Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Tak Bersimpati


__ADS_3

Malam semakin larut, udara dingin pun semakin menusuk sampai ke tulang. Gemiricik air hujan menambah beku hati dan tubuh Arga, beberapa malam ia lewati dengan hasrat yang tertahan.


Erina sudah terlelap dalam mimpinya dari setengah jam yang lalu, Arga hanya bisa bernafas berat sambil memandang dalam-dalam wajah sang istri.


"Kenapa saat tidur, dia terlihat dua kali lebih cantik ya?" Arga terus memandang wajah Erina dengan tatapan sendu.


Erina sudah mengalihkan dunianya, Erina bahkan sudah merubah Arga menjadi laki-laki yang lebih hangat dan ramah.


"Kamu sudah membuatku tak bisa berpikir jernih seharian ini, aku bahkan sangat menginginkan mu sekarang." Arga melingkarkan tangannya kepada tubuh Erina.


"Oh ... my baby, andai saja kamu bisa ayah ajak kompromi. Pasti ayah akan sangat bahagia sekarang." Arga terkekeh dengan ucapannya sendiri, Erina merasa sedikit terusik dengan suara Arga yang memang sudah berisik dari tadi.


Erina perlahan membuka matanya, dia mengerjap-kerjapkan matanya agar pandangannya terlihat jelas. Arga yang menyadari Erina sudah terjaga, segera menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Tak ada ekspresi yang diberikan oleh Erina, hanya pandangan kesal karena merasa tidurnya terusik.


Erina segera memutar tubuhnya membelakangi Arga, namun dengan cepat Arga mendekap tubuh Erina dalam pelukannya.



"Sebentar saja sayang ... aku ingin memelukmu seperti ini, sebentar saja ...." pinta Arga. Arga tersenyum bahagia, karena akhirnya bisa memeluk erat Erina.


Erina yang tak merasakan perubahan apa-apa pada tubuh nya, akhirnya membalas pelukan Arga. Merasa Erina tak masalah dengan pelukannya, ia melancarkan aksi selanjutnya. Arga sedikit mengendurkan dekapannya.


Arga memandang lekat-lekat bibir merah Erina, benar-benar sangat menggoda hasrat Arga yang sudah menggila. Ia mendekatkan bibirnya di bibir Erina, sebuah kecupan mesra dengan seketika mampu menghangatkan hati dan tubuh Arga yang sedari tadi sudah membeku bak es yang terlalu lama di simpan di lemari pembeku.


Perasaan hangat menyelimuti laki-laki tampan itu, ciuman yang awalnya hanya sebuah kecupan berubah menjadi the single lip kiss. Arga menghisap bibir Erina dengan pelan, seolah menjadi sinyal bagi Erina. Ia menatap mata Arga yang mulai tertutup, Erina kembali merasakan getaran aneh pada tubuhnya. Degup jantungnya mulai terpacu hebat dan darahnya berdesir.


Erina mulai menikmati ciuman Arga, tanpa sadar ia pun menutup pelan matanya. Kedua tangannya sudah melingkar di leher Arga, Arga mengangkat satu sisi bibirnya. Kesempatan ini tak di sia-sia kan nya, masa bodoh dengan keringat yang akan membasahi tubuhnya. Pendingin ruangan juga sudah ia atur lebih dingin dari biasanya, dengan suhu yang lebih dingin tidak akan membuat keringatnya keluar bukan. Begitu pikirnya.


Arga sudah melucuti seluruh pakaian Erina, hanya dada yang masih tertutup oleh kain yang mirip dengan bentuk kacamata. Erina masih menikmati sensasi sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh arga, Arga merasa akan bisa menuntaskan hasratnya malam ini.


Erina masih terpejam dan mempererat tubuhnya di tubuh Arga. Namun, tiba-tiba rasa mual itu datang kembali.


Huwek ... huwek ....


Erina dengan cepat membekap mulutnya, dia segera berlari ke kamar mandi dengan keadaan hampir telanjang. Arga terpaku melihat tubuh Erina dari belakang, berkali-kali Arga menelan salivanya. Pikirannya melayang tentang cara bagaimana menuntaskan hasratnya malam ini.


Erina berjalan dari balik pintu kamar mandi, dia sudah mengenakan bathrobe untuk menutupi tubuh setengah telanjangnya. Erina masih nampak ragu untuk naik ke atas ranjangnya, dimana Arga sudah memasang wajah yang siap menerkamnya sewaktu-waktu.


"Sayang ... kita lanjutin yuk." pintanya dengan mengedip-kedipkan mata.


