
Sinar matahari perlahan menembus jendela kamar Rumah Sakit tempat Erina dirawat, Arga yang sudah terjaga setengah jam lalu. Nampak terlihat sudah segar dan rapi, Pak Sam terlihat sedang menunggu di sofa. Dia membawakan baju ganti untuk Arga.
Mata Erina masih tertutup rapat, sejak semalam Erina belum sadarkan diri. Beberapa kali ada pergerakan tangannya, namun sampai saat ini Erina belum bangun dari pingsannya. Arga terlihat begitu cemas melihat keadaan Erina, dia berharap semoga Erina segera bangun agar dia bisa memeluk erat tubuh Erina.
"Erin ... ku mohon buka matamu, aku sangat mencemaskan mu." ucapnya lirih, Arga memegang erat tangan Erina dan menciumnya beberapa kali.
"Oh ya Pak Sam, kosongkan semua jadwal untuk hari ini. Aku ingin menemani Erina untuk sepanjang hari ini." ucap Arga seraya mengalihkan pandangan kepada Pak Sam.
Pak Sam mengangguk pelan. "Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu. Semoga nona Erina segera sadarkan diri." pamit Pak Sam. Pria itu berjalan meninggalkan Arga.
Beberapa menit kemudian.
Erina membuka matanya secara perlahan, pandangannya masih belum terlalu jelas. Dia mengerjap-kerjapkan matanya, perlahan pandangannya semakin terlihat jelas. Erina mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Dimana aku?" ucapnya lirih.
Arga yang menyadari Erina sudah sadarkan diri, segera bangkit dari tempat duduk nya.
"Ini dirumah sakit sayang, kamu tak sadarkan diri dari semalam." Arga bernafas lega, tangan nya mengelus pelan ujung kepala Erina.
"Begitu ya." ucapnya lemah. Erina mengingat terakhir dia berada di sebuah restoran mewah, dia dan Arga sedang melakukan Romantic Dinner kemarin malam.
"Maaf .... " suaranya begitu lemah, bahkan hampir tak terdengar oleh Arga.
"Untuk apa kamu minta maaf?" Arga meraih tangan Erina.
"Aku mengacaukan makan malam kita." Erina bernafas berat, ada perasaan bersalah menyelimuti nya.
"Dasar gadis bodoh ... aku yang seharusnya minta maaf padamu, aku tak menyadari bahwa kamu sedang kurang sehat." Arga mengacak - acak rambut Erina. Membuat Erina tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara handle pintu bergerak, pintu terbuka lebar dan ada dua sosok yang sedang berdiri di depan pintu. Nyonya Hutama dan Tuan Hutama, mereka berdua terlihat begitu cemas.
Nyonya Hutama segera berlari kecil ke arah Erina.
"Sayang ... kamu tak apa-apa kan? Apa kamu baik-baik saja?" suara Nyonya Hutama terdengar sangat nyaring di telinga Erina.
"Ibu, kenapa berbicara sangat keras kepada Erina. Dia baru saja sadar, jangan sampai dia pingsan lagi karena mendengar suara ibu." seru Arga kesal.
Tuan Hutama dan Erina tersenyum melihat tingkah anak dan ibu itu, mereka berdua sangat mirip dari semua segi. Nyonya Hutama adalah Arga versi laki-laki, eh ... bukan ... bukan ... Arga adalah Nyonya Hutama versi perempuan. Eh, jadi gimana ini yang benar. Entahlah, author juga bingung. Haha.
"Ha ... ha ... Kamu tau nak ... sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Ibumu tak henti mencemaskan menantunya." sahut Tuan Hutama sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ish ... kalian ini bagaimana sih, Erina adalah menantu kesayangan ku. Jadi, tak mungkin aku tidak mencemaskan dia." seru Nyonya Hutama sambil tersenyum memegang tangan Erina.
Erina menyunggingkan senyumannya, dia merasa menjadi gadis yang paling beruntung di dunia ini. Karena mempunyai ibu mertua yang begitu menyayanginya.
"Aku tidak apa-apa ibu ... " ucap Erina lirih, dia mencoba bangkit dari tidurnya. Nyonya Hutama dan Arga membantunya untuk duduk. Arga menaruh bantal di belakang punggung Erina, supaya Erina bisa lebih nyaman untuk bersandar.
"Tunggu ... darimana ayah dan ibu bisa tahu, Erina berada dirumah sakit?" tanya Arga sedikit heran, mengingat dia sama sekali tidak memberi kabar kepada kedua orang tuanya.
"Sayang ... hari ini kan hari spesialmu, hari ulang tahunmu. Ayah dan ibu ingin memberimu kejutan dengan pagi-pagi mengunjungi rumah kalian. Tapi kata Bibi Mar, kalian berada dirumah sakit dari semalam." jelas Nyonya Hutama.
Apa ...? Suamiku ulang tahun?
