
"Ibu .... " panggil Arga dengan tatapan tak senang.
Nyonya Hutama hanya mendengus kesal melihat Arga datang di saat yang tak tepat.
"Ibu ... ayolah, sudahi semua ini. Aku tak suka melihat Erina ku seperti ini." seru Arga. Arga menyandarkan tubuhnya di sofa, dia mengangkat satu kakinya dan bertumpu pada kaki satunya.
Erina yang tak mengerti maksud Arga hanya mengernyitkan kening, Erina memandang Arga penuh tanda tanya.
Nyonya Hutama masih terlihat sedikit kesal dengan putra satu satunya, Arga sudah merusak semuanya. Begitu pikirnya.
"Ck ... kamu sudah merusak semuanya, padahal ini sudah mau klimaks." Nyonya Hutama menyilangkan kedua tangannya di dada, melemparkan pandangan ke sembarang arah.
"Tunggu ... apa maksud dari ucapan mu barusan suamiku?" tanya Erina yang sudah sangat penasaran. Raut wajahnya menunjukkan dia benar-benar ingin tahu.
"Hmm ... baiklah ... Erina sayang. Ibu akan menyudahi semua ini ... Erina, bagaimana akting ibu barusan? Bagus kan?" seru Nyonya Hutama dengan wajah menyeringai, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan beberapa menit yang lalu. Erina tertegun dengan ucapan ibu mertuanya.
"Akting ...? Maksud ibu ....?" Erina mencerna kalimat ibu mertuanya, antara bingung dan heran dengan perubahan sikap ibu mertuanya.
"Sayang ... ibu sedang mengerjai mu." sahut Arga. Erina membelalakkan mata tak percaya dengan perkataan suami nya barusan.
"Ibu .... " panggilnya lirih.
Nyonya Hutama terkekeh melihat wajah Erina yang sangat polos dan sudah tertipu oleh akting yang dia rencanakan bersama Arga.
"Jadi begini Erina, tadi siang setelah kejadian di galeri tadi. Ibu menelpon Arga dan meminta Arga untuk mengajakmu makan malam dirumah untuk menjalankan akting yang akan ibu perankan." Nyonya Hutama mencoba menjelaskan.
Flashback On
Nyonya Hutama yang terlihat kesal dengan kejadian Erina dan Clarissa, segera bergegas keluar galeri lukisan dan segera masuk ke dalam mobil nya.
Nyonya Hutama menekan beberapa nomer di ponselnya, dia meletakkan benda pipih itu di telinga kiri nya.
"Halo Arga ... sekarang juga jemput Erina, ibu tak bisa mengantarnya pulang." ucap Nyonya Hutama.
"Kenapa bu? Apa ada masalah yang terjadi?" tanya Arga penasaran.
"Iya ... Clarissa sudah membuat ulah lagi. Sekarang Erina yang menjadi korbannya, aku begitu kesal dengan Nyonya Sanjaya dan Clarissa, tapi aku ingin memberikan mereka pelajaran karna berani-beraninya mengganggu menantu kesayanganku." jelas Nyonya Hutama kepada Arga.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan Erina bu?" suara Arga tampak begitu panik.
"Kamu tenang dulu, Erina baik-baik saja. Aku hanya sedikit berakting di depannya, aku bersikap seolah sangat kecewa dan ikut larut dalam permainan Clarissa. Tapi sesungguhnya aku tak tega dengan Erina, tapi ini juga untuk kebaikannya di masa yang akan datang. Bahwa dia harus tegas dengan orang yang sudah berbuat jahat kepadanya." ucapan ibunya membuat Arga sedikit tenang.
"Ibu benar ... Erina ku gadis yang terlalu polos. Dia kelewat baik, sampai kebaikannya di manfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Lalu apa rencana ibu?" Arga mulai mengerti maksud dari ibunya, Arga sedikit bernafas lega.