Erina masih berdiri terdiam di ujung tempat tidurnya, ia menggigit bibirnya. Pikirannya berkecamuk, ada rasa bersalah kepada Arga. Karena perubahan tubuh yang ia alami.


"Emm ... sayang, aku merasakan mual lagi. Aku takut jika kita memaksakan nya, rasa mual ku akan semakin mengganggu." ucapnya lirih, Erina menundukkan kepala tak berani melihat reaksi Arga.


"Begini saja sayang, selama kita bercinta kamu tutup hidung saja. Bagaimana?" serunya dengan wajah sumringah.


"Hah ... sayang, aku tak bisa menjamin cara itu akan berhasil. Aku hanya tak ingin mengecewakanmu. Sayang ... aku mohon mengertilah, ini bukan keinginanku. Ini keinginan bayi kita." suara Erina tertahan,

__ADS_1


Seketika raut wajah Arga berubah, rasa kecewa kembali menghampiri nya.


"Oh ... bagaimana ini, padahal aku sangat berharap malam ini menjadi malam panjang kita." jawabnya tertunduk.


Erina menggenggam erat tangan Arga, dipandangnya lekat-lekat pria yang begitu ia cintai. "Nanti setelah anak kita lahir, kita lakukan honeymoon sepuasnya sayang."


"Benarkah ...?" matanya kembali berbinar-binar.


"Benar sayang." Erina mengangguk mantap.


"Tapi itu masih sangat lama sayang." Arga segera merebahkan tubuhnya, merasa kesal dan kecewa. Dia membenamkan wajahnya di bawah selimut.


Erina hanya bisa mengelus pelan punggung Arga dan berucap maaf.


***


Keesokan harinya, Arga dan Erina sedang menikmati sarapan paginya. Mereka dikejutkan dengan kedatangan Nyonya Hutama.


"Selamat pagi sayang .... " Nyonya Hutama baru saja melangkah dari ruang tamu menuju ruang makan, tapi suaranya sudah terdengar di seluruh ruangan.


Erina yang melihat ibu mertuanya, terlihat begitu senang. "Ibu .... " sapa Erina, dia beranjak dari tempat duduknya dan memberi pelukan hangat kepada Nyonya Hutama. Arga pun melakukan hal yang sama.


"Ibu, apa ada hal yang penting. Sehingga pagi-pagi ibu sudah berada disini?" tanya Arga sambil mengangkat salah satu alisnya.


"'Ck ... Dasar kamu ini ya ... Apa perlu aku membuat jadwal untuk mengunjungi menantu ibu sendiri?" ucap Nyonya Hutama dengan mendekap kedua tangannya. Arga hanya terkekeh dengan ucapan ibunya.


"Nyonya ... bagaimana kabar Nyonya?" ucap Bibi Mar dengan raut wajah bahagia. Karena perlakuan Nyonya Hutama selama ini yang sudah menganggap Bibi Mar sebagai saudara dan bukan sebagai seorang pembantu. Kebaikan Nyonya Hutama yang lantas membuat Bibi Mar betah bekerja selama 25 tahun di keluarga Hutama.


"Baik Bi ... Oh ya, ini ada beberapa baju untuk Bibi pakai. Kemarin waktu belanja di salah satu mall, Tiba-tiba aku teringat akan Bibi." Nyonya Hutama menyerahkan tas besar berwarna biru tua.


Dengan senang hati dan mata berkaca-kaca Bibi Mar menerima pemberian Nyonya Hutama. "Terimakasih banyak Nyonya." Bibi Mar merasa sangat terharu akan kebaikan Nyonya Hutama terhadapnya.


Erina yang melihat kebaikan ibu mertuanya merasa bangga dan terenyuh, Nyonya Hutama bahkan tak memandang status sosial sama sekali. Erina belajar banyak dari Nyonya Hutama.


***


"Oh ya, tujuanku datang kemari adalah untuk membuat jadwal senam ibu hamil untuk kalian berdua." seru Nyonya Hutama kepada Arga dan Erina. Raut wajah Nyonya Hutama tampak serius mengutarakan maksud kedatangannya.


"Senam ibu hamil ...?" suara Arga dan Erina terdengar kompak. Mereka beradu pandang dan bingung dengan rencana yang dibuat oleh Nyonya Hutama.


"Yes, senam ibu hamil."


Arga mengerutkan kening tanda tak mengerti apa itu senam ibu hamil. Sama dengan halnya Erina, kehamilan kedua ini adalah pengalaman pertama baginya. Semua masalah tentang kehamilan sungguh masih menjadi suatu hal yang baru di pikirannya.


