Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Aku Akan Membuktikannya


__ADS_3

"Sayang, ternyata selama ini kamu sudah mengetahui kalau nona Clarissa menyuruh memata-matai kak Eric dan Anggen?" tanya Erina sambil menyandarkan punggungnya di kursi mobil.


Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan santai.


"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku sebelumnya sayang?" tanya Erina sambil mengurucutkan bibirnya.


"Kenapa memangnya?" Arga segera memutar tubuhnya menghadap Erina, Ia menatap lekat kedua manik coklat Erina.


Erina merasa sedikit tak nyaman ketika dipandang seperti itu oleh Arga, Ia segera membenarkan duduknya.


"Y-ya kan, kalau aku tahu kan. Bisa memberitahu mereka, agar tidak terjadi salah paham seperti tadi," jelas Erina, ekor matanya sesekali melirik ke arah Arga yang terus mengawasinya dengan seksama.


"Lalu kamu akan menjadi detektif dadakan begitu?" nada suara Arga terdengar datar, namun sorot matanya tetap tajam.


Erina kembali mengingat kejadian satu jam yang lalu, ide untuk mengawasi gerak gerik Eric dan Clarissa. Ternyata masih tak bisa di maafkan oleh Arga.


"A-aku kan sudah minta maaf sayang, kenapa kamu masih mengungkitnya?" desis Erina.


"Tentu saja aku tak semudah itu memaafkanmu! Bagaimana jika ternyata Clarissa sudah menyiapkan jebakan disana? Lalu, bagaimana jika Clarissa berniat menyakitimu? Kenapa semua itu tidak kamu pikirkan sebelumnya? Kamu sekarang sedang hamil tua, harusnya itu juga menjadi pertimbanganmu untuk melakukan ide konyol seperti itu. Apalagi kamu sampai berani tidak memberitahuku sebelumnya!" pekik Arga seraya memalingkan muka, Arga terlihat begitu murka. Napasnya terengah menahan amarah.


Suasana hening sesaat.


Erina terdiam, kedua matanya sudah dipenuhi cairan bening.


"Maaf ....," lirih Erina.


Air matanya lolos dari kedua sudut matanya, Arga segera menoleh ke arah Erina. Ia begitu panik ketika melihat Erina menangis.


"Sayang, aku tak bermaksud marah kepadamu. Aku hanya mencemaskan keadaan mu dan bayi kita sayang, ku mohon berhentilah menangis." Arga menyeka air mata Erina dengan ibu jarinya.


Erina bukannya berhenti menangis, Ia malah semakin mengeraskan suara tangisannya. Pak Sam yang duduk di jok depan mobil sontak melirik kepada Erina, pak Sam tampak tersenyum tipis sambil menggelengkan-gelengkan kepala melihat sikap Erina.


Arga semakin panik melihat istrinya yang tak kunjung berhenti menangis, Ia tampak sangat frustasi.


"Sayang, ku mohon jangan menangis lagi ya."


"Aku juga tidak tahu, kenapa aku menangis. Rasanya hatiku sangat sakit, ketika kamu membentak aku," pekik Erina dengan sesengukan.


Arga meraup wajahnya dengan kasar, "Baiklah, aku minta maaf ya kalau aku tadi membentakmu. Tapi aku benar-benar tak bermaksud untuk itu sayang, jadi ku mohon berhentilah menangis." Arga menjeda kalimatnya, "Apa yang harus aku lakukan agar kamu berhenti menangis? Apapun akan aku lakukan, tapi ku mohon saat ini berhentilah menangis. Aku tak ingin melihatmu bersedih," rayu Arga. Ia meraih tangan Erina dan menghujani dengan ciuman beberapa kali.


Seketika tangisan Erina langsung mereda, "Benarkah, apapun akan kamu lakukan sayang?" tanya Erina memastikan.


"Iya, benar sayangku!" sahut Arga meyakinkan.


"Baiklah aku akan berhenti menangis, nanti akan aku sebutkan keinginanku," ucap Erina sambil menyeka sisa air matanya dengan punggung tangannya.

__ADS_1


Arga menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar, Ia mengulum senyum seraya menarik tubuh Erina ke dalam dekapannya.


"Maafkan aku sayang, aku sudah terbawa emosi tadi. Aku hanya tak ingin kamu dan anak kita kenapa-napa. Dan aku sudah berjanji tak akan membuatmu menangis lagi, aku juga tak bisa melihat mu bersedih sayang. Hatiku sangat sakit ketika melihatmu menangis," tutur Arga seraya mengelus pelan rambut Erina.


"Iya sayang, aku maafkan. Tapi kamu jangan lupa janjimu tadi ya," ujar Erina dengan santainya. Arga hanya menganggukkan kepala.


Maaf ya sayang, aku takut dengan kemarahanmu tadi. Jadi, aku pakai jurus andalanku, batin Erina. Ia tampak menyunggingkan senyumannya sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Arga.



🍁🍁🍁


Anggen dan Eric tampak berhenti di sebuah rumah makan, gadis itu tampak bingung kenapa Eric berhenti di warung makan tersebut.