Istri macam aku, hari ulang tahun suamiku sendiri saja aku tak tahu.
Erina merutuki dirinya sendiri, menyesal karena tak pernah menanyakan hari penting suaminya.
Arga yang melihat perubahan wajah Erina segera mendekatinya.
"Kamu kenapa sayang?"
"Tidak ... aku tidak apa-apa sayang." Erina membenarkan posisi duduknya. Dia tak ingin terlihat kikuk dengan ketidaktahuan nya tentang hari ulang tahun suaminya di depan kedua mertuanya.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Masuk." seru Arga.
Pintu terbuka, seorang perempuan cantik melangkah masuk ke kamar tempat Erina di rawat.
"Dokter Mili .... " sapa Erina seraya menyunggingkan senyuman.
"Anda sudah sadar nona ....?" tanya Dokter Mili, dia melangkahkan kaki mendekati Erina dan membalas senyuman Erina. Dokter Mili menundukkan kepala memberi hormat kepada Nyonya Hutama dan Tuan Hutama.
"Sudah Dok .... " ucap Erina lirih
"Bagaimana keadaan nona sekarang? Apa ada yang Anda keluhkan?" Dokter Mili memeriksa tubuh Erina.
"Tidak ... aku sudah lebih baik sekarang dok." serunya.
Nyonya Hutama mendekat ke arah Erina dan Dokter Mili.
"Dokter ... menantuku sakit apa?" tanya Nyonya Hutama yang sudah sangat penasaran sejak dalam perjalanan tadi.
Dokter Mili tersenyum memandang Nyonya Hutama.
__ADS_1
"Nona Erina baik-baik saja Nyonya. Dan selamat ... Anda akan menjadi nenek, Nyonya." ucap Dokter Mili seraya mengulurkan tangan memberi selamat.
Nyonya Hutama terkejut mendengar ucapan Dokter Mili, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kedua sudut matanya terlihat cairan bening yang menggenang.
Nyonya Hutama membalas uluran tangan Dokter Mili dengan raut wajah bahagia.
"Oh ... sayang, selamat ya ... Akhirnya aku akan memiliki cucu." seru Nyonya Hutama seraya memeluk tubuh Erina. Erina menyambut pelukan ibu mertuanya dengan wajah yang masih tak percaya.
Tuan Hutama yang mendengar kabar baik itu juga terlihat sangat senang, Tuan Hutama segera memeluk Arga untuk memberikan selamat.
Dokter Mili tersenyum haru melihat pemandangan di depan nya, dia tak ingin mengganggu kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh keluarga Hutama.
"Kalau begitu ... saya permisi dulu. Nona Erina, Anda harus banyak istirahat ya. Selamat atas kehamilan anda." Dokter Mili menundukkan kepala dan segera berlalu dari kamar Erina. Erina menganggukkan kepala dan mengucapkan terimakasih kepada Dokter Mili.
***
Nyonya Hutama masih menangis bahagia atas kabar yang baru saja ia dengar, berkali-kali ia menyeka airmata yang terus jatuh di pipi yang masih terlihat kencang dengan usia yang hampir menginjak angka lima puluh tahun.
"Sayang ... selamat ya, kamu akan menjadi seorang ayah. Jaga baik-baik Erina dan calon cucu ibu ya." seru Nyonya Hutama di sela-sela tangisnya.
Arga mengusap pelan airmata yang jatuh di pipi perempuan yang sudah melahirkannya itu.
"Tentu ibu ... aku akan selalu menjaga Erina dan anakku." sahut Arga sambil memeluk tubuh Nyonya Hutama.
Erina juga larut dalam kebahagiaan itu, kebahagiaan bahwa dirinya tengah hamil. Kehamilannya yang kedua kali, Erina berjanji dalam hati akan menjaga dan tak akan lalai lagi. Erina mengelus pelan perutnya yang masih rata. Arga melirik ke arah Erina, dia mendekat ke arah Erina.
Erina menatap lembut wajah Arga. "Maaf, aku tak tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahunmu. Aku benar-benar istri yang tak berguna." Erina menundukkan kepala, merasa sedih karena ketidaktahuan nya. Arga mengangkat jari manisnya dan menempelkan pada bibir Erina.
"Sssttt ... Bicara apa kamu? Kamu bahkan sudah memberiku kado hari ini, kado yang sangat istimewa di sepanjang hidupku. Terimakasih ... terimakasih sayang. I love you so much ...." ucapnya lirih, Arga memeluk erat tubuh Erina. Erina membalas pelukan Arga. Airmata Erina semakin deras mengalir di kedua sudut matanya, tangisan bahagia atas hadirnya buah cinta mereka.
๐๐๐
.
.
.
Terimakasih atas dukungannya semua teman-teman dan para readers, akhirnya Erina hamil lagi. ๐
**Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Vote + Like + Coment ya....
Terimakasih๐ค๐ฅฐ**
__ADS_1
.