
Gerald mengulas senyuman. Dia seolah memiliki harapan lagi, Ia segera menatap Arga dengan tatapan yang sangat sulit untuk ditebak. Namun pandangan nya perlahan berubah menjadi sendu, sekilas terlihat kesedihan yang mendalam dalam manik biru laki-laki paruh baya itu. Sebuah kesedihan yang Ia sendiri tak bisa untuk mengobati kesedihan nya itu.
Arga memutar tubuh nya secara perlahan hingga menghadap Gerald, kedua tangannya Ia selipkan pada saku celananya.
"Jelaskan, apa maksud dari ucapan mu barusan, Sir?" Pandangan Arga nampak tak bersahabat, ucapan laki-laki paruh baya itu sedikit mengusik nya.
Gerald menghembuskan napas dengan berat, seolah ada beban di hatinya. Ia membalas tatapan mata Arga, tatapan yang penuh harapan dan mengundang teka taki.
"Apa anda ingat dengan tawaranku dua tahun yang lalu Mr. Arga?" tanya Gerald.
Dahi Arga berkerut, Ia tak suka dengan basa basi. Ia menajamkan pandangan nya pada gerald.
"Kamu hanya akan membuang waktu ku saja, jika kamu masih bermain teka teki seperti ini. Katakan, apa maksudmu Mr. Gerald? Aku sudah cukup bersabar menghadapimu, jangan membuat ku menyesal dengan keputusanku." hardik Arga.
Laki-laki itu hanya tersenyum tipis, Ia sudah menduga bahwa Arga tak akan pernah ingat dengan kejadian dua tahun lalu.
"Dua tahun yang lalu, aku datang ke kantor Montana Group dengan sebuah harapan. Aku menawarkan kepada anda, untuk menjodohkan putriku satu-satunya dengan anda. Namun, tanggapan anda sungguh membuat putriku benar-benar kecewa. Anda bahkan menolak untuk bertemu dengan putriku." suaranya tertahan, pria itu seperti sedang menata hatinya. Mencoba untuk mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata yang tepat.
Arga memaksa ingatannya untuk menjelajah pada dua tahun yang lalu, Ia mulai mengingat kejadian itu. Arga memang sudah menolak mentah-mentah perjodohan yang ditawarkan oleh Gerald dan juga karena saat itu, Ia masih sangat menyukai Clarissa. Ia juga tak suka dengan ide konyol Gerald, tentang perjodohan itu. Apalagi Arga juga tak mengenal putri koleganya saat itu.
"Lalu, kenapa kamu mengungkit masa lalu? Bukankah dulu Aku memang menolak nya? Apa masalahmu sekarang Mr. Gerald?" ucap Arga. Ia berjalan menuju sofa yang tak jauh dengan tempat Gerald duduk saat ini.
"Putriku sangat menyukai anda Tuan Arga." lirih Gerald.
Arga tersentak dengan ucapan Gerald, Ia bahkan tak mengenal putri laki-laki itu tapi bagaimana bisa putri nya menyukainya.
"Omong kosong apa ini?" Arga tampak tak senang dengan ucapan Gerald, seperti bualan yang tak berisi.
"Anda pasti bingung kenapa putriku bisa menyukai anda bukan?" Gerald tersenyum tipis memandang Arga.
"Aku sudah membuang banyak waktuku hanya untuk mendengar celotehmu Sir, bagaimana mungkin seorang yang tak saling kenal bisa berkata suka." Arga beranjak dari tempat duduk nya.
"Tiga tahun yang lalu, sesudah kepergian istri yang sangat Aku cintai. Putri ku merasa sangat kehilangan, dia menutup diri. Dia bahkan sudah melakukan percobaan bunuh diri selama dua kali, Ia bahkan hampir gila. Karena apa? Karena anda menolak nya tanpa anda bertemu dengan nya." suara Gerald tertahan, airmatanya jatuh tanpa aba-aba. Ia mengusap kasar cairan bening itu dengan tangan yang masih terborgol.
Hati arga nampak iba dengan laki-laki tua itu, Ia menyuruh Pak Sam membuka borgolnya. Pak Sam mengangguk dan segera membuka borgol yang sudah mengikat kedua tangan Gerald.
__ADS_1
"Jadi tujuanmu menculik istriku untuk balas dendam?" tukas Arga.
"Anda salah Mr. Arga, tujuanku menculik istri anda hanya ingin agar anda mau menemui putriku sekali saja. Aku sudah melakukan berbagai cara agar putri kesayanganku bisa melupakan anda, aku juga membawa nya ke psikiater agar dia bisa berpikir lebih jernih. Namun, upaya yang aku lakukan seolah sia-sia. Dia tetap ingin bertemu dengan anda, dia sangat terobsesi dengan anda .... " Gerald meraup wajah nya dengan kedua tangannya, Ia terisak. Gadis kesayangannya sudah membuat batinnya tersiksa, Ia tak kuat melihat anak gadis satu-satunya menderita.
Arga masih tak habis pikir, bagaimana bisa putri laki-laki itu bisa menyukainya. Arga memang populer di negerinya, Ia sering berlalu lalang di berita online dan juga media televisi. Tentu karena prestasinya sebagai pebisnis sukses, namun Ia tak menyangka. Bahwa ketenarannya bisa membuat seorang gadis tergila-gila kepada nya.