"Kak Eric, kenapa kita berhenti disini?" tanya Anggen seraya melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya.


"Kamu belum makan kan? Aku tak mau kamu sampai melupakan makan siangmu," jawab Eric sambil membuka pintu mobilnya.


Anggen mengulum senyum mendapat perhatian dari Eric, pikirannya sesaat mulai menerawang sampai akhirnya Ia tak menyadari kalau Eric sudah membukakan pintu untuk nya.


"Sudah selesai melamunnya?" suara Eric membuat Anggen tersipu.


"Aku tidak melamun kak," sanggah Anggen sambil melangkah keluar mobil, Ia segera memalingkan wajahnya karena malu.


Eric tersenyum tipis. Mereka berdua berjalan masuk ke rumah makan dengan langkah beriringan, Eric mengedarkan pandangannya. Ia memilih meja yang berada di tengah rumah makan tersebut.


🍁🍁🍁


Anggen tampak membungkukkan tubuhnya, dan berbisik kepada Eric yang berada tepat di hadapannya, "Aku tak enak jika aku makan seorang diri."


Eric yang melihat sikap Anggen pun melakukan hal yang sama dengannya, "Kata siapa kamu makan seorang diri, aku akan menemanimu makan," jawab Eric sambil berbisik.


Pramusaji yang menyaksikan tingkah mereka berdua tersenyum penuh arti.


Mereka berdua pasangan yang sangat menggemaskan sekali, batin pramusaji tersebut.


Anggen yang mendengar ucapan Eric merasa senang, "Terimakasih," ucap nya lirih. Eric hanya tersenyum menanggapi ucapan Anggen.


"Kamu jadi pesen apa?" tanya Eric.


Mata Anggen berbinar senang karena menu utama di rumah makan tersebut adalah makanan favoritnya.


"Aku pesan soto daging kak," jawab Anggen penuh dengan semangat.


Eric yang mendengar nama makanan yang di pesan Anggen juga tampak senang, pasalnya soto daging juga merupakan makanan favoritnya.

__ADS_1


"Wah, kok kebetulan ya. Aku juga mau pesan soto daging," ucap Eric.


"Benarkah?" tanya Anggen meyakinkan. Eric hanya menganggukkan kepala dengan tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu pesan soto daging dua sama air mineral dua ya," pesan Eric kepada pramusaji tersebut.


Pramusaji itu mengiyakan pesanan Eric dan segera berlalu. Tak lama pramusaji tersebut kembali ke meja Eric dengan mengantarkan pesanan mereka berdua.



"Kamu tahu soto daging itu makanan kesukaanku lho," ucap Eric seraya memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.



"Benarkah? Soto daging juga makanan favoritku lho kak!" seru Anggen dengan senyuman tergambar di wajahnya.


"Wah, ternyata makanan favorit kita sama ya. Semoga bukan hanya makanan saja yang sama, tapi dalam hal lain juga." Eric menatap Anggen seraya tersenyum penuh arti.


Anggen kembali tersipu dengan ucapan Eric, Ia hanya menanggapi dengan senyumannya. Suasana menjadi hening sesaat, tiba-tiba pikiran Anggen kembali mengingat tentang Clarissa.


"Kak Eric, apa aku pantas menunggu kak Eric?" kalimat Anggen membuat aktifitas makan Eric terhenti.


Ia menatap lekat manik coklat milik Anggen seraya berkata, "Aku akan membuatmu yakin bahwa kamu adalah gadis satu-satunya yang mengisi hatiku saat ini, aku hanya meminta kamu untuk menunggu aku sebentar saja. Sampai semua persiapan ku sempurna," ucap Eric meyakinkan Anggen.


"Tapi, entah kenapa aku merasa tak pantas untuk kak Eric. Aku hanya gadis biasa kak!"


"Jika kamu merasa tak pantas hanya karena kamu membandingkan dengan Clarissa, berarti kamu menilai cinta dengan harta?" pertanyaan Eric sontak membuat Anggen terkesiap. Gadis itu segera menggelengkan kepalanya.


"Tidak-tidak seperti itu, maksudku ....,"


"Sudah, kita lanjutkan makanannya. Nanti keburu dingin lagi," ucap Eric mengalihkan pembicaraan.


Suasana kembali hening, Anggen dan Eric sibuk dengan makanan dan pikiran mereka masing-masing.


Setelah beberapa menit, mereka pun menghabiskan makanan mereka.


"Jika kamu masih meragukanku, ijinkan Aku untuk melakukan sesuatu untuk meyakinkan hatimu. Bahwa kamu adalah gadis satu-satunya yang benar-benar Aku cintai saat ini. Apa kamu mengijinkan?"


Anggen melipat bibirnya, Ia mengangguk pelan dan berkata, "Iya kak."


Kedua sudut bibir Eric terangkat sempurna, senyuman manis tergambar di wajah tampannya.


Bersambung ....


πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


Sambil menunggu up, mampir ke novel temen author yang sangat keren ya judulnya Pernikahan Paksa Alea by Kak TsabitahπŸ˜πŸ‘πŸ»



__ADS_2