"Begini ... nanti malam ajak Erina makan malam dirumah, nanti ibu akan melanjutkan akting ibu dan menuntaskan malam ini juga." senyuman mengembang di bibirnya.
"Baiklah, tapi ibu janji jangan sampai buat Erina terlampau sedih ya?" ucapan Arga penuh penekanan.
"Ck ... ibu juga sebenarnya tidak suka cara seperti ini, tapi melihat Erina yang bahkan tak bisa melakukan pembelaan seperti tadi. Itu rasanya ... membuat ibu sangat sedih. Clarissa sangat keterlaluan kepada Erina, aku ingin Erina menyadari kesalahannya. Kita hidup di lingkungan yang penuh persaingan, jika kita lemah. Kita dengan mudah akan di tindas oleh lawan-lawan kita." suara Nyonya Hutama terdengar getir, pikirannya kembali mengingat saat Erina hanya diam terpojok ketika Clarissa menjebaknya.
"Baiklah bu, ku harap dengan cara seperti ini Erina bisa sedikit lebih tegas. Walaupun aku akan selalu melindunginya setiap saat, tapi ada benarnya ucapan ibu." seru Arga.
"Ya sudah, sekarang temui Erina di galeri. Aku tak mau dia menunggu lama dan bersedih sendirian, sampai ketemu nanti malam ya sayang." sahut Nyonya Hutama sembari menutup telfonnya. Nyonya Hutama bernafas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan.
"Clarissa, aku tahu kamu sebernarnya gadis yang baik. Entah kenapa kamu berubah seperti ini? Kamu bahkan sudah tega berbuat demikian kepada Erinaku yang seorang gadis yang lugu dan polos." Nyonya Hutama melempar pandangannya menembus kaca mobil yang transparan, tatapannya nanar. Pikirannya masih terfokus pada Erina.
Arga segera menggeser layar ponselnya, jarinya bermain di atas layar benda pipih miliknya. Gerakannya terhenti pada sebuah aplikasi navigasi yang khusus untuk melacak keberadaan Erina, dia menekan pelan dan melihat dengan jelas nama-nama tempat yang sudah di kunjungi Erina hari ini. Matanya terhenti di sebuah titik dimana Erina sekarang berada.
"Pak Sam, sekarang kita menuju ke mall yang di kunjungi Erina." seru Arga kepada Pak Sam yang berdiri tak jauh darinya. Pak Sam menganggukan kepala dan segera mengintruksi beberapa anak buahnya lewat ponselnya.
Flashback Off
Erina yang mendengar penjelasan ibu mertua nya seketika langsung menumpahkan airmata yang sedari tadi sudah di tahannya. Nyonya Hutama terlihat bingung karna menantu kesayangannya tiba-tiba menangis tanpa sebab.
"Erin, kamu kenapa? Kok malah nangis?" tanya Nyonya Hutama heran.
Tapi airmata Erina semakin deras jatuh di pipinya, Nyonya Hutama semakin panik. Arga yang melihat Erina menangis seketika langsung mendekati Erina.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" raut wajah Arga tak kalah panik dengan ibunya.
Erina mengusap kasar airmata, memandang lekat-lekat wajah Nyonya Hutama.
"Ibu ... aku sungguh takut sekali, aku takut ibu benar-benar marah dan benci padaku. Aku sangat menyukai ibu dan ayah, tapi ketika ibu bersikap seperti itu kepadaku. Rasanya aku benar-benar takut." airmata Erina tak henti membanjiri pipi putih yang bersemu merah karna menahan kesal.
Nyonya Hutama tersenyum, dia mulai mengerti perasaan Erina dan segera memeluk Erina dengan lembut.
__ADS_1
"Sayang ... ibu hanya memberi sedikit pelajaran buat kamu, mulai sekarang jangan tunjukkan kelemahan mu kepada lawan bahkan kepada temanmu sekalipun. Kamu tak boleh lengah, biar mereka tak mudah menyalahgunakan kebaikanmu." Nyonya Hutama membelai lembut rambut Erina.
