Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Salah Sangka


__ADS_3

Anggen tampak berlari kecil menyusuri bandara yang begitu luas itu untuk mencari sosok laki-laki yang sudah menyita perhatiannya sedari tadi, Ia lalu menghentikan langkahnya. Mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah karena kesulitan menghirup oksigen saat berlari.


Gadis yang memiliki badan ideal karena rajinnya olahraga itu mengedarkan pandangannya ke seluruh bandara. Namun, Ia tak juga menemukan sosok yang ingin Ia temui saat ini.


Anggen melanjutkan langkahnya. Namun, tak sengaja Ia bertemu dengan Erina dan Arga. Erina yang masih terlihat merajuk kepada Arga tak terlalu fokus dengan keadaan sekitarnya. Sampai pada akhirnya Anggen mendekatinya.


"Nona Erina," tegur Anggen.


Kedua pasangan itu segera menghentikan langkahnya, Erina yang awalnya terlihat sedih. Kini raut wajahnya berubah menjadi semangat karena melihat Anggen.


"Anggen ...." sapa balik Erina dengan mengulum senyum.


Gadis itu tampak melihat sekitar Erina dan Arga.


"Kamu mencari kak Eric?" tanya Erina tepat sasaran.


Anggen menganggukkan kepala seraya mengulas senyum.


"Ya ... sayang sekali Anggen. Kak Eric udah berangkat," desis Erina dengan raut wajah sedih.


"Sudah berangkat ya," gumam Anggen dengan raut wajah yang tak kalah sedih dan kecewa.


"Iya, kira-kira lima belas menit yang lalu kak Eric berangkat," jelas Erina.


Anggen menghela napas panjang seraya berkata, "Ehm ... baiklah kalau begitu nona, aku pergi dulu." Anggen mencoba tersenyum meskipun terkesan dipaksakan, sangat terlihat raut kekecewaan di wajahnya.


Gadis itu berbalik badan dan berjalan meninggalkan Erina dan Arga, Erina hendak menghentikan langkah Anggen tapi segera di cegah oleh Arga.


"Sayang, dia sedang tak ingin diganggu." Arga seolah mengerti yang dipikirkan Erina, laki-laki itu memegang kedua pundak Erina. Dan menatap lekat manik coklat milik istrinya tersebut.


"Tapi ...."


"Bagaimana kalau saat ini kita pikirkan kado untuk pernikahan kak Eric dengan gadis senam ibu hamilnya. Bukankah itu sangat menyenangkan sayang." Erina segera menatap seksama wajah suami nya itu dengan pandangan tak percaya.

__ADS_1


"Kado? Pernikahan? Hah ...." Erina segera membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tampak tak percaya bahwa Eric dan Anggen tak memberitahunya tentang masalah pernikahan mereka.


"Apa kak Eric dan Anggen akan melangsungkan pernikahan? Kenapa aku tak diberitahu sebelumnya oleh kak Eric?" gerutu Erina kesal.


"Belum sayang, kak Eric belum merencanakan pernikahannya. Kamu tenang saja, kamu pasti menjadi orang pertama yang akan diberitahu kak Eric tentang kabar pernikahannya itu." Arga menjeda kalimatnya, "Kamu masih ingat tentang acara lamaran yang ditujukan pada Clarissa? Orang pertama yang diberitahu kak Eric kan kamu," imbuhnya.


Erina tampak mengangguk-anggukkan kepala, Ia membenarkan ucapan Arga.


"Lantas, kenapa kamu bilang ingin beli kado untuk pernikahan kak Eric. Sayang?" tanya Erina dengan raut wajah penasaran.


"Ya ... kalau kita memikirkannya dari sekarang. Kita kan bisa memberikan sesuatu yang spesial untuk hari istimewa kak Eric," jelas Arga yang mencoba mengalihkan perhatian Erina yang sedari tadi masih merajuk karena kesal dengan sikapnya, perempuan itu tampak setuju dengan ide suami nya itu.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Anggen sudah berada dalam taksi online, Ia tampak menatap langit sore dari dalam mobil.


