Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Jangan Menyalahkan Dirimu!


__ADS_3

Gea merasa sangat senang, tak hanya mendapatkan gaji besar dan bonus. Hari ini dia juga berkesempatan untuk makan bersama dengan Presdir dan istri tercinta nya di restoran mewah. Betapa keberuntungan telah menghujani nya secara bertubi-tubi, dewi fortuna sedang sangat baik kepada nya. Begitu pikir Gea.


Makanan sudah tersaji rapi di meja besar berbentuk bundar, Gea yang sudah duduk berdampingan dengan Erina merasa takjub dengan makanan yang berada di hadapan nya.


Gea mencubit pelan pipi nya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukanlah mimpi. Ia mengaduh tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, takut yang lain terganggu dengan suaranya.


Ini benar-benar nyata, restoran yang selalu aku lewati saat berangkat dan pulang kerja. Restoran yang tak dapat di jangkau oleh jiwa miskin ku. Kini aku berada di tempat ini, menikmati hidangan mewah nya. Oh, rasa nya aku tak akan melupakan hari bersejarah ini seumur hidup ku. Akan aku kenang, sebagai hari terbaik dalam hidup ku. batin Gea.


Erina melirik Gea yang kini tepat berada di sebelahnya, Erina sedikit heran karna Gea sembari tadi hanya melihat makanan nya saja.


"Gea ...." panggilnya lirih, tapi Gea tidak menyahuti karna masih larut dalam ke kaguman nya pada restoran mewah ini.


Pak Sam yang melihat panggilan Erina tak di gubris Gea, segera berdehem keras.


"Ehem .... " kali ini suara Pak Sam berhasil memecah lamunan Gea, Gea gelagapan dan dengan wajah polosnya gadis itu menyunggingkan senyum yang dibuat semanis-manisnya.


"Maaf ... nona, saya benar-benar merasa sangat senang malam ini. Karna saya belum pernah makan di restoran semewah ini." Gea mencoba menjelaskan dan sesekali melirik kepada Pak Sam yang sedari tadi sudah mendelik kan mata nya kepada nya.


Erina tertawa lirih mendengar jawaban apa adanya Gea, sambil menepuk pelan bahu Gea.


"Kamu pasti sekarang sudah sangat lapar kan ya? sekarang habiskan makanan ini." ucap Erina sambil menunjuk makanan yang sudah tersaji di depan Gea.


"I ... ya nona, terimakasih banyak." Gea menundukkan kepala secara kasar dan segera meraih piring di hadapan nya.


Gea mengambil beberapa makanan dengan sedikit malu-malu, Erina yang tak sabar melihat Gea segera mengambil alih piring Gea secara pelan dan mengambilkan beberapa jenis makanan yang berada di meja.


Sekarang piring Gea sudah penuh dengan berbagai macam makanan, rasanya Gea ingin segera melahap habis makanan itu. Namun, dia masih bisa menahan urat malunya.


"Nona, seperti nya ini kebanyakan." ucap Gea mencoba menutupi, padahal sebenarnya perutnya sudah melambai-lambai.

__ADS_1


"Sudah, habiskan saja. Kamu sudah terlihat sangat kelaparan dari tadi." ucap Arga yang masih fokus dengan makanan di depannya, tanpa menoleh ke arah Gea.


"Iya benar, habiskan ya. Nanti kalau kurang kamu jangan sungkan untuk nambah." Erina menimpali ucapan Arga.


Andai saja tidak ada Pak Sam dan Tuan Arga mungkin makanan ini akan habis dalam waktu beberapa menit saja, tapi paling tidak aku harus menjaga image di depan bosku.


gumam Gea.


Gea segera meraih sendok dan melahap sedikit demi sedikit makanan di piring nya, beberapa menit kemudian piringnya sudah bersih tak bersisa. Begitupun dengan Erina, Arga dan Pak Sam, mereka telah selesai makan.


***


Gea berpamitan kepada Erina dan Arga, dia juga membawa beberapa tentengan makanan yang terbungkus rapi di tangan nya sebagai oleh-oleh dari Erina untuk keluarganya.


"Nona, terimakasih banyak. Saya jadi merasa sangat tidak enak, karna sudah dibawakan begitu banyak makanan ini." Gea membungkukkan setengah badannya dengan tangan sudah penuh barang bawaan, raut wajahnya menunjukkan bahwa dia benar-benar tak enak hati dengan Erina.