Arga yang melihat adegan kedua orang yang sangat di cintainya, seketika langsung meleleh hati nya. Arga bernafas lega, dan segera meninggalkan ruang tengah tanpa sepengetahuan Erina dan ibunya.
"Baik bu ... " ucap Erina lirih di tengah isak tangisnya.
"Jadi ... ibu percaya aku tidak menampar Clarissa?" Erina mendongakkan kepalanya.
"Ibu sudah kenal Clarissa dari dulu, dia hanya sedang iri denganmu. Kamu gadis yang baik, ibu percaya Clarissa sudah menjebakmu." tatapan Nyonya Hutama penuh kasih sayang, Erina merasa sangat nyaman di pelukan ibu mertuanya.
Nyonya Hutama melepaskan pelukannya, dia mengusap cairan bening di pipi Erina.
"Sudah, jangan sedih lagi ya. Maafkan ibu, jika hari ini ibu sedikit keterlaluan." Nyonya Hutama mencubit pelan hidung Erina, Erina merasa benar-benar di cintai oleh ibu mertuanya. Perasaan takut yang tadi memenuhi dadanya perlahan mulai hilang dan diganti dengan perasaan nyaman dari seorang ibu yang tulus menyayangi anaknya.
Erina tersenyum dan menganggukkan kepala, masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Ibu, apa boleh Erin bertanya?" seru Erina sambil memegang tangan ibu mertuanya.
"Kamu mau tanya apa? Tanyakan semua pada ibu .... " Nyonya Hutama terkekeh sendiri.
"Ibu ... Nyonya Sanjaya sepertinya sangat tidak menyukaiku, apa itu tidak berpengaruh untuk ibu?" sahut Erina seraya menundukkan kepalanya.
"Ck ... apa yang sudah kamu katakan ini, Nyonya Sanjaya bukan tidak menyukaimu. Dia hanya sedang mengujimu, dia melihat dirimu seperti melihat masa lalunya." Nyonya Hutama memegang kedua bahu Erina dan menepuk nya pelan. Erina segera menatap ibu mertuanya, tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Nyonya Hutama.
"Masa lalu ... maksud ibu?" Erina mengernyitkan keningnya.
"Hmm ... ibu tidak terlalu suka membahas ini, latar belakang seseorang menjadi senjata orang lain untuk menjatuhkannya ...." Nyonya Hutama bernafas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan. Erina masih mencoba mencerna maksud dari setiap kata yang ibu mertuanya sampaikan.
"Nyonya Sanjaya dulu adalah gadis desa yang sangat manis, Tuan Sanjaya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dia. Tapi keluarga Sanjaya sangat menentang dan tak menyetujui hubungan mereka, tapi berkat kegigihan Tuan Sanjaya. Dia berhasil meyakinkan keluarga nya dan akhirnya mereka menikah." Nyonya Hutama menjelaskan kepada Erina layaknya seperti seorang ibu yang sedang berdongeng kepada anaknya. Tak terasa airmata Erina keluar tanpa aba-aba, melihat itu Nyonya Hutama segera mengusap pelan pipi Erina.
Erina merasa sangat bahagia, karna nasibnya lebih baik dari Nyonya Sanjaya yang dulu.
"Terimakasih ibu .... " Erina memeluk tubuh wanita paruh baya yang berada di depannya, Nyonya Hutama tersenyum dan membalas dengan lembut pelukan Erina.
"Kamu jangan berpikiran macam-macam ya, anggap saja Nyonya Sanjaya sedang mengujimu." sahut Nyonya Hutama sembari mengelus punggung Erina. Erina mengiyakan dengan senyum mengembang di bibirnya. Perasaan lega menyelimuti hati Erina, mulai saat ini dia bertekad kepada dirinya sendiri untuk lebih waspada kepada siapapun yang akan menjatuhkannya. Dia tak ingin membuat ibu dan suaminya cemas seperti ini lagi.
Bersambung
__ADS_1