sahut Eric dengan mencubit hidung Erina.
"Kak Eric, seperti apa gadis yang sudah menarik simpati kakak ini? Kakak punya fotonya?" tanya Erina antusias.
Eric segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto gadis yang sudah menyita perhatiannya itu, Eric menyerahkan ponselnya kepada Erina.
Dengan cepat Erina mengambil ponsel dari tangan laki-laki itu, gadis itu segera menatap layar ponsel kakaknya dengan seksama. Namun, betapa terkejutnya ketika Erina melihat foto gadis yang sedang berpose menopang dagu itu. Ia membulatkan mata dan mulutnya.
"Dia?!" gumam Erina dalam hati.
Bersambung
Mampir ke novel temen author ya man teman. Dijamin bakal ketagihanπ₯°
Istri Kedua Tuan Krisna ~ Syala Yaya
Balas Dendam Cowok Kampungan ~ Linanda Anggen
Dipasksa Menikahi Tuan Muda Duda ~ Duwi Sukema
Hello Presdir ~ Shintapuji
__ADS_1
Wanita Simpanan Bryan ~ MeChan