Arga mulai memahami perasaan Gerald, Ia bukan manusia berhati batu yang bisa tenang melihat orang lain bersedih di hadapan nya.
"Lalu, apa maumu?" pertanyaan Arga membuat isak tangis Gerald terhenti, Ia segera mendongakkan kepala memandang Arga. Matanya nampak berbinar, Ia terlihat mengulas senyuman.
"Anda bersedia membantu ku Mr. Arga?" serunya tak percaya.
"Aku tak akan mengulangi perkataanku." sahut Arga dengan raut wajah serius. Gerald mengutarakan tujuannya kepada Arga, Ia mengiyakan permintaan laki-laki itu. Arga sedikit bimbang, namun setidaknya Ia sudah mempunyai niatan untuk mencoba membantu.
πππ
Keesokan harinya di kediaman Gerald Hasley
Nampak seorang gadis sedang termenung, Ia duduk di sebuah kursi yang terbuat dari rotan yang kokoh. Gadis itu menyandarkan tubuh nya pada sandaran kursi rotan itu, pandangan nya tampak kosong. Gadis itu bernama Grace Hasley, Ia seorang gadis berumur 25 tahun. Gadis itu berambut pirang, bermata biru. Kepergian Mommy nya tiga tahun yang lalu, membuat gadis itu menutup diri dari orang lain.
Dua tahun yang lalu, saat gadis itu sedang pergi ke suatu tempat. Ia terlihat di ikuti oleh dua laki-laki yang terlihat seperti preman, kedua laki-laki itu segera menghentikan langkah Grace. Salah satu dari laki-laki itu mencoba mengganggu Grace, gadis itu nampak sangat ketakutan. Ia melihat sekitar mencoba untuk mencari bantuan, namun jalanan saat itu nampak sepi. Kedua laki-laki tersebut mulai menarik tangan Grace agar ikut dengan mereka, namun sebisa mungkin Grace mencoba untuk memberontak.
"Lepaskan aku, ku mohon lepaskan aku." teriaknya, Ia nampak menangis ketakutan.
Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang langsung menghajar mereka tanpa ampun, laki-laki itu mengenakan jas berwarna biru tua lengkap dengan dasinya. Grace tertegun melihat laki-laki itu, perasaan takut nya terganti dengan perasaan aman berkat kedatangan laki-laki itu. Grace merasa menemukan malaikat penolongnya, tanpa Ia sadari senyum mengembang di bibirnya.
Kedua pemuda itu lari tunggang langgang, laki-laki yang menolong Grace nampak merapikan jasnya dan mengatur napas nya yang terengah-engah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu.
Grace masih tertegun, dia tak mengindahkan pertanyaan laki-laki itu. Ia masih memandang lekat-lekat pria yang sudah menolong nya itu.
"Nona, kamu baik-baik saja?" tukas laki-laki itu, Grace terkesiap. Ia tersadar dari lamunannya.
"A-aku ba-baik-baik saja Tuan, terimakasih sudah menolong ku." suaranya terbata, Ia nampak sangat gugup berhadapan dengan laki-laki yang sudah menolong nya.
__ADS_1
Laki-laki itu menyunggingkan senyum di bibirnya, senyuman terindah yang pernah Grace lihat.
Nampak beberapa laki-laki berlari ke arah mereka, mereka berpakaian sama. Berjas dan berdasi. Mereka membungkukkan badan dan meminta maaf kepada laki-laki yang sudah menolong Grace.
"Tuan Arga, kami minta maaf atas keterlambatan kami." ucap salah seorang dari mereka.
"Tidak apa-apa." kata laki-laki yang tak lain adalah Arga.
"Nona apa kamu butuh bantuan? Sopir saya akan mengantarkanmu, jika kamu merasa takut diganggu lagi." Arga menawarkan bantuan nya, namun dengan cepat gadis itu segera menolak tawaran Arga.
"Ti-tidak Tuan, terimakasih. Saya bisa pulang sendiri." tukas Grace.
"Baiklah, kalau begitu. Saya permisi dulu, hati-hati dijalan nona." Arga mengulas senyum dan segera berlalu meninggalkan gadis itu dengan di ikuti beberapa laki-laki dibelakangnya.
Grace masih tertegun menatap Arga dari belakang, hatinya terasa berbunga-bunga.
"Arga." gumamnya lirih.
Sejak saat itu Grace merasa sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arga.
Flashback Off
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" suara Gerald membuyarkan lamunan Grace. Gadis itu hanya tersenyum tipis melihat daddy nya.
Arga telah membebaskan Gerald dengan berbagai protokol, Gerald pulang kerumah dengan di ikuti beberapa anak buah Arga yang akan memantau setiap gerak gerik Gerald.
Arga menyetujui untuk membantu Gerald, dia bersedia untuk menemui putri Gerald untuk pertama dan yang terakhir kalinya.
Grace Hasley
Bersambung
Mampir ke novel karya kakak online author ya teman-teman, novel nya keren bangetπππ
__ADS_1