"Sudah, jangan sungkan. Ku harap kita bisa bertemu lagi nanti. Kamu hati-hati di jalan ya Gea, salam untuk keluarga kamu." Erina tersenyum manis kepada Gea.


"Ayo kita pulang sayang." ucap Arga


"Kalau begitu, aku pergi dulu ya Gea." Erina berjalan meninggalkan Gea dan Pak Sam.


"Baik nona, terimakasih banyak nona dan Tuan Arga. Hati-hati di jalan. " Gea sedikit berteriak karna Erina sudah semakin jauh, Erina hanya melambaikan tangannya dari jauh.


***


Suasana di dalam kamar Arga dan Erina.


Erina masih terjaga, dia sudah di atas tempat tidur nya dengan pandangan menerawang ke atas langit-langit kamarnya. Erina mengingat kejadian di pesta Nyonya Sanjaya sore tadi, ada perasaan tak nyaman di hatinya.

__ADS_1


Arga keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah kering, dia segera menghampiri Erina.


"Kok belum tidur, sayang?" Arga merebahkan tubuh nya di sebelah Erina, memiringkan tubuh nya agar bisa lebih dekat dengan istri nya.


"Perasaan ku sedang tak enak, sayang." sahut Erina, pandangan nya masih fokus menatap ke atas.


"Ada apa sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" Arga meletakkan salah satu tangan di kepala nya, sehingga kini tangan nya sudah menopang sempurna kepala nya.


"Sepertinya, tadi sore aku sudah sangat kasar kepada nona Clarissa." Erina memejamkan mata. Bernafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. Seolah ada beban berat yang sedang di pikul nya.


Arga membelai lembut pipi Erina, Erina membuka matanya dan menoleh ke arah suaminya.


"Itu wajar sayang, aku mengerti bagaimana perasaan mu saat itu. Clarissa memang sudah sangat keterlaluan, entah kenapa dia tiba-tiba berubah seperti itu. Tapi dia memang pantas mendapatkannya, sayang." ucap Arga.


Erina memiringkan tubuhnya, kini mereka saling berhadapan.


"Kenapa kamu menyembunyikan nya dariku sayang? Apakah kamu takut aku akan membenci Clarissa? Atau ... kamu takut aku menyakitinya?" Erina menatap lekat-lekat wajah Arga, rasa penasaran yang memenuhi isi kepalanya tentang penculikan beberapa bulan yang lalu, yang mengakibatkan ia keguguran perlahan dia lepaskan.


"Waktu itu, aku pikir aku akan bisa membereskannya sendiri. Memberikan sedikit ancaman untuknya agar jangan pernah mengganggu kamu lagi, tapi ambisinya telah menutup mata hatinya. Dia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah, dan aku minta maaf kamu dan calon anak kita yang menjadi korban nya." raut wajah Arga tersirat penyesalan yang begitu mendalam.


"Semua karna aku, aku yang membuat Clarissa seperti itu. Andai aku .... " Arga memotong kalimat Erina. Laki-laki itu meletakkan jari manisnya di bibir Erina, seolah tahu kemana arah pembicaraan Erina. Erina hanya menatap suaminya dengan tatapan sayu.


"Aku sudah melupakan semua tentang dia, dia memilih keputusannya sendiri. Dia hanya terlalu berambisi ketika semuanya meninggalkannya, dan aku sangat bahagia karna bertemu denganmu. Aku tak pernah memiliki perasaan ini sebelumnya, perasaan nyaman ketika berada di dekatmu. Jadi, aku mohon jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahan orang lain." Arga menarik pelan tubuh Erina, diraihnya dengan kedua tangan dan membenamkan nya di dalam dekapannya.


"Mulai sekarang kamu jangan terlalu banyak pikiran ya, kamu hanya perlu fokus untuk membuat anak bersamaku." goda Arga.


Arga mencubit hidung Erina, Erina merasa sangat malu dengan ucapan Arga. Segera ditepiskan tangan suaminya dan membenamkan wajahnya di dada bidang laki-laki yang sekarang sangat dicintainya itu.


Arga melingkarkan tangannya di tubuh Erina, dan beberapa menit kemudian Erina sudah terlelap dalam dekapannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2