"Oke, ibu mengerti apa yang ada di pikiran kalian. Kalian pasti bertanya-tanya apa itu senam ibu hamil bukan? Tapi ibu tak bisa menjelaskan nya, biar pakarnya saja yang akan menjelaskan esok hari." ucapnya di iringi tawa kecil.


"Ibu, kenapa mendadak begini? Erina saat ini sedang mengidam ibu." Arga tampak kurang setuju dengan rencana yang dibuat oleh ibunya.

__ADS_1


Namun, reaksi yang di tunjukkan Nyonya Hutama begitu antusias. Dia sama sekali tak menghiraukan ketidaksetujuan Arga. "Benarkah ...? Kamu mengidam apa sayang?" Nyonya Hutama membelai lembut rambut Erina. "Kamu sudah tau kan, kalau mengidam itu harus dituruti. Jadi, jangan sampai membuat menantu kesayangan ibu tak kesampaian ngidamnya." ucapnya dengan menunjuk kepada Arga.


Bukan hanya menuruti ibu, ini bahkan sudah dibatas normal kewajaran ngidam Erina itu.


Arga hanya mendengus pelan, ibunya tak tahu kegundahan hatinya saat ini. Bahkan semalaman ia tak bisa tidur karena hasratnya yang tak kesampaian.


"Ngidam adalah hal normal yang terjadi pada ibu hamil, semua wanita hamil pasti akan merasakan hal itu. Memang kamu sedang ngidam apa sayang?" Nyonya Hutama menarik pelan tangan Erina, matanya menyiratkan rasa penasaran yang begitu dalam.


Erina menggigit bibirnya, seolah ragu untuk mengatakan perihal tentang ngidamnya. Arga memandang Erina lalu menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya.


Erina menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


"Ayo katakan sayang, tak usah malu. Katakan semua yang kamu rasakan pada ibu." Nyonya Hutama terus mendesak Erina.


"Ini hal yang sangat tidak wajar ibu." ucapnya lirih.


Nyonya Hutama mengerutkan keningnya. Erina segera melanjutkan kalimatnya.


"Beberapa hari ini aku akan terasa mual, jika suamiku mendekatiku dalam kondisi berkeringat bu." Erina menundukkan kepala, dia merasa sangat malu dengan perubahan tubuh yang sedang ia alami.


Gelak tawa Nyonya Hutama seolah memecah keheningan antara mereka bertiga. Arga merasa kesal karena ternyata ibunya tidak bersimpati atas cobaan yang dihadapinya.


"Kenapa ibu tertawa? Memang apa yang lucu?" protes Arga.


"Itu sama persis dengan yang ibu alami dulu sayang, itu benar-benar menurun dari sifat ayahnya. Bayi kecil ini sungguh sangat posesif terhadap ibunya." seru Nyonya Hutama dengan menahan tawa.


"Jadi, ibu dulu juga mengidam hal yang sama seperti yang dirasakan Erina saat ini." Arga terlihat bersemangat kembali.


Nyonya Hutama hanya mengangguk dengan senyuman masih mengembang di bibirnya.


"Lalu bagaimana sikap ayah terhadap ibu?" Arga sudah tak sabar mendengar jawaban ibunya.


"Ayahmu adalah laki-laki yang luar biasa, dia sangat bersabar menghadapi ibu. Jadi, tak masalah dengan hal itu semua." seketika raut wajah Arga menjadi lesu, sebuah solusi yang diharapkan nya hanya berujung dengan harapan palsu. Begitu pikir Arga.


Nyonya Hutama kembali tersenyum melihat reaksi anak laki-laki dan menantu kesayangannya.


Kejadian yang luar biasa akan kalian alami pasca persalinan Erina. Kalian memang pasangan yang menggemaskan.


gumam Nyonya Hutama dalam hati, dia terlihat sangat menikmati melihat kedua pasangan muda ini tersiksa.


"Oke, kembali ke topik awal. Senam ibu hamil akan di mulai besok, Arga kamu harus menemani istrimu senam hamil. Oke." Nyonya Hutama tampak sangat bersemangat sekali. Arga hanya bisa mendengus pelan, karena dia sama sekali tidak tahu bagaimana itu senam ibu hamil.


"Baiklah, terserah ibu saja." ucap Arga lirih, suaranya terdengar pasrah. Erina hanya menyunggingkan senyumannya tanda bahwa ia menurut semua yang direncanakan ibu mertuanya.


"Bagus, besok sore instruktur senam akan datang kerumah kalian. Dia adalah instruktur yang sangat berpengalaman." seru Nyonya Hutama, Arga dan Erina kompak menjawab 'baik ibu'.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2