"Aku terlambat, padahal Aku ingin sekali bertemu dengannya sebelum Ia pergi," gumam Anggen di iringi helaan napas panjang.



๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ



Beberapa jam kemudian, Eric sudah sampai di Changi Airport Singapore's. Mata Eric tak henti di buat takjub oleh pemandangan di sekeliling bandara. Bandara ini terletak di daerahย Changi di bagian ujung timur pulau Singapura dan merupakan salah satu fasilitas penerbangan terbaik di Asiaย dan dunia.


Eric tampak berdiri mencari seseorang yang di utus untuk menjemputnya, namun secara tiba-tiba seorang gadis menghampirinya.


"Tuan Eric," sapanya ramah.


Gadis itu melepaskan kacamata yang sedari tadi menutup kedua bola matanya, Ia mengulas senyum termanisnya. Eric tampak mengernyitkan kening, pasalnya Ia sama sekali tak mengingat pernah mengenal gadis cantik di hadapannya ini.


"Masak lupa sama aku?" godanya dengan mengerlingkan mata.

__ADS_1


Eric menggaruk tekuknya yang tak gatal, Ia mencoba mengingat gadis itu. Tapi tetap saja hasilnya nihil, Ia sama sekali tak mengingatnya.


"Maaf, anda siapa ya?"


"Ck ... gadis cantik sepertiku harusnya susah di lupa kan lho." Gadis itu bergeser ke samping tubuh Eric, kini mereka terlihat berdiri sejajar. Ekor mata Eric mengikuti gerak gadis itu.


"Aku Depe ... Al-dhe-ka De-pe." Depe mengeja namanya dengan gaya centilnya.


Eric terlihat memutar bola matanya, mencoba mengingat nama Depe di kepalanya. Ia mulai teringat nama itu. Seorang gadis pemilik Cafe terkenal di kotanya yang pernah bekerja sama dengan perusahaan milik adik iparnya.


"Nona Depe?" tanya Eric memastikan.


"Yup, benar sekali. Tuan Eric pasti sedang berlibur ya? Tapi kok sendirian? Aku disini juga sedang berlibur sih dan aku juga seorang diri pergi kesini? Bagaimana kalau kita berlibur bareng?" kalimat Depe yang tak ada hentinya membuat Eric mendesah lirih.


"Hmm ... tidak, saya kesini ...." Tiba-tiba ada seseorang tampak membawa poster besar bertuliskan "Wellcome Mr. Eric" menghampiri mereka berdua.


"Apa anda Mr. Eric?" tanya laki-laki berperawakan tinggi tegap dengan pakaian jas lengkap dengan dasinya.


"Iya benar, saya Eric," sahut Eric dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Saya Rain, saya yang bertugas menjemput anda Tuan, mari silahkan ikuti saya Nona dan Tuan!" seru Rain, Ia berjalan mendahului Eric dan Depe tanpa menunggu penjelasan terlebih dahulu dari Eric.


Eric tampak terkejut, karena laki-laki yang bernama Rain itu tampaknya salah sangka dengan Depe. Eric ingin menjelaskan kepada Rain bahwa gadis di sebelahnya bukan siapa-siapanya tapi laki-laki itu terus berjalan. Eric memandang Depe, namun diluar dugaan Eric. Gadis itu terlihat sangat senang karena Rain mengajaknya ikut serta dengan dirinya.


"Ayo Tuan Eric," ajak Depe. Gadis itu tampak melenggang mengikuti Rain, meninggalkan Eric yang masih bingung dengan situasi yang baru saja terjadi.


Laki-laki itu tampak mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar, kemudian berjalan mengikuti Rain dan Depe yang sudah meninggalkannya terlebih dahulu.


Bersambung ....


๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–


Jangan lupa tinggalkan jejak komen + like dan votenya ya teman-teman. Biar author semangat nulis nya๐Ÿ˜

__ADS_1


Terimakasih I love u all๐Ÿค—


__